Posted by: mPitzky | November 28, 2007

Memetakan yang Tak Kasat Mata: Catatan tentang Teori Konspirasi dan Alasannya (II)

(Sambungan Bagian I)

Melalui diskursus politik dan praktek negara, organisasi internasional maupun LSM tertentu, globalisasi mendapatkan kenyataan manifesnya. Konsep intrik memberitahukan sifat yang khas serta intensitas dan efek jarak jauhnya. Harus diakui bahwa mereka yang berkaitan erat dengan gagasan persekongkolan memiliki alasan yang bagus untuk curiga di hadapan kekuatan hegemonik yang mereka tambatkan guna tetap bertahan hidup. Firma internasional atau kegiatan-kegiatan yang aktif di bawah hubungan maupun kerangka geopolitis mengamini kenyataan fatal tersebut dengan cara mereka sendiri. Manipulasi yang dibuat oleh raksasa-raksasa industri seperti misalnya Shell atau Union Carbide adalah kenyataan yang sudah dikenal secara luas. Di Korea Utara, antropolog Laurel Kendall mengamati orang-orang dari kelas-kelas sosial yang berbeda yang menginterpretasikan krisis finansial Asia tahun 1998 melalui prisma Samanisme agar kekhawatiran mereka mereda dan mereka bisa mengurai benang kusut yang jahat(1).
Dalam hal ini, Fredric Jameson berkata benar; teori konspirasi adalah bagian dari respon kekuatan impersonal dan struktur tersebar yang diciptakan oleh masyarakat kontemporer (perubahan global, organisasi besar, birokrasi, jaringan informal)(2) . Mereka yang memilih menjadi anggota masyarakat kontemporer itu mengidentifikasi siapa melakukan apa dan mengapa mereka melakukannya dengan cara tersebut, demi kekuatan pemikiran paranoid yang terletak pada logika sempurna: tidak bisa salah, gagal atau ambigu. Teori konspirasi memberi arti pada peristiwa atau situasi ambigu dan dramatis. Teori tersebut berusaha menemukan narasi kontradiksi dan transformasi yang membuat dunia jadi hidup. Hal tersebut adalah salah satu cara untuk dapat membuatnya lebih dapat diterima akal sehat dengan cara mengurangi tekanan yang muncul dari kenyataan. Narasi peristiwa dan kenyataan adalah bentuk utama dalam melegitimasi pengetahuan mengenai teori konspirasi. Gagasan mengenai intrik cenderung menjadi “metadiskursus modernitas” yang paling unggul, menjadi sebuah skema yang mampu menjelaskan peristiwa sosial yang kompleks, bahkan menjadi lingua franca dalam menelusuri tekanan yang pada tahun 1991 dibaptis George Bush sebagai “Tatanan Dunia Baru”(3). Orang dapat menganggapnya sebagai alat untuk kembali memikat dunia, berusaha membuat konsep hubungan antara individu dan badan-badan sosial yang lebih besar.

Okultisme dan Transparansi
Transparansi adalah salah satu kata kunci dari Tatanan Dunia Baru dan merupakan norma yang muncul untuk demokrasi neoliberal dan kebijakan ekonomi. Firma-firma internasional dan PBB memuji transparansi sebagai tujuan dan pra-kondisi bagi bantuan ekonomi yang akan menciptakan atmosfir yang diinginkan para investor nasional. Bagi antropolog Harry G. West dan Todd Sanders, ’transparansi digunakan bagi mereka yang menganggap diri sebagai manusia modern ketika bicara tentang visi mereka dalam masyarakat modern’(4). ’Transparansi’ menjadi sinonim pemerintahan yang baik (good governance), salah satu cara merayakan rasionalitas masyarakat modern(5). Tentunya, gagasan teori persekongkolan membangun ’kebenaran’ yang tidak serupa dengan ’kebenaran’ yang dibangun oleh diskursus transparansi. Keduanya adalah formasi antagonis secara ideologis. Teori persekongkolan berpendapat bahwa ’sesungguhnya ada lebih banyak kejadian di dunia daripada yang tampak; dan kenyataan adalah semua yang terlihat dan ’transparan’’(6). Politik transparansi telah memelihara aksioma paranoid: semakin kita digempur dengan pernyataan tentang kekuasaan yang transparan, maka makin yakin kita untuk menyangkal.

