<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The sky is NOT the limit</title>
	<atom:link href="http://learnerwithoutborder.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com</link>
	<description>free your mind, free your soul</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Dec 2011 16:57:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='learnerwithoutborder.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/cbcb9ff007d8e7f6bc588410ca7e7407?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>The sky is NOT the limit</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://learnerwithoutborder.wordpress.com/osd.xml" title="The sky is NOT the limit" />
	<atom:link rel='hub' href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tentang Malaikat dan Pahlawan #3</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/09/10/satanicverse4/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/09/10/satanicverse4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 14:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bitch, The</dc:creator>
				<category><![CDATA[Project: Dream]]></category>
		<category><![CDATA[Salman Rushdie]]></category>
		<category><![CDATA[Satanic Verse]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[(Ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya.) Ketika hal mustahil terjadi, dan ayahnya mendadak menawarkan sekolah ke Inggris—“untuk mengenyahkanku,” begitu pikirnya, “kalau tidak, mengapa? Jelas sekali, tapi jangan menolak hadiah dan sebagainya”—ibunya, Nasreen Chamchawala tak mau menangis, dan malah urun nasihat. “Jangan ikutan kotor seperti orang-orang Inggris itu,” ujarnya memperingatkan. “Mereka membasuh pe-a-en-te-a-te mereka hanya dengan kertas. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=159&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/09/newspaper_background_set_2_by_dohjow.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-161" title="Newspaper_Background_Set_2_by_Dohjow" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/09/newspaper_background_set_2_by_dohjow.jpg?w=645&#038;h=548" alt="" width="645" height="548" /></a></p>
<p>(Ini adalah lanjutan dari <a title="Tentang Malaikat dan Pahlawan #2" href="http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/13/satanicverse3/" target="_blank">posting sebelumnya</a>.)</p>
<p>Ketika hal mustahil terjadi, dan ayahnya mendadak menawarkan sekolah ke Inggris—“untuk mengenyahkanku,” begitu pikirnya, “kalau tidak, mengapa? Jelas sekali, tapi jangan menolak hadiah dan sebagainya”—ibunya, Nasreen Chamchawala tak mau menangis, dan malah urun nasihat. “Jangan ikutan kotor seperti orang-orang Inggris itu,” ujarnya memperingatkan. “Mereka membasuh pe-a-en-te-a-te mereka hanya dengan kertas. Lagipula, mereka menggunakan air bekas mandi orang lain.” Fitnah keji ini menguatkan Salahuddin bahwa ibunya berusaha sangat keras mencegah dia pergi, dan mengindahkan cinta diantara mereka berdua, dia menjawab, “Tidak terbayangkan, Ammi, semua yang kau katakan itu. Inggris peradabannya besar, dan yang kau bilang itu omong kosong.”</p>
<p>Ibunya tersenyum gugup tanpa membantah. Dan selanjutnya, dengan mata kering di bawah lengkung kebesaran di pagar, ia menolak mengantar ke Bandara Santacruz dan melepas putranya pergi. Anaknya semata wayang. Dia menumpuk banyak kalung bunga di leher sang putra hingga Salahuddin pusing dengan harum wangi cinta seorang ibu.</p>
<p>Nasreen Chamchawala adalah perempuan rentan paling rapuh, belulangnya seperti <em>tinka</em>, seperti serpihan kayu. Demi mempertegas keberadaannya yang minimal secara fisik, dalam usianya yang sangat muda dia telah menunjukkan selera pakaian tertentu yang berani dan berlebihan. <em>Sari</em>-nya seringkali berpola menyilaukan, bahkan aneh: sutra lemon berhias intan brokat sangat besar, lingkaran Op Art hitam-putih memusingkan, bibir raksasa berlipstik merah darah dengan latar putih terang. Orang-orang memaafkan seleranya yang payah karena ia mengenakannya dengan pembawaan tak berdosa; karena suara yang memancar dari pola teramat riuh itu sangatlah mungil dan peragu namun sopan sekali. Juga karena pesta yang sering dia adakan sore hari.</p>
<p>Dalam kehidupan pernikahannya, setiap Jumat Nasreen akan memenuhi ruang utama kediaman Chamchawala yang biasanya kosong-gelap macam kamar terkunci tempat mayat disimpan, dengan cahaya terang dan teman-teman yang getas. Ketika Salahuddin masih bocah ia akan bersikeras menjadi penjaga pintu, menyapa tetamu yang mengenakan banyak sekali perhiasan dan polesan dengan gaya sok penting, mempersilakan mereka menepuk ringan kepalanya dan memanggilnya dengan sebutan “Si Imut” atau “Si Manis”. Setiap Jumat rumah dipenuhi suara; dengan pemain musik, penyanyi, penari, dan lagu-lagu Barat terbaru berkumandang dari Radio Ceylon, berisiknya pertunjukan boneka para <em>rajah</em> tanah liat berlukisan cat mengendarai boneka kuda, memenggal marionet musuh dengan pedang kayu sambil menyumpah-serapah. Sepanjang hari lainnya Nasreen akan berjalan diam-diam ke seluruh penjuru rumah, seperti merpati, berjingkat dalam keremangan, seakan takut membangunkan keheningan membayang; dan putranya, mengikuti di belakang, juga belajar bagaimana caranya meringankan langkah jika ia tak hendak membangunkan gendruwo ataupun iprit jenis apapun yang mungkin menunggu di kegelapan.</p>
<p>Namun: kehati-hatian Nasreen Chamchawala gagal menyelamatkan nyawanya. Kengerian itu menangkap dan membunuhnya ketika ia yakin dirinya berada dalam keadaan paling aman, berbalut <em>sari</em> bermotifkan foto dan kepala berita koran murahan, tersiram cahaya kandil, dalam lingkaran rekan dan kerabat.</p>
<p>***</p>
<p>Lima setengah tahun berlalu sejak Salahuddin muda berkalung karangan bunga dan diberi wejangan menaiki pesawat Douglas DC-8 mengelana ke barat. Di depannya, Inggris; di sebelahnya, sang Ayah, Changez Chamchawala; di bawahnya, rumah dan keindahan. Sebagaimana Nasreen, masa depan yang dimiliki Saladin tak pernah mudah untuk ditangisi.</p>
