(Ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya.)
Di dalam layar ia berperan sebagai orang malang, si bodoh yang mencintai si cantik dan membutakan diri bahwa perempuan itu tak akan mau menerimanya dalam seribu tahun sekalipun, paman yang lucu, kerabat miskin, orang kampungan tolol, pembantu, penjahat konyol, dan tidak ada satu pun diantaranya yang melibatkan adegan percintaan. Perempuan-perempuan menendang, menampar, menggoda, menertawakannya, namun tak pernah—dalam seluloid sekalipun—memandangnya, atau menyanyi, menari mengitarinya dengan cinta sinematik di mata mereka. Di luar layar ia tinggal sendiri dalam dua ruangan kosong dekat studio dan berusaha membayangkan bagaimana bentuk perempuan tanpa pakaian. Untuk mengalihkan perhatian dari subyek cinta dan hasratnya dia belajar, menjadi otodidak omnivora, menyantap mitos metaforik dari Yunani dan Roma, perwujudan Jupiter, bocah lelaki yang berubah menjadi bunga, perempuan laba-laba, Circe, semuanya; dan teologi-filsafat Annie Besant, teori medan terpadu, dan peristiwa ayat-ayat Setan pada awal karir sang Nabi, lalu politik harem Muhammad sekembalinya ke Mekah membawa kemenangan; dan betapa surealisnya koran dimana kupu-kupu bisa terbang masuk ke mulut seorang bocah perempuan, minta dimakan, anak-anak yang terlahir tanpa wajah, bocah laki-laki memimpikan detail mustahil tentang inkarnasinya yang terdahulu, misalnya di hutan keemasan penuh batu mulia. Ia isi diri penuh-penuh dengan hal-hal yang hanya Tuhan yang tahu, namun tak dapat ia sangkal dalam waktu-waktu insomnianya ia dipenuhi sesuatu yang sekalipun tak pernah ia gunakan, yang dia tak tahu bagaimana cara menggunakannya, dan itu adalah cinta. Dalam mimpi ia tersiksa oleh perempuan-perempuan yang kemanisan dan kecantikannya tak terperi, hingga ia memutuskan untuk tetap terjaga dan memaksa diri untuk melatih pengetahuan umum sebagai pelarian dari perasaan tragis karena kapasitas mencintanya yang gila-gilaan, tanpa ada satu pun orang di dunia yang bisa ia berikan.
Rehat besarnya tiba bersamaan dengan kedatangan film-film teologikal. Ketika film dengan cerita klasik purana ditambah campuran sedikit tari, nyanyi, paman yang konyol dll selasai masa jayanya, tiap dewa di panteon dapat jatahnya sendiri menjadi bintang. Saat D. W. Rama menjadwalkan membuat film tentang Ganesha, tak ada satu pun nama-nama utama di box office yang yang mau main dengan wajah tertutup kepala gajah di sepanjang film. Jibril melompat dan memanfaatkan kesempatan. Dan film itu adalah suksesnya yang pertama—Ganpati Baba—dan mendadak dia jadi seorang superstar, namun dengan belalai dan telinga menancap di kepala. Setelah enam kali memerankan dewa berkepala gajah, akhirnya ia diperkenankan melepaskan topeng kelabu berat berhidung gondal-gandul dan menggantinya dengan buntut berbulu lebat karena harus berperan sebagai Hanoman si raja monyet dalam film serial petualangan yang lebih mirip serial televisi Hong Kong ketimbang Ramayana. Serial ini jadi sangat terkenal dan buntut monyet menjadi semacam kekerenan tak tertulis bagi para pemuda-pemuda di kota, dikenakan pada pesta-pesta di mana gadis-gadisnya dikenal sebagai “kembang api” karena selalu siap sedia untuk senggama.
Setelah Hanoman tak ada yang bisa menghentikan Jibril, dan keberhasilannya yang fenomenal memperdalam kepercayaannya terhadap malaikat penjaga. Dan mengawali perkembangan yang disesalinya.
