RSS

Petaka Pertambangan New York

24 Aug

Temanku punya kebiasaan mendatangi kebun binatang saat sedang terjadi badai taifun. Ia melakukannya sejak sepuluh tahun lalu. Saat orang-orang menutup semua celah dalam rumah mereka, bergegas menyimpan air bersih dan memeriksa kembali apakah radio dan lentera badai mereka berfungsi, temanku malah mengenakan poncho era perang Vietnam, memasukkan beberapa kaleng bir ke dalam saku, lalu pergi. Jarak antara kebun binatang dan rumahnya hanya lima belas menit berjalan kaki

Jika ia tidak beruntung, kebun binatang akan ditutup ‘karena cuaca buruk’ dan gerbangnya terkunci. Bila ini terjadi, ia akan duduk di patung tupai dari batu di sebelah pintu masuk, minum bir hangat, lalu beranjak pulang.

Jika masih bisa masuk, ia akan membayar tiket, menyalakan rokok setengah basah, kemudian meninjau binatang-binatang dalam kandang, satu per satu. Hampir semua binatang meringkuk jauh di dalam kandang. Beberapa menatap kosong pada hujan. Yang lain malah lebih riang, meloncat berputar bersama badai. Ada juga yang ketakutan karena tekanan udara turun mendadak; sementara yang lain menjadi buas.

Temanku mengawali kebiasaan itu dengan meminum bir pertamanya di depan kandang macan India. (Macan India bereaksi paling buas terhadap badai.) Lalu ia akan meneruskan bir keduanya di depan kandang gorila. Seringkali gorila-gorila itu seperti tidak terganggu dengan datangnya badai. Mereka akan tenang memandangi temanku itu yang duduk seperti duyung di atas lantai semen sambil menyesap bir, dan kau akan yakin gorila-gorila itu seperti kasihan dengan temanku.

“Rasanya seperti berada di dalam lift yang mendadak rusak dan kau terjebak bersama orang-orang yang tidak kau kenal di dalamnya,” ujar temanku.

Tanpa kebiasaannya saat badai, temanku itu memang berbeda dari orang kebanyakan. Ia bekerja di sebuah perusahaan ekspor yang mengurusi investasi asing. Bukan perusahaan terbaik, memang. Tapi lumayan lah. Ia tinggal sendiri di sebuah apartemen kecil dan rapih dan selalu berganti pacar setiap enam bulan. Mengapa dia ngotot sekali berganti pacar setiap enam bulan (dan selalu tepat enam bulan) aku tak pernah tahu alasannya. Semua perempuan itu terlihat sama, seakan-akan mereka adalah klon sempurna dari pacar sebelumnya. Aku tak bisa membedakan mereka satu sama lain.

Temanku memiliki sebuah mobil bekas kecil dan bagus, mengoleksi tulisan-tulisan Balzac, setelan jas hitam, dasi hitam dan sepatu hitam yang merupakan pakaian sempurna untuk menghadiri pemakaman. Setiap ada kenalan maupun kerabat yang meninggal, aku menghubunginya untuk meminjam pakaian itu meskipun sepatunya kebesaran satu nomor.

“Maaf, aku merepotkanmu lagi,” kataku ketika terakhir aku menghubunginya. “Ada pemakaman lagi, nih.”

“Kemarilah. Kau pasti terburu-buru,” jawabnya. “Sekarang juga tidak mengapa.”

Setiba di sana, setelan jas dan dasi hitam sudah terhampar di meja dan sudah disetrika, sementara sepatu hitam sudah disemir dan kulkasnya penuh bir impor. Lelaki seperti itulah dia.

“Beberapa hari yang lalu aku melihat seekor kucing di kebun binatang,” katanya sambil membuka sebotol bir.

“Kucing?”

“Iya. Dua minggu lalu. Waktu itu aku ke Hokkaido untuk urusan bisnis dan mampir ke kebun binatang dekat hotel. Ada seekor kucing tidur di dalam kandang dengan teralis bertuliskan “Kucing”.”

