*Cédric Vincent
”‘Kebetulan’ itu tidak pernah ada. Di alam semesta ini, tidak ada satu peristiwapun terjadi kecuali seluruh entitas menginginkannya.”
- William S. Burroughs
Juli 1997, istilah ’teori persekongkolan’ (teori konspirasi) dicantumkan pertama kali pada halaman prestisius suplemen Oxford English Dictionary. Munculnya entri tersebut mengakui dan mengesahkan kepopuleran teori tersebut sejak berakhirnya Perang Dingin, seakan-akan telah menjadi cara terdepan dalam mengungkap dan membaca kejadian-kejadian terkini(1). Kesan bahwa teori ini sedang berkembang diperjelas dengan semakin banyaknya para ahli dengan referensi yang diperlukan dalam melacak konspirasi tersebut untuk kemudian membukanya ke publik. Internet berperan besar disini. Website seperti conspire, atau situs gurem semacam disinfo, menggambarkan skenario dari berbagai macam konspirasi kecil dan besar, mulai dari kecelakaan Putri Diana yang dirancang British Secret Service (agen rahasia Inggris) hingga hubungan keluarga Bush dengan Osama bin Laden(2). Jejak kegiatan teroris setelah 11 September 2001 telah mempertinggi tingkat ketakutan masyarakat dengan retorika kecurigaan yang tidak pasti(3). Terlebih lagi konotasi teroris yang menjadi simbol persekongkolan(4).
Teori konspirasi, intrik, dan theories du complot lainnya muncul ketika suatu kejadian dramatis sedang berlangsung, dan masyarakat merasa penjelasan resmi yang disiarkan menganggap peristiwa tersebut sebagai hal remeh dan memperkecil nilai kepentingannya. Teori konspirasi—pemahaman akan terjadinya persekongkolan yang melanda orang-orang yang tidak terlibat di dalamnya—menitikberatkan pada fakta-fakta nyata yang diabaikan pihak-pihak berwenang. Dengan kata lain, teori ini dimulai ketika seseorang menyadari bahwa penjelasan yang diberikan tidak sesuai dengan fakta. Sebuah buku laris karangan aktivis politik/jurnalis Perancis, Thierry Meyssan, berjudul L’Effroyable Imposture adalah ilustrasi sempurna mengenai logika tersebut(5). Tujuan Meyssan adalah mengungkap cerita sesungguhnya dibalik penyerangan 11 September dan membuatnya sebagai rencana rahasia yang dicetuskan beberapa elemen pemerintahan Amerika Serikat. Dengan membandingkan bermacam-macam gambar resmi dari Pentagon yang dirampas dari pesawat bajakan yang ditabrakkan kesana, dia mempertanyakan bagaimana “halaman depan sama sekali tidak hancur dan bangunan depan hanya rusak selebar 19 meter, sementara rentang sayap pesawat mencapai 38 meter, yang berarti sayap dan sisa-sisa kabin berada di luar gedung. Tapi hal tersebut tidak terlihat pada gambar-gambar yang diambil sesaat setelah kecelakaan. Tidak ada foto yang menggambarkan hancurnya halaman depan, atau sisa pesawat terbang. Pentagon bahkan menegaskan tidak ada puing pesawat satu keping pun di luar gedung”. Kesimpulan akhir adalah: tidak mungkin ada pesawat yang pernah jatuh disitu!
Logika tersebut diperkuat dengan tidak adanya korban jiwa serta usaha pelacakan tiap detail yang berkaitan dan menyatakan kecelakaan tersebut tidak pernah terjadi; semuanya berhubungan, bertujuan, dan memiliki arti. Karena alasan inilah maka banyak sekali ahli teori konspirasi dituduh sebagai orang yang menghubungkan berbagai macam kejadian, berjuang melawan musuh fiktif, dan berakhir dengan penyederhanaan – menyatukan kabar burung alih-alih informasi. “The Paranoid Style in American Politics“, sebuah essai yang ditulis ahli sejarah Richard Hofstadter dan terbit pada periode McCarthy saat awal Perang Dingin, masih memberi penekanan pada penelitian tentang fenomena teori komspirasi tersebut. Menurutnya, teori konspirasi adalah ‘halusinasi ketakutan’ kolektif(6). Sebagian literatur mengenai masalah ini mengadopsi garis pemikirannya, dengan pendekatan negatif dan eksotis terhadap teori itu sendiri, dan menitikberatkan pada masalah fundamentalisme, perkumpulan rahasia, kelompok pemujaan maupun golongan ekstrimis. Sejak masa Hofstadter, strategi paling andal dalam menyangkal teori konspirasi adalah memarginalkan pencetus teori tersebut sebagai patologis (’sakit’). Hal ini membangun gagasan bahwa pemikiran sosial paranoid berdasarkan pandangan dunia yang ironis, sinis dan di luar kewajaran, dibangun dari kebenaran parsial dan merupakan versi aneh dari daya tarik teori kritis itu sendiri(7). Kritikus literatur Marxist terkemuka, Fredric Jameson, secara tidak langsung turut serta dalam retorika ini saat dia menegaskan bahwa teori persekongkolan adalah ‘usaha merendahkan’ yang regresif dan ‘menghina dalam menggagas sesuatu yang sama sekali tidak mungkin terjadi dalam sistem dunia masa kini’, serta ‘pemetaan era postmodern yang payah yang dilakukan seseorang’(8).
