(Ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya.)
Ketika hal mustahil terjadi, dan ayahnya mendadak menawarkan sekolah ke Inggris—“untuk mengenyahkanku,” begitu pikirnya, “kalau tidak, mengapa? Jelas sekali, tapi jangan menolak hadiah dan sebagainya”—ibunya, Nasreen Chamchawala tak mau menangis, dan malah urun nasihat. “Jangan ikutan kotor seperti orang-orang Inggris itu,” ujarnya memperingatkan. “Mereka membasuh pe-a-en-te-a-te mereka hanya dengan kertas. Lagipula, mereka menggunakan air bekas mandi orang lain.” Fitnah keji ini menguatkan Salahuddin bahwa ibunya berusaha sangat keras mencegah dia pergi, dan mengindahkan cinta diantara mereka berdua, dia menjawab, “Tidak terbayangkan, Ammi, semua yang kau katakan itu. Inggris peradabannya besar, dan yang kau bilang itu omong kosong.”
Ibunya tersenyum gugup tanpa membantah. Dan selanjutnya, dengan mata kering di bawah lengkung kebesaran di pagar, ia menolak mengantar ke Bandara Santacruz dan melepas putranya pergi. Anaknya semata wayang. Dia menumpuk banyak kalung bunga di leher sang putra hingga Salahuddin pusing dengan harum wangi cinta seorang ibu.
Nasreen Chamchawala adalah perempuan rentan paling rapuh, belulangnya seperti tinka, seperti serpihan kayu. Demi mempertegas keberadaannya yang minimal secara fisik, dalam usianya yang sangat muda dia telah menunjukkan selera pakaian tertentu yang berani dan berlebihan. Sari-nya seringkali berpola menyilaukan, bahkan aneh: sutra lemon berhias intan brokat sangat besar, lingkaran Op Art hitam-putih memusingkan, bibir raksasa berlipstik merah darah dengan latar putih terang. Orang-orang memaafkan seleranya yang payah karena ia mengenakannya dengan pembawaan tak berdosa; karena suara yang memancar dari pola teramat riuh itu sangatlah mungil dan peragu namun sopan sekali. Juga karena pesta yang sering dia adakan sore hari.
Dalam kehidupan pernikahannya, setiap Jumat Nasreen akan memenuhi ruang utama kediaman Chamchawala yang biasanya kosong-gelap macam kamar terkunci tempat mayat disimpan, dengan cahaya terang dan teman-teman yang getas. Ketika Salahuddin masih bocah ia akan bersikeras menjadi penjaga pintu, menyapa tetamu yang mengenakan banyak sekali perhiasan dan polesan dengan gaya sok penting, mempersilakan mereka menepuk ringan kepalanya dan memanggilnya dengan sebutan “Si Imut” atau “Si Manis”. Setiap Jumat rumah dipenuhi suara; dengan pemain musik, penyanyi, penari, dan lagu-lagu Barat terbaru berkumandang dari Radio Ceylon, berisiknya pertunjukan boneka para rajah tanah liat berlukisan cat mengendarai boneka kuda, memenggal marionet musuh dengan pedang kayu sambil menyumpah-serapah. Sepanjang hari lainnya Nasreen akan berjalan diam-diam ke seluruh penjuru rumah, seperti merpati, berjingkat dalam keremangan, seakan takut membangunkan keheningan membayang; dan putranya, mengikuti di belakang, juga belajar bagaimana caranya meringankan langkah jika ia tak hendak membangunkan gendruwo ataupun iprit jenis apapun yang mungkin menunggu di kegelapan.
Namun: kehati-hatian Nasreen Chamchawala gagal menyelamatkan nyawanya. Kengerian itu menangkap dan membunuhnya ketika ia yakin dirinya berada dalam keadaan paling aman, berbalut sari bermotifkan foto dan kepala berita koran murahan, tersiram cahaya kandil, dalam lingkaran rekan dan kerabat.
***
Lima setengah tahun berlalu sejak Salahuddin muda berkalung karangan bunga dan diberi wejangan menaiki pesawat Douglas DC-8 mengelana ke barat. Di depannya, Inggris; di sebelahnya, sang Ayah, Changez Chamchawala; di bawahnya, rumah dan keindahan. Sebagaimana Nasreen, masa depan yang dimiliki Saladin tak pernah mudah untuk ditangisi.