“Kucing seperti apa?”

“Kucing biasa. Belang-belang coklat, buntut pendek. Dan gendut sekali. Kucing itu seperti teronggok begitu saja dalam kandang.”

“Mungkin di Hokkaido jarang ada kucing.”

“Kau bercanda ya?” tanyanya, terkejut. “Ya pasti ada lah kucing di Hokkaido. Tidak mungkin di sana jarang kucing.”

“Ya… Begini saja: mengapa memangnya jika ada kucing di kebun binatang?” kataku. “Kucing kan binatang juga.”

“Anjing dan kucing itu jenis binatang yang biasa kabur. Mana ada orang yang mau membayar hanya untuk melihat kucing atau anjing?” tukasnya. “Lihat saja di sekelilingmu—mereka ada di mana-mana. Sama seperti manusia.”

Ketika kami telah selesai menghabiskan sepaket bir berisi enam botol, kutaruh jas dan dasi serta kotak sepatu ke dalam satu tas kertas besar.

“Maaf ya, selalu merepotkanmu begini,” kataku. “Harusnya aku membeli setelan jas sendiri, tapi aku tak pernah berhasil melakukannya. Aku merasa jika aku membeli setelan khusus untuk menghadiri pemakaman, sepertinya aku mengamini setiap ada orang meninggal.”

“Tidak masalah,” jawabnya. “Aku juga tidak memakainya. Akan lebih baik bila setelan itu dipakai orang ketimbang digantung saja dalam lemari, bukan?”

Dan begitulah kenyataannya karena selama tiga tahun ia memiliki setelan itu, dia hampir tidak pernah mengenakannya.

“Anehnya, sejak aku membeli setelan itu, tidak satu pun orang yang kukenal meninggal dunia,” ujarnya.

“Yah… Begitulah.”

“Ya. Mungkin memang begitu adanya.” Tukasnya.

Di sisi lain, bagiku tahun itu adalah Tahun Pemakaman. Teman dan mantan teman meninggal satu demi satu, seperti biji jagung layu tertiup angin kemarau. Usiaku dua puluh delapan. Semua temanku hampir seusia—dua puluh tujuh, dua puluh delapan, dua puluh sembilan. Sungguh, bukan usia yang tepat untuk mati.

Seorang penyair mungkin saja mati di usia dua puluh satu, seorang aktivis revolusioner atau bintang rock mati di usia dua puluh empat. Namun setelah itu kau akan menganggap semua baik-baik saja. Kau berhasil melalui Tikungan Maut dan kau berada di ujung terowongan, menjelajah lurus ke arah tujuan melalui jalan tol berjalur enam—mungkin sesuai keinginanmu, mungkin tidak. Kau cukur rambut, cukur jenggot dan kumis tiap pagi. Kau bukan lagi seorang penyair atau aktivis maupun bintang rock. Kau tidak lagi mabuk dan tertidur di boks telepon umum atau memasang The Doors kencang-kencang pukul empat pagi. Alih-alih kau membeli asuransi jiwa dari perusahaan tempat temanmu bekerja, minum di bar hotel, dan memegang tagihan dokter gigi erat-erat demi pengurangan pajak. Pada usia dua puluh delapan, itu sangat wajar sekali.

Namun disitulah sebenarnya pembantaian tak terduga dimulai. Seperti serangan mendadak pada suatu hari di musim semi yang malas—semacam ada seseorang yang berada di atas bukit metafisik mengokang senapan mesin metafisik dan menembakkan runtunan peluru ke arah kita. Saat kita sedang berganti pakaian, di menit berikutnya pakaian itu sudah tidak cukup lagi di badan: kerahnya terbalik dengan sebelah kaki di celana yang satu dan kaki lainnya di celana lain. Benar-benar berantakan.

