RSS

Tentang Malaikat dan Pahlawan #2

13 Apr

(Ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya.)

3.

Ketika penerbangan ke London lepas landas—berkat trik sulapnya yang mengaitkan dua jemari dan memutar jempol kedua tangan—seorang lelaki kecil usia empatpuluhan yang duduk di tempat bebas rokok dekat jendela menatap kota kelahirannya menjauh seperti kulit ular yang lepas, mengguratkan sekerjap kelegaan di rautnya. Wajah itu tampan dengan aura bangsawan masam, berbibir tebal dan memble seperti ikan ayam-ayaman yang sedang jijik, sementara alisnya tipis menaik di atas sepasang mata yang selalu mengawasi dunia dengan semacam kewaspadaan merendahkan. Tuan Saladin Chamcha membentuk air mukanya secara hati-hati—perlu waktu bertahun-tahun untuk menjadi seperti yang diinginkannya—dan bertahun-tahun setelahnya dia menganggap itu sebagai muka aslinya—dan memang, karena dia telah lupa bagaimana tampangnya sendiri sebelumnya. Apalagi dia telah menyesuaikan suara agar sesuai dengan bentuk wajah, suara dengan bunyi vokal malas dan lamban terseret dikontraskan dengan ketergesaan konsonan patah-patah. Suara-muka seperti itu memang kombinasi dahsyat. Namun dalam kunjungan terakhir ke kota tempatnya dibesarkan—pertama dalam lima belas tahun terakhir (masa yang, menurut pengamatanKu, juga adalah zaman keemasan Jibril Farishta sebagai seorang bintang), ada kecenderungan yang menimbulkan rasa khawatir. Sayangnya, itu adalah perihal suara (yang paling menonjol), lalu wajahnya sendiri mulai membuatnya kecewa.

Sudah mulai—Chamcha melepaskan jemarinya dan berharap, sambil kemalu-maluan, agar rekan seperjalannya tak ada yang memperhatikan tindakan takhayul yang barusan dia lakukan, lalu menutup mata dan membayangkan—sambil sedikit bergidik ngeri—penerbangannya ke timur beberapa minggu lalu. Ia jatuh tertidur begitu pulasnya, jauh di atas pasir gurun Teluk Persia, dan bermimpi dikunjungi orang asing yang aneh, lelaki berkulit beling, bersedih sambil mengetuk-ngetukkan buku jarinya pada lapisan rapuh-tipis yang meliputi di seluruh tubuh, memohon pada Saladin agar dapat kabur dari penjaranya. Chamcha memungut batu dan memukuli kulit kacanya. Saat itu juga darah merembes keluar dari pembuluh mirip renda retak, dan saat Chamcha memunguti pecahan tubuh orang asing itu, yang lain berteriak karena gumpalan daging juga turut terlepas bersama serpihan beling. Tepat pada saat itu seorang pramugari membungkuk ke arah Chamcha yang tertidur dan menuntut dengan keramahan tanpa ampun khas suku bangsanya: “Anda ingin minum, Tuan? Minuman?” dan Saladin, muncul dari mimpinya, tanpa sadar wicaranya bermetamorfosis keBombay-Bombayan, padahal telah lama ia berjuang (sangat keras!) untuk melupakannya. “Accha, artinya apa?” gumamnya. “Minuman beralkohol atau apa?” Dan ketika pramugari meyakinkannya—apapun yang Anda mau, Tuan, semua minuman ini gratis—ia kembali mendengar, suara yang menghianatinya: “Oh, baiklah, bibi, satu wiski-soda saja ya.”

Kejutan yang tak menyenangkan! Ia tersentak bangun, lalu duduk di kursi dengan punggung tegak, mengacuhkan minuman beralkohol dan kacang. Bagaimana mungkin masa lalunya menggelembung, dan vokal serta konsonannya berubah? Selanjutnya apa lagi? Apa nanti ia akan mengusap minyak kelapa di rambutnya? Apa ia nanti akan memencet-mencet hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, menghembus dengan berisik kemudian mengeluarkan benang perak dalam bentuk ingus tebal? Apa ia akan jadi penggemar gulat profesional? Sikap memalukan apa lagi nanti yang akan mendadak keluar? Harusnya dia tahu, pulang adalah kesalahan—setelah sekian lama, hal itu tak lebih dari regresi; perjalanan yang tak alamiah; penyangkalan waktu; revolusi melawan sejarah; segalanya tinggal menunggu waktu untuk hancur.