<p>Pada penerbangan pertamanya ia membaca kisah fiksi-sains tentang migrasi antar planet: <em>Foundation</em> karangan Asimov, <em>Martian Chronicles</em> oleh Ray Bradbury. Dalam benaknya pesawat DC-8 adalah kapal induk, tempat Yang Terpilih, Yang Ditunjuk Tuhan dan Manusia, menyeberang ke jarak tak terpikirkan, bepergian dari generasi ke generasi, beranak-pinak secara terprogram, dan bibit mereka suatu hari nanti mungkin akan berakar di suatu tempat di dunia baru nan berani di bawah sinar mentari kekuningan. Ia mengoreksi dirinya sendiri: bukan kapal induk tapi kapal bapak, karena memang di situlah beliau berada, si lelaki hebat, Abbu, Ayah. Salahuddin berusia tiga belas saat itu, mengesampingkan semua ragu dan pilu terbaru, kembali memasuki pemujaan kekanakan terhadap ayahnya, karena memang ia telah sangat memuja ayahnya, ia adalah bapak yang hebat sampai kau bisa punya pikiran sendiri, kemudian ketika kau berselisih paham dengannya adalah penghianatan terhadap cinta beliau, namun sekarang tak penting lagi. “Aku menuduhnya menjadi zat Maha, dan yang terjadi adalah semacam hilangnya keyakinan”… Ya, kapal ayah, pesawat terbang yang bukan rahim terbang namun serupa falus logam, dan semua penumpang adalah spermatozoa yang menunggu dimuncratkan.</p>
<p>Lima setengah jam zona waktu; balik jam tanganmu ke bawah saat kau di Bombay dan kau akan tahu pukul berapa di London. “Ayahku,” kenang Chamcha, bertahun-tahun kemudian di tengah kepahitan hidupnya. “Aku menuduhnya membalik Waktu.”</p>
<p>Berapa lama mereka terbang? Lima ribu setengah sebagai gagak. Atau: dari ke-India-an menuju kem-Inggris, jarak yang tak terukur. Atau mungkin tak begitu jauh, karena mereka bangkit di satu kota besar dan jatuh di kota besar lainnya. Jarak antara kota itu selalu sedikit; penduduk kampung berkelana seratus mil ke kota, dan tas di punggung kudanya lebih lowong, lebih gelap, menuju ke ruang yang lebih menakutkan.</p>
<p>Yang dilakukan Changez Chamchawala ketika pesawat mulai mengangkasa: berusaha agar anaknya tak melihat apa yang dia lakukan, yaitu menyilangkan dua jari di tiap tangan, dan menggesekkan keduanya di ibu jari.</p>
<p>Dan ketika mereka tiba di sebuah hotel dekat dengan lokasi kuno pohon Tyburn, Changez berkata pada putranya: “Ambil. Ini milikmu.” Dia mengangsurkan dompet gendut hitam yang identitasnya tak diragukan lagi. “Kau lelaki dewasa sekarang. Ambil.”</p>
<p>Kembalinya dompet yang disita, lengkap dengan semua uang di dalamnya, terbukti sebagai jebakan kecil Changez Chamchawala. Seumur hidup Salahuddin telah ditipu dengan cara ini. Tiap kali sang ayah akan menghukumnya, dia akan menawarkan hadiah, sepotong coklat impor atau selembar keju Kraft, lalu menarik tangannya ketika dia hendak meraih. “Keledai!” sahut Changez pada anaknya yang masih balita. “Pasti, deh. Selalu! Gara-gara ditawari wortel, kamu selalu menghampiri tongkat pemukul.”</p>
<p>Salahuddin yang sedang di London itu mengambil dompet yang disita, menerima pemberian kedewasaan; ketika ayahnya berkata: “Sekarang karena kau telah menjadi lelaki dewasa, sudah menjadi tugasmu menjaga orangtuamu ini sementara kita berada di kota London. Kau yang akan membayar semua tagihan.”</p>
<p>Januari 1961. Dalam setahun kau bisa jumpalitan dam masih—tidak seperti jam tanganmu—bisa mengatakan hal yang sama. Saat itu musim dingin; namun Salahuddin Chamchawala bergetar takut dalam kamar hotelnya; bongkah emas pembawa keberuntungan yang ia miliki sekarang lebih mirip kutukan penyihir.</p>
<p>Dua minggu di London sebelum ia masuk ke sekolah asrama, berubah menjadi mimpi buruk tentang uang tunai, tentang lemari duit dan perhitungan, karena Changez bersungguh-sungguh terhadap apa yang dikatakannya dan tak pernah sekalipun merogoh koceknya sendiri. Salahuddin harus membeli pakaiannya sendiri, seperti jas wol biru panjang tahan air berkancing dua baris dan tujuh kemeja Van Heuesen bergaris biru dan putih dengan kerah sedikit tegak yang bisa dilepas, dan Changez memaksa si putra memakainya agar terbiasa dengan kancing-kancingnya. Salahuddin merasa seakan sebuah pisau tumpul ditekan pada jakunnya yang baru saja baligh; dan dia juga harus menyisihkan uang untuk membayar kamar hotel dan semuanya. Walhasil tak pernah sekalipun ia meminta ayahnya untuk pergi bersama menonton di bioskop, tak sekalipun, bahkan ketika film “<em>The Pure Hell of St. Trinians</em>” diputar, atau untuk makan di luar, tak sekalipun kotak karton makanan Cina. Tahun-tahun berikutnya tak ada secuilpun ingatan tentang dua minggu pertamanya di Ellowen Deeowen kecuali <em>pounds-shilling-pence</em>. Sebagaimana murid sang filsuf—Raja Chanakya—yang bertanya maksud perkataannya bahwa manusia dapat hidup sekaligus mati di dunia, lalu diminta menyunggi air seember penuh melewati kerumunan orang yang merayakan liburan tanpa menjatuhkannya setetespun, dalam derita yang mematikan, dan sekembalinya ia ke hadapan si orang besar itu sang raja tak mampu menjelaskan betapa riang-gembira perayaan tersebut, karena pandangannya dibutakan oleh seember air di atas kepalanya.</p>