(Sepertinya Aku harus membocorkan rahasia Rekha di sini.)
Sebelum ia menggantikan kepala palsu dengan buntut palsu, Jibril jadi tak tertahankan bagi para perempuan. Godaan karena keterkenalannya itu begitu hebat hingga membuat beberapa gadis memintanya mengenakan topeng Ganesha saat mereka bercinta, yang ditolak Jibril karena penghormatan tinggi pada dewa tersebut. Karena kesucian masa kecilnya ia tak dapat membedakan antara kualitas dan kuantitas dan merasa harus melunasi masa-masa yang terlewat. Mitra seksualnya sudah begitu banyak hingga tak heran dia sering lupa nama bahkan sebelum mereka meninggalkan ruangan. Selain menjadi perayu kacangan, ia juga belajar berpura-pura karena orang yang bermain menjadi tuhan harus tanpa cela. Ia sangat terampil menutupi skandal dan perbuatan asusilanya hingga ayah angkatnya, Babasaheb Mhatre—sepuluh tahun setelah dikirimkannya si dabbawalla muda itu ke dunia ilusi, uang gelap dan hawa napsu—yang terbaring sekarat memohon agar dia menikah untuk membuktikan kelelakiannya. “Demi Tuhan, Nak,” Babasaheb meminta, “waktu dulu kubilang pergi dan jadilah homo tak kusangka kau akan melakukannya, dan kau harus tahu sampai batas mana kau menghormati orang tua.” Jibril kelabakan, tangannya melambai-lambai menandakan tidak dan mulutnya bersumpah bahwa ia tak melakukan hal tak senonoh seperti itu dan jika telah ia temukan seorang gadis yang tepat maka ia akan langsung menikah. “Apa lagi yang kau tunggu? Seorang dewi dari surga? Greta Garbo, Gracekali, siapa?” teriak si lelaki tua, batuk darah, namun Jibril meningalkannya dengan senyum misterius di bibir dan membuat Babasahed meninggal dengan tidak tenang.
Banjir seksual yang menjebak Jibril Farishta nyaris menenggelamkan bakatnya, selamanya, bakat yang berupa kemampuan mencinta dengan tulus, sangat dalam, sepenuh-penuhnya, bakat langka dan halus yang dia tak mampu tunjukkan. Saat ia dilanda sakit, ia lupa semuanya, kecuali melupakan penderitaannya ketika merindukan cinta, beputar berkelindan di dalam dirinya seperti pisau penyihir. Sekarang, selesai jadwal senam malam dia akan tidur nyenyak dan lama, seolah tak pernah sekalipun dia terjangkiti wabah perempuan impian, seakan tak pernah sekali pun ia berharap kehilangan hati.
“Masalahmu,” ujar Rekha Merchant saat berubah wujud dari awan, “adalah semua orang selalu memaafkanmu, dan hanya Tuhan yang tahu kenapa, kau selalu dibiarkan, seperti lolos dari tuduhan pembunuhan. Tak ada seorang pun yang meminta pertanggungjawaban untuk apa yang telah kau lakukan.” Jibril tak bisa menyanggah. “Berkah Tuhan,” teriak Rekha, “dan Tuhan tahu dari mana kau pikir kau datang, melompat dari selokan, dan Tuhan tahu penyakit apa yang kau bawa.”
Dan itulah yang dipikirkan perempuan, dan yang ada di pikiran Jibril saat itu, mereka hanyalah wadah tempat ia bisa menuangkan dirinya, dan ketika ia harus terus berjalan, mereka akan mengerti bahwa memang begitulah sifatnya, dan mereka akan memaafkan. Benar, tak ada seorang pun yang menyalahkannya ketika ia pergi, karena seribu satu jenis kekhilafannya, dan entah aborsi yang ke berapa, Rekha menuntut dalam bentuk lubang di awan, tentang berapa hati yang patah. Setelah bertahun-tahun ia menjadi penerima kedermawanan tanpa akhir dari para perempuan, tapi sesungguhnya ia juga seorang korban karena semua pemaafan itu memungkinkan korupsi terbejat namun termanis, mengerucut pada gagasan bahwa semua yang dilakukannya bukanlah satu kesalahan.