Namun teori persekongkolan telah berurat-berakar dalam imajinasi politik hingga melingkupi tiap titik spektrum politis. Mereka menganggap sayap kanan dan sayap kiri mampu melakukan hal yang sama. Penjelasan konspirasional menjadi fitur utama pada diskursus politik, sebagai cara menarik bagi kedua kubu–yaitu mereka yang termarginalkan di satu sisi dan para elit penguasa di sisi lain–dalam memahami kekuasaan. Tetapi benar-tidaknya sebuah teori konspirasi jadi tidak begitu penting; yang penting adalah sadar-tidaknya masyarakat akan situasi yang mereka hadapi melalui peristiwa yang sedang terjadi.
’Gaya paranoid terkini’, yang menurut antropolog George Marcus telah melampaui dugaan awal Hofstadter mengenai ketidakrasionalan, mengajak masyarakat meninjau pendekatan issue tersebut dengan sungguh-sungguh(9). Sekelompok orang bisa saja memiliki kesamaan pandangan paranoid, tapi pandangan mereka berada pada struktur penjelasan yang masuk akal. Bagi Marcus, terdapat dua kerangka kontekstual terhadap issue:
1) Warisan Perang Dingin. Perang Dingin dianggap sebagai proyek pemikiran dan tindakan sosial masal yang mengisi tiap dimensi budaya mainstream, hingga ke kerangka dan retorika konseptual macam ahli teori sosial seperti Pierre Bourdieu, dimana kerangka konseptual yang mengakar pada gagasan konspirasi kelas digunakan untuk menginterpretasikan hirarki rasa di masyarakat Barat. Ahli teori schizophrenia seperti Ronald Laing menegaskan bahwa penyebab schizophrenia sangat mungkin diakibatkan oleh persekongkolan permanen yang dilancarkan keluarga terhadap seorang anak. Sementara itu, kritikus budaya James Hunt menyatakan hipotesanya bahwa spekulasi paranoid berada pada inti setiap teori(10).
2) Krisis representasi dan meta-naratif sebagai cara dalam menjelaskan apa yang terjadi di dunia. Banyak sekali peristiwa tentang berkembangnya narasi persekongkolan yang muncul di usia yang seharusnya ditandai oleh hilangnya skema penjelasan yang rumit.
Ada pendapat bahwa “kebenaran akan ditemukan saat ada kecurigaan terhadap kekuasaan, sehingga pada kasus-kasus tertentu bisa dipastikan pihak-pihak penguasalah yang bersekongkol dan pada akhirnya mereka yang mencurigai hal tersebut dianggap sebagai ‘paranoid beralasan’(11)”. Mereka yang mengadopsi pendapat ini cenderung menganggap tindakan penyangkalan terhadap teori konspirasi adalah usaha mengedepankan pandangan ideologi dominan pada mereka yang ’ketinggalan jaman’, ’tidak rasional’, dan ’percaya takhayul’. Kasus dietrologi jadi menarik disini. Dietrologi adalah ilmu atau pencarian dalam mengungkap yang tersembunyi (dietro) di balik sebuah peristiwa. Istilah ini digunakan ketika Italia sedang bermasalah pada tahun 1970 dan 1980-an. Dietrologi kerap dipergunakan secara ironis saat itu, terutama bagi pers sayap kanan, guna mengolok-olok kecenderungan berlebihan dalam mengkambinghitamkan para penguasa rahasia yang dekat dengan pemerintahan untuk seluruh kasus pembunuhan, penculikan, pengeboman atau kecelakaan yang tidak bisa dijelaskan. Tetapi ironi yang melekat dari kata tersebut seringkali digunakan untuk menyerang balik orang yang menggunakannya, ketika kesimpulan akhir dietrologis yang relevan terhadap peristiwa-peristiwa tersebut jelas-jelas mendekati kebenaran. Dengan cara yang sama, antropolog Misty Bastian yang meneliti tentang narasi media berkaitan dengan lingkaran pembunuhan elit di Nigeria menunjukkan bahwa munculnya teori persekongkolan di negara tersebut tidak memberi ruang pada pikiran yang tidak rasional dalam menjelaskan kecemasan lingkungan, ketidakpercayaan, dan desas-desus terhadap pemerintah(12). Teori persekongkolan tidak bisa di pathologikan sebagai gestur penyapuan (sweeping). Hal ini juga bukan berarti kita menyambut baik dan menerima semua teori konspirasi, tetapi hanya menekankan bahwa diagnosa paranoia politis adalah pernyataan politis itu sendiri.