<p>Changez Chamchawala menjadi terlalu tenang di masa-masa itu, seperti tidak begitu peduli apa dia sudah makan atau minum atau melakukan apapun. Dia senang-senang duduk di kamar hotel, menonton televisi, terutama saat <em>the Flintstones</em> sedang tayang karena, seperti yang dia bilang pada putranya, <em>bibi </em>Wilma membuatnya teringat pada Nasreen. Salahuddin berusaha membuktikan kedewasaannya dengan ikut puasa bersama sang ayah, berjuang mengalahkannya, tapi ia tak pernah bisa. Dan ketika perasaan itu begitu menyakitkan, dia pergi keluar hotel menuju tikungan terdekat di daerah murahan tempat dia bisa membawa pulang ayam panggang berminyak yang digantung di jendela, berputar perlahan oleh gagang penusuk. Ketika ia membawa ayam itu melewati lobi hotel Salahuddin malu sendiri. Ia tak ingin terpergok pekerja hotel, jadi, ia jejalkan bungkusan itu ke dalam jas panjangnya dan berjalan menuju lift dengan aroma daging panggang mengikuti, jas menggelembung, dan wajah merona merah. Dengan dada berisi ayam di bawah pandangan para janda dan penjaga lift ia rasakan lahirnya amarah tak terbendung membakar dalam dirinya, tak terpadamkan, selama hampir seperempat abad. Amarah yang mendidihkan pemujaan ayah di masa kecil dan membuatnya jadi manusia sekuler, yang beberapa tahun kemudian melakukan yang terbaik dan hidup tanpa tuhan berjenis apapun. Mungkin malah melandasi keputusannya untuk menjadi sesuatu yang tak bisa dilakukan sang ayah, yaitu orang Inggris yang baik dan sopan. Ya, seorang Inggris, dan bahkan ketika apa yang dikatakan ibunya benar belaka, ketika hanya ada tisyu dalam toilet dan baskom berair suam kuku, air bekas mandi penuh lumpur dan sabun untuk berbasuh setelah berolahraga, dan bahkan jika itu berarti menghabiskan seumur hidup dalam musim dingin diantara pepohonan meranggas telanjang dengan jemari mencengkeram putus asa pada cahaya matahari jarang-jarang yang berair dan pucat. Pada malam musim dingin dia, yang tak pernah tidur dengan lebih dari satu selimut, akan berbaring di bawah gunungan wol dan merasa seperti sosok dalam mitos kuno, dikutuk dewa dengan beban menekan dada. Namun tak mengapa, dia akan menjadi Inggris, bahkan ketika teman sekelasnya terkikik mendengar suaranya dan membiarkannya buta dari rahasia mereka. Pengecualian ini hanya akan memperkuat tekadnya, dan saat itulah ia mulai bertindak, mencari topeng yang akan dikenali rekan-rekannya, topeng berwajah pucat, topeng badut, dan membuat mereka berpikir, “Oke, dia adalah orang-seperti-kami.” Ia akan mengelabui mereka dengan cara yang sama seperti yang digunakan manusia sensitif membujuk kawanan gorilla agar diperbolehkan masuk ke dalam keluarga mereka, untuk membelai dan mengelus dan menjejalkan pisang ke dalam mulut.</p>
<p>(Setelah tagihan terakhir diselesaikan dan dompet yang ia temukan di ujung pelangi menjadi kosong, ayahnya berkata: “Kau rasakan sendiri. Kau bisa membayar semuanya hingga ke titik ini. Aku membuatmu dewasa.” Tapi dewasa yang seperti apa? Itulah yang tidak diketahui para ayah. Tak pernah disangka sebelumnya, hingga semuanya sudah terlambat.)</p>
<p>Suatu hari saat sekolah sudah mulai, ia turun untuk sarapan dan sepotong ikan asap tergeletak di piringnya. Ia hanya duduk dan menatap ikan tersebut, tak tahu harus bagaimana. Lalu ia mulai memotong, menyuap, dan mulutnya penuh tulang ikan kecil-kecil. Dan setelah ia berhasil memisahkan semuanya, ia kembali menyuap dan mulutnya kembali penuh duri. Rekan-rekannya hanya menyaksikan penderitaan itu dalam diam; tak ada satupun yang berkata, “Sini, aku tunjukkan bagaimana cara makannya.” Sembilan puluh menit hanya untuk menghabiskan satu ikan dan ia tak diperbolehkan bangkit dari duduk sebelum selesai makan. Setelah semua usai ia gemetar, dan jika dia bisa menangis, pasti dia akan menangis. Lalu terlintas di benaknya, dia baru saja mendapat pelajaran penting. Inggris adalah negara aneh yang orangnya suka makan ikan asap penuh duri dan tulang, dan tak ada satupun orang yang menunjukkan bagaimana cara makannya. Ia paham bahwa dirinya adalah bangsat pendendam. “Akan kutunjukkan pada mereka semua,” ia mengumpat. “Kalian lihat saja nanti.” Ikan asap yang habis dia bantai adalah kemenangan pertamanya. Langkah selanjutnya adalah menaklukkan tanah Inggris.</p>
<p>Syahdan, William Penakluk memulainya dengan memakan sesuap gendut pasir Inggris.</p>
<p>***</p>
<p>Lima tahun kemudian ia pulang setelah meninggalkan sekolah, menunggu dimulainya masa perkuliahan universitas Inggris, dan kedatangannya ke Vilayeti sangat dinanti-nanti. “Kita lihat saja nanti bagaimana dia mengeluh,” ujar Nasreen menggodanya di hadapan sang ayah. “Semuanya dikomentari. Kipas anginnya sudah dibetulkan, dipasang longgar ke langit-langit dan akan jatuh lalu memenggal kepala kita semua ketika tidur, begitu katanya. Makanannya juga terlalu berlemak, jangan lah masak yang digoreng-goreng, katanya lagi sok tahu. Balkon paling atas nggak aman dan catnya mengelupas, mengapa kita tidak bangga terhadap lingkungan kita. Dan rerumputan di taman tumbuh terlalu tinggi, dan kita jadi orang hutan, begitu pikirnya. Lihat, betapa kasarnya film kita, dan dia tak lagi menikmatinya. Dan minum langsung dari keran akan membuatmu sakit. Ya ampun. Benar-benar pendidikan yang bagus, Ayah. Sallu kecil kita, Inggris—kembali, dan bicaranya begitu lancar dan bagus.”</p>
<p>Mereka sedang berjalan-jalan di halaman di sore hari, mengamati matahari yang hendak menyelam ke laut, mengembara dalam keteduhan pepohonan membentang luas, ada yang mengular ada yang berjenggot dan Salahuddin (yang sekarang menyebut dirinya Saladin sesuai dengan gaya sekolah Inggris, namun sementara ini menggunakan Chamchawala sampai seorang agen teater menyingkatnya demi kepentingan komersial) mulai bisa menamakannya. Nangka, beringin, <em>jacaranda</em>, api hutan, pohon kancing. Sesemakan putri malu tumbuh di kaki pohon yang setua dirinya, pohon kenari yang ditanam sendiri oleh kedua tangan Changez di hari ketika putranya terlahir ke dunia. Ayah dan anak, di depan pohon kelahiran itu mereka berdua terlihat canggung, tak dapat merespon dengan wajar terhadap keriangan Nasreen nan lembut. Saladin terperangkap melankoli bagaimana taman tersebut terlihat jauh lebih baik sebelum dia tahu nama pepohonan yang ada di sana, dan ada sesuatu yang hilang yang tak dapat ia temukan kembali. Changez Chamchawala menyadari bahwasanya ia tak lagi dapat menatap langsung ke kedua mata putranya sebab kegetiran yang ia temukan di sana hampir membekukan hati. Ketika ia bicara sambil memalingkan muka dari pohon kenari berusia delapan belas tahun—yang ia bayangkan sebagai tempat arwah putra sematawayangnya bersemayam selama mereka berpisah—kata-kata yang terucap bukanlah seperti yang ia maksud, dan itu membuatnya semakin kaku, menjadi sosok dingin yang tak pernah ia harapkan, dan tak bisa ia hindari.</p>