Pada penerbangan pertamanya ia membaca kisah fiksi-sains tentang migrasi antar planet: Foundation karangan Asimov, Martian Chronicles oleh Ray Bradbury. Dalam benaknya pesawat DC-8 adalah kapal induk, tempat Yang Terpilih, Yang Ditunjuk Tuhan dan Manusia, menyeberang ke jarak tak terpikirkan, bepergian dari generasi ke generasi, beranak-pinak secara terprogram, dan bibit mereka suatu hari nanti mungkin akan berakar di suatu tempat di dunia baru nan berani di bawah sinar mentari kekuningan. Ia mengoreksi dirinya sendiri: bukan kapal induk tapi kapal bapak, karena memang di situlah beliau berada, si lelaki hebat, Abbu, Ayah. Salahuddin berusia tiga belas saat itu, mengesampingkan semua ragu dan pilu terbaru, kembali memasuki pemujaan kekanakan terhadap ayahnya, karena memang ia telah sangat memuja ayahnya, ia adalah bapak yang hebat sampai kau bisa punya pikiran sendiri, kemudian ketika kau berselisih paham dengannya adalah penghianatan terhadap cinta beliau, namun sekarang tak penting lagi. “Aku menuduhnya menjadi zat Maha, dan yang terjadi adalah semacam hilangnya keyakinan”… Ya, kapal ayah, pesawat terbang yang bukan rahim terbang namun serupa falus logam, dan semua penumpang adalah spermatozoa yang menunggu dimuncratkan.
Lima setengah jam zona waktu; balik jam tanganmu ke bawah saat kau di Bombay dan kau akan tahu pukul berapa di London. “Ayahku,” kenang Chamcha, bertahun-tahun kemudian di tengah kepahitan hidupnya. “Aku menuduhnya membalik Waktu.”
Berapa lama mereka terbang? Lima ribu setengah sebagai gagak. Atau: dari ke-India-an menuju kem-Inggris, jarak yang tak terukur. Atau mungkin tak begitu jauh, karena mereka bangkit di satu kota besar dan jatuh di kota besar lainnya. Jarak antara kota itu selalu sedikit; penduduk kampung berkelana seratus mil ke kota, dan tas di punggung kudanya lebih lowong, lebih gelap, menuju ke ruang yang lebih menakutkan.
Yang dilakukan Changez Chamchawala ketika pesawat mulai mengangkasa: berusaha agar anaknya tak melihat apa yang dia lakukan, yaitu menyilangkan dua jari di tiap tangan, dan menggesekkan keduanya di ibu jari.
Dan ketika mereka tiba di sebuah hotel dekat dengan lokasi kuno pohon Tyburn, Changez berkata pada putranya: “Ambil. Ini milikmu.” Dia mengangsurkan dompet gendut hitam yang identitasnya tak diragukan lagi. “Kau lelaki dewasa sekarang. Ambil.”
Kembalinya dompet yang disita, lengkap dengan semua uang di dalamnya, terbukti sebagai jebakan kecil Changez Chamchawala. Seumur hidup Salahuddin telah ditipu dengan cara ini. Tiap kali sang ayah akan menghukumnya, dia akan menawarkan hadiah, sepotong coklat impor atau selembar keju Kraft, lalu menarik tangannya ketika dia hendak meraih. “Keledai!” sahut Changez pada anaknya yang masih balita. “Pasti, deh. Selalu! Gara-gara ditawari wortel, kamu selalu menghampiri tongkat pemukul.”
Salahuddin yang sedang di London itu mengambil dompet yang disita, menerima pemberian kedewasaan; ketika ayahnya berkata: “Sekarang karena kau telah menjadi lelaki dewasa, sudah menjadi tugasmu menjaga orangtuamu ini sementara kita berada di kota London. Kau yang akan membayar semua tagihan.”