Tapi begitulah kematian. Kelinci tetaplah kelinci entah dia keluar dari topi atau berlarian di ladang gandum. Oven panas tetaplah oven panas, dan asap hitam yang keluar dari cerobong asap ya cuma itu—asap hitam yang keluar dari cerobong asap.

Orang pertama yang mengangkangi perbedaan antara kenyataan dan imajinasi (atau imajinasi dan kenyataan) adalah seorang kawan dari universitas yang mengajar Bahasa Inggris di SMP. Ia telah menikah selama tiga tahun, dan istrinya sedang berada di rumah orangtuanya di Shikoku untuk melahirkan.

Pada suatu Minggu siang yang tidak biasanya hangat di bulan Januari, ia pergi ke pasar swalayan untuk membeli dua kaleng krim cukur dan pisau buatan Jerman yang cukup besar untuk memotong telinga seekor gajah. Ia kembali ke rumah lalu menyalakan air di bak mandi. Kemudian ia ambil beberapa bongkah es dari lemari pendingin, mabuk dengan sebotol Scotch, naik ke bak mandi lalu menyayat nadinya sendiri. Ibunya yang menemukan jenazah, dua hari kemudian. Polisi datang dan mengambil gambarnya dari berbagai sudut. Darah mewarnai air mandi yang jadi seperti jus tomat. Polisi menyatakan kejadian itu sebagai bunuh diri. Lagi pula, semua pintu terkunci dan, tentu saja, almarhum membeli pisaunya sendiri. Tapi mengapa dia membeli dua kaleng krim cukur yang tidak akan ia gunakan? Tak seorang pun tahu.

Mungkin ketika masih berada di pasar swalayan ia tidak sadar bahwa dalam beberapa jam ia akan mati. Atau dia khawatir kasir di sana akan tahu ia akan bunuh diri.

Ia tidak meninggalkan wasiat atau surat perpisahan. Di meja dapur hanya ada gelas, botol wiski kosong dan mangkuk es, serta dua kaleng krim cukur. Sambil menunggu air mandinya siap sambil minum bergelas-gelas Haig dicampur bongkahan es, mungkin ia menatap dua kaleng krim cukur itu dan berpikir semacam aku tidak harus bercukur lagi.

Seorang lelaki yang mati di usia dua puluh delapan adalah kesedihan yang sama seperti hujan yang turun di musim dingin.

Dua belas bulan berikutnya ada empat orang lagi yang meninggal.

Salah satunya meninggal bulan Maret dalam sebuah kecelakaan ladang minyak di Arab Saudi atau Kuwait, dan dua yang lain meninggal bulan Juni—satu serangan jantung, yang satu lagi kecelakaan. Dari Juli hingga November kedamaian berjaya, namun bulan Desember seorang teman lagi meninggal, kecelakaan mobil.

Tidak seperti temanku yang pertama, yang bunuh diri, teman-teman yang lain tidak sadar mereka sekarat. Bagi mereka mungkin seperti menaiki tangga yang telah mereka lakukan jutaan kali dan mendadak tersadar satu anak tangga hilang.

“Tolong rapihkan tempat tidur untukku,” pinta teman yang kena serangan jantung pada istrinya. Ia adalah seorang desainer furnitur. Saat itu pukul sebelas pagi. Ia terbangun pukul sembilan, bekerja sebentar di ruangannya, dan berkata ia mengantuk. Lalu ia pergi ke dapur, membuat kopi dan meminumnya. Namun kopi tidak membantu. “Kurasa aku harus tidur sebentar,” katanya. “Aku seperti mendengar bunyi berdenging di belakang kepala.” Ternyata itu adalah kata-kata terakhir. Ia meringkuk di kasur, tidur, dan tak pernah bangun lagi.

Teman yang meninggal di bulan Desember adalah yang termuda dan satu-satunya perempuan. Usianya dua puluh empat, seperti aktivis dan bintang rock. Suatu malam berhujan sebelum Natal, ia terjepit secara tragis di tempat yang sangat biasa, di antara truk pengantar bir dan tiang telepon dari semen.