“Aku bukan diriku sendiri,” pikirnya ketika gemelitik samar ia rasakan di sekitar hati. Namun, apa artinya, tambahnya dengan getir. Lagipula, “les acteurs ne sont pas des gens”–aktor bukanlah manusia sesungguhnya–begitu yang dilebih-lebihkan Frederick dalam “Les Enfants du Paradis”. Lapis demi lapis topeng terkelupas hingga yang tersisa hanya tengkorak telanjang tanpa darah.

Tanda sabuk pengaman menyala, suara Pak Pilot memperingatkan adanya turbulensi, dan kantung udara jatuh. Gurun pasir tersentak-sentak di bawah mereka, seorang pekerja migran yang naik dari Qatar berpegang erat pada radio transistor raksasanya dan akan segera muntah. Chamcha lihat dia tidak memasang sabuk pengaman, berdehem, lalu suaranya kembali beraksen Inggris. “Hey, mengapa kau tidak…” ia menunjuk, tapi orang itu, selagi akan mulai muntah ke kantong yang diberikan Saladin tepat pada waktunya, menggeleng, menggedikkan bahu, dan menjawab: “Sahib, buat apa? Jika Allah berkehendak, saya mati. Jika tidak, ya saya tidak mati. Apa gunanya sabuk pengaman?”

India sialan! Chamcha memaki diam-diam, kembali terhenyak di kursinya. Sana ke neraka, aku sudah lama lepas dari jeratmu, kau tidak akan menarikku lagi, dan kau tidak bisa menyeretku.

Pada suatu hari—sepertinya terjadi dan sepertinya tidak, kebiasaan pada cerita lama—mungkin ya mungkin tidak, bocah lelaki usia sepuluh dari Scandal Point, Bombay, menemukan dompet tergeletak di jalan di luar rumah. Pulang sekolah dia, baru saja turun dari bus sekolah, patuh tak pernah protes karena harus duduk tergencet diantara keringat lengket bocah-bocah lain dan harus tahan terhadap keberisikan mereka, dan pada usia itu dia telah merasa jijik dengan hingar-bingar, sikut-sikutan dan keringat orang asing dan agak mual karena perjalanan ajrut-ajrutan dan lama. Namun ketika dilihatnya dompet kulit dan gemuk itu teronggok di dekat kaki, mualnya tergantikan, lalu ia membungkuk senang, mengambil—membuka—dan terkejut girang dengan banyaknya uang di dalamnya—tidak hanya rupee tapi ini uang betulan, berharga tinggi di pasar gelap dan penukaran mata uang internasional—pounds! Pounds sterling—uang Inggris nan berat—dari London yang Benar di negara dongeng Vilayet seberang perairan hitam yang jauh. Terperangah karena gulungan uang asing tebal, si bocah mendongak memastikan tak ada yang melihat, dan sejenak sepertinya ujung pelangi dari surga turun ke jidatnya, pelangi bak napas malaikat, seperti doa yang terjawab, berujung pada tempat dia berdiri. Jemarinya bergetar saat meraih dompet, meraih harta menakjubkan.

“Berikan.” Setelah beberapa waktu yang lama ia yakin sang ayah memang memata-matainya ketika kanak-kanak, dan meskipun Changez Chamchawala bertubuh besar seperti raksasa, dengan kekayaan dan status sosialnya, langkahnya selalu ringan dan pelan dan punya kecenderungan mengendap-endap di belakang putranya, mengagetkannya, menghentak seprai bocah Saladin di malam hari hanya untuk menampakkan penis memalukan sedang tergenggam, tertangkap basah. Dan dia bisa mengendus uang dari jarak seratus satu mil, bahkan dengan bau kimia dan pupuk menyengat yang selalu melingkupinya, mengnkondangkan namanya sebagai pembuat tahi buatan serta obat dan cairan semprot terbesar di negara itu. Cangez Chamchawala, penyebar kesejahteraan, pezinah, legenda hidup, cahaya utama bagi pergerakan nasionalis, melompat dari pagar rumahnya dan menyambar dompet gemuk dari tangan putra frustasi. “Ck, ck,” ia memperingatkan, mengantongi lembaran mata uang pounds sterling, “kau tak boleh mengambil apapun yang tergeletak di jalan. Tanah itu kotor, dan uang lebih kotor lagi.”