Januari 1961. Dalam setahun kau bisa jumpalitan dam masih—tidak seperti jam tanganmu—bisa mengatakan hal yang sama. Saat itu musim dingin; namun Salahuddin Chamchawala bergetar takut dalam kamar hotelnya; bongkah emas pembawa keberuntungan yang ia miliki sekarang lebih mirip kutukan penyihir.
Dua minggu di London sebelum ia masuk ke sekolah asrama, berubah menjadi mimpi buruk tentang uang tunai, tentang lemari duit dan perhitungan, karena Changez bersungguh-sungguh terhadap apa yang dikatakannya dan tak pernah sekalipun merogoh koceknya sendiri. Salahuddin harus membeli pakaiannya sendiri, seperti jas wol biru panjang tahan air berkancing dua baris dan tujuh kemeja Van Heuesen bergaris biru dan putih dengan kerah sedikit tegak yang bisa dilepas, dan Changez memaksa si putra memakainya agar terbiasa dengan kancing-kancingnya. Salahuddin merasa seakan sebuah pisau tumpul ditekan pada jakunnya yang baru saja baligh; dan dia juga harus menyisihkan uang untuk membayar kamar hotel dan semuanya. Walhasil tak pernah sekalipun ia meminta ayahnya untuk pergi bersama menonton di bioskop, tak sekalipun, bahkan ketika film “The Pure Hell of St. Trinians” diputar, atau untuk makan di luar, tak sekalipun kotak karton makanan Cina. Tahun-tahun berikutnya tak ada secuilpun ingatan tentang dua minggu pertamanya di Ellowen Deeowen kecuali pounds-shilling-pence. Sebagaimana murid sang filsuf—Raja Chanakya—yang bertanya maksud perkataannya bahwa manusia dapat hidup sekaligus mati di dunia, lalu diminta menyunggi air seember penuh melewati kerumunan orang yang merayakan liburan tanpa menjatuhkannya setetespun, dalam derita yang mematikan, dan sekembalinya ia ke hadapan si orang besar itu sang raja tak mampu menjelaskan betapa riang-gembira perayaan tersebut, karena pandangannya dibutakan oleh seember air di atas kepalanya.
Changez Chamchawala menjadi terlalu tenang di masa-masa itu, seperti tidak begitu peduli apa dia sudah makan atau minum atau melakukan apapun. Dia senang-senang duduk di kamar hotel, menonton televisi, terutama saat the Flintstones sedang tayang karena, seperti yang dia bilang pada putranya, bibi Wilma membuatnya teringat pada Nasreen. Salahuddin berusaha membuktikan kedewasaannya dengan ikut puasa bersama sang ayah, berjuang mengalahkannya, tapi ia tak pernah bisa. Dan ketika perasaan itu begitu menyakitkan, dia pergi keluar hotel menuju tikungan terdekat di daerah murahan tempat dia bisa membawa pulang ayam panggang berminyak yang digantung di jendela, berputar perlahan oleh gagang penusuk. Ketika ia membawa ayam itu melewati lobi hotel Salahuddin malu sendiri. Ia tak ingin terpergok pekerja hotel, jadi, ia jejalkan bungkusan itu ke dalam jas panjangnya dan berjalan menuju lift dengan aroma daging panggang mengikuti, jas menggelembung, dan wajah merona merah. Dengan dada berisi ayam di bawah pandangan para janda dan penjaga lift ia rasakan lahirnya amarah tak terbendung membakar dalam dirinya, tak terpadamkan, selama hampir seperempat abad. Amarah yang mendidihkan pemujaan ayah di masa kecil dan membuatnya jadi manusia sekuler, yang beberapa tahun kemudian melakukan yang terbaik dan hidup tanpa tuhan berjenis apapun. Mungkin malah melandasi keputusannya untuk menjadi sesuatu yang tak bisa dilakukan sang ayah, yaitu orang Inggris yang baik dan sopan. Ya, seorang Inggris, dan bahkan ketika apa yang dikatakan ibunya benar belaka, ketika hanya ada tisyu dalam toilet dan baskom berair suam kuku, air bekas mandi penuh lumpur dan sabun untuk berbasuh setelah berolahraga, dan bahkan jika itu berarti menghabiskan seumur hidup dalam musim dingin diantara pepohonan meranggas telanjang dengan jemari mencengkeram putus asa pada cahaya matahari jarang-jarang yang berair dan pucat. Pada malam musim dingin dia, yang tak pernah tidur dengan lebih dari satu selimut, akan berbaring di bawah gunungan wol dan merasa seperti sosok dalam mitos kuno, dikutuk dewa dengan beban menekan dada. Namun tak mengapa, dia akan menjadi Inggris, bahkan ketika teman sekelasnya terkikik mendengar suaranya dan membiarkannya buta dari rahasia mereka. Pengecualian ini hanya akan memperkuat tekadnya, dan saat itulah ia mulai bertindak, mencari topeng yang akan dikenali rekan-rekannya, topeng berwajah pucat, topeng badut, dan membuat mereka berpikir, “Oke, dia adalah orang-seperti-kami.” Ia akan mengelabui mereka dengan cara yang sama seperti yang digunakan manusia sensitif membujuk kawanan gorilla agar diperbolehkan masuk ke dalam keluarga mereka, untuk membelai dan mengelus dan menjejalkan pisang ke dalam mulut.