Beberapa hari kemudian setelah pemakaman terakhir, aku mengunjungi apartemen temanku untuk mengembalikan setelan yang baru saja kuambil dari penatu, sekaligus memberi sebotol wiski sebagai ucapan terimakasih.

“Terima kasih. Aku sangat menghargainya,” kataku

Seperti biasa, kulkasnya penuh dengan bir dingin dan pada sofa nyaman dalam ruangan ada sedikit bias sinar matahari. Di atas meja kopi terdapat asbak bersih dan satu pot tanaman pointsettia Natal.

Ia mengambil pakaian yag masih terbungkus plastik dengan gerakan santai—seperti beruang yang baru saja bangun dari tidur hibernasi—lalu menyimpannya tanpa suara.

“Kuharap setelanmu tidak berbau kematian,” ujarku.

“Pakaian tidaklah penting. Yang penting adalah yang ada di dalamnya.”

“Hm…” aku bergumam.

“Satu pemakaman disusul pemakaman lain tahun ini,” katanya sambil meregangkan tubuh di sofa lalu menuang bir ke dalam gelas. “Berapa pemakaman jadinya?”

“Lima,” jawabku sambil membuka jemari telapak tangan kiri. “Kurasa sudah.”

“Kau yakin?”

“Sudah cukup banyak orang meninggal.”

“Ini seperti Kutukan Piramid dan semacamnya,” ujarnya lagi. “Aku ingat, aku pernah membacanya entah dimana. Kutukan itu akan terus berlangsung hingga tercapai tumbal dengan jumlah tertentu. Atau sampai terlihat bintang merah di langit dan bayangan bulan menutupi matahari.”

Setelah kami menghabiskan sepaket bir isi enam botol, kami mulai membuka wiski. Matahari musim dingin menukik lembut ke dalam ruangan.

“Kau terlihat murung belakangan ini,” katanya.

“Begitukah?” jawabku.

“Kau pasti banyak berpikir tentang sesuatu di tengah malam,” ujarnya lagi. “Aku berhenti memikirkan banyak hal di malam hari.”

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Saat aku merasa tertekan, aku bersih-bersih. Bahkan pukul dua atau tiga pagi. Aku cuci piring, mengelap kompor, mengepel lantai, memberi pemutih pada lap, merapihkan laci meja, menyetrika semua pakaian yang terlihat mata,” jelasnya sambil mengaduk minuman dengan jari. “Kulakukan itu sampai aku benar-benar lelah, minum, lalu tidur. Paginya aku bangun dan hingga aku akan mengenakan kaus kaki, aku bahkan tidak ingat apa yang semalam kupikirkan.”

Aku kembali melihat sekeliling. Seperti biasa, ruangan itu bersih dan rapih.

“Orang memikirkan berbagai hal pada pukul tiga pagi. Kita semua begitu. Karena itulah kita harus melakukan sesuatu untuk melawannya.”

“Mungkin kau benar,” jawabku.

“Bahkan binatang pun berpikir pada pukul tiga pagi,” sahutnya, dengan wajah seperti sedang mengingat sesuatu. “Kau pernah ke kebun binatang pukul tiga pagi?”

“Tidak,” jawabku lirih. “Tentu saja tidak.”

“Aku pernah sekali. Seorang temanku bekerja di kebun binatang dan kuminta padanya untuk membolehkanku masuk saat dia kebagian jaga malam. Tapi sungguh, jangan pernah kau lakukan.” Ia mengguncang gelasnya. “Pengalaman yang aneh. Aku tidak bisa menjelaskannya, namun aku merasa seperti tanah terbelah tanpa suara dan ada sesuatu yang merayap keluar dari dalam. Lalu seperti ada sesuatu tak kasat mata mengamuk dalam gelap. Dinginnya malam seperti mengental. Aku tidak dapat melihatnya tapi aku merasakannya, dan binatang-binatang di sana juga merasakannya. Semua membuatku berpikir jangan-jangan tanah yang kupijak sebenarnya mengarah ke inti bumi, dan tiba-tiba aku sadar bahwa inti bumi itu telah menghisap banyak sekali waktu.”