Rekha: ia masuk ke kehidupannya saat Jibril membeli rumah di Everest Vilas dan perempuan itu menawarkan diri-sebagai tetangga dan pebisnis-menunjukkan karpet dan barang antik pada Jibril. Suaminya sedang mengikuti kongres pembuat bantalan gotri sedunia di Gothenburg, Swedia, dan saat suaminya pergi ia undang Jibril masuk ke dalam apartemennya yang terbuat dari rangkaian batu Jaisalmer dan pegangan kayu berukir dari istana Kcralan dan batu chhatri serta cupola Mugal berubah menjadi kolam arus; lalu ia tuangkan sampanye Perancis sambil bersandar pada dinding marmer dan nadi dingin bebatuan itu menjalari punggung. Saat Jibril menyesap sampanye Rekha menggodanya, tidak seharusnya dewa minum alkohol, lalu dijawab dengan kalimat dari dialog yang dia baca saat wawancara dengan Aga Khan, Oh, kau tahu lah, sampanye ini kan hanya untuk penampilan luar saja, dan saat tersentuh bibirku, dia berubah jadi air. Setelah itu, tak lama berselang ia sentuh bibir si lelaki untuk kemudian meleleh dalam pelukan kelelakian. Saat anak-anak pulang sekolah bersama para pembantu mereka, ia telah kembali berpakaian dan bersanggul tanpa cela, duduk di ruang kerja, menunjukkan rahasia bisnis karpet, memberi pengakuan bahwa sutra seni adalah untuk keperluan artifisial dan bukan artistik, berkata untuk tidak tertipu brosur yang secara menggoda menjelaskan karpet dibuat dari bulu leher anak kambing, dan itu artinya wol kelas rendah, iklan, apa yang harus dilakukan, dan begitulah.
Ia tak mencintai perempuan itu, tak setia padanya, lupa ulang tahunnya, tak membalas teleponnya, muncul di saat yang tak terduga ketika banyak tamu dunia alas pergotrian datang ke acara makan malam, dan seperti semua orang, perempuan itu memaafkannya. Namun pemaafaannya tidak diam-diam dan lemah seperti yang lain. Rekha mengeluh seperti orang gila, ia memberinya angkara, ia teriak dan mengatai lafanga-nya tak berguna dan haramjadah dan salah dan bahkan, secara ekstrim, menuduhnya akan kemungkinan bersetubuh dengan adik perempuan yang tidak dimiliki Jibril. Ia tak memberi kesempatan pada Jibril, menuduhnya sebagai mahluk yang hanya mementingkan penampilan, seperti layar film, lalu ia berlari dan memaafkannya dan membiarkan Jibril melepaskan pakaiannya. Jibril tak tahan pemaafan operatik Rekha Merchant, yang lebih menyentuh karena posisinya yang penuh cela, ketidaksetiaannya pada raja alas gotri, yang namanya hampir tak pernah disebut, dan menahan semua pukulan verbal itu layaknya laki-laki. Dan ketika maaf yang dia terima dari para perempuan membuatnya dingin dan lupa sesaat maaf itu terucap, ia tetap kembali pada Rekha hingga perempuan itu terus bisa menyiksanya lalu menenangkannya kembali karena hanya dia yang tahu caranya.
Lalu dia hampir mati.