Secara konvensional, konspirasi dipahami sebagai proyek gelap yang dilaksanakan untuk mendapatkan sesuatu dan biasanya dilakukan secara rahasia dan tidak nampak. Konspirasi yang ’bagus’ adalah yang tidak dapat terdeteksi dan sama sekali tidak terbukti keberadaannya. Alhasil, para ahli teori konspirasi bertugas untuk membukanya—memperlihatkan siapa perantara yang menyebabkan konspirasi tersebut. Keinginan untuk membuat hubungan-hubungan dan mendramatisasi intrik mengindikasikan digunakannya kospirasi sebagai tempat imajinasi bernaung, dimana penjelasan dapat dibangun diluar informasi resmi. Nyatanya teori konspirasi yang jauh dari kesan sederhana dan terbatas ini malah membuat dunia menjadi semakin kompleks dengan logika tersembunyi dan kontradiktif sebagai fokus, dan dengan menunjukkan cara alternatif dalam memahami dan mengerti berbagai peristiwa di dunia. Apalagi ini adalah dunia tempat para elit internasional mendorong demokrasi pluralis dan transparansi pasar, dan tempat bagi kebijakan luar negeri Amerika untuk terus diarahkan melalui proses yang tidak tembus cahaya sehingga menjadi penanda akan adanya konspirasi.
Persekongkolan dan Globalisasi
Selama lebih dari satu dekade, seluruh dunia makin bersemangat memperingati apa yang dikenal sebagai awal mula zaman baru dengan berbagai macam pengertian seperti: wilayah global, dibentuknya masyarakat informasi, kapitalisme milenium, atau bahkan awal kerajaan baru. Asumsi dasar yang sering terungkap secara implisit adalah bahwa globalisasi merupakan proses evolusi yang menyatukan seluruh dunia saat ini, fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia sebelumnya. Sebagai proses, maka asumsi tersebut terdiri dari transnasionalisasi aliran kapital, manusia, teknologi, informasi, dan semacamnya, dan meningkatnya interaksi antar berbagai belahan dunia. Hal-hal tersebut adalah aspek fenomena globalisasi yang paling bisa diterima(13).
Globalisasi mendapat tanggapan luar biasa karena adanya kemungkinan untuk bisa diwakili oleh agen ganda (double agent), apapun tingkat keterlibatan mereka dalam pergerakan yang ada. Pertentangan antara sejumlah kecil pelaku eksploitasi kaya raya dan sejumlah besar sumber yang dieksploitasi (yang bertambah miskin) mendominasi imajinasi tersebut, bahkan jika hal ini tidak berkaitan dengan kenyataan ekonomi yang ada sekalipun. Mayoritas penduduk di batas luar merasa tidak disertakan dalam sebuah proses yang menggulingkan kebiasaan dan cara-cara hidup, mati, berharap dan putus asa; tanpa membawa-bawa kesejahteraan yang pernah dijanjikan pemerintah atau organisasi internasional. Ketidakpercayaan berhadapan langsung dengan sistem dunia, ditambah dengan kecurigaan terhadap bangsa-negara, menimbulkan ketakutan dan perasaan paranoid sedemikian rupa sehingga banyak orang melihatnya—baik melalui perubahan itu sendiri maupun yang berdasarkan pada keadaan pasif mereka—sebagai karya para perantara dengan maksud jahat, atau kegiatan orang-orang terkaya dan paling berkuasa—dan terutamanya adalah hasil kerja Bangsa Barat dan Amerika. Dalam hal ini, maka tidak heran jika seorang spesialis politik semacam Zaki Laïdi mempertanyakan apakah ’globalisasi merupakan plot Barat terkini’.