(Setelah tagihan terakhir diselesaikan dan dompet yang ia temukan di ujung pelangi menjadi kosong, ayahnya berkata: “Kau rasakan sendiri. Kau bisa membayar semuanya hingga ke titik ini. Aku membuatmu dewasa.” Tapi dewasa yang seperti apa? Itulah yang tidak diketahui para ayah. Tak pernah disangka sebelumnya, hingga semuanya sudah terlambat.)
Suatu hari saat sekolah sudah mulai, ia turun untuk sarapan dan sepotong ikan asap tergeletak di piringnya. Ia hanya duduk dan menatap ikan tersebut, tak tahu harus bagaimana. Lalu ia mulai memotong, menyuap, dan mulutnya penuh tulang ikan kecil-kecil. Dan setelah ia berhasil memisahkan semuanya, ia kembali menyuap dan mulutnya kembali penuh duri. Rekan-rekannya hanya menyaksikan penderitaan itu dalam diam; tak ada satupun yang berkata, “Sini, aku tunjukkan bagaimana cara makannya.” Sembilan puluh menit hanya untuk menghabiskan satu ikan dan ia tak diperbolehkan bangkit dari duduk sebelum selesai makan. Setelah semua usai ia gemetar, dan jika dia bisa menangis, pasti dia akan menangis. Lalu terlintas di benaknya, dia baru saja mendapat pelajaran penting. Inggris adalah negara aneh yang orangnya suka makan ikan asap penuh duri dan tulang, dan tak ada satupun orang yang menunjukkan bagaimana cara makannya. Ia paham bahwa dirinya adalah bangsat pendendam. “Akan kutunjukkan pada mereka semua,” ia mengumpat. “Kalian lihat saja nanti.” Ikan asap yang habis dia bantai adalah kemenangan pertamanya. Langkah selanjutnya adalah menaklukkan tanah Inggris.
Syahdan, William Penakluk memulainya dengan memakan sesuap gendut pasir Inggris.
***
Lima tahun kemudian ia pulang setelah meninggalkan sekolah, menunggu dimulainya masa perkuliahan universitas Inggris, dan kedatangannya ke Vilayeti sangat dinanti-nanti. “Kita lihat saja nanti bagaimana dia mengeluh,” ujar Nasreen menggodanya di hadapan sang ayah. “Semuanya dikomentari. Kipas anginnya sudah dibetulkan, dipasang longgar ke langit-langit dan akan jatuh lalu memenggal kepala kita semua ketika tidur, begitu katanya. Makanannya juga terlalu berlemak, jangan lah masak yang digoreng-goreng, katanya lagi sok tahu. Balkon paling atas nggak aman dan catnya mengelupas, mengapa kita tidak bangga terhadap lingkungan kita. Dan rerumputan di taman tumbuh terlalu tinggi, dan kita jadi orang hutan, begitu pikirnya. Lihat, betapa kasarnya film kita, dan dia tak lagi menikmatinya. Dan minum langsung dari keran akan membuatmu sakit. Ya ampun. Benar-benar pendidikan yang bagus, Ayah. Sallu kecil kita, Inggris—kembali, dan bicaranya begitu lancar dan bagus.”
