<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The sky is NOT the limit</title>
	<atom:link href="http://learnerwithoutborder.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com</link>
	<description>free your mind, free your soul</description>
	<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 22:04:05 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>When Freedom Shut (Ketika Kebebasan Dibungkam)</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2008/04/11/2/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2008/04/11/2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 22:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mPitzky</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[
Hear us, world! Hear us, the Indonesians, mourn for our freedom of speech, freedom of expression. Crushed by our own rulers/decision makers who promised to speak out our voices. Based on righteousness hypocrisy, they prevent our eyes to open and see the brutal truth and listen to an egomaniac, self-proclaimed expert in telematics instead–while all [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="post-content">
<p>Hear us, world! Hear us, the Indonesians, mourn for our freedom of speech, freedom of expression. Crushed by our own rulers/decision makers who promised to speak out our voices. Based on righteousness hypocrisy, they prevent our eyes to open and see the brutal truth and listen to an egomaniac, self-proclaimed expert in telematics instead–while all he did was just checking porn images from local good-for-nothing celebs and making unquotable quotes.</p>
<p>French peasants had to write their heart-boiling stories down with their blood in the dungeon walls back then, and we blog our cry for help now. Should we get back to the Dark Age while people had even walked on the moon–literally–long, long time ago? Should we conduct revolution for the sake of writing some phrases, seeing some footages, accessing some internet sites, making some inter-regional new friends, or simply to tell the world how miserable it is being disabled to eat since our wages could not afford it?</p>
<p>WHERE ARE OUR VOICES, MY DEAR GOVERNMENT?</p>
<p>———————————————————</p>
<p>Wahai Dunia, dengarkan kami rakyat Indonesia yang berduka untuk kebebasan kami berpendapat dan bicara. Tertindas oleh para penguasa/pembuat keputusan yang dulu berjanji surga menyuarakan nurani kami. Berkedok kebenaran nan munafik, para yang terhormat menutup paksa mata kami melihat kebenaran pahit dan lebih mendengar seorang egomaniak mengaku ahli telematika–sementara yang dilakukannya hanya meneliti gambar porno seleb lokal tanpa guna dan membuat kutipan tidak layak kutip.</p>
<p>Petani Perancis menulis kisah perjuangan yang membakar semangat dengan darah mereka sendiri pada dinding-dinding penjara bawah tanah, dulu sekali. Kami blog teriakan ini, saat ini. Haruskah kami kembali ke Zaman Kegelapan ketika manusia bahkan telah mampu menginjakkan kaki di bulan berpuluh-puluh tahun yang lalu? Haruskah terjadi revolusi hanya untuk menulis, melihat film-film pendek, berkunjung ke situs internet, berkenalan dengan sahabat baru di lain benua, atau hanya untuk mengeluh tidak bisa makan karena upah sedikit?</p>
<p>DIMANA SUARA KAMI, WAHAI PEMERINTAH YANG TERHORMAT?</p>
<p>(this post is made when there is gossip about blocking all internet sites containing controversial footage ‘Fitna’ from entering Indonesia. multiply, wordpress and blogspot sites could not be accessed at the time this post is written)</p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&blog=2072770&post=9&subd=learnerwithoutborder&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2008/04/11/2/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/learnerwithoutborder-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memetakan yang Tak Kasat Mata: Catatan tentang Teori Konspirasi dan Alasannya (II)</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/28/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-ii/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/28/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 13:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mPitzky</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/28/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-ii/</guid>
		<description><![CDATA[(Sambungan Bagian I)
Melalui diskursus politik dan praktek negara, organisasi internasional maupun LSM tertentu, globalisasi mendapatkan kenyataan manifesnya. Konsep intrik memberitahukan sifat yang khas serta intensitas dan efek jarak jauhnya. Harus diakui bahwa mereka yang berkaitan erat dengan gagasan persekongkolan memiliki alasan yang bagus untuk curiga di hadapan kekuatan hegemonik yang mereka tambatkan guna tetap bertahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(Sambungan Bagian I)</p>
<p>Melalui diskursus politik dan praktek negara, organisasi internasional maupun LSM tertentu, globalisasi mendapatkan kenyataan manifesnya. Konsep intrik memberitahukan sifat yang khas serta intensitas dan efek jarak jauhnya. Harus diakui bahwa mereka yang berkaitan erat dengan gagasan persekongkolan memiliki alasan yang bagus untuk curiga di hadapan kekuatan hegemonik yang mereka tambatkan guna tetap bertahan hidup. Firma internasional atau kegiatan-kegiatan yang aktif di bawah hubungan maupun kerangka geopolitis mengamini kenyataan fatal tersebut dengan cara mereka sendiri. Manipulasi yang dibuat oleh raksasa-raksasa industri seperti misalnya Shell atau Union Carbide adalah kenyataan yang sudah dikenal secara luas. Di Korea Utara, antropolog Laurel Kendall mengamati orang-orang dari kelas-kelas sosial yang berbeda yang menginterpretasikan krisis finansial Asia tahun 1998 melalui prisma Samanisme agar kekhawatiran mereka mereda dan mereka bisa mengurai benang kusut yang jahat(1).<span id="more-8"></span><br />
Dalam hal ini, Fredric Jameson berkata benar; teori konspirasi adalah bagian dari respon kekuatan impersonal dan struktur tersebar yang diciptakan oleh masyarakat kontemporer (perubahan global, organisasi besar, birokrasi, jaringan informal)(2) . Mereka yang memilih menjadi anggota masyarakat kontemporer itu mengidentifikasi siapa melakukan apa dan mengapa mereka melakukannya dengan cara tersebut, demi kekuatan pemikiran paranoid yang terletak pada logika sempurna: tidak bisa salah, gagal atau ambigu. Teori konspirasi memberi arti pada peristiwa atau situasi ambigu dan dramatis. Teori tersebut berusaha menemukan narasi kontradiksi dan transformasi yang membuat dunia jadi hidup. Hal tersebut adalah salah satu cara untuk dapat membuatnya lebih dapat diterima akal sehat dengan cara mengurangi tekanan yang muncul dari kenyataan. Narasi peristiwa dan kenyataan adalah bentuk utama dalam melegitimasi pengetahuan mengenai teori konspirasi. Gagasan mengenai intrik cenderung menjadi “metadiskursus modernitas” yang paling unggul, menjadi sebuah skema yang mampu menjelaskan peristiwa sosial yang kompleks, bahkan menjadi <em>lingua franca</em> dalam menelusuri tekanan yang pada tahun 1991 dibaptis George Bush sebagai “Tatanan Dunia Baru”(3). Orang dapat menganggapnya sebagai alat untuk kembali memikat dunia, berusaha membuat konsep hubungan antara individu dan badan-badan sosial yang lebih besar.</p>
<p><strong>Okultisme dan Transparansi</strong><br />
Transparansi adalah salah satu kata kunci dari Tatanan Dunia Baru dan merupakan norma yang muncul untuk demokrasi neoliberal dan kebijakan ekonomi. Firma-firma internasional dan PBB memuji transparansi sebagai tujuan dan pra-kondisi bagi bantuan ekonomi yang akan menciptakan atmosfir yang diinginkan para investor nasional. Bagi antropolog Harry G. West dan Todd Sanders, ’transparansi digunakan bagi mereka yang menganggap diri sebagai manusia modern ketika bicara tentang visi mereka dalam masyarakat modern’(4). ’Transparansi’ menjadi sinonim pemerintahan yang baik (<em>good governance</em>), salah satu cara merayakan rasionalitas masyarakat modern(5). Tentunya, gagasan teori persekongkolan membangun ’kebenaran’ yang tidak serupa dengan ’kebenaran’ yang dibangun oleh diskursus transparansi. Keduanya adalah formasi antagonis secara ideologis. Teori persekongkolan berpendapat bahwa ’sesungguhnya ada lebih banyak kejadian di dunia daripada yang tampak; dan kenyataan adalah semua yang terlihat dan ’transparan’’(6). Politik transparansi telah memelihara aksioma paranoid: semakin kita digempur dengan pernyataan tentang kekuasaan yang transparan, maka makin yakin kita untuk menyangkal.</p>