Yang harus digarisbawahi adalah kebaruan berlebihan yang dibebankan pada masa globalisasi nyatanya bersifat kurang faktual dan biasa saja, ketimbang asimilasinya ke dalam proses sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diterjemahkan ke dalam kategori globalisasi. Karena inilah pemain sosial membuat globalisasi mengemuka untuk menjadi penanggungjawab atas pengorganisasian kembali kekuatan dan pengetahuan di dunia, dan mengapa mereka juga menggunakannya sebagai platform teoritis guna mendapat gambaran mengenai metamorfosis yang terjadi. Dari hal ini muncul juga keberhasilan yang dinikmati teori konspirasi yang menjadi membuka jalan dan penjelasan terhadap globalisasi. Teori konspirasi menganggap bahwa peristiwa terjadi disebabkan oleh sekelompok pencari kekuasaan yang bertindak, bekerjasama, berorganisasi, dan berbuat kecurangan. Mereka tidak terlalu siap dalam menyadari kekuatan impersonal seperti geopolotik, ekonomi pasar, globalisasi, evolusi sosial atau apa yang dikatakan anggota cyberpunk sebagai ‘korporasi otonom’. Orang-orang tersebut tetap mempertahankan nilai empirisnya secara radikal dengan mencari-cari elemen yang menumbuhkan logika terhadap konspirasi.
(Bersambung)
Notes:
Cédric Vincent adalah penulis dan penasehat editorial untuk majalah seni rupa kontemporer, Art21, yang berbasis di Paris. Vincent adalah salah satu kandidat doktor antropologi di École de Hautes en Sciences Sociales di Paris, Perancis.
Footnote:
- Peter Knight, Conspiracy Culture: From the Kennedy Assassination to the X-Files (Routledge, 2000, London).
- Paradigma teori persekongkolan kontemporer tetap ada sehubungan dengan penembakan terhadap J. F. Kennedy. Lihat novel Don DeLillo berjudul Libra (Penguin, 1989, New York).
- Mengenai kondisi ‘tersangka’ setelah peristiwa 11 September, lihat (ed.) John Knechtel, Suspect (MIT Press, 2005, Cambridge).
- Novelis Don DeLillo beranggapan bahwa terorisme telah menjadi mode narasi utama untuk bercerita pada dunia.
- Terjemahan bahasa Inggris: Thierry Meyssan, 9/11: The Big Lie (Carnot USA Books, 2003, New York). Teks dan berbagai tanggapan yang berkaitan dengan hal tersebut dapat dilihat secara online disini
- Ketika pertama kali diterbitkan tahun 1952, Richard Hofstadter menulis artikel berjudul “The Paranoid Style in American Politics and Other Essays” dan dapat ditemukan di (ed.) Mark Fenster, Conspiracy Theories: Secrecy and Power in American Culture (University of Minnesota Press, 1999, London), pp. 3-21.
- Karena itu, psikolog Floyd Rudmin mengemukakan anggapannya mengenai teori persekongkolan sebagai “sejarah dekonstruktif yang naif “.
- Fredric Jameson, Postmodernism, or, the Cultural Logic of Late Capitalism (Duke University Press, 1991, Durham). Di tempat lain, Jameson mengemukakan bahwa narasi persekongkolan pada film-film Hollywood adalah ekspresi ketidakmampuan masyarakat dalam melogika bagaimana dunia saling menempati posisinya di masa globalisasi. Menurut pendapatnya, masyarakat tertarik pada jenis cerita ini karena begitulah cara pandang sederhana mengenai apa yang sedang terjadi di “masyarakat multinasional kontemporer”; lihat bukunya The Geopolitical Aesthetic: Cinema and Space in the World System (Indiana University Press, 1992, Bloomington). Untuk penelitian, lihat Fran Mason, “A Poor Person’s Cognitive Mapping”, dalam (ed.) Peter Knight, op. cit., pp. 40-56.
- George E. Marcus (ed.) Paranoia within Reason: A Casebook on Conspiracy as Explanation (University Press of Chicago, 1999, Chicago).
- Jamer Hunt, “Paranoid, Critical, Methodical, Dali, Koolhaas and…”, dalam (ed.) George E. Marcus, ibid., pp. 21-30. Untuk kritik literatur Timothy Melley, “perbedaan antara teori paranoid dengan teori yang cemerlang adalah soal seberapa besar kekuatan penjelasan teori tersebut bagi komunitas interpretative yang sudah terberi (given) sebelumnya “. Lihat tulisan Melley, “Agency Panic and the Culture of Conspiracy”, dalam (ed.) Peter Knight, op. cit., pp. 69-70.
- Harry G. West dan Todd Sanders (eds), Transparency and Conspiracy: Ethnographies of Suspicion in the New World Order (Duke University Press, 2003, Durham/London)
- Misty Bastian. “Diabolic Realities: Narratives of Conspiracy, Transparency, and ‘Ritual Murder’ in the Nigerian Popular Print and Electronic Media”, dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, ibid., pp. 65-91.
- Jonathan Friedman, “From Roots to Routes: Tropes for Trekkers”, dalam Anthropological TheoryII, 2 (2002).
Terjemahan diambil dari sini. Iyah, mbulet ya?
Posted in Thought