Mereka sedang berjalan-jalan di halaman di sore hari, mengamati matahari yang hendak menyelam ke laut, mengembara dalam keteduhan pepohonan membentang luas, ada yang mengular ada yang berjenggot dan Salahuddin (yang sekarang menyebut dirinya Saladin sesuai dengan gaya sekolah Inggris, namun sementara ini menggunakan Chamchawala sampai seorang agen teater menyingkatnya demi kepentingan komersial) mulai bisa menamakannya. Nangka, beringin, jacaranda, api hutan, pohon kancing. Sesemakan putri malu tumbuh di kaki pohon yang setua dirinya, pohon kenari yang ditanam sendiri oleh kedua tangan Changez di hari ketika putranya terlahir ke dunia. Ayah dan anak, di depan pohon kelahiran itu mereka berdua terlihat canggung, tak dapat merespon dengan wajar terhadap keriangan Nasreen nan lembut. Saladin terperangkap melankoli bagaimana taman tersebut terlihat jauh lebih baik sebelum dia tahu nama pepohonan yang ada di sana, dan ada sesuatu yang hilang yang tak dapat ia temukan kembali. Changez Chamchawala menyadari bahwasanya ia tak lagi dapat menatap langsung ke kedua mata putranya sebab kegetiran yang ia temukan di sana hampir membekukan hati. Ketika ia bicara sambil memalingkan muka dari pohon kenari berusia delapan belas tahun—yang ia bayangkan sebagai tempat arwah putra sematawayangnya bersemayam selama mereka berpisah—kata-kata yang terucap bukanlah seperti yang ia maksud, dan itu membuatnya semakin kaku, menjadi sosok dingin yang tak pernah ia harapkan, dan tak bisa ia hindari.
“Katakan pada putramu,” sahut Changez pada Nasreen, “jika ia jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk belajar menghina saudara sebangsanya, jangan salahkan saudara sebangsanya jika menghinanya balik. Apa sih dia? Fauntleroy atau pajandrum besar? Apakah begini nasibku: kehilangan putra dan malah menemukan orang aneh?”
Saladin menjawab ayahnya, “Apapun aku, Ayah sayang, aku mendapatkannya karena Ayah.”
Itu adalah obrolan terakhir mereka sebagai keluarga. Semua perasaan musim panas yang menyenangkan segera menipis, bahkan Nasreen gagal menengahi. “Kau harus minta maaf pada ayahmu, Sayang. Orangtua malang itu menderita seperti setan, namun kesombongannya tak mengizinkan ia memelukmu.” Bahkan ayah—pengasuh—Kasturba dan si kurir tua Vallabh, suaminya, berusaha menjadi mediator, namun tak satupun dari ayah beranak itu bergerak. “Masalahnya, bahan pembuat mereka itu sama,” ujar Kasturba pada Nasreen. “Dasar, ayah dan anak sama saja, bahan pembuatnya saja sama.”
Ketika perang dengan Pakistan pecah bulan September Nasreen memutuskan, dengan sangat berani, untuk tidak menghentikan pesta Jumatannya, “biar mereka tahu bahwa Hindu-Muslim bisa saling mencintai dan juga saling membenci,” begitu pembelaannya. Changez melihat kilatan di matanya dan tak hendak membantah, namun menyuruh para pelayan menutup jendela dengan tirai hitam. Malam itu, untuk terakhir kalinya, Salahuddin Chamchawala berperan sebagai penjaga pintu, berdandan mengenakan jas untuk makan malam bergaya Inggris. Dan ketika tamu-tamu berdatangan—tamu-tamu lama yang seperti dulu, berbedak kelabu termakan umur namun pembawaan mereka masih sama—mereka menghormatinya dengan tepukan dan ciuman yang sama, puji-pujian nostalgis tentang kemudaannya dalam gerak tubuh pemberkatan. “Kau sudah dewasa sekarang,” ujar mereka. “Benar-benar putra tersayang.” Mereka berusaha menyembunyikan rasa takut pada perang, “bahaya serangan udara,” begitu istilahnya di radio. Dan ketika mereka mengacak lembut rambut Saladin, tangan mereka sedikit gemetar, atau, jika tidak begitu, gerakan mereka jadi terlalu kasar.