Di rak dalam ruang kerja Changez Chamchawala yang bernuansa jati, di samping sepuluh set volume Arabian Nights terjemahan Richard Burton yang perlahan termakan lembab dan ulat buku karena prasangka mendalam terhadap buku membuat Changez memiliki ribuan benda “berbahaya” hanya untuk dipermalukan dengan meninggalkannya membusuk tak terbaca, ada lampu ajaib dari bahan kuningan dan tembaga mengilap, tiruan wadah jin milik Aladdin sendiri: sebuah lampu yang memohon untuk digosok. Namun Changez tak pernah menggosok dan tak mengizinkan siapapun—contohnya, si putra—menggosoknya. Ia meyakinkan anaknya, “suatu hari kau akan memilikinya. Gosoklah sesukamu dan lihat apa yang tidak akan muncul di hadapanmu. Tapi saat ini, benda ini milikku.” Janji lampu ajaib itu mempengaruhi Master Salahuddin dengan anggapan suatu hari nanti semua masalah akan berakhir dan hasrat terpendamnya terpuaskan, yang harus dia lakukan adalah menunggu saatnya tiba; tapi kemudian ada peristiwa dompet itu, ketika keajaiban pelangi menyentuhnya, bukan ayahnya tapi dia, dan Changez Chamchawala telah mencuri bongkah batu emasnya. Selanjutnya si anak yakin ayahnya akan menggilas semua harapan kecuali dia bisa pergi. Dan sejak saat itu ia ingin sekali pergi, minggat, menempatkan samudra antara dia dan si lelaki hebat.

Salahuddin Chamchawala paham ketika usianya tiga belas bahwa takdirnya adalah di Vilayet keren penuh dengan janji renyah akan pounds sterling dan gulungan uang ajaib adalah pertanda, dan dia makin tak sabar pada Bombay yang berdebu, vulgar, polisi bercelana pendek, banci, majalah film, gembel di trotoar dan pelacur yang menyanyikan gosip di Grand Road yang mulanya adalah pengikut kepercayaan Yellama di Karnataka tapi akhirnya menjadi penari di kuil daging yang lebih prosaik. Ia muak dengan pabrik tekstil, kereta lokal, keruwetan dan ketumpahruahan tempat itu, ia rindu Vilayet impian yang elegan dan rapi yang merasukinya siang malam. Lagu dolanan kesukaannya adalah yang berjenis kerinduan pada kota asing: kitch-con kitchy-ki kitchy-con stanty-eye kitchy-opel kitchy-cople kitchy Con-stanti-nopel. Dan permainan favoritnya adalah Lari Patung dimana saat dia jaga dia akan memunggungi teman-temannya dan bicara dengan cepat, seperti mantra, seperti kutukan, enam huruf kota impiannya—ellowen deeowen. Dalam hatinya terdalam ia merangkak diam-diam mendekati London, huruf demi huruf, saat teman-temannya mendekat. Ellowen deeowen London.

Mutasi Salahuddin Chamchawala menjadi Saladin Chamcha pun dimulai, dan itu terlihat di Bombay tua, lama sebelum dia cukup dekat untuk mendengar singa Trafalgar mengaum. Ketika tim kriket Inggris bermain melawan India di Stadion Brabourne, ia berdoa untuk kejayaan Inggris, untuk pencipta permainan itu agar mengalahkan pemula lokal, demi terjaganya tatanan semua hal. (Namun herannya, permainan itu seri, berkat wicket Stadion Brabourne yang seperti diayun-ayunkan keuntungan situasi; dan isu besar, pencipta lawan penjiplak, penjajah lawan terjajah, tanpa bisa dihindari lagi, tetap tak terpecahkan.)