Ia sedang membuat film di Kanya Kumari, berdiri di ujung paling ujungnya Asia, telibat dalam adegan perkelahian di Cape Comocin saat sepertinya ada tiga laut yang saling memukul satu sama lain. Tiga pasang ombak bergulung dari barat timur selatan lalu bertumbukan dengan suara bertepuk membahana saat Jibril dipukul di rahang, timing sempurna, dan ia pingsan di tempat, jatuh terjengkang menabrak buih tri-lautan. Tak bangun-bangun.
Awalnya semua orang menyalahkan pemeran pengganti, seorang raksasa Inggris bernama Eustace Brown, yang memukul Jibril. Ia memprotes keras. Bukankah dia orang yang sama dengan yang memerankan lawan Menteri Kepala N.T. Rama Rao dalam banyak peran film teologikal? Bukankah dia telah menyempurnakan seni membuat orang tua terlihat bagus dalam adegan pertempuran tanpa menyakitinya? Bukankah dia tak pernah sekali pun mengeluh bahwa NTR tak pernah ragu memukul sehingga dia, Eustace, sering berakhir biru-lebam, dihajar habis-habisan oleh orang tua mungil yang bisa dia santap untuk sarapan—dalam setangkup roti bakar—dan tak pernah sekali pun dia hilang akal? Lalu? Mengapa orang-orang berpikir dia akan menyakiti Jibril yang abadi? Dan dia tetap saja dipecat dan polisi menjebloskannya ke bui, untuk jaga-jaga.
Namun bukan pukulan itu yang meratakan Jibril. Setelah sang bintang diterbangkan ke Breach Candy Hospital Bombay dalam jet Angkatan Udara yang memang disediakan untuk keperluan tersebut; setelah serangkaian tes melelahkan ternyata tanpa hasil; dan ketika ia terbaring tanpa sadar, sekarat, dengan tekanan darah yang sangat rendah dari ukuran normal lima belas hingga empat koma dua, juru bicara rumah sakit menghadapi press nasional di lantai putih Breach Candy. “Ini misteri yang aneh sekali,” ujarnya. “Anda bisa menyebutnya, jika Anda suka, kuasa Tuhan.”
Jibril Farishta mengalami perdarahan pada organ dalam tanpa sebab apapun, dan berdarah sampai mati di bawah kulitnya. Pada saat-saat terburuk, darah mulai mengalir dari dubur dan penisnya, dan sepertinya akan menyembur hebat dari hidung dan telinga dan dari sudut mata. Selama tujuh hari ia berdarah dan menerima transfusi, dan zat pengental yang dikenal dunia medis, termasuk konsentrat semacam racun tikus, dan perawatan hanya membawa keberhasilan minimal, para dokter angkat tangan.
Seluruh India berada di sisi tempat tidur Jibril. Kondisi kesehatannya adalah kepala berita di tiap buletin radio, menjadi subjek berita terkini setiap jam pada jaringan televisi nasional, dan kerumunan yang berkumpul di Warden Road sangatlah banyak hingga polisi harus membubarkan mereka dengan tembakan lathi dan gas airmata yang tetap mereka gunakan meskipun setengah juta penduka telah bersimbah airmata dan meratap. Perdana Menteri menunda semua janji temu dan terbang menjenguknya. Putranya yang menjadi pilot pesawat duduk dalam kamar Farishta, menggenggam tangannya. Kecemasan menggantung di atas negara, karena jika Tuhan telah melepas hukumanNya pada perwujudan paling terkenal di India, apa lagi yang akan Dia berikan pada negara ini? Jika Jibril wafat, akankah India tertinggal jatuh di belakang? Di mesjid dan di kuil, jemaat berkumpul dan berdoa bersama, bukan hanya tertuju pada hidup sang aktor sekarat, tapi untuk masa depan, untuk mereka sendiri.