<p>Dalam rezim transparansi, intrik dan paranoia merupakan situasi berbahaya yang melekat pada tatanan institusi, karena logika birokratis memerlukan kerahasiaan. Tujuan objektif birokrasi logika memerlukan norma pengatur yang bebas dari opini publik, sebuah norma dimana pengetahuan dirahasiakan rapat-rapat. Kerahasiaan adalah kondisi penting untuk menjaga struktur dominasi terhadap luar, tetapi hal ini juga berkonflik dengan idealisme demokrasi mengenai keterbukaan. Virus yang membentuk paranoia kontemporer tertentu berawal dari situasi paradoks seperti ini. Sebagai genre, cyberpunk menggambarkan kondisi itu sebagai keadaan antara korporasi yang kaya informasi (mereka yang mengetahui rahasia-rahasia) dan kaki-tangannya; melawan orang-orang di bawah kelas yang berada di luar lingkaran korporat. Dalam cerita-cerita paranoidnya, Philip K. Dick, seorang novelis <em>proto-cyberpunk</em>, secara reguler menggambarkan sebuah dunia dimana pemerintah dan organisasi-organisasi besar di bangun dengan istilah konspirasi yang diciptakan oleh mereka yang memiliki pengetahuan dengan tujuan mengendalikan orang-orang kelas bawah (<em>underclass</em>).</p>
<p>Ironis, bahwa sosiolog Anthony Giddens mengidentifikasi kepercayaan sebagai salah satu karakteristik konstitutif modernitas utama; kepercayaan pada cara operasi sebuah institusi yang gerakannya tidak bisa kita kendalikan atau kita ikuti secara langsung(7). Tetapi modernitas juga menciptakan kekuasaan yang tidak tertembus yang katanya dihindari. Kepercayaan bahwa kekuasaan masih saja bersekongkol bahkan di bawah rezim demokrasi pemilu dapat dikemukakan di Mozambik maupun di Indonesia dalam bentuk referensi terhadap hitamnya dunia klenik(8).</p>
<p>Ketika perwakilan yang secara resmi terpilih oleh Tatanan Dunia Baru memproklamasikan keinginannya untuk mendasari diri dengan diskursus universal yang merayakan transparansi kekuasaan (melalui modernisasi, liberalisasi ekonomi, demokratisasi bentuk politik dan informasi, penegakan hak azasi manusia, pembersihan ekonomi hitam dan pembubaran jaringan mafia), pemain lokal yang mencari arti sosiabilitas sesungguhnya segera memanen hasil dari peristiwa-peristiwa yang ada. Mereka berhadap dengan mendekati sumber kekuatan-kekuatan tersebut maka mereka juga akan terciprat untung dari aliran kekuatan yang berputar di dunia. Alih-alih melawan, mereka malah mencari cara bagaimana mengungkap dan mengarahkan kekuatan yang harusnya mempertahankan dunia mereka, mengeksplorasi nuansa-nuansanya, dan mengambil keuntungan dari ambivalensi ini. Karena sebagian besar pemain lokal mengalami modernitas sebagai penanda samar-sebuah proses kontradiksi yang membantu kecairan dan fragmentasi-maka kekuatan lokal, regional dan dunia sepertinya tidak bisa diakses, tidak tertembus, dan seringnya malah diadakan untuk tujuan jahat. Dari hal-hal tersebut timbul rasa terancam atau bahaya. Dan disamping berbagai macam keyakinan dan kosmologi, masyarakat awam dan orang-orang yang didominasi akan saling bersekongkol untuk mencurigai Yang Lain: segelintir manusia yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa; mereka yang menentukan nasib dunia.</p>
<p><strong>Postscript</strong><br />
Ketertarikan terhadap teori persekongkolan tidak hanya berawal dari buku-buku yang ditulis William S. Burroughs, Thomas Pynchon atau Don DeLillo, tapi berasal dari ketertarikan akan kegiatan sekelompok seniman dan aktivis seperti <a href="http://utangente.free.fr/" title="Bureau d'Etudes" target="_blank"><em>Bureau d’Etudes</em></a>, <em><a href="http://www.speculativearchive.org" title="The Speculative Archive" target="_blank">The Speculative Archive</a></em>, <a href="http://www.paglen.com" title="Trevor Paglen" target="_blank"><em>Trevor Paglen</em></a> dan <em>Mark Lombardi</em> (orang pertama yang menghubungkan keluarga Bush dan Bin Laden). Mereka memiliki hasrat yang sama dalam mengungkap kartu yang disembunyikan dalam permainan Tatanan Dunia Baru yang jika diikuti akan kembali menyamarkan masa kecurigaan. Dalam konteks ini, karya mereka tidak lepas dari gaya paranoid kontemporer; bersekutu dengan kegiatan ahli teori konspirasi.</p>
<p>Karya Bureau d’Etudes yang neo-konseptualis merasa prihatin dengan pemetaan struktur jaringan finansial yang berbeda dengan menggunakan grafik kompleks yang membentuk model dan koneksi mereka dengan ketepatan semi-ilmiah. Hal ini dapat dipandang sebagai balasan yang relevan terhadap Jameson serta “pemetaan kongnitifnya yang buruk” perihal jaringan peta kekuatan yang terlalu luas untuk direpresentasikan. Trevor Paglen adalah seorang ahli geografi eksperimental, penulis dan seniman, bekerja di Fakultas Geografi University of California, Berkeley. Pekerjaannya  adalah membuat dan mengurai makna bentangan budaya dan fisik. Salah satu proyek yang dia kerjakan adalah mendokumentasikan ’bentang darat’ (<em>landscape</em>) militer di Amerika Serikat, mulai dari yang tersembunyi di wilayah paling pelosok hingga infrastruktur raksasa.</p>
<p>Melalui penelitian artistik ini (diperkuat dengan penggambaran dan hasil penelitian yang telah melewati tahap visual), mode ketakutan mereka tidak terlihat seperti ideologi atau kepercayaan melainkan praktek perantara yang inventif, efektif dan sering terjadi. Berpikir tentang teori konspirasi adalah sama dengan mempertanyakan legitimisasi pengetahuan dan bagaimana menghasilkannya. Orang bisa mulai bertanya tentang nilai estetis dari ketakutan karena aliran paranoid kontemporer adalah lebih dari sekedar marginalisasi dan alienasi di dunia yang sudah cukup kejam ini.</p>
<p><em>Diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Aruna Popuri; terjemahan tambahan oleh Rana Dasgupta; diterjemahkan lagi ke dalam Bahasa Indonesia oleh saya (=</em></p>
<p><em>Footnote:</em></p>
<p><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span></span></span></p>
<ol>
<li>Laurel Kendall, <em>&#8220;Gods, Markets and the IMF in the Korean Spirit World&#8221;</em>, dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, op. cit., pp. 38-64.</li>
<li>&#8220;Teori persekongkolan diawali dengan usaha mempertahankan integritas diri melawan tatanan sosial. Untuk memahami hubungan seseorang dengan tatanan sosial melalui teori persekongkolan adalah, dengan kata lain, melihat orang tersebut sebagai pihak oposisi dari &#8216;masyarakat&#8217;&#8221;. Timothy Melley, op. cit., p. 60.</li>
<li>Susan Harding dan Kathleen Stewart, <em>&#8220;Anxieties of Influence: Conspiracy Theory and Therapeutic Culture in Millennial America&#8221;</em>. Dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, op. cit., pp. 258-86.</li>
<li>Harry G. West dan Todd Sanders (eds.), ibid., p. 7</li>
<li>Misalnya <a href="http://www.transparency.de/index.html" title="Berlin Transparency International" target="_blank">Berlin Transparency International</a>, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk memerangi korupsi di wilayah perdagangan internasional dan dibentuk pada bulan Mei 1993.</li>
<li>Harry G. West dan Todd Sanders (eds.), op. cit., p. 6</li>
<li>Anthony Giddens, <em>The Consequences of Modernity</em> (Standford University Press, 1990, Stanford).</li>
<li>Harry G. West, <em>‘&#8230;Who  Rules  Us  Now?&#8217; Identity Tokens, Sorcery, and Other Metaphors in the 1994 Mozambican Elections&#8221;</em>, Dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, op. cit., pp. 92-124.</li>
</ol>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&blog=2072770&post=8&subd=learnerwithoutborder&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/28/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-ii/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/learnerwithoutborder-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memetakan yang Tak Kasat Mata: Catatan tentang Teori Konspirasi dan Alasannya (I)</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/22/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-i/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/22/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 21:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mPitzky</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/22/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-i/</guid>
		<description><![CDATA[*Cédric Vincent
”‘Kebetulan’ itu tidak pernah ada. Di alam semesta ini, tidak ada satu peristiwapun terjadi kecuali seluruh entitas menginginkannya.”