Agak larut malam ketika sirine berbunyi dan para tamu lari mencari perlindungan, sembunyi di bawah ranjang, bawah lemari, di mana saja. Nasreen Chamchawala tertinggal sendirian di sebelah meja terisi makanan, meyakinkan para tamu dengan berdiri tenang berbalut sari motif surat kabar, mengunyah sebongkah daging ikan seakan tak terjadi apa-apa. Saat itulah dia mulai tersedak duri ikan hingga ajal menjemput tanpa seorangpun menolong, semua meringkuk di sudut dengan mata terpejam; bahkan Saladin, penakluk ikan asap berduri banyak, Saladin yang bibir atasnya menemukan mudik di Inggris, hilang nyali. Nasreen Chamchawala terjatuh, tersentak-sentak, tersengal-sengal, mati. Dan saat terdengar peringatan telah berlalunya situasi bahaya, para tamu undangan keluar dari tempat persembunyian dengan malu-malu, mendapati nyonya rumah tiada di tengah ruang makan, diambil oleh malaikat pemusnah, khali—phili khalaas dalam budaya Bombay. Menurut gosip ia meninggal tanpa sebab, pergi begitu saja, selamanya.
***
Kurang dari setahun sejak kepergian Nasreen Chamchawala akibat ketidakmampuannya melawan duri ikan meskipun memiliki putra berpendidikan luar negeri, Cangez menikah lagi tanpa pengumuman sepatah katapun. Saladin yang sudah berada di sekolahnya menerima surat dari sang ayah yang memerintahkannya—dengan pemilihan kata menyebalkan yang angkuh namun basi sebagaimana biasa ia gunakan dalam surat-menyurat—untuk turut gembira. “Berbahagialah,” kata surat tersebut. “Karena yang hilang kini terlahir kembali.” Penjelasan kalimat yang seperti tersandi tersebut malah lebih rendah dari surat yang datang lewat udara. Dan ketika Saladin tahu ibu tiri barunya ini juga dipanggil Nasreen, kekacauan terjadi dalam kepalanya, dan ia balas surat ayahnya penuh kebencian dan angkara. Kekejaman diantara mereka hanya terdapat antara ayah dan putranya. Yang membedakan dari kekejaman antara ibu dan putrinya adalah potensi besar terjadinya perkelahian sungguhan. Changez membalas segera setelah surat ia terima; surat pendek, empat baris makian gaya kolot—berandal, medit, begundal, penipu, mental pembantu, anak lacur, bengal. “Bersama surat ini maka semua hubungan keluarga dianggap gugur,” kata surat tersebut, menyimpulkan. “Semua ini adalah tanggungjawab Saudara.”
Setelah setahun tanpa berita, Saladin menerima komunikasi lebih lanjut, surat pengampunan yang secara keseluruhan sangat tak bisa diterima daripada surat yang sebelumnya yang seperti gelegar guntur mengabarkan pengasingannya. “Jika kau menjadi seorang ayah, wahai putraku,” surat Changez mengaku, “maka kau akan tahu bagaimana masa-masa itu—ah, masa yang sangat indah dan manis itu!—saat seorang lelaki rapi mendekap bayi mungil-ganteng di pelukannya demi cintanya. Dan tepat di saat itu, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, mahluk manis itu—boleh aku jujur?—mengencinginya. Selintas, mungkin si lelaki rapi itu merasa amarah mulai membuncah, darahnya mulai naik—tapi kemudian berhenti begitu saja. Berlalu secepat dia datang. Karena, sebagai orang dewasa, bukankah kita harus mengerti bahwa anak kecil tidak bisa disalahkan? Bocah itu tidak tahu apa yang dia perbuat.”