Dalam rezim transparansi, intrik dan paranoia merupakan situasi berbahaya yang melekat pada tatanan institusi, karena logika birokratis memerlukan kerahasiaan. Tujuan objektif birokrasi logika memerlukan norma pengatur yang bebas dari opini publik, sebuah norma dimana pengetahuan dirahasiakan rapat-rapat. Kerahasiaan adalah kondisi penting untuk menjaga struktur dominasi terhadap luar, tetapi hal ini juga berkonflik dengan idealisme demokrasi mengenai keterbukaan. Virus yang membentuk paranoia kontemporer tertentu berawal dari situasi paradoks seperti ini. Sebagai genre, cyberpunk menggambarkan kondisi itu sebagai keadaan antara korporasi yang kaya informasi (mereka yang mengetahui rahasia-rahasia) dan kaki-tangannya; melawan orang-orang di bawah kelas yang berada di luar lingkaran korporat. Dalam cerita-cerita paranoidnya, Philip K. Dick, seorang novelis proto-cyberpunk, secara reguler menggambarkan sebuah dunia dimana pemerintah dan organisasi-organisasi besar di bangun dengan istilah konspirasi yang diciptakan oleh mereka yang memiliki pengetahuan dengan tujuan mengendalikan orang-orang kelas bawah (underclass).

Ironis, bahwa sosiolog Anthony Giddens mengidentifikasi kepercayaan sebagai salah satu karakteristik konstitutif modernitas utama; kepercayaan pada cara operasi sebuah institusi yang gerakannya tidak bisa kita kendalikan atau kita ikuti secara langsung(7). Tetapi modernitas juga menciptakan kekuasaan yang tidak tertembus yang katanya dihindari. Kepercayaan bahwa kekuasaan masih saja bersekongkol bahkan di bawah rezim demokrasi pemilu dapat dikemukakan di Mozambik maupun di Indonesia dalam bentuk referensi terhadap hitamnya dunia klenik(8).

Ketika perwakilan yang secara resmi terpilih oleh Tatanan Dunia Baru memproklamasikan keinginannya untuk mendasari diri dengan diskursus universal yang merayakan transparansi kekuasaan (melalui modernisasi, liberalisasi ekonomi, demokratisasi bentuk politik dan informasi, penegakan hak azasi manusia, pembersihan ekonomi hitam dan pembubaran jaringan mafia), pemain lokal yang mencari arti sosiabilitas sesungguhnya segera memanen hasil dari peristiwa-peristiwa yang ada. Mereka berhadap dengan mendekati sumber kekuatan-kekuatan tersebut maka mereka juga akan terciprat untung dari aliran kekuatan yang berputar di dunia. Alih-alih melawan, mereka malah mencari cara bagaimana mengungkap dan mengarahkan kekuatan yang harusnya mempertahankan dunia mereka, mengeksplorasi nuansa-nuansanya, dan mengambil keuntungan dari ambivalensi ini. Karena sebagian besar pemain lokal mengalami modernitas sebagai penanda samar-sebuah proses kontradiksi yang membantu kecairan dan fragmentasi-maka kekuatan lokal, regional dan dunia sepertinya tidak bisa diakses, tidak tertembus, dan seringnya malah diadakan untuk tujuan jahat. Dari hal-hal tersebut timbul rasa terancam atau bahaya. Dan disamping berbagai macam keyakinan dan kosmologi, masyarakat awam dan orang-orang yang didominasi akan saling bersekongkol untuk mencurigai Yang Lain: segelintir manusia yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa; mereka yang menentukan nasib dunia.