Aku membisu.

“Ngomong-ngomong, aku tidak ingin pergi ke sana lagi—ke kebun binatang tengah malam, maksudku.”

“Kau lebih memilih ke sana saat badai?”

“Oh, ya,” tukasnya. “Beri aku badai kapan pun.”

Telepon berdering dan ia pergi ke kamar tidur untuk mengangkatnya. Ternyata dari pacar klonnya, dengan panggilan klon telepon tanpa akhir. Aku sudah ingin pamit, namun ia menelepon lama sekali. Akhirnya aku malah menyetel televisi. Sebuah TV berwarna dua puluh tujuh inci dengan remote control yang saking sensitifnya, kau hanya perlu sedikit menyentuhnya untuk mengganti channel. TV itu dilengkapi dengan enam speaker dan suaranya jernih. Aku belum pernah melihat TV sekeren itu.

Aku mengganti-ganti channel hingga dua kali putaran sebelum akhirnya membiarkan acara berita tertampil di layar. Pertikaian di perbatasan, kebakaran, turun-naiknya nilai mata uang, pembatasan impor mobil, pertemuan renang luar ruang di musim dingin, bunuh diri keluarga. Semua kepingan-kepingan berita seperti berkaitan satu sama lain, seperti orang-orang yang kau lihat dalam foto kelulusan SMA.

“Ada berita menarik?” Tanya temanku sekembalinya ia ke dalam ruangan.

“Tidak begitu,” jawabku.

“Kau sering nonton TV?”

Aku menggeleng. “Aku tidak punya TV.”

“Setidaknya ada satu hal bagus pada TV,” ujarnya setelah beberapa saat. “Kau bisa mematikannya sesukamu. Dan tidak ada seorang pun yang  mengeluh.”

Ia memencet tombol Off di remote. Mendadak layar kosong. Ruangan senyap. Di luar jendela, lampu-lampu di gedung lain mulai menyala.

Kami duduk selama lima menit, minum wiski dan tidak bicara. Telepon berbunyi lagi, namun ia berpura-pura tidak mendengar. Ketika telepon berhenti berdering, ia memencet tombol On. Spontan, gambar kembali muncul, dan seorang komentator berdiri di depan grafik dan menunjuk dengan pointer sambil menjelaskan perubahan harga minyak.

“Kau lihat? Dia bahkan tidak sadar saat kita mematikannya selama lima menit.”

“Kalau begitu kamu benar.”

“Hei.. Kau kenapa?”

Aku merasa terlalu berat untuk berpikir, jadi, aku menggeleng.

“Ketika kau mematikan TV, salah satu pihak menjadi tiada. Ini antara dia yang ada di TV atau kita. Kau pencet satu tombol dan komunikasi menghilang. Mudah sekali.”

“Itu salah satu caramu memikirkannya,” kataku.

“Ada jutaan cara berpikir. Di India mereka menumbuhkan pohon kelapa. Di Argentina tahanan politik dijatuhkan dari helikopter yang sedang terbang.” Ia kembali mematikan televisi. “Aku tidak ingin mengatakan apapun tentang orang lain,” katanya lagi. “Tapi kau harus pertimbangkan adanya cara mati yang lain yang tidak berakhir di pemakaman. Jenis kematian yang tidak dapat kau cium baunya.”

Aku hanya mengangguk dan tidak berkata sepatahpun. Kurasa aku tahu apa maksud perkataannya. Namun di saat yang sama aku juga tidak paham apa maksudnya. Aku lelah dan sedikit bingung. Aku hanya duduk dan memain-mainkan lembar dedaunan hijau poinsetta di atas meja.

