Salah satu konsep salah kaprah tentang ateis yang ada di benak orang awam adalah bahwa kami nggak punya respek terhadap kehidupan - manusia maupun yang bukan. Karena kami, ateis-ateis ini, menganggap seluruh bentuk kehidupan hanya sebagai keanehan alam nan janggal tanpa maksud dan tujuan jelas, dan sama sekali nggak ada artinya. Kami nggak beroleh kesenangan dan rasa terpenuhi yang sama seperti mereka yang percaya Tuhan. Kami nggak peduli penderitaan orang lain karena akhirnya mereka akan berada di tempat yang sama: jadi makanan cacing tanah.
Mengutip pernyataan Harry Hill, kesintingan baru apa sih ini?!
Ya, kehidupan di planet ini semata hanya kecelakaan beruntung aja, sama halnya dengan berbagai bentuk kehidupan tak terhitung di planet lain. Tidak ada tujuan atau makna tertentu dibalik ini semua, sama sekali. Lagipula, kenapa harus ada anggapan seperti itu? Hak apa yang Anda punya, menganggap diri istimewa?
Tapi, sebagai ateis, saya menganggap semua (atau sebagian besar) kehidupan itu sakral (sebagaimana yang dimaknai orang beragama). Orang-orang ateis tahu betul bahwa kita cuma punya kesempatan sekali hidup. Hanya ini. Cuma hidup ini yang kita punya. Tidak ada reinkarnasi, tidak ada surga atau neraka, tidak ada kesempatan kedua. Kita sungguh hanya punya sekali kesempatan, mau merusaknya atau bikin semua itu jadi sia-sia, terserah kita, meskipun hal itu bakal jadi hal yang paling mubazir.
Kenapa kita tidak bikin diri kita jadi sadar? Mari didik diri kita sendiri supaya kita bisa lihat keajaiban semesta raya sebagaimana adanya, tanpa terhalang kabut kepercayaan relijius. Kita berenang di Samudra India. Menikmati matahari tenggelam di Uluru (Ayer’s Rock). Ajak bayi-bayi bercanda dan lihat bagaimana mereka tertawa. Atau panjatlah pohon. Belajarlah mengendarai sepeda roda satu. Beri pijatan lembut menenangkan pada pacar kita. Belajarlah membuat keramik.
Buat diri kita bahagia dengan cara membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Banyak orang yang hidup dalam kondisi menyedihkan, yang pendapatannya seminggu mungkin sama dengan pendapatan kita sejam (misalnya). Bantu panti asuhan. Beberapa orang yang percaya Tuhan (teis) punya anggapan aneh bahwa ateis itu nggak lebih dari kumpulan manusia-manusia sedih, egois, dan berantakan yang hanya berpikir tentang diri sendiri, tidak peduli terhadap kehidupan orang lain, dan kerjanya hanya sapu-menyapu seharian sambil otaknya berputar mencari akal bagaimana caranya bisa masuk surga tanpa harus percaya Yesus dan berbuat baik pada sesama. (Lucu… betapa penilaian orang lain bisa amat sangat berbeda dengan orang yang mengalami sendiri)
Kadang saya ditanya, “Kenapa kamu mesti repot? Jika memang hidup ini cuma kecelakaan tanpa makna, tanpa ada tujuan akhir dan nggak berarti, kenapa kamu nggak bunuh diri saja? Kenapa kamu nggak beli senjata dan tembak orang-orang yang hidupnya nggak berujung. Kenapa kamu nggak berbuat seperti itu?” Biasanya saya akan menjawab: “Kamu pernah bikin orang-orangan dari salju atau Snowman?” Snowman itu tidak bertahan lama, mencair jika kena sinar matahari. Snowman juga tidak punya tujuan dan makna. Dua minggu setelah dia dibuat tidak akan ada bekasnya. Kita bikin Snowman karena kita semua, baik yang teis maupun ateis, hidup di masa sekarang dan disini. Jika konteksnya kita sebagai mahluk fana yang daur hidupnya singkat, maka itu artinya kita bisa menikmati kehidupan di dunia dan bersenang-senang dengan melakukan sesuatu yang benar-benar tanpa tujuan. Membuat Snowman, nmendaki gunung, menikmati sunset, atau bersepeda menghirup udara pedesaan adalah hal-hal yang menyenangkan. Tujuan semua itu bukan terletak ‘di luar sana’, menunggu di suatu tempat supaya kita ‘dapat’ maknanya. Makna akhirnya terletak pada diri kita masing-masing. Saya tidak khawatir memikirkan bagaimana kita lima trilyun tahun ke depan, tapi saya peduli pada masa depan manusia disini, sekarang, dan bagaimana generasi selanjutnya. Seperti itulah konteks manusia fana, dan karena itulah saya mau ‘repot’ menjadi hidup dan menikmatinya.
Hidup itu sendiri tidak ada artinya. Tidak ada tujuannya juga terhadap alam semesta. Tapi, setidaknya kita bisa punya arti melalui tindakan yang kita lakukan. Bikin dunia ini jadi lebih baik, setidaknya untuk diri kita sendiri, untuk mereka yang hidup sezaman dengan kita, dan untuk keturunan kita nanti.
Seringkali orang-orang ateis punya kehidupan yang menyenangkan dan indah. Sebab, sepengetahuan saya, cuma ini yang kita dapat, dan juga yang dimiliki orang-orang lain. Karena itulah kita melakukan yang terbaik untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Percuma kita berdoa hingga mulut kita berbusa untuk orang-orang sekarat di negara-negara dunia ketiga. Tuhan tidak ada untuk membantu mereka, yang ada cuma manusia. Jika tidak ada satu manusia pun yang bertindak, tidak akan ada yang bergerak. Saya muak mendengar para politikus dan pemimpin gereja bicara–ketika ada bencana atau semacamnya–bahwa kita harus berdoa untuk para korban karena mereka perlu itu. Tidak! Bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka perlu orang lain untuk menggali dan mengeluarkan mereka dari reruntuhan, menenangkan dan menguatkan mereka yang kehilangan, menyelidiki mengapa pesawat itu bisa jatuh, membawakan mereka obat-obatan dan makanan. Hanya berdoa saja tidak akan membuat semua itu bisa berjalan - karena yang bisa bertindak adalah manusia. Ada panti asuhan di Kenya bernama Diani Children’s Village. Anak-anak disana sama sekali tidak punya keluarga dan mereka tinggal di gubuk. Mana yang lebih mereka butuhkan: doa dan Injil atau cinta, uang, makanan, pakaian dan pendidikan?
Sebagai seorang ateis, saya menganggap hidup itu sakral. Kehidupan dan pikiran adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk disia-sia. Gunakan kedua aset itu selagi kita bisa dan bantu orang lain melakukan hal yang sama.
Apakah hal seperti itu jelek?
(pernah diposting disini pada entri bulan Juli 2007. Saya tidak pernah tahu siapa yang menulis…)
Posted in Thought