Usia tiga belas ia sudah cukup besar untuk bermain di bebatuan di Scandal Point tanpa harus diawasi pengasuhnya, Kasturba. Dan suatu hari (sepertinya ya sepertinya tidak) ia berjalan keluar rumahnya yang luas, bergaya Parsi dengan tembok berguguran bercampur garam, semua tiang, daun jendela dan balkon mungil, melewati kebun kebanggaan dan kesayangan sang ayah yang memberi kesan tak terbatas pada cahaya malam yang sedemikian rupa (yang juga penuh misteri, seperti teka-teki tak terpecahkan karena tak ada satu pun, tak juga ayah atau si tukang kebun, yang dapat memberitahukan padanya nama sebagian besar tanaman di sana), dan di luar pagar, seonggok kebodohan megah, reproduksi busur kemenangan Septimus Severius dari Roma, lalu di seberang jalanan liar menggila, melampaui dinding laut, dan akhirnya pada hamparan luas batu hitam berkilat dengan kumparan-kumparan kecil serupa udang di atasnya. Gadis-gadis Kristen mengenakan rok cekikikan, para lelaki dengan payung tergulung rapi berdiri diam-diam memandang saujana biru. Dari ceruk sebuah batu hitam Salahuddin melihat seorang pria mengenakan dhoti membungkuk di atas kolam. Pandang mereka beradu, dan si pria mengisyaratkan dengan telunjuk melintang di bibirnya. “Sssttt.” Dan misteri kolam batu menarik si bocah mendatangi orang asing tersebut. Tubuhnya tak lebih dari tulang berbalut kulit. Bingkai kacamatanya seperti terbuat dari gading. Jemarinya mengikal-ikal, seperti kail, kemarilah. Saat Salahuddin mendekat, lelaki lain membekuknya, membungkam mulutnya dan mengarahkan tangan si bocah ke selangkang tua dan kurus, meraba tulang berdaging diantara kaki. Dhoti berkibar membuka. Salahuddin tak pernah tahu bagaimana cara melawan; ia lakukan apa yang dipaksakan padanya, sementara lelaki yang satu berpaling kemudian melepaskannya.

Setelah itu Salahuddin tak pernah lagi bermain-main di bebatuan di Scandal Point; dan tak pernah menceritakan kejadian itu pada siapapun, mengingat krisis syaraf yang akan menimpa ibunya dan perkiraan reaksi sang ayah yang akan menuduh semua murni kesalahannya. Segalanya terlihat menjijikkan, segala yang menyangkut tempatnya dibesarkan dan membuatnya ingin menyumpah-serapah mengerucut menjadi satu dalam rengkuhan tulang-belulang orang asing, dan setelah dia lolos dari setan jerangkong, kini dia harus kabur dari Bombay, atau mati. Ia mulai berkonsentrasi penuh pada gagasannya, untuk selalu memperbaiki niat, makan eek tidur, meyakinkan dirinya mampu membuat keajaiban tanpa bantuan lampu ajaib ayahnya sekalipun. Ia bermimpi terbang keluar dari jendela kamar dan pemandangan di bawahnya, di sana—bukan Bombay—tapi London yang Benar sebenar-benarnya, Bigben Nelsonscolumn Lordstavern Bloodytower Queen. Namun saat ia mengambang leluar metropolis dirasakannya tubuh makin ringan, dan betapapun kuatnya ia menendang dan berenang di udara badannya bergulung membentuk spiral perlahan turun ke bumi, lalu makin cepat, bertambah cepat, sampai ia menjerit seiring kepalanya meluncur lebih dulu menuju kota, Saintpauls, Puddinglane, Threadneedlestreet, menuju titik nol ke London seperti bom.

***

 

 

About Bitch, The

Saya? Cuma perempuan yang selalu ingin kembali kanak-kanak karena menjadi orang dewasa terkadang menyesakkan sekali. Lainnya? You describe! (=
3 Comments

Posted by on April 13, 2011 in Project: Dream

 

Tags: ,

3 Responses to Tentang Malaikat dan Pahlawan #2

  1. eMina

    April 16, 2011 at 7:41 pm

    akhirnya nemu juga transletan satanic verse :mrgreen:

     
  2. Bitch, The

    April 17, 2011 at 4:56 am

    wah. kemana aja, teh? :)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 256 other followers