“Aku punya sampanye,” ujarnya, jujur. “Aku membawanya dari perjalanan bisnis ke Perancis tempo hari. Aku tidak begitu mengerti tentang sampanye, tapi harusnya ini enak. Kau mau? Sampanye sepertinya sesuatu yang sangat cocok setelah kau menghadiri beberapa pemakaman.”

Ia membawa sebotol sampanye dingin dan dua gelas bersih kemudian meletakkannya di meja, lalu tersenyum dengan licik. “Sampanye ini sebenarnya sangat tidak berguna, tahu,” sambungnya. “Satu-satunya hal yang menyenangkan adalah ketika kau membuka gabus penutupnya.”

“Aku setuju denganmu,” sahutku.

Kami membuka tutupnya dan bicara untuk beberapa saat tentang kebun binatang di Perancis dan hewan-hewan apa yang tinggal di sana. Sampanye itu rasanya enak sekali.

*

Selalu ada pesta tiap akhir tahun, pesta Malam Tahun Baru di sebuah bar di Roppongi yang tempatnya khusus disewa untuk acara itu. Ada trio piano bermain dan banyak makanan dan minuman enak tersedia. Saat aku bertemu seseorang yang kukenal, aku ngobrol sebentar dengannya. Pekerjaan mengharuskan aku hadir di acara-acara tersebut. Aku tidak suka pesta, namun yang ini mudah kutangani. Aku tidak punya acara apapun di Malam Tahun Baru dan aku tahan berdiri sendirian berjam-jam di sudut ruangan, santai, minum beberapa gelas, dan menikmati musik. Tak ada orang berperangai buruk yang teriak-teriak, tak perlu bertemu orang asing dan mendengar celotehan mereka selama satu setengah jam tentang bagaimana pola hidup vegetarian dapat menyembuhkan kanker.

Namun malam itu aku diperkenalkan oleh seorang perempuan. Setelah berbincang sedikit seperti sebuah perkenalan pada umumnya, aku beranjak kembali ke sudut tempatku sebelumnya. Tapi perempuan ini mengikutiku hingga ke kursi tempatku duduk dengan gelas berisi wiski di tangan.

“Aku yang meminta dikenalkan olehmu,” katanya, ramah.

Perempuan ini bukan jenis perempuan yang dapat membuatmu menoleh dua kali meskipun dia menarik. Gaun sutranya yang mahal berwarna hijau dan kukira usianya sekitar tiga puluh dua. Dia dapat membuat penampilannya terlihat lebih muda dengan sangat mudah, namun mungkin dia tidak ingin repot-repot melakukannya. Tiga cincin menghias jemarinya dan senyum samar membayang di bibir.

“Kamu mirip sekali dengan seseorang yang kukenal,” ujarnya. “Garis wajahmu, punggungmu, caramu bicara, keseluruhan pembawaanmu—persamaan yang menakjubkan. Aku telah mengawasimu sejak kau masuk ke dalam ruangan.”

“Jika memang ia benar-benar mirip denganku, ingin sekali aku bertemu dengan lelaki ini,” kataku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa.

“Sungguh?”

“Aku ingin tahu bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh mirip denganku.”

Senyumnya makin dalam seketika, lalu berubah lembut. “Itu tidak mungkin,” ujarnya. “Ia meninggal lima tahun yang lalu. Saat itu mungkin usianya sama denganmu sekarang.”

“Benarkah?”

“Aku membunuhnya.”

Trio pianis dalam ruangan baru saja menyelesaikan musik set kedua dan orang-orang bertepuk tangan setengah hati.

“Kau suka musik?” Tanya si perempuan.

“Ya, jika musik itu indah dan berada dalam dunia yang indah,” kataku.

“Di dunia yang indah tidak ada musik indah,” jawabnya, seakan sedang mengungkap rahasia terdalam. “Di dunia yang indah, udara tidak bergetar.”

“Oh, begitu…” Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tak tahu harus bagaimana menanggapinya.

“Kau pernah menonton film dimana Warren Beatty bermain piano di sebuah kelab malam?”

“Belum.”