Siapa yang tidak menjengok Jibril di rumah sakit? Siapa yang tidak pernah menyurati, menelepon, mengirim bunga, mengirim rantang atau makanan rumahan yang lezat? Ketika banyak sekali para pencinta tanpa malu mengirimkan kartu cepat sembuh dan pasanda domba, siapa yang paling mencintai lelaki itu tapi paling menahan diri, tanpa dicurigai suaminya yang bulat seperti bantalan gotri? Rekha Merchant mengalungkan besi pada hatinya, melalui hari-hari seperti biasa, bermain dengan anak-anak, mengobrol dengan suami, berperan sebagai nyonya rumah yang baik saat diperlukan, dan tak pernah, sekali pun, menunjukkan jiwanya yang merapuh.
Lalu lelaki itu sembuh.
Kesembuhan itu sama cepat dan misteriusnya seperti penyakitnya sendiri. Yang juga disebut (oleh rumah sakit, jurnalis dan teman-teman) sebagai tindakan Yang Kuasa. Libur nasional diumumkan; kembang api dinyalakan dan menghias penjuru langit. Namun ketika Jibril mendapatkan kekuatannya kembali, dia jelas-jelas sudah berubah, secara drastis, karena kini ia telah hilang kepercayaan.
Di hari ketika ia meninggalkan rumah sakit polisi mengiringinya melalui jalanan penuh manusia yang merayakan keselamatan—sama sepertinya—merayap naik ke atas mobil Mercedez-nya, menyuruh supir agar menyesatkan kendaraan yang coba mengejar, dan menghabiskan tujuh jam lima puluh satu menit, dan pada manuver terakhir ia lakukan apa yang harus dilakukan. Jibril turun dari limusinnya di depan hotel Taj dan tanpa menoleh kanan-kiri langsung ke ruang makan besar dengan meja prasmanan yang mengerang diberati makanan-makanan terlarang, dan ia mengisi piring dengan sosis babi dari Wiltshire dan paha babi berbumbu dari York dan dendeng babi entah dari mana; dengan steak babi kekafiran dan kaki babi sekularisme; lalu, di sana ia berdiri, di tengah ruangan, sementara fotografer bermunculan dari udara, Jibril makan secepat mungkin, melesakkan babi-babi mati ke dalam mulutnya dengan sangat cepat hingga seberkas dendeng babi menggelantung dari sisi mulutnya.
Semasa sakit, tiap menit Jibril memanggil Tuhan, tiap detik, tiap menit. Ya Allah yang abdiNya sedang terbaring dalam darah jangan tinggalkan aku sekarang setelah begitu lama menjagaku. Ya Allah beri aku petunjuk, pertanda kecil atas bantuanMu, yang mungkin dapat kujadikan kekuatan untuk menyembuhkan sakitku. Oh Tuhan yang pengasih dan penyayang, dampingi diriku saat aku berkesusahan, saat aku sedang berduka. Kemudian ia sadar bahwa ia sedang dihukum, dan untuk beberapa saat itu memungkinkannya untuk menahan kesakitan, namun setelah beberapa waktu ia menjadi marah. Cukup, Tuhan—begitu tuntutan kata-kata yang tak terucap—mengapa aku harus mati padahal aku tak membunuh, apakah Kau pendendam atau cinta? Kemurkaannya pada Tuhan membuatnya mampu melalui hari demi hari, namun itu pun memudar, digantikan dengan kekosongan yang begitu parah, pengasingan, lalu ia sadar ia hanya bicara pada—udara kosong—dan tidak ada siapapun di sana, dan ia merasa jadi orang paling bodoh seumur hidup, dan ia mulai berdoa pada kekosongan, ya Allah, meng-ada-lah, bangsat, meng-ada-lah. Namun ia tak merasakan apapun, kosong, nihil, hingga suatu hari ia sadar ia tak diperlukan lagi di sana dan tak ada yang dirasakan. Pada hari metamorfosa itu penyakitnya berubah dan kesembuhannya bermula. Dan untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa tuhan itu tidak eksis, ia berdiri di tengah ruang makan di hotel paling terkenal di kota, dengan daging babi menggelantung dari wajah.