Postscript
Ketertarikan terhadap teori persekongkolan tidak hanya berawal dari buku-buku yang ditulis William S. Burroughs, Thomas Pynchon atau Don DeLillo, tapi berasal dari ketertarikan akan kegiatan sekelompok seniman dan aktivis seperti Bureau d’Etudes, The Speculative Archive, Trevor Paglen dan Mark Lombardi (orang pertama yang menghubungkan keluarga Bush dan Bin Laden). Mereka memiliki hasrat yang sama dalam mengungkap kartu yang disembunyikan dalam permainan Tatanan Dunia Baru yang jika diikuti akan kembali menyamarkan masa kecurigaan. Dalam konteks ini, karya mereka tidak lepas dari gaya paranoid kontemporer; bersekutu dengan kegiatan ahli teori konspirasi.

Karya Bureau d’Etudes yang neo-konseptualis merasa prihatin dengan pemetaan struktur jaringan finansial yang berbeda dengan menggunakan grafik kompleks yang membentuk model dan koneksi mereka dengan ketepatan semi-ilmiah. Hal ini dapat dipandang sebagai balasan yang relevan terhadap Jameson serta “pemetaan kongnitifnya yang buruk” perihal jaringan peta kekuatan yang terlalu luas untuk direpresentasikan. Trevor Paglen adalah seorang ahli geografi eksperimental, penulis dan seniman, bekerja di Fakultas Geografi University of California, Berkeley. Pekerjaannya adalah membuat dan mengurai makna bentangan budaya dan fisik. Salah satu proyek yang dia kerjakan adalah mendokumentasikan ’bentang darat’ (landscape) militer di Amerika Serikat, mulai dari yang tersembunyi di wilayah paling pelosok hingga infrastruktur raksasa.

Melalui penelitian artistik ini (diperkuat dengan penggambaran dan hasil penelitian yang telah melewati tahap visual), mode ketakutan mereka tidak terlihat seperti ideologi atau kepercayaan melainkan praktek perantara yang inventif, efektif dan sering terjadi. Berpikir tentang teori konspirasi adalah sama dengan mempertanyakan legitimisasi pengetahuan dan bagaimana menghasilkannya. Orang bisa mulai bertanya tentang nilai estetis dari ketakutan karena aliran paranoid kontemporer adalah lebih dari sekedar marginalisasi dan alienasi di dunia yang sudah cukup kejam ini.

Diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Aruna Popuri; terjemahan tambahan oleh Rana Dasgupta; diterjemahkan lagi ke dalam Bahasa Indonesia oleh saya (=

Footnote:

  1. Laurel Kendall, “Gods, Markets and the IMF in the Korean Spirit World”, dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, op. cit., pp. 38-64.
  2. “Teori persekongkolan diawali dengan usaha mempertahankan integritas diri melawan tatanan sosial. Untuk memahami hubungan seseorang dengan tatanan sosial melalui teori persekongkolan adalah, dengan kata lain, melihat orang tersebut sebagai pihak oposisi dari ‘masyarakat’”. Timothy Melley, op. cit., p. 60.
  3. Susan Harding dan Kathleen Stewart, “Anxieties of Influence: Conspiracy Theory and Therapeutic Culture in Millennial America”. Dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, op. cit., pp. 258-86.
  4. Harry G. West dan Todd Sanders (eds.), ibid., p. 7
  5. Misalnya Berlin Transparency International, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk memerangi korupsi di wilayah perdagangan internasional dan dibentuk pada bulan Mei 1993.
  6. Harry G. West dan Todd Sanders (eds.), op. cit., p. 6
  7. Anthony Giddens, The Consequences of Modernity (Standford University Press, 1990, Stanford).
  8. Harry G. West, ‘…Who Rules Us Now?’ Identity Tokens, Sorcery, and Other Metaphors in the 1994 Mozambican Elections”, Dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, op. cit., pp. 92-124.

Responses

hmmmmm. wedang kopi mbok….

Leave a response

Your response:

Categories