“Elizabeth Taylor adalah salah satu tamu di kelab tersebut. Dia sangat miskin dan menyedihkan.”

“Hmmm…”

“Lalu Warren Beatty bertanya pada Elizabeth Taylor apakah dia ingin meminta lagu untuk dimainkan.”

“Lalu? Apa jawabnya?”

“Aku lupa. Film itu sudah sangat tua sekali.” Jemarinya berkilau ketika ia meminum wiskinya. “Aku benci permintaan. Membuatku tidak bahagia. Seperti ketika aku mengambil buku dari rak perpustakaan. Begitu kubuka lembar pertama dan mulai membaca, yang kupikirkan adalah kapan buku itu selesai.”

Ia ambil sebatang rokok dan diletakkan di sela bibir. Kuambil korek dan kunyalakan rokoknya.

“Jadi,” sambungnya. “Tadi kita bicara tentang seseorang yang mirip denganmu.”

“Bagaimana kau membunuhnya?”

“Aku dorong dia ke sarang lebah.”

“Kamu bercanda kan?”

“Ya,” sahutnya.

Aku tidak menghembuskan napas lega namun malah meneguk wiskiku sendiri. Bongkahan es di dalamnya telah leleh dan rasa wiskinya hampir hilang.

“Secara hukum, tentu saja aku bukan pembunuh,” ujarnya. “Secara moral juga bukan.”

“Bukan pembunuh secara hukum dan secara moral.” Meskipun aku tidak menginginkannya, aku mengulas poin-poin yang barusan ia sampaikan. “Namun kau telah membunuh seseorang.”

“Betul sekali.” Ia mengangguk riang. “Seseorang yang mirip sekali denganmu.”

Di seberang ruangan seorang lelaki tertawa terbahak-bahak. Orang-orang di sekitarnya juga tergelak. Gelas-gelas berdenting. Suara mereka jauh namun jelas sekali terdengar. Aku tidak tahu mengapa, namun jantungku berdetak cepat seakan membesar dan turun-naik. Aku merasa seperti sedang berjalan di atas tanah yang mengapung di air.

“Kurang dari lima detik,” ujarnya. “Untuk membunuhnya.”

Kami membisu sesaat. Ia memanfaatkan waktunya, mereguk kebisuan.

“Kau pernah berpikir tentang kebebasan?” Ia bertanya.

“Kadang-kadang,” jawabku. “Mengapa kau bertanya?”

“Kau bisa menggambar bunga daisy?”

“Sepertinya. Apakah ini semacam tes kepribadian?”

“Hampir.” Ia tertawa.

“Lantas? Apakah aku lulus?”

“Ya,” tukasnya. “Kau akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Intuisiku mengatakan kau akan hidup sampai tua sekali.”

“Terima kasih,” jawabku.

Band mulai memainkan lagu ‘Auld Lang Syne’.

“Sebelas lima lima,” ujarnya, menatap sekilas pada jam emas yang tergantung sebagai liontin kalung. “Aku suka sekali ‘Auld Lang Syne’. Kamu?”

“Aku lebih suka “Home on the Range”. Tentang kijang dan antelop.”

Perempuan itu tersenyum. “Kau pasti pecinta binatang.”

“Memang,” kataku. Dan aku berpikir tentang kawanku yang menyukai kebun binatang dan setelan jas pemakaman miliknya.

“Aku senang bicara denganmu. Sampai nanti.”

“Selamat tinggal,” jawabku.

*

Mereka mematikan lampu untuk menghemat udara dan kepekatan melingkupi. Tiada satu pun angkat bicara. Yang dapat mereka dengar di kegelapan hanyalah suara air menetes dari langit-langit setiap lima detik.

“Baiklah. Semuanya, usahakan jangan bernapas terlalu banyak. Kita tidak punya cukup udara tersisa,” kata seorang penambang tua. Ia berbisik, namun bahkan bisikannya membuat pilar kayu di atas langit-langit terowongan berderik samar. Dalam kegelapan para penambang berangkulan rapat, mempertajam telinga untuk dapat mendengar bunyi. Suara beliung. Suara kehidupan.