Jibril mendongak dari piringnya, mendapati seorang perempuan sedang memperhatikannya. Rambutnya begitu pirang hingga hampir terlihat putih, dan kulitnya berwarna secerah es pegunungan. Perempuan itu tertawa pada Jibril dan berlalu.
“Kau lihat kan?” teriak Jibril ke perempuan itu, membuat serpihan sosis muncrat dari sudut mulut. “Nggak ada yang tersambar petir. Itu intinya.”
Perempuan itu kembali dan berdiri tepat di hadapannya. “Kau hidup,” ujarnya. “Kau mendapat hidupmu kembali. Itu. Intinya.”
Ia katakan pada Rekha: saat perempuan itu berbalik dan berjalan ke arahku aku jatuh cinta padanya. Alleluia Cone, pendaki gunung, yang mengalahkan Everest, Yahudi pirang, Ratu Es. Tantangannya—rubah hidupmu, atau kau hanya kembali dengan tangan kosong—aku tak tahan.
“Kau dan reinkarnasi sampahmu,” Rekha meyakinkannya. “Kepalamu kosong. Kau keluar rumah sakit, kembali melalui pintu kematian, dan semua hanya mampir ke kepalamu, kau bocah gila, kau itu memang harus berada dalam petualangan, dan di situlah dia, jebret, si gadis pirang. Kau pikir aku tak tahu sifatmu, Gibbo, sekarang apa, kau ingin aku memaafkanmu atau bagaimana?”
Tak perlu, sahutnya. Ia tinggalkan apartemen Rekha (dan selirnya itu pun menangis, menunduk, memandangi lantai); dan tak pernah kembali lagi. Tiga hari setelah ia bertemu perempuan itu dengan mulut penuh daging kotor, Allie naik pesawat dan pergi.
Tiga hari yang tak pernah cukup untuk berdiam di balik pintu berpenanda “Jangan Diganggu”, namun pada akhirnya mereka sepakat bahwa dunia di luar sana adalah realita apa yang mungkin adalah mungkin dan yang tidak mungkin adalah mustah—pertemuan singkat, kapal lewat, cinta di ruang persinggahan. Setelah perempuan itu pergi Jibril beristirahat, mencoba menutup telinga dari tantangannya, memutuskan untuk mengembalikan hidupnya menjadi normal. Hanya karena dia kehilangan iman bukan berarti dia tidak bisa bekerja, tanpa mengindahkan skandal fotonya sedang makan babi, skandal pertama yang melekat pada namanya, dia menandatangani kontrak film dan kembali bekerja.
Kemudian, suatu pagi, sebuah kursi roda teronggok kosong dan dia pergi. Seorang penumpang berjenggot, seorang Ismail Najmuddin, naik ke pesawat dengan nomor penerbangan AI-420 ke London. 747 itu dinamai seperti salah satu taman di Surga, bukan Gulistan, namun Bostan. “Untuk terlahir lagi,” ujar Jibril Farishta pada Saladin Chamcha beberapa lama kemudian, “pertama kau harus mati. Aku, aku hanya setengah kadaluarsa, tapi aku sempat mengalami itu dua kali, rumah sakit dan pesawat, jadi, kalau dihitung ya bisa. Dan sekarang, kawanku Spoono, aku berdiri di hadapanmu di London yang Benar, Vilayet, teregenerasi ulang, orang baru dengan kehidupan baru. Spoono, ini benar-benar bangsat yang bagus, kan?”
Mengapa dia pergi?
Karena perempuan itu, tantangan perempuan itu, kebaruannya, kegarangan mereka saat sedang bersama, hal mustahil yang membendung tanpa bisa dicegah dan menuntut haknya untuk men-jadi.
Dan, atau, mungkin: karena setelah ia makan babi hukuman itu dimulai, hukuman nokturnal, hukuman mimpi.


One Response to Tentang Malaikat dan Pahlawan #1