Saladin sangat tersinggung disamakan dengan bayi mengompol, dan akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah yang menurutnya bisa disebut sebagai diam terhormat. Saat masa kelulusannya tiba Saladin telah mengantongi paspor Inggris karena kedatangannya tepat ketika peraturan masih longgar. Jadi, ia memberitahukan Changez perihal keinginannya menetap di London dan bekerja sebagai aktor dalam sebuah surat singkat. Balasan Changez Chamchawala datang dalam bentuk kilat khusus. “Itu sama saja dengan gigolo yang menyamar. Aku yakin kau kerasukan setan dan membalikkan akal sehatmu. Kau, yang sudah diberi lebih. Tidakkah kau merasa berhutang pada seseorang? Pada negaramu? Pada kenangan terhadap ibumu tersayang? Pada benakmu? Akankah kau menghabiskan hidupmu untuk selalu terguncang dan berbesar diri dibawah sorotan lampu, menciumi perempuan-perempuan pirang sambil ditatap berpasang-pasang mata asing yang membayar untuk menontonmu mempermalukan diri? Kau bukan putraku. Kau gendruwo, kau adalah—wusss—iblis dari neraka. Aktor! Jawab aku: apa yang akan kukatakan pada teman-temanku?”
Dan di bawah tanda tangan terdapat PS dengan tulisan tangan asal-asalan menyedihkan. “Sekarang kau sudah punya jin jahatmu sendiri, jangan harap kau dapat warisan lampu ajaib dariku.”
***
Setelah itu Changez Chamchawala menulis pada putranya secara rutin, dan dalam setiap surat ia selalu menyebut-nyebut tentang setan dan kerasukan: “Manusia yang tidak jujur pada dirinya sendiri akan menjadi kebohongan berjalan, dan mahluk mengerikan seperti itu adalah mahakarya Setan terbaik,” tulisnya. Dan dalam gaya yang lebih sentimental: “Aku menyimpan jiwamu dengan aman, putraku. Di sini, di pokok kenari. Iblis hanya memiliki ragamu. Saat kau terbebas darinya, kembalilah dan rebut jiwa abadimu kembali. Dia mekar di taman.”
Tulisan tangan di surat-surat tersebut berganti seiring tahun berlalu, berubah dari keyakinan ruwet yang langsung bisa dikenali menjadi lebih sempit, tanpa hiasan, lalu murni. Akhirnya surat-surat itu berhenti. Namun Saladin mendengar dari sumber lain bahwa keasyikan sang ayah terhadap hal-hal supranatural menjadi semakin dalam, hingga akhirnya ia menjadi tertutup. Mungkin ia melarikan diri dari dunia ini dimana setan mampu mencuri raga putranya, dunia tak aman bagi lelaki dengan kepercayaan relijius sejati.
Perubahan ayahnya itu mengganggu benak Saladin, meskipun mereka sangat berjauhan. Orangtuanya adalah Muslim menurut penduduk Bombay yang abangan dalam beragama. Changez Chamchawala lebih terlihat mirip tuhan di mata sang putra balita dibanding Allah manapun. Dan ayahnya, dewa suci nan profan (yang kini tercemar), berlutut di usia tua dan menyembah-nyembah ke arah Mekah, adalah hal yang sulit diterima putranya yang kafir.
“Ini gara-gara si nenek sihir,” katanya pada diri sendiri, menjatuhkan kepercayaannya demi retorika hingga bahasanya menjadi sama seperti kutukan gendruwo, sebagaimana yang digunakan sang ayah. “Si Nasreen Ke Dua itu. Jadi aku yang jadi bulan-bulanan kesetanan? Aku yang kerasukan? Kan yang berubah bukan tulisan tanganku.”
Surat-surat tak pernah datang lagi. Tahun demi tahun berlalu, dan Saladin Chamcha, sang aktor, manusia dengan kisah hidupnya sendiri, kembali ke Bombay bersama Prospero Players untuk menerjemahkan peran dokter India dalam The Millionairess yang ditulis George Bernard Shaw. Di panggung ia membuat suaranya menjadi sesuai dengan karakter yang diperankan, namun caranya mengucap yang selalu dia tekan selama ini, semua vokal dan konsonan yang telah ia tinggalkan, mulai bocor dari mulutnya dan terdengar juga di teater tersebut. Suaranya sendiri berhianat; dan akhirnya ia sadar bagian-bagian tubuhnya juga punya kemampuan menghianati.
Gambar diambil dari sini.