<p>“Katakan pada putramu,” sahut Changez pada Nasreen, “jika ia jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk belajar menghina saudara sebangsanya, jangan salahkan saudara sebangsanya jika menghinanya balik. Apa sih dia? <em><a title="Buku anak-anak Inggris karangan Frances Hodgson Burnett" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Little_Lord_Fauntleroy" target="_blank">Fauntleroy</a></em> atau <em><a title="pejabat sok penting" href="http://www.merriam-webster.com/dictionary/panjandrum" target="_blank">pajandrum</a></em> besar? Apakah begini nasibku: kehilangan putra dan malah menemukan orang aneh?”</p>
<p>Saladin menjawab ayahnya, “Apapun aku, Ayah sayang, aku mendapatkannya karena Ayah.”</p>
<p>Itu adalah obrolan terakhir mereka sebagai keluarga. Semua perasaan musim panas yang menyenangkan segera menipis, bahkan Nasreen gagal menengahi. “Kau harus minta maaf pada ayahmu, Sayang. Orangtua malang itu menderita seperti setan, namun kesombongannya tak mengizinkan ia memelukmu.” Bahkan <em>ayah</em>—pengasuh—Kasturba dan si kurir tua Vallabh, suaminya, berusaha menjadi mediator, namun tak satupun dari ayah beranak itu bergerak. “Masalahnya, bahan pembuat mereka itu sama,” ujar Kasturba pada Nasreen. “Dasar, ayah dan anak sama saja, bahan pembuatnya saja sama.”</p>
<p>Ketika perang dengan Pakistan pecah bulan September Nasreen memutuskan, dengan sangat berani, untuk tidak menghentikan pesta Jumatannya, “biar mereka tahu bahwa Hindu-Muslim bisa saling mencintai dan juga saling membenci,” begitu pembelaannya. Changez melihat kilatan di matanya dan tak hendak membantah, namun menyuruh para pelayan menutup jendela dengan tirai hitam. Malam itu, untuk terakhir kalinya, Salahuddin Chamchawala berperan sebagai penjaga pintu, berdandan mengenakan jas untuk makan malam bergaya Inggris. Dan ketika tamu-tamu berdatangan—tamu-tamu lama yang seperti dulu, berbedak kelabu termakan umur namun pembawaan mereka masih sama—mereka menghormatinya dengan tepukan dan ciuman yang sama, puji-pujian nostalgis tentang kemudaannya dalam gerak tubuh pemberkatan. “Kau sudah dewasa sekarang,” ujar mereka. “Benar-benar putra tersayang.” Mereka berusaha menyembunyikan rasa takut pada perang, “bahaya serangan udara,” begitu istilahnya di radio. Dan ketika mereka mengacak lembut rambut Saladin, tangan mereka sedikit gemetar, atau, jika tidak begitu, gerakan mereka jadi terlalu kasar.</p>
<p>Agak larut malam ketika sirine berbunyi dan para tamu lari mencari perlindungan, sembunyi di bawah ranjang, bawah lemari, di mana saja. Nasreen Chamchawala tertinggal sendirian di sebelah meja terisi makanan, meyakinkan para tamu dengan berdiri tenang berbalut <em>sari</em> motif surat kabar, mengunyah sebongkah daging ikan seakan tak terjadi apa-apa. Saat itulah dia mulai tersedak duri ikan hingga ajal menjemput tanpa seorangpun menolong, semua meringkuk di sudut dengan mata terpejam; bahkan Saladin, penakluk ikan asap berduri banyak, Saladin yang bibir atasnya menemukan mudik di Inggris, hilang nyali. Nasreen Chamchawala terjatuh, tersentak-sentak, tersengal-sengal, mati. Dan saat terdengar peringatan telah berlalunya situasi bahaya, para tamu undangan keluar dari tempat persembunyian dengan malu-malu, mendapati nyonya rumah tiada di tengah ruang makan, diambil oleh malaikat pemusnah, khali—<em>phili khalaas</em> dalam budaya Bombay. Menurut gosip ia meninggal tanpa sebab, pergi begitu saja, selamanya.</p>
<p>***</p>
<p>Kurang dari setahun sejak kepergian Nasreen Chamchawala akibat ketidakmampuannya melawan duri ikan meskipun memiliki putra berpendidikan luar negeri, Cangez menikah lagi tanpa pengumuman sepatah katapun. Saladin yang sudah berada di sekolahnya menerima surat dari sang ayah yang memerintahkannya—dengan pemilihan kata menyebalkan yang angkuh namun basi sebagaimana biasa ia gunakan dalam surat-menyurat—untuk turut gembira. “Berbahagialah,” kata surat tersebut. “Karena yang hilang kini terlahir kembali.” Penjelasan kalimat yang seperti tersandi tersebut malah lebih rendah dari surat yang datang lewat udara. Dan ketika Saladin tahu ibu tiri barunya ini juga dipanggil Nasreen, kekacauan terjadi dalam kepalanya, dan ia balas surat ayahnya penuh kebencian dan angkara. Kekejaman diantara mereka hanya terdapat antara ayah dan putranya. Yang membedakan dari kekejaman antara ibu dan putrinya adalah potensi besar terjadinya perkelahian sungguhan. Changez membalas segera setelah surat ia terima; surat pendek, empat baris makian gaya kolot—berandal, medit, begundal, penipu, mental pembantu, anak lacur, bengal. “Bersama surat ini maka semua hubungan keluarga dianggap gugur,” kata surat tersebut, menyimpulkan. “Semua ini adalah tanggungjawab Saudara.”</p>
<p>Setelah setahun tanpa berita, Saladin menerima komunikasi lebih lanjut, surat pengampunan yang secara keseluruhan sangat tak bisa diterima daripada surat yang sebelumnya yang seperti gelegar guntur mengabarkan pengasingannya. “Jika kau menjadi seorang ayah, wahai putraku,” surat Changez mengaku, “maka kau akan tahu bagaimana masa-masa itu—ah, masa yang sangat indah dan manis itu!—saat seorang lelaki rapi mendekap bayi mungil-ganteng di pelukannya demi cintanya. Dan tepat di saat itu, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, mahluk manis itu—boleh aku jujur?—mengencinginya. Selintas, mungkin si lelaki rapi itu merasa amarah mulai membuncah, darahnya mulai naik—tapi kemudian berhenti begitu saja. Berlalu secepat dia datang. Karena, sebagai orang dewasa, bukankah kita harus mengerti bahwa anak kecil tidak bisa disalahkan? Bocah itu tidak tahu apa yang dia perbuat.”</p>
<p>Saladin sangat tersinggung disamakan dengan bayi mengompol, dan akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah yang menurutnya bisa disebut sebagai diam terhormat. Saat masa kelulusannya tiba Saladin telah mengantongi paspor Inggris karena kedatangannya tepat ketika peraturan masih longgar. Jadi, ia memberitahukan Changez perihal keinginannya menetap di London dan bekerja sebagai aktor dalam sebuah surat singkat. Balasan Changez Chamchawala datang dalam bentuk kilat khusus. “Itu sama saja dengan gigolo yang menyamar. Aku yakin kau kerasukan setan dan membalikkan akal sehatmu. Kau, yang sudah diberi lebih. Tidakkah kau merasa berhutang pada seseorang? Pada negaramu? Pada kenangan terhadap ibumu tersayang? Pada benakmu? Akankah kau menghabiskan hidupmu untuk selalu terguncang dan berbesar diri dibawah sorotan lampu, menciumi perempuan-perempuan pirang sambil ditatap berpasang-pasang mata asing yang membayar untuk menontonmu mempermalukan diri? Kau bukan putraku. Kau gendruwo, kau adalah—wusss—iblis dari neraka. Aktor! Jawab aku: apa yang akan kukatakan pada teman-temanku?”</p>
<p>Dan di bawah tanda tangan terdapat PS dengan tulisan tangan asal-asalan menyedihkan. “Sekarang kau sudah punya jin jahatmu sendiri, jangan harap kau dapat warisan lampu ajaib dariku.”</p>
<p>***</p>
<p>Setelah itu Changez Chamchawala menulis pada putranya secara rutin, dan dalam setiap surat ia selalu menyebut-nyebut tentang setan dan kerasukan: “Manusia yang tidak jujur pada dirinya sendiri akan menjadi kebohongan berjalan, dan mahluk mengerikan seperti itu adalah mahakarya Setan terbaik,” tulisnya. Dan dalam gaya yang lebih sentimental: “Aku menyimpan jiwamu dengan aman, putraku. Di sini, di pokok kenari. Iblis hanya memiliki ragamu. Saat kau terbebas darinya, kembalilah dan rebut jiwa abadimu kembali. Dia mekar di taman.”</p>
<p>Tulisan tangan di surat-surat tersebut berganti seiring tahun berlalu, berubah dari keyakinan ruwet yang langsung bisa dikenali menjadi lebih sempit, tanpa hiasan, lalu murni. Akhirnya surat-surat itu berhenti. Namun Saladin mendengar dari sumber lain bahwa keasyikan sang ayah terhadap hal-hal supranatural menjadi semakin dalam, hingga akhirnya ia menjadi tertutup. Mungkin ia melarikan diri dari dunia ini dimana setan mampu mencuri raga putranya, dunia tak aman bagi lelaki dengan kepercayaan relijius sejati.</p>
<p>Perubahan ayahnya itu mengganggu benak Saladin, meskipun mereka sangat berjauhan. Orangtuanya adalah Muslim menurut penduduk Bombay yang abangan dalam beragama. Changez Chamchawala lebih terlihat mirip tuhan di mata sang putra balita dibanding Allah manapun. Dan ayahnya, dewa suci nan profan (yang kini tercemar), berlutut di usia tua dan menyembah-nyembah ke arah Mekah, adalah hal yang sulit diterima putranya yang kafir.</p>
<p>“Ini gara-gara si nenek sihir,” katanya pada diri sendiri, menjatuhkan kepercayaannya demi retorika hingga bahasanya menjadi sama seperti kutukan gendruwo, sebagaimana yang digunakan sang ayah. “Si Nasreen Ke Dua itu. Jadi aku yang jadi bulan-bulanan kesetanan? Aku yang kerasukan? Kan yang berubah bukan tulisan tanganku.”</p>
<p>Surat-surat tak pernah datang lagi. Tahun demi tahun berlalu, dan Saladin Chamcha, sang aktor, manusia dengan kisah hidupnya sendiri, kembali ke Bombay bersama <em>Prospero Players</em> untuk menerjemahkan peran dokter India dalam <em>The Millionairess</em> yang ditulis George Bernard Shaw. Di panggung ia membuat suaranya menjadi sesuai dengan karakter yang diperankan, namun caranya mengucap yang selalu dia tekan selama ini, semua vokal dan konsonan yang telah ia tinggalkan, mulai bocor dari mulutnya dan terdengar juga di teater tersebut. Suaranya sendiri berhianat; dan akhirnya ia sadar bagian-bagian tubuhnya juga punya kemampuan menghianati.</p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://dohjow.deviantart.com/art/Newspaper-Background-Set-2-150036942" target="_blank">sini</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/project-dream/'>Project: Dream</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/salman-rushdie/'>Salman Rushdie</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/satanic-verse/'>Satanic Verse</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=159&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/09/10/satanicverse4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7141f937f5fa647f42e8ed05655ae478?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/09/newspaper_background_set_2_by_dohjow.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Newspaper_Background_Set_2_by_Dohjow</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Para Pencium Bokong</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/17/parapenciumbokong/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/17/parapenciumbokong/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 23:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Freestylin']]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Suatu pagi pintu rumah saya diketuk orang. Waktu saya buka ada seorang lelaki muda berjenggot ditemani perempuan berparas cantik dan mereka berpakaian rapi. Si lelaki berbicara lebih dulu: Arif: &#8220;Salam sejahtera! Kenalkan, nama saya Arif dan ini saudari Dedeh&#8221; Dedeh: &#8220;Salam! Kami datang untuk menyampaikan kabar gembira. Kami mengundangmu untuk bersama-sama mencium bokong Burhan!&#8221; Saya: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=149&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/04/ass-map.gif"><img class="aligncenter size-medium wp-image-150" title="Ass-Map" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/04/ass-map.gif?w=300&#038;h=186" alt="" width="300" height="186" /></a></p>
<p>Suatu pagi pintu rumah saya diketuk orang. Waktu saya buka ada seorang lelaki muda berjenggot ditemani perempuan berparas cantik dan mereka berpakaian rapi. Si lelaki berbicara lebih dulu:</p>
<p>Arif: &#8220;Salam sejahtera! Kenalkan, nama saya Arif dan ini saudari Dedeh&#8221;</p>
<p>Dedeh: &#8220;Salam! Kami datang untuk menyampaikan kabar gembira. Kami mengundangmu untuk bersama-sama mencium bokong Burhan!&#8221;</p>
<p>Saya: (<em>terkesiap</em>) &#8220;Apaaa?! Kalian ngomong apa, sih? Burhan itu siapa? Buat apa saya cium bokongNya?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Kalau kamu cium bokong Burhan, Dia akan kasih kamu 10 Trilyun Rupiah; tapi kalau kamu nggak mau, Dia akan menghajarmu.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Hmmm&#8230;. Ini proyek cuci uang hasil ngerampok nasabah Citipubank yang lagi heboh itu ya?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;SALAH! Gini, ya. Burhan itu super kaya dan sangat baik hati. Dialah yang memiliki kota ini. Dia mampu membuat apapun yang Dia mau, dan Dia ingin berbagi kekayaan, keselamatan dan kebahagiaan dengan setiap orang. Tapi kamu harus mencium bokongNya dulu.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Iiih&#8230; Aneh banget. Kok gitu sih?!&#8221;</p>
<p>Dedeh: (<em>memotong</em>) &#8220;Hey, kamu siapa berani-beraninya meragukan Burhan?! Kamu nggak mau dapat 10 Trilyun?! Itu imbalan luar biasa untuk mencium bokong!&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Ya&#8230; Menarik, sih. Tapi&#8230;&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Kalau begitu ayo cium bokong Burhan bersama kami!&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Sebentar… Kalian sering mencium bokong Burhan?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Tentu, sesering mungkin!&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Terus? Kalian sudah dapat uang trilyunannya?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Ya belum, dong. Aturannya gini: uangnya nggak bakal dikasih sebelum kita pergi dari kota ini.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Lantas kenapa sekarang kalian nggak pergi-pergi?&#8221;</p>
<p>Dedeh: (<em>berusaha menjelaskan</em>) &#8220;Kita nggak bisa pergi sebelum disuruh Burhan. Kalau nekat pergi sebelum waktunya, kita nggak dapat uangnya dan Burhan akan menghajar kita.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Oooh, gitu ya? Kalian kenal orang yang sudah menciumi bokong, pergi dari sini, terus dapat uang itu?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Ibu saya menciumi bokong Burhan selama bertahun-tahun. Tahun kemarin beliau pergi meninggalkan kota seizin Burhan, dan saya yakin beliau sedang senang-senang dengan uangnya sekarang.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Sejak ibumu pergi kamu pernah kontak dengan beliau?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Nggak, lah! Dilarang Burhan.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Terus, gimana kamu bisa yakin Burhan benar-benar memberi uangNya jika kalian nggak pernah ngobrol dengan siapapun yang pernah mendapatkannya?&#8221;</p>
<p>Dedeh : &#8220;Sebenarnya, sedikit-sedikit Burhan sudah memberi ke kita sebelum kita pergi. Kadang gaji kita naik, atau kita menang arisan, atau sekadar nemu duit di jalan.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Lho, apa hubungannya sama Burhan?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Burhan itu punya semacam ‘hubungan’. Dia seperti dalang agung dibalik berbagai keberuntungan yang biasa kita anggap sebagai kebetulan&#8221;.</p>
<p>Saya: &#8220;Mohon maaf, tapi itu seperti <em>otak-atik gathuk</em> yang kelewat maksa.&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Saudaraku, ini 10 Trilyun lho! Ini kesempatan bagus! Dan ingat, jika kamu nggak mau cium bokongNya, Dia akan menghajarmu, mengazabmu!&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Aduh&#8230; Gini aja deh. Kalau kamu ketemu langsung sama Burhan, tolong minta penjelasan detailnya. Gitu kan lebih enak.&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Oooo… Nggak bisa. Burhan itu tak terlihat dan nggak bisa diajak ngobrol.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Lha terus gimana mau cium bokongNya kalau ketemu saja nggak bisa?!&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Kadang-kadang kami sun jauh sambil membayangkan bokongNya. Atau kami cium bokong Pak Teguh, dan beliau yang nantinya menyampaikan ciuman itu.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Bokong Pak Teguh? Siapa pula Pak Teguh itu?!&#8221;</p>
<p>Dedeh: &#8220;Beliau itu teman dan guru pembimbing kami. Berkat beliau, kami paham bagaimana cara mencium bokong yang baik dan benar. Tanpa harus bayar mahal, cukup mengamplopi seikhlasnya saja.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Dan kenapa kalian sangat percaya pada ucapan Pak Teguh yang berkata bahwasanya ada Burhan yang menginginkan kalian mencium bokongNya dan akan memberi uang?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Karena Pak Teguh sudah berpuluh-puluh milennium memegang selembar surat dari Burhan yang menjelaskan segalanya. Ini saya punya salinannya, silahkan dibaca.&#8221;</p>
<p><strong>Keterangan Resmi dari Teguh</strong></p>
<ol>
<li>Ciumlah bokong Burhan dan Dia akan memberimu 10 T saat kamu meninggalkan kota</li>
<li>Gunakan alkohol seperlunya</li>
<li>Hajarlah orang yang tidak seiman denganmu</li>
<li>Makanlah dengan benar</li>
<li>Burhan mendiktekan langsung surat ini</li>
<li>Bumi itu datar</li>
<li>Maha benar Burhan dengan segala ucapanNya</li>
<li>Cucilah tangan setelah cebok</li>
<li>Jangan gunakan Alkohol</li>
<li>Makanlah roti tawar dengan meses, tanpa tambahan</li>
<li>Ciumlah bokong Burhan, jika tidak, Dia akan murka dan mengazabmu</li>
</ol>
<div>
<p>Saya: &#8220;Kok kepala suratnya atas nama Pak Teguh?&#8221;</p>
<p>Dedeh: &#8220;Ya memang! Burhan yang mendikte, Pak Teguh yang menulis.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Katanya nggak ada yang bisa lihat Burhan? Kenapa Pak Teguh bisa?&#8221;</p>
<p>Dedeh: &#8220;Sekarang sih nggak. Tapi duluuu sekali Burhan bicara langsung pada beberapa orang.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Hooo&#8230; Oke. Eh, tadi kamu bilang, Burhan itu penuh kasih. Tapi penuh kasih gimana jika Dia bakal menghajar orang yang tak mau mencium bokongNya?! Kasih macam apa yang menghajar orang yang berbeda pendapat?&#8221;</p>
<p>Dedeh: &#8220;Burhan bebas berkehendak, Dia selalu benar.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Kenapa bisa gitu?&#8221;</p>
<p>Dedeh: &#8220;Mari buka mata, ayo buka hati. Bacalah ayat ke-7. Di situ disebutkan dengan sangat jelas ‘Maha benar Burhan dengan segala ucapanNya’ dan itu sudah cukup!&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Jangan-jangan isi surat itu hanya khayalan Pak Teguh saja.&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Saudaraku, jangan biarkan prasangka buruk menggelapkan hati kita. Kan sudah jelas, di ayat ke-5 dikatakan bahwa Burhan mendiktekanNya sendiri. Lagi pula, ada banyak hal yang membuktikan kebenaran surat suci ini. Misal, ayat 2, ‘gunakan alkohol seperlunya’, ayat 4 ‘makanlah dengan benar’ dan ayat 8 yang menganjurkan cuci tangan setelah cebok. Anak kecil juga tahu bahwa itu semua adalah anjuran yang baik dan benar, dan itu bukti bahwa semua yang disampaikan lembar suci ini adalah kebenaran!&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Tapi ayat 9 melarang alkohol dan nggak sejalan dengan ayat 2. Dan di ayat 6, bumi datar. Plis deh. Bumi itu bulat.&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Saudaraku, ayat 2 dan 9 itu justru saling menerangkan. Dan soal datarnya bumi, apa sudah pernah keliling bumi?&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Belum sih, tapi saya pernah naik pesawat yang terbang tinggi sekali, dan dari jendela memang terlihat kalau bumi bulat.&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Itu pasti konspirasi keji. Mungkin jendelanya sudah dipasangi LCD yang menampilkan ilusi menyesatkan. Di ketinggian itu kamu pasti belum pernah mengeluarkan kepala dari pesawat dan melihat bentuk bumi secara langsung, kan?&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Ya belum sih.&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Ha! Akhirnya kamu mengakui kalau kamu tidak tahu. Pengetahuan kita memang terbatas. Karenanya, yakinlah apa kata Burhan. Dia pasti benar.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Kenapa pasti benar?&#8221;<br />
Arif: &#8220;Iya dong, pasti benar. Lihat lagi itu ayat  7. Jelas-jelas dikatakan begitu. Pikiran yang dipengaruhi iblis memang bikin kita pelupa.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Oooh… Jadi kalian yakin Burhan selalu benar karena surat suci ini bilang begitu? Padahal kita tahu Burhan sendiri yang mendiktekan karena suratnya juga bilang begitu. Ini seperti mengatakan Burhan benar karena dia bilang dirinya benar!&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Akhirnya kamu paham juga! Menyenangkan melihat Burhan membuka hati dan menumbuhkan pemahaman!&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Tapi itu logika berputar!!!&#8221;</p>
<p>Arif: (<em>mengangkat alis</em>) &#8220;Burhan memang keren.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Lho??? Tapi&#8230; Ah! Sudahlah. Terus, kenapa roti tawar harus pakai meses?&#8221;</p>
<p>Dedeh: (<em>merona</em>)</p>
<p>Arif: &#8220;Roti tawar, pakai meses, nggak pakai apa-apa lagi. Itulah tuntunan Burhan. Cara selain itu adalah sesat.&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Kalau nggak ada meses?&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Roti tawar ya harus pakai meses. Meses tanpa roti itu sesat&#8221;.</p>
<p>Saya: &#8220;Kalau diselipi sosis? Keju boleh?&#8221;</p>
<p>Dedeh: (wajahnya menjadi tegang)</p>
<p>Arif: (<em>mulai berteriak</em>) &#8220;Jangan keterlaluan! Penambahan apapun itu terlarang! Sesat! &#8220;</p>
<p>Saya: &#8220;Jadi kalau roti tawar tidak pakai meses tapi diganti sosis goreng, diberi saus pedas, dikasih selembar keju dan sayuran, terus dioven dulu sebentar, itu nggak boleh ya?</p>
<p>Dedeh: (<em>menutup telinganya, bersenandung</em>) &#8220;Saya nggak dengar, saya nggak dengar… la la la la la la&#8230;&#8221;</p>
<p>Arif: &#8220;Itu menjijikkan! Hanya antek iblis jahanam yang makan makanan seperti itu&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya: &#8220;Tapi rasanya enak, lho! Saya sering makan seperti itu untuk sarapan.&#8221;</p>
<p>Dedeh: (<em>jatuh pingsan</em>)</p>
<p>Arif: (<em>menangkap tubuh Dedeh yang lunglai dan membawanya masuk mobil dengan raut wajah marah lalu kembali</em>) &#8220;Jika saja saya tahu kamu itu orang seperti itu, saya nggak bakal repot-repot! Nanti saat Burhan menghajarmu, saya akan ada disebelahNya, tertawa sambil menghitung uang yang saya dapat. Saya akan menciumi bokong Burhan untukmu, dasar kamu pemakan roti sosis panggang!&#8221;</p>
<p>Lalu para pencium bokong itu pun tancap gas dan menghilang.</p>
<p><em>Teks asli dalam Bahasa Inggris ada di <a title="Kissing Hank's Ass" href="http://www.jhuger.com/kisshank.php" target="_blank">sini</a>.</em></p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/freestylin/'>Freestylin'</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/thought/'>Thought</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=149&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/17/parapenciumbokong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7604fc5fbb1fe14c398df51eb601a95?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Guh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/04/ass-map.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ass-Map</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Malaikat dan Pahlawan #2</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/13/satanicverse3/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/13/satanicverse3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Apr 2011 08:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bitch, The</dc:creator>
				<category><![CDATA[Project: Dream]]></category>
		<category><![CDATA[Salman Rushdie]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[(Ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya.) 3. Ketika penerbangan ke London lepas landas—berkat trik sulapnya yang mengaitkan dua jemari dan memutar jempol kedua tangan—seorang lelaki kecil usia empatpuluhan yang duduk di tempat bebas rokok dekat jendela menatap kota kelahirannya menjauh seperti kulit ular yang lepas, mengguratkan sekerjap kelegaan di rautnya. Wajah itu tampan dengan aura [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=137&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/04/dhoti_kurta.gif"><img class="aligncenter size-large wp-image-138" title="taken from http://bit.ly/eTadbc" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/04/dhoti_kurta.gif?w=318&#038;h=819" alt="" width="318" height="819" /></a></p>
<p>(Ini adalah lanjutan dari <a title="Tentang Malaikat dan Pahlawan #1" href="http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/02/17/satanicverse2/" target="_blank">posting sebelumnya</a>.)</p>
<p>3.</p>
<p>Ketika penerbangan ke London lepas landas—berkat trik sulapnya yang mengaitkan dua jemari dan memutar jempol kedua tangan—seorang lelaki kecil usia empatpuluhan yang duduk di tempat bebas rokok dekat jendela menatap kota kelahirannya menjauh seperti kulit ular yang lepas, mengguratkan sekerjap kelegaan di rautnya. Wajah itu tampan dengan aura bangsawan masam, berbibir tebal dan memble seperti ikan ayam-ayaman yang sedang jijik, sementara alisnya tipis menaik di atas sepasang mata yang selalu mengawasi dunia dengan semacam kewaspadaan merendahkan. Tuan Saladin Chamcha membentuk air mukanya secara hati-hati—perlu waktu bertahun-tahun untuk menjadi seperti yang diinginkannya—dan bertahun-tahun setelahnya dia menganggap itu sebagai muka aslinya—dan memang, karena dia telah lupa bagaimana tampangnya sendiri sebelumnya. Apalagi dia telah menyesuaikan suara agar sesuai dengan bentuk wajah, suara dengan bunyi vokal malas dan lamban terseret dikontraskan dengan ketergesaan konsonan patah-patah. Suara-muka seperti itu memang kombinasi dahsyat. Namun dalam kunjungan terakhir ke kota tempatnya dibesarkan—pertama dalam lima belas tahun terakhir (masa yang, menurut pengamatanKu, juga adalah zaman keemasan Jibril Farishta sebagai seorang bintang), ada kecenderungan yang menimbulkan rasa khawatir. Sayangnya, itu adalah perihal suara (yang paling menonjol), lalu wajahnya sendiri mulai membuatnya kecewa.</p>
<p>Sudah mulai—Chamcha melepaskan jemarinya dan berharap, sambil kemalu-maluan, agar rekan seperjalannya tak ada yang memperhatikan tindakan takhayul yang barusan dia lakukan, lalu menutup mata dan membayangkan—sambil sedikit bergidik ngeri—penerbangannya ke timur beberapa minggu lalu. Ia jatuh tertidur begitu pulasnya, jauh di atas pasir gurun Teluk Persia, dan bermimpi dikunjungi orang asing yang aneh, lelaki berkulit beling, bersedih sambil mengetuk-ngetukkan buku jarinya pada lapisan rapuh-tipis yang meliputi di seluruh tubuh, memohon pada Saladin agar dapat kabur dari penjaranya. Chamcha memungut batu dan memukuli kulit kacanya. Saat itu juga darah merembes keluar dari pembuluh mirip renda retak, dan saat Chamcha memunguti pecahan tubuh orang asing itu, yang lain berteriak karena gumpalan daging juga turut terlepas bersama serpihan beling. Tepat pada saat itu seorang pramugari membungkuk ke arah Chamcha yang tertidur dan menuntut dengan keramahan tanpa ampun khas suku bangsanya: “Anda ingin minum, Tuan? Minuman?” dan Saladin, muncul dari mimpinya, tanpa sadar wicaranya bermetamorfosis keBombay-Bombayan, padahal telah lama ia berjuang (sangat keras!) untuk melupakannya. “<em>Accha</em>, artinya apa?” gumamnya. “Minuman beralkohol atau apa?” Dan ketika pramugari meyakinkannya—apapun yang Anda mau, Tuan, semua minuman ini gratis—ia kembali mendengar, suara yang menghianatinya: “Oh, baiklah, bibi, satu wiski-soda saja ya.”</p>
<p>Kejutan yang tak menyenangkan! Ia tersentak bangun, lalu duduk di kursi dengan punggung tegak, mengacuhkan minuman beralkohol dan kacang. Bagaimana mungkin masa lalunya menggelembung, dan vokal serta konsonannya berubah? Selanjutnya apa lagi? Apa nanti ia akan mengusap minyak kelapa di rambutnya? Apa ia nanti akan memencet-mencet hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, menghembus dengan berisik kemudian mengeluarkan benang perak dalam bentuk ingus tebal? Apa ia akan jadi penggemar gulat profesional? Sikap memalukan apa lagi nanti yang akan mendadak keluar? Harusnya dia tahu, pulang adalah kesalahan—setelah sekian lama, hal itu tak lebih dari regresi; perjalanan yang tak alamiah; penyangkalan waktu; revolusi melawan sejarah; segalanya tinggal menunggu waktu untuk hancur.</p>
<p>“Aku bukan diriku sendiri,” pikirnya ketika gemelitik samar ia rasakan di sekitar hati. Namun, apa artinya, tambahnya dengan getir. Lagipula, “<em>les acteurs ne sont pas des gens</em>”&#8211;aktor bukanlah manusia sesungguhnya&#8211;begitu yang dilebih-lebihkan Frederick dalam “<em>Les Enfants du Paradis</em>”. Lapis demi lapis topeng terkelupas hingga yang tersisa hanya tengkorak telanjang tanpa darah.</p>
<p>Tanda sabuk pengaman menyala, suara Pak Pilot memperingatkan adanya turbulensi, dan kantung udara jatuh. Gurun pasir tersentak-sentak di bawah mereka, seorang pekerja migran yang naik dari Qatar berpegang erat pada radio transistor raksasanya dan akan segera muntah. Chamcha lihat dia tidak memasang sabuk pengaman, berdehem, lalu suaranya kembali beraksen Inggris. “Hey, mengapa kau tidak…” ia menunjuk, tapi orang itu, selagi akan mulai muntah ke kantong yang diberikan Saladin tepat pada waktunya, menggeleng, menggedikkan bahu, dan menjawab: “Sahib, buat apa? Jika Allah berkehendak, saya mati. Jika tidak, ya saya tidak mati. Apa gunanya sabuk pengaman?”</p>
<p>India sialan! Chamcha memaki diam-diam, kembali terhenyak di kursinya. Sana ke neraka, aku sudah lama lepas dari jeratmu, kau tidak akan menarikku