- William S. Burroughs

Juli 1997, istilah ’teori persekongkolan’ (teori konspirasi) dicantumkan pertama kali pada halaman prestisius suplemen Oxford English Dictionary. Munculnya entri tersebut mengakui dan mengesahkan kepopuleran teori tersebut sejak berakhirnya Perang Dingin, seakan-akan telah menjadi cara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>*Cédric Vincent</p>
<p align="center"><em>”‘Kebetulan’ itu tidak pernah ada. Di alam semesta ini, tidak ada satu peristiwapun terjadi kecuali seluruh entitas menginginkannya.”<br />
- <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/William_S._Burroughs" title="William S. Burroughs" target="_blank">William S. Burroughs</a><br />
</em></p>
<p>Juli 1997, istilah ’teori persekongkolan’ (teori konspirasi) dicantumkan pertama kali pada halaman prestisius suplemen <em>Oxford English Dictionary</em>. Munculnya entri tersebut mengakui dan mengesahkan kepopuleran teori tersebut sejak berakhirnya Perang Dingin, seakan-akan telah menjadi cara terdepan dalam mengungkap dan membaca kejadian-kejadian terkini(1). Kesan bahwa teori ini sedang berkembang diperjelas dengan semakin banyaknya para ahli dengan referensi yang diperlukan dalam melacak konspirasi tersebut untuk kemudian membukanya ke publik. Internet berperan besar disini. Website seperti <a href="www.conspire.com" target="_blank">conspire</a>, atau situs gurem semacam <a href="http://www.disinfo.com/content/" target="_blank">disinfo</a>, menggambarkan skenario dari berbagai macam konspirasi kecil dan besar, mulai dari kecelakaan Putri Diana yang dirancang <em>British Secret Service</em> (agen rahasia Inggris) hingga hubungan keluarga Bush dengan Osama bin Laden(2). Jejak kegiatan teroris setelah 11 September 2001 telah mempertinggi tingkat ketakutan masyarakat dengan retorika kecurigaan yang tidak pasti(3). Terlebih lagi konotasi teroris yang menjadi simbol persekongkolan(4).<span id="more-7"></span></p>
<p>Teori konspirasi, intrik, dan <em>theories du complot</em> lainnya muncul ketika suatu kejadian dramatis sedang berlangsung, dan masyarakat merasa penjelasan resmi yang disiarkan menganggap peristiwa tersebut sebagai hal remeh dan memperkecil nilai kepentingannya. Teori konspirasi—pemahaman akan terjadinya persekongkolan yang melanda orang-orang yang tidak terlibat di dalamnya—menitikberatkan pada fakta-fakta nyata yang diabaikan pihak-pihak berwenang. Dengan kata lain, teori ini dimulai ketika seseorang menyadari bahwa penjelasan yang diberikan tidak sesuai dengan fakta. Sebuah buku laris karangan aktivis politik/jurnalis Perancis, Thierry Meyssan, berjudul <em>L’Effroyable Imposture</em> adalah ilustrasi sempurna mengenai logika tersebut(5). Tujuan Meyssan adalah mengungkap cerita sesungguhnya dibalik penyerangan 11 September dan membuatnya sebagai rencana rahasia yang dicetuskan beberapa elemen pemerintahan Amerika Serikat. Dengan membandingkan bermacam-macam gambar resmi dari Pentagon yang dirampas dari pesawat bajakan yang ditabrakkan kesana, dia mempertanyakan bagaimana “halaman depan sama sekali tidak hancur dan bangunan depan hanya rusak selebar 19 meter, sementara rentang sayap pesawat mencapai 38 meter, yang berarti sayap dan sisa-sisa kabin berada di luar gedung. Tapi hal tersebut tidak terlihat pada gambar-gambar yang diambil sesaat setelah kecelakaan. Tidak ada foto yang menggambarkan hancurnya halaman depan, atau sisa pesawat terbang. Pentagon bahkan menegaskan tidak ada puing pesawat satu keping pun di luar gedung”. Kesimpulan akhir adalah: tidak mungkin ada pesawat yang pernah jatuh disitu!</p>
<p>Logika tersebut diperkuat dengan tidak adanya korban jiwa serta usaha pelacakan tiap detail yang berkaitan dan menyatakan kecelakaan tersebut tidak pernah terjadi; semuanya berhubungan, bertujuan, dan memiliki arti. Karena alasan inilah maka banyak sekali ahli teori konspirasi dituduh sebagai orang yang menghubungkan berbagai macam kejadian, berjuang melawan musuh fiktif, dan berakhir dengan penyederhanaan – menyatukan kabar burung alih-alih informasi. &#8220;<em>The Paranoid Style in American Politics</em>&#8220;, sebuah essai yang ditulis ahli sejarah Richard Hofstadter dan terbit pada periode McCarthy saat awal Perang Dingin, masih memberi penekanan pada penelitian tentang fenomena teori komspirasi tersebut. Menurutnya, teori konspirasi adalah ‘halusinasi ketakutan’ kolektif(6). Sebagian literatur mengenai masalah ini mengadopsi garis pemikirannya, dengan pendekatan negatif dan eksotis terhadap teori itu sendiri, dan menitikberatkan pada masalah fundamentalisme, perkumpulan rahasia, kelompok pemujaan maupun golongan ekstrimis. Sejak masa Hofstadter, strategi paling andal dalam menyangkal teori konspirasi adalah memarginalkan pencetus teori tersebut sebagai patologis (’sakit’). Hal ini membangun gagasan bahwa pemikiran sosial paranoid berdasarkan pandangan dunia yang ironis, sinis dan di luar kewajaran, dibangun dari kebenaran parsial dan merupakan versi aneh dari daya tarik teori kritis itu sendiri(7). Kritikus literatur Marxist terkemuka, Fredric Jameson, secara tidak langsung turut serta dalam retorika ini saat dia menegaskan bahwa teori persekongkolan adalah ‘usaha merendahkan’ yang regresif dan ‘menghina dalam menggagas sesuatu yang sama sekali tidak mungkin terjadi dalam sistem dunia masa kini’, serta ‘pemetaan era postmodern yang payah yang dilakukan seseorang’(8).</p>
<p>Namun teori persekongkolan telah berurat-berakar dalam imajinasi politik hingga melingkupi tiap titik spektrum politis. Mereka menganggap sayap kanan dan sayap kiri mampu melakukan hal yang sama. Penjelasan konspirasional menjadi fitur utama pada diskursus politik, sebagai cara menarik bagi kedua kubu&#8211;yaitu mereka yang termarginalkan di satu sisi dan para elit penguasa di sisi lain&#8211;dalam memahami kekuasaan. Tetapi benar-tidaknya sebuah teori konspirasi jadi tidak begitu penting; yang penting adalah sadar-tidaknya masyarakat akan situasi yang mereka hadapi melalui peristiwa yang sedang terjadi.</p>
<p>’Gaya paranoid terkini’, yang menurut antropolog George Marcus telah melampaui dugaan awal Hofstadter mengenai ketidakrasionalan, mengajak masyarakat meninjau pendekatan issue tersebut dengan sungguh-sungguh(9). Sekelompok orang bisa saja memiliki kesamaan pandangan paranoid, tapi pandangan mereka berada pada struktur penjelasan yang masuk akal. Bagi Marcus, terdapat dua kerangka kontekstual terhadap issue:<br />
<strong>1)</strong> <strong>Warisan Perang Dingin</strong>. Perang Dingin dianggap sebagai proyek pemikiran dan tindakan sosial masal yang mengisi tiap dimensi budaya mainstream, hingga ke kerangka dan retorika konseptual macam ahli teori sosial seperti Pierre Bourdieu, dimana kerangka konseptual yang mengakar pada gagasan konspirasi kelas digunakan untuk menginterpretasikan hirarki rasa di masyarakat Barat. Ahli teori schizophrenia seperti Ronald Laing menegaskan bahwa penyebab schizophrenia sangat mungkin diakibatkan oleh persekongkolan permanen yang dilancarkan keluarga terhadap seorang anak. Sementara itu, kritikus budaya James Hunt menyatakan hipotesanya bahwa spekulasi paranoid berada pada inti setiap teori(10).<br />
<strong>2) Krisis representasi dan meta-naratif sebagai cara dalam menjelaskan apa yang terjadi di dunia</strong>. Banyak sekali peristiwa tentang berkembangnya narasi persekongkolan yang muncul di usia yang seharusnya ditandai oleh hilangnya skema penjelasan yang rumit.</p>
<p>Ada pendapat bahwa “kebenaran akan ditemukan saat ada kecurigaan terhadap kekuasaan, sehingga pada kasus-kasus tertentu bisa dipastikan pihak-pihak penguasalah yang bersekongkol dan pada akhirnya mereka yang mencurigai hal tersebut dianggap sebagai ‘paranoid beralasan’(11)”. Mereka yang mengadopsi pendapat ini cenderung menganggap tindakan penyangkalan terhadap teori konspirasi adalah usaha mengedepankan pandangan ideologi dominan pada mereka yang ’ketinggalan jaman’, ’tidak rasional’, dan ’percaya takhayul’. Kasus dietrologi jadi menarik disini. Dietrologi adalah ilmu atau pencarian dalam mengungkap yang tersembunyi (<em>dietro</em>) di balik sebuah peristiwa. Istilah ini digunakan ketika Italia sedang bermasalah pada tahun 1970 dan 1980-an. Dietrologi kerap dipergunakan secara ironis saat itu, terutama bagi pers sayap kanan, guna mengolok-olok kecenderungan berlebihan dalam mengkambinghitamkan para penguasa rahasia yang dekat dengan pemerintahan untuk seluruh kasus pembunuhan, penculikan, pengeboman atau kecelakaan yang tidak bisa dijelaskan. Tetapi ironi yang melekat dari kata tersebut seringkali digunakan untuk menyerang balik orang yang menggunakannya, ketika kesimpulan akhir dietrologis yang relevan terhadap peristiwa-peristiwa tersebut jelas-jelas mendekati kebenaran. Dengan cara yang sama, antropolog Misty Bastian yang meneliti tentang narasi media berkaitan dengan lingkaran pembunuhan elit di Nigeria menunjukkan bahwa munculnya teori persekongkolan di negara tersebut tidak memberi ruang pada pikiran yang tidak rasional dalam menjelaskan kecemasan lingkungan, ketidakpercayaan, dan desas-desus terhadap pemerintah(12). Teori persekongkolan tidak bisa di pathologikan sebagai gestur penyapuan (<em>sweeping</em>). Hal ini juga bukan berarti kita menyambut baik dan menerima semua teori konspirasi, tetapi hanya menekankan bahwa diagnosa paranoia politis adalah pernyataan politis itu sendiri.</p>
<p>Secara konvensional, konspirasi dipahami sebagai proyek gelap yang dilaksanakan untuk mendapatkan sesuatu dan biasanya dilakukan secara rahasia dan tidak nampak. Konspirasi yang ’bagus’ adalah yang tidak dapat terdeteksi dan sama sekali tidak terbukti keberadaannya. Alhasil, para ahli teori konspirasi bertugas untuk membukanya—memperlihatkan siapa perantara yang menyebabkan konspirasi tersebut. Keinginan untuk membuat hubungan-hubungan dan mendramatisasi intrik mengindikasikan digunakannya kospirasi sebagai tempat imajinasi bernaung, dimana penjelasan dapat dibangun diluar informasi resmi. Nyatanya teori konspirasi yang jauh dari kesan sederhana dan terbatas ini malah membuat dunia menjadi semakin kompleks dengan logika tersembunyi dan kontradiktif sebagai fokus, dan dengan menunjukkan cara alternatif dalam memahami dan mengerti berbagai peristiwa di dunia. Apalagi ini adalah dunia tempat para elit internasional mendorong demokrasi pluralis dan transparansi pasar, dan tempat bagi kebijakan luar negeri Amerika untuk terus diarahkan melalui proses yang tidak tembus cahaya sehingga menjadi penanda akan adanya konspirasi.</p>
<p><strong> Persekongkolan dan Globalisasi</strong><br />
Selama lebih dari satu dekade, seluruh dunia makin bersemangat memperingati apa yang dikenal sebagai awal mula zaman baru dengan berbagai macam pengertian seperti: wilayah global, dibentuknya masyarakat informasi, kapitalisme milenium, atau bahkan awal kerajaan baru. Asumsi dasar yang sering terungkap secara implisit adalah bahwa globalisasi merupakan proses evolusi yang menyatukan seluruh dunia saat ini, fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia sebelumnya. Sebagai proses, maka asumsi tersebut terdiri dari transnasionalisasi aliran kapital, manusia, teknologi, informasi, dan semacamnya, dan meningkatnya interaksi antar berbagai belahan dunia. Hal-hal tersebut adalah aspek fenomena globalisasi yang paling bisa diterima(13).</p>
<p>Globalisasi mendapat tanggapan luar biasa karena adanya kemungkinan untuk bisa diwakili oleh agen ganda (<em>double agent</em>), apapun tingkat keterlibatan mereka dalam pergerakan yang ada. Pertentangan antara sejumlah kecil pelaku eksploitasi kaya raya dan sejumlah besar sumber yang dieksploitasi (yang bertambah miskin) mendominasi imajinasi tersebut, bahkan jika hal ini tidak berkaitan dengan kenyataan ekonomi yang ada sekalipun. Mayoritas penduduk di batas luar merasa tidak disertakan dalam sebuah proses yang menggulingkan kebiasaan dan cara-cara hidup, mati, berharap dan putus asa; tanpa membawa-bawa kesejahteraan yang pernah dijanjikan pemerintah atau organisasi internasional. Ketidakpercayaan berhadapan langsung dengan sistem dunia, ditambah dengan kecurigaan terhadap bangsa-negara, menimbulkan ketakutan dan perasaan paranoid sedemikian rupa sehingga banyak orang melihatnya—baik melalui perubahan itu sendiri maupun yang berdasarkan pada keadaan pasif mereka—sebagai karya para perantara dengan maksud jahat, atau kegiatan orang-orang terkaya dan paling berkuasa—dan terutamanya adalah hasil kerja Bangsa Barat dan Amerika. Dalam hal ini, maka tidak heran jika seorang spesialis politik semacam Zaki Laïdi mempertanyakan apakah ’globalisasi merupakan plot Barat terkini’.</p>
<p>Yang harus digarisbawahi adalah kebaruan berlebihan yang dibebankan pada masa globalisasi nyatanya bersifat kurang faktual dan biasa saja, ketimbang asimilasinya ke dalam proses sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diterjemahkan ke dalam kategori globalisasi. Karena inilah pemain sosial membuat globalisasi mengemuka untuk menjadi penanggungjawab atas pengorganisasian kembali kekuatan dan pengetahuan di dunia, dan mengapa mereka juga menggunakannya sebagai platform teoritis guna mendapat gambaran mengenai metamorfosis yang terjadi. Dari hal ini muncul juga keberhasilan yang dinikmati teori konspirasi yang menjadi membuka jalan dan penjelasan terhadap globalisasi. Teori konspirasi menganggap bahwa peristiwa terjadi disebabkan oleh sekelompok pencari kekuasaan yang bertindak, bekerjasama, berorganisasi, dan berbuat kecurangan. Mereka tidak terlalu siap dalam menyadari kekuatan impersonal seperti geopolotik, ekonomi pasar, globalisasi, evolusi sosial atau apa yang dikatakan anggota <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cyberpunk" target="_blank">cyberpunk</a> sebagai ‘korporasi otonom’. Orang-orang tersebut tetap mempertahankan nilai empirisnya secara radikal dengan mencari-cari elemen yang menumbuhkan logika terhadap konspirasi.</p>
<p>(Bersambung)</p>
<p>Notes:</p>
<p>Cédric Vincent adalah penulis dan penasehat editorial untuk majalah seni rupa kontemporer, <em>Art21</em>, yang berbasis di Paris. Vincent adalah salah satu kandidat doktor antropologi di <em>École de Hautes en Sciences Sociales</em> di Paris, Perancis.</p>
<p><em>Footnote:</em></p>
<ol>
<li>Peter Knight, <em>Conspiracy Culture: From the Kennedy Assassination to the X-Files</em> (Routledge, 2000, London).</li>
<li>Paradigma teori persekongkolan kontemporer tetap ada sehubungan dengan penembakan terhadap J. F. Kennedy. Lihat novel Don DeLillo berjudul <em>Libra</em> (Penguin, 1989, New York).</li>
<li>Mengenai kondisi ‘tersangka’ setelah peristiwa 11 September, lihat (ed.) John Knechtel, <em> Suspect</em> (MIT Press, 2005, Cambridge).</li>
<li>Novelis Don DeLillo beranggapan bahwa terorisme telah menjadi mode narasi utama untuk bercerita pada dunia.</li>
<li>Terjemahan bahasa Inggris: Thierry Meyssan, <em>9/11: The Big Lie</em> (Carnot USA Books, 2003, New York). Teks dan berbagai tanggapan yang berkaitan dengan hal tersebut dapat dilihat secara online di<a href="http://www.effroyable-imposture.net/" title="L'Effroyable imposture" target="_blank">sini</a></li>
<li>Ketika pertama kali diterbitkan tahun 1952, Richard Hofstadter menulis artikel berjudul <em>&#8220;The Paranoid Style in American Politics and Other Essays&#8221;</em> dan dapat ditemukan di (ed.) Mark Fenster, <em>Conspiracy Theories: Secrecy and Power in American Culture</em> (University of Minnesota Press, 1999, London), pp. 3-21.</li>
<li>Karena itu, psikolog Floyd Rudmin mengemukakan anggapannya mengenai teori persekongkolan sebagai &#8220;sejarah dekonstruktif yang naif &#8220;.</li>
<li>Fredric Jameson, <em>Postmodernism, or, the Cultural Logic of Late Capitalism</em> (Duke University Press, 1991, Durham). Di tempat lain, Jameson mengemukakan bahwa narasi persekongkolan pada film-film Hollywood adalah ekspresi ketidakmampuan masyarakat dalam melogika bagaimana dunia saling menempati posisinya di masa globalisasi. Menurut pendapatnya, masyarakat tertarik pada jenis cerita ini karena begitulah cara pandang sederhana mengenai apa yang sedang terjadi di “masyarakat multinasional kontemporer”; lihat bukunya <em>The Geopolitical Aesthetic: Cinema and Space in the World System</em> (Indiana University Press, 1992, Bloomington). Untuk penelitian, lihat Fran Mason, <em>&#8220;A Poor Person&#8217;s Cognitive Mapping&#8221;</em>, dalam (ed.) Peter Knight, op. cit., pp. 40-56.</li>
<li>George E. Marcus (ed.) <em>Paranoia within Reason: A Casebook on Conspiracy as Explanation</em> (University Press of Chicago, 1999, Chicago).</li>
<li>Jamer Hunt, <em>&#8220;Paranoid, Critical, Methodical, Dali, Koolhaas and…&#8221;</em>, dalam (ed.) George E. Marcus, ibid., pp. 21-30. Untuk kritik literatur Timothy Melley, &#8220;perbedaan antara teori paranoid dengan teori yang cemerlang adalah soal seberapa besar kekuatan penjelasan teori tersebut bagi komunitas interpretative yang sudah terberi (given) sebelumnya &#8220;. Lihat tulisan Melley, <em>&#8220;Agency Panic and the Culture of Conspiracy&#8221;</em>, dalam (ed.) Peter Knight, op. cit., pp. 69-70.</li>
<li>Harry G. West dan Todd Sanders (eds), <em>Transparency and Conspiracy: Ethnographies of Suspicion in the New World Order</em> (Duke University Press, 2003, Durham/London)</li>
<li>Misty Bastian. <em>&#8220;Diabolic Realities: Narratives of Conspiracy, Transparency, and &#8216;Ritual Murder&#8217; in the Nigerian Popular Print and Electronic Media”</em>, dalam (eds.) Harry G. West dan Todd Sanders, ibid., pp. 65-91.</li>
<li>Jonathan Friedman, <em>&#8220;From Roots to Routes: Tropes for Trekkers&#8221;</em>, dalam Anthropological TheoryII, 2 (2002).</li>
</ol>
<p>Terjemahan diambil dari <a href="http://www.sarai.net/publications/readers/06-turbulence/06_vincent.pdf" title="Mapping the Invisible" target="_blank">sini</a>. Iyah, <em>mbulet</em> ya?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&blog=2072770&post=7&subd=learnerwithoutborder&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/22/memetakan-yang-tak-kasat-mata-catatan-tentang-teori-konspirasi-dan-alasannya-i/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/learnerwithoutborder-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Hidup ala Ateis</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/14/memaknai-hidup-ala-ateis/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/14/memaknai-hidup-ala-ateis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 19:29:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mPitzky</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/14/memaknai-hidup-ala-ateis/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu konsep salah kaprah tentang ateis yang ada di benak orang awam adalah bahwa kami nggak punya respek terhadap kehidupan - manusia maupun yang bukan. Karena kami, ateis-ateis ini, menganggap seluruh bentuk kehidupan hanya sebagai keanehan alam nan janggal tanpa maksud dan tujuan jelas, dan sama sekali nggak ada artinya. Kami nggak beroleh kesenangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salah satu konsep salah kaprah tentang ateis yang ada di benak orang awam adalah bahwa kami nggak punya respek terhadap kehidupan - manusia maupun yang bukan. Karena kami, ateis-ateis ini, menganggap seluruh bentuk kehidupan hanya sebagai keanehan alam nan janggal tanpa maksud dan tujuan jelas, dan sama sekali nggak ada artinya. Kami nggak beroleh kesenangan dan rasa terpenuhi yang sama seperti mereka yang percaya Tuhan. Kami nggak peduli penderitaan orang lain karena akhirnya mereka akan berada di tempat yang sama: jadi makanan cacing tanah.<br />
Mengutip pernyataan <a href="http://www.bbc.co.uk/comedy/profiles/harry_hill.shtml" title="Who the hell is Harry Hill?!" target="_blank">Harry Hill</a>, kesintingan baru apa sih ini?!</p>
<p><span id="more-5"></span> Ya, kehidupan di planet ini semata hanya kecelakaan beruntung aja, sama halnya dengan berbagai bentuk kehidupan tak terhitung di planet lain. Tidak ada tujuan atau makna tertentu dibalik ini semua, sama sekali. Lagipula, kenapa harus ada anggapan seperti itu? Hak apa yang Anda punya, menganggap diri istimewa?</p>
<p>Tapi, sebagai ateis, saya menganggap semua (atau sebagian besar) kehidupan itu sakral (sebagaimana yang dimaknai orang beragama). Orang-orang ateis tahu betul bahwa kita cuma punya kesempatan sekali hidup. Hanya ini. Cuma hidup ini yang kita punya. Tidak ada reinkarnasi, tidak ada surga atau neraka, tidak ada kesempatan kedua. Kita sungguh hanya punya sekali kesempatan, mau merusaknya atau bikin semua itu jadi sia-sia, terserah kita, meskipun hal itu bakal jadi hal yang paling mubazir.</p>
<p>Kenapa kita tidak bikin diri kita jadi sadar? Mari didik diri kita sendiri supaya kita bisa lihat keajaiban semesta raya sebagaimana adanya, tanpa terhalang kabut kepercayaan relijius. Kita berenang di Samudra India. Menikmati matahari tenggelam di Uluru (Ayer&#8217;s Rock). Ajak bayi-bayi bercanda dan lihat bagaimana mereka tertawa. Atau panjatlah pohon. Belajarlah mengendarai sepeda roda satu. Beri pijatan lembut menenangkan pada pacar kita. Belajarlah membuat keramik.</p>
<p>Buat diri kita bahagia dengan cara membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Banyak orang yang hidup dalam kondisi menyedihkan, yang pendapatannya seminggu mungkin sama dengan pendapatan kita sejam (misalnya). Bantu panti asuhan. Beberapa orang yang percaya Tuhan (teis) punya anggapan aneh bahwa ateis itu nggak lebih dari kumpulan manusia-manusia sedih, egois, dan berantakan yang hanya berpikir tentang diri sendiri, tidak peduli terhadap kehidupan orang lain, dan kerjanya hanya sapu-menyapu seharian sambil otaknya berputar mencari akal bagaimana caranya bisa masuk surga tanpa harus percaya Yesus dan berbuat baik pada sesama. (Lucu&#8230; betapa penilaian orang lain bisa amat sangat berbeda dengan orang yang mengalami sendiri)</p>
<p>Kadang saya ditanya, &#8220;Kenapa kamu mesti repot? Jika memang hidup ini cuma kecelakaan tanpa makna, tanpa ada tujuan akhir dan nggak berarti, kenapa kamu nggak bunuh diri saja? Kenapa kamu nggak beli senjata dan tembak orang-orang yang hidupnya nggak berujung. Kenapa kamu nggak berbuat seperti itu?&#8221; Biasanya saya akan menjawab: &#8220;Kamu pernah bikin orang-orangan dari salju atau Snowman?&#8221; Snowman itu tidak bertahan lama, mencair jika kena sinar matahari. Snowman juga tidak punya tujuan dan makna. Dua minggu setelah dia dibuat tidak akan ada bekasnya. Kita bikin Snowman karena kita semua, baik yang teis maupun ateis, hidup di masa sekarang dan disini. Jika konteksnya kita sebagai mahluk fana yang daur hidupnya singkat, maka itu artinya kita bisa menikmati kehidupan di dunia dan bersenang-senang dengan melakukan sesuatu yang benar-benar tanpa tujuan. Membuat Snowman, nmendaki gunung, menikmati sunset, atau bersepeda menghirup udara pedesaan adalah hal-hal yang menyenangkan. Tujuan semua itu bukan terletak &#8216;di luar sana&#8217;, menunggu di suatu tempat supaya kita &#8216;dapat&#8217; maknanya. Makna akhirnya terletak pada diri kita masing-masing. Saya tidak khawatir memikirkan bagaimana kita lima trilyun tahun ke depan, tapi saya peduli pada masa depan manusia disini, sekarang, dan bagaimana generasi selanjutnya. Seperti itulah konteks manusia fana, dan karena itulah saya mau &#8216;repot&#8217; menjadi hidup dan menikmatinya.</p>
<p>Hidup itu sendiri tidak ada artinya. Tidak ada tujuannya juga terhadap alam semesta. Tapi, setidaknya kita bisa punya arti melalui tindakan yang kita lakukan. Bikin dunia ini jadi lebih baik, setidaknya untuk diri kita sendiri, untuk mereka yang hidup sezaman dengan kita, dan untuk keturunan kita nanti.</p>
<p>Seringkali orang-orang ateis punya kehidupan yang menyenangkan dan indah. Sebab, sepengetahuan saya, cuma ini yang kita dapat, dan juga yang dimiliki orang-orang lain. Karena itulah kita melakukan yang terbaik untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Percuma kita berdoa hingga mulut kita berbusa untuk orang-orang sekarat di negara-negara dunia ketiga. Tuhan tidak ada untuk membantu mereka, yang ada cuma manusia. Jika tidak ada satu manusia pun yang bertindak, tidak akan ada yang bergerak. Saya muak mendengar para politikus dan pemimpin gereja bicara&#8211;ketika ada bencana atau semacamnya&#8211;bahwa kita harus berdoa untuk para korban karena mereka perlu itu. Tidak! Bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka perlu orang lain untuk menggali dan mengeluarkan mereka dari reruntuhan, menenangkan dan menguatkan mereka yang kehilangan, menyelidiki mengapa pesawat itu bisa jatuh, membawakan mereka obat-obatan dan makanan. Hanya berdoa saja tidak akan membuat semua itu bisa berjalan - karena yang bisa bertindak adalah manusia. Ada panti asuhan di Kenya bernama Diani Children&#8217;s Village. Anak-anak disana sama sekali tidak punya keluarga dan mereka tinggal di gubuk. Mana yang lebih mereka butuhkan: doa dan Injil atau cinta, uang, makanan, pakaian dan pendidikan?</p>
<p>Sebagai seorang ateis, saya menganggap hidup itu sakral. Kehidupan dan pikiran adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk disia-sia. Gunakan kedua aset itu selagi kita bisa dan bantu orang lain melakukan hal yang sama.</p>
<p>Apakah hal seperti itu jelek?<br />
(pernah diposting di<a href="http://pitopoenya.blogspot.com/2007/07/thus-spoke-attheist.html" title="Thus Spoke An Atheist" target="_blank">sini</a> pada entri bulan Juli 2007. Saya tidak pernah tahu siapa yang menulis&#8230;)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&blog=2072770&post=5&subd=learnerwithoutborder&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/14/memaknai-hidup-ala-ateis/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/learnerwithoutborder-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya, Jean-Paul Sartre</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/13/saya-jean-paul-sartre/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/13/saya-jean-paul-sartre/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 08:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mPitzky</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/13/saya-jean-paul-sartre/</guid>
		<description><![CDATA[Man can count on no one but himself; he is alone, abandoned on Earth in the midst of his infinite responsibilities, without help, with no other aim than the one he sets for himself, with no other destiny than the one he forges for himself on this Earth. 
(Disampaikan di University of Charleston, 20 November [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><em>Man can count on no one but himself; he is alone, abandoned on Earth in the midst of his infinite responsibilities, without help, with no other aim than the one he sets for himself, with no other destiny than the one he forges for himself on this Earth. </em></p>
<p>(Disampaikan di University of Charleston, 20 November 1991, pada seri “Living Philosophy”)</p>
<p><a href="http://www.infidels.org/library/modern/james_haught/haught-bio.html" title="Brief bio" target="_blank">James A. Haught</a></p>
<p>Selamat malam. Nama saya Jean-Paul Sartre. Mahasiswa yang datang pada malam ini mungkin masih terlalu muda untuk mengenal saya, tapi para hadirin yang berusia separuh baya pasti ingat bahwa saya pernah menyebabkan kontroversi besar di era pasca Perang Dunia II, dimana perang tersebut merupakan kecaman dan kritik saya yang tiada habis.</p>
<p>Yang ingin saya yakinkan disini—tanpa mengindahkan apapun yang pernah Anda dengar—adalah bahwa hidup saya telah memenuhi tujuan mulia: Saya membantu orang-orang yang berusaha memahami kehidupan individu mereka di tengah kekacauan dan kegilaan dunia, serta menekankan pentingnya perjuangan demi meningkatkan kondisi hidup manusia.</p>
<p>Pesan saya sederhana sekali: Kita lahir pada keberadaan yang tidak terkira dan tidak ada tujuan atau hubungan mulia antara kita dan alam semesta—hanya sepotong kehidupan yang kadang absurd atau pelik. Satu-satunya nilai valid adalah nilai-nilai yang kita ciptakan sendiri.<span id="more-3"></span></p>
<p>Eksistensi—kenyataan yang melingkupi kita semua—adalah jantung dari filsafat eksistensialisme yang saya kemukakan. Hanya eksistensilah yang menjadi pusat perhatian kita, dan hal tersebut harus kita pandang dengan sudut kesinisan seorang ilmuwan.</p>
<p>Prilaku manusia adalah kumpulan aneh dan tidak beraturan atas perhatian dan kekasaran, keserakahan dan kedermawanan, kekerasan dan kelembutan. Konsep yin dan yang dari Cina—kebaikan dan kejahatan yang berpadu dalam setiap manusia—adalah gambaran tepat dalam menjabarkan psyche manusia. Di dunia ini, cinta dan kengerian bercampur-baur dan ada dimana-mana. Manusia sangat mampu melakukan tindakan jahat terhadap satu sama lain. Di Amerika modern sekarang ini terjadi 23.000 kasus pembunuhan dan 100.000 perkosaan tiap tahun—sebagian besar tanpa ada alasan logis. “Hell is other people” ([definisi] neraka adalah orang lain selain saya) merupakan kata kunci pada salah satu drama yang saya buat.</p>
<p>Sementara itu banyak keberuntungan acak mengendalikan mayoritas kehidupan manusia. Kesempatanlah yang membuat orang berpunya, jadi intelek, atau sehat; sementara yang lain lahir menderita dan mati muda. Dengan sedikit kebetulan, sebagian manusia terlahir sebagai orang Amerika dengan begitu banyak hak istimewa sementara yang lain menjadi bangsa Ethiopia kelaparan. Di Dunia Ketiga, 40.000 anak-anak meninggal meregang nyawa tiap hari karena kurang gizi. Orang yang tinggal di sebelah Utara malah tidak pernah tahu ada kejadian seperti itu.</p>
<p>Grand Order (Tataran Terhebat) di dunia itu tidak pernah ada. Tidak ada Tuhan yang menempatkan manusia di dunia sebagai medan pengujian, dimana yang jahat bakal pergi ke neraka dan yang baik mendapat surga. Kepercayaan supernatural seperti itu sungguh konyol, dan kenyataan bahwa milyaran manusia tetap memegang teguh keyakinan mereka dan adanya gereja yang menyebarkannya hanya menggarisbawahi betapa spesies manusia adalah mahluk bertakhayul. (Selama berabad-abad jutaan orang saling bunuh demi agama dan melakukan pengorbanan manusia untuk dewa-dewa tak kasat mata. Rasanya bukti itu sudah cukup menunjukkan adanya kegilaan yang merayap diam-diam layaknya monster dalam diri kita)</p>
<p>Satu lagi ranah yang lebih logis, banyak orang percaya adanya “sifat manusia”, esensi universal yang membuat kita mendamba kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Tapi para eksistensialis menolaknya. Kami menganggap manusia hanyalah mahluk biologis, dan pengkondisian oleh budaya dan keluarga membentuk sifat masing-masing manusia. “Eksistensi ada sebelum esensi” adalah prinsip dasar filosofi kami.</p>
<p>Alam semesta tidak perduli terhadap Anda dan saya. Tidak ada “benar dan salah”. Tapi manusuia membutuhkannya. Jika orang kulit putih menggantung seorang kulit hitam di pohon, pohon itu tidak peduli. Jika seorang anak meninggal karena difteri, mikroba difteri tidak ambil pusing. Jika 10.000 prajurit Makedonia dalam formasi tempur besar-besaran membantai penduduk Yunani di bawah sinar mentari Mediterania—atau jika bom ‘pintar’ Amerika membunuhi 200.000 penduduk Irak—matahari akan tetap saja bersinar bagi para pembunuh dan korban mereka. Alam tidak peduli.</p>
<p>Akan tetapi “benar dan salah” adalah alat manusia yang paling penting—peraturan berdasar konsensus bersama guna mencegah rasa sakit dan memperbaiki kehidupan. Apa yang kita lakukan mungkin tidak penting bagi alam semesta, namun sangat berarti untuk kerabat dan sahabat kita.</p>
<p>Karena kita terlahir di dunia dimana tidak ada Tuhan yang mendiktekan peraturan, atau esensi biologis yang mengatur prilaku; maka tiap manusia yang mampu berpikir sesungguhnya berdiri sendiri dalam memilih bagaimana dia hidup. “Manusia dikutuk untuk menjadi bebas” adalah istilah yang saya gunakan pada situasi ini. Disamping semua pengaruh pengkondisian yang membentuk kita, pada akhirnya adalah masing-masing individu itu sendiri yang harus menentukan bagimana dia harus bertindak. Bahkan jika kita meminta orang lain sebagai pembimbing, kita tetap membuat pilihan personal. Kita meminta nasihat pastur adalah tindakan memilih agama; sementara meminta nasihat pada seorang professor agnostik berarti memilih humanisme. Kita sama sekali tidak bisa menghindar untuk tidak memilih dalam hal apapun—bahkan tidak berbuat apa-apa pun merupakan pilihan. “Kebebasan radikal” adalah label yang ditempelkan pada kondisi ini. “Tidak ada realitas kecuali dalam tindakan” adalah pendapat saya. Dan kita tidak bisa menghindar dari konsekuensi atas tindakan tersebut.</p>
<p>”Perasaan tertinggal”, “kesedihan mendalam” dan “putus asa” adalah kata kunci utama pada eksistensialisme ateistik—namun sesungguhnya itu tidak separah yang Anda pikirkan. Perasaan tertinggal (abandonment) hanyalah ketiadaan Tuhan, sehingga kita sendirian mencari jalan. Kesedihan mendalam (anguish) adalah perasaan ketika kita menyadari bahwa kita sendirilah yang menanggung beban tanggungjawab atas apa yang kita lakukan, sementara kita sendiri memiliki keharusan bertindak. Putus asa (despair) adalah ketika kita sadar bahwa kita hanya bisa bergantung pada diri sendiri—mereka yang memiliki keyakinan sama bisa saja berbalik dan meninggalkan kita sendirian.</p>
<p>Disamping semua ketidakpastian dan kesia-siaan hidup, setiap orang harus mengembangkan integritas personal dan berusaha keras memperbaiki rasa kemanusiaan kumpulannya. Tidak ada hukum universal maupun hukum langit—namun kita harus mengadopsi nilai-nilai pribadi dan berusaha menepatinya. Ini adalah satu-satunya hidup yang ‘otentik’. Hal-hal berikut ini juga bisa dilakukan:</p>
<p>&#8211;Jangan pernah berhenti mendukung alasan dibalik semua hal — meskipun 900 orang di Jonestown menelan sianida dan memberikan racun tersebut ke anak-anak mereka.</p>
<p>&#8211; Jangan pernah berhenti mencari keadilan dan kesopanan — meskipun pasukan pembantai dari sayap kanan memperkosa dan memenggal para perempuan di El Salvador. (Nama negara tersebut, yang artinya “Sang Penyelamat”, adalah ilustrasi betapa tidak rasionalnya kehidupan.)</p>
<p>&#8211; Jangan pernah berhenti berusaha menyelesaikan perbedaan dalam komunitas  melalui negosiasi logis — meskipun lebih dari 100 perang lokal terjadi sejak Perang Dunia II dan mengakibatkan penderitaan dimana-mana.</p>
<p>&#8211; Jangan pernah berhenti percaya bahwa lelaki dan perempuan sama-sama memerlukan satu sama lain dan anak-anak membutuhkan orangtua — meskipun setengah dari seluruh perkawinan yang ada berakhir getir dan 2.000 lelaki Amerika memukuli pasangan perempuan mereka hingga mati setiap tahunnya.</p>
<p>&#8211; Jangan pernah berhenti mendukung kebebasan setiap orang memeluk keyakinan yang mereka pilih, atau untuk tidak bertuhan sekalipun — meskipun Muslim Syiah di Iran menggantung para remaja Baha&#8217;i yang tidak ingin pindah agama, atau teroris Katolik menembaki gereja Pantekosta di Irlandia, atau para Sikh membantai kaum Hindu demi tercapainya “Tanah Suci”.</p>
<p>&#8211; Jangan pernah berhenti mencari keadilan sosial — meskipun polisi-polisi Texas menenggelamkan para pelanggar batas dari Meksiko dan rekan mereka di Los Angeles memukuli para pelanggar rambu lalulintas.</p>
<p>Meskipun kita sering melihat kegilaan dan kekejaman pada struktur kehidupan manusia, manusia-manusia yang mampu berpikir mempunyai tugas untuk bekerja tanpa lelah dalam mengantisipasi kegilaan dan kekejaman tersebut. Jika kita gagal melakukannya, maka kita membiarkan kejahatan menang. Bahkan jika kita sadar bahwa taruhannya adalah nyawa, dan kita tahu betul bahwa usaha terbaikpun tidak akan menghasilkan apa-apa, kita tetap harus berusaha. Ini adalah “keterikatan”.</p>
<p>Pada salah satu film modern kalian berjudul “Oh God” terdapat pesan humanis dan agnostik: Pencipta fiktif di dalamnya berkata, “Kalian sudah memiliki apapun di bumi ini yang dapat membuat hidup kalian menjadi baik. Sekarang terserah kalian bagaimana menggunakannya”. Ini adalah sebuah kewajiban bagi seorang eksistensialis, atau siapapun yang peduli terhadap kemanusiaan.</p>
<p>Sedikit tentang saya dan bagaimana peran saya di dunia:</p>
<p>Saya lahir di Paris tahun 1905 sebagai anak tunggal. Ayah saya Marinir dan meninggal ketika saya masih bayi. Ibu—anggota keluarga ningrat terpelajar dan kemenakan seorang dokter-humanis-musisi besar Albert Schweitzer—membawa saya pulang ke tempat ayahnya, seorang professor yang mengajar di Sorbonne.</p>
<p>Tubuh saya kecil dan saya anak rumahan dengan mata yang tidak bisa fokus. Saya tidak punya teman bermain. Ibu saya sering membawa saya berjalan-jalan di taman, mengunjungi kelompok-kelompok yang sedang berkumpul disana dan tidak ada satupun yang mau menerima saya. Akhirnya saya menyendiri di lantai enam apartemen kami, pada “ketinggian dimana mimpi berdiam” dan tenggelam dalam dunia ajaib bernama buku dan gagasan.</p>
<p>Saya berprestasi di sekolah hingga pada tahun 1920an terpilih untuk masuk Superior Normal College yang prestisius. Disana saya memimpin sekelompok mahasiswa yang sering berkumpul di kamar saya. Saat itulah saya bertemu Simone de Beauvoir, seorang gadis cerdas yang tidak punya kesempatan menikah dalam masyarakat Perancis yang borjuis karena keluarganya sangat miskin dan tidak mampu menyediakan mas kawin. Kami saling cinta dan saling mendampingi seumur hidup (meskipun saya sering memiliki beberapa kekasih pada saat bersamaan).</p>
<p>Ada dua filsuf Jerman yang sangat berpengaruh dalam hidup saya: Edmund Husserl yang mengatakan bahwa silang pendapat para filsuf mengenai prinsip abstrak adalah sia-sia; dan Martin Heidegger yang menganggap manusia memiliki dunia yang tidak terpahami, dikutuk untuk mati tanpa tahu mengapa kita ada disini.</p>
<p>Setelah lulus tahun 1929 saya mengajar di Le Havre, Laon dan akhirnya Paris. Tahun 1938 saya menerbitkan novel pertama berjudul Nausea, tentang buku harian seorang manusia yang tersiksa dan diasingkan dari dunia fisik, bahkan dari tubuhnya sendiri. Tahun 1939 saya dikenakan wajib militer kemudian maju perang melawan Jerman dan menghabiskan waktu di penjara selama setahun. Ketika akhirnya dibebaskan tahun 1941, saya kembali mengajar dan menulis. Tahun 1943 saya menerbitkan buku berjudul Being and Nothingness, menegaskan bahwa pikiran—yang sama sekali tidak terdiri dari hal fisik—lepas dari peraturan deterministik yang biasa dikenakan pada materi.</p>
<p>Setelah perang, ajaran saya mengenai hidup yang tidak memiliki perasaan menjadi sensasi internasional. Kengerian perang—dan pembantaian sistematis terhadap enam juta bangsa Yahudi karena ‘kejahatan’ mereka yang menyimpang dari budaya agama berbeda—adalah bukti terkuat atas pesan saya.</p>
<p>”Ketika kita dihadapkan pada absurditas eksistensi, perang adalah penguat yang hebat,” ujar sebuah jurnal populer. (Padahal banyak bukti bertebaran sebelum PD II. Jutaan Yahudi dibunuhi oleh Kristen Eropa—itu jika mereka tidak terlalu sibuk membantai Muslim pada Perang Salib, atau menghabisi sesame Kristen saat Reformasi, maupun menyiksa pada bid’ah waktu terjadi Inkuisisi, atau membakari para perempuan dalam perburuan penyihir. Sementara peperangan yang terjadi tidak terhitung banyaknya. Kekejaman yang tidak masuk akal melimpah-ruah dalam sejarah.)</p>
<p>Tahun 50an eksistensialisme adalah kegilaan dunia dan sangat mengubah budaya Barat. Drama “Theater Absurd”, novel “Anti-hero”, film-film “new wave” dan semacamnya membentur mitologi tradisional mengenai pahlawan agung mengalahkan penjahat laknat. “Moralitas baru” tentang nilai-nilai yang tidak pasti menyerang agama dan kepercayaan. Kemarahan menjadi dimensi yang hampir tidak saya kenali, kemudian saya pungkiri.</p>
<p>Saya berhenti mengajar kemudian menulis hingga akhir hidup saya. Saya terus menyerukan apa yang saya pikirkan. Saya mendukung Marksisme sebagai rencana terbaik bagi kesejahteraan umat manusia, tapi saya menolak masuk partai komunis Perancis dan ngeri melihat kebrutalan Soviet. Kegilaan dunia memudar dan pengaruh saya hilang. Semua itu kembali muncul ketika tahun 1964 saya dianugerahi Nobel untuk sastra, yang saya tolak—satu-satunya orang yang menolak penghargaan tersebut—karena anugerah tersebut tidak lebih dari perwakilan borjuasi yang terjebak dalalm kesuksesan dan saya lawan mentah-mentah dari awal. “Seorang penulis harus menjaga agar dirinya tidak dijadikan sebuah institusi,” kata saya kepada panitia Nobel.</p>
<p>Tahun 1970an saya buta, kesehatan saya memburuk dan saya kehilangan kemampuan menulis. “Saya kehilangan alasan untuk ‘menjadi’,” kata saya pada beberapa teman. Akhir itu datang tahun 1980, pada usia saya yang ke 74. Saya harap apa yang saya tinggalkan adalah kebenaran dasar untuk dimengerti orang lain. Saya tidak pernah berkhotbah tentang keputusasaan, atau bahkan merasakannya, meskipun kosakata eksistensialisme cenderung gelap. Saya mendukung tindakan menantang bahaya dalam mencari kemenangan hingga batas terjauh. Saya tinggalkan kalian dengan ringkasan pemikiran saya:</p>
<p>&#8220;Manusia tidak bisa bergantung selain pada dirinya sendiri; sendirian, ditinggalkan di dunia dalam tanggungjawab tanpa batas, tanpa bantuan, tanpa tujuan selain yang dia tetapkan sendiri, dan tanpa takdir kecuali yang dia usahakan sendiri di dunia ini.&#8221;</p>
<p>Terjemahan bebas dari <a href="http://www.holysmoke.org/haught/sartre.html" title="My name is Jean-Paul Sartre" target="_blank">sini</a>.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&blog=2072770&post=3&subd=learnerwithoutborder&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2007/11/13/saya-jean-paul-sartre/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/learnerwithoutborder-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>