Mereka menunggu dan menunggu selama berjam-jam. Kenyataan mulai mengabur dalam kepekatan. Semuanya terasa seperti terjadi lama sekali, di sebuah dunia yang sangat jauh. Atau mungkin terjadi di masa depan, di sebuah dunia yang sama sekali berbeda?

Di luar orang-orang menggali lubang, mencoba meraih mereka. Semua seperti adegan dalam sebuah film.

Judul Bahasa Inggris New York Mining Disaster diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh Phillip Gabriel dari buku Blind Willow, Sleeping Woman, Haruki Murakami.

 

About Bitch, The

Saya? Cuma perempuan yang selalu ingin kembali kanak-kanak karena menjadi orang dewasa terkadang menyesakkan sekali. Lainnya? You describe! (=
6 Comments

Posted by on August 24, 2010 in Short Story

 

Tags: , , ,

6 Responses to Petaka Pertambangan New York

  1. Guh

    August 24, 2010 at 9:31 am

    Belum baca versi inggrisnya, tapi tidak terasa seperti membaca karya terjemahan, keren.

    Cerita aneh, baru baca sekali dan sepertinya saya tidak menemukan apa2, kecuali tokoh-tokoh tak sehat yang bosan hidup serta gambaran gaya hidup alkohol+rokok yang eksplisit dan nyaris seperti promosi. Ceritanya berputar terus sekitar kematian, ditulis orang sekarat?

     
  2. Bitch, The

    August 24, 2010 at 10:10 am

    silakan google siapa murakami dan baca kritik2 sastra tentang beliau.

     
  3. zen

    August 26, 2010 at 9:36 pm

    Salah satu respons dari temenku di FB usai membaca cerpen ini adalah: “Aku ga mudeng maksudnya apa.”

    Tepat. Itu tipikal orang yg terdidik dalam tradisi lama kesusastraan, bahwa prosa harus ada maksudnya, harus ada inti pesannya, atau bahkan pesan moralnya. Makanya, aku bilang, kalau mau memberi pemahaman baru ttg prosa pada anak2 sekolah, kasih cerpen macam ini. Dengan itu, anak2 bisa paham sedari awal bahwa prosa bisa jadi hanyalah parade karakter-karakter yang ganjil, komikal, tragis dan tak biasa.

    Cerpen ini akan asyik dibaca sambil duduk di tepi jalan Sudirman atau Thamrin pada satu sore yang sibuk, saat orang-orang pulang kerja satu per satu lewat di depanmu tanpa henti.
    :D

     
  4. Bitch, The

    August 26, 2010 at 10:51 pm

    *menjura dalam-dalam pada Master Pamei*
    terimakasih kritik dan sarannya. ya, gwa udah baca tadi di link fb lo. dari dulu gwa suka baca yg ganjil2 for the sheer joy of entertainment tanpa harus ngerti maksudnya apa, karena menulis itu seperti menyampaikan wahyu dan penulis adalah nabi. peduli setan wahyunya mau ditangkep kek gimana, dan gwa mengimani nabi murakami dengan persepsi gwa sendiri.

    i did read murakami pinjeman lu itu di deket halte tosari jumat sore. ndlosor, senderan dengan seliweran kelas pekerja sambil dengerin RATM. ya, somehow absurd tapi asik :)

    again, thanks.

     
  5. bayee

    April 27, 2011 at 6:12 pm

    cerita absurd

    orang2 absurd
    penggambaran absurd

    sastra ga berbatas
    ga perlu cerita yang ada konfliknya
    ga perlu klimaks
    ga perlu ending
    tokoh utama ga perlu nama

    i love absurdity
    kyk jalan di dlm mimpi

     
    • Bitch, The

      May 16, 2011 at 2:54 am

      sama. i love it too :D

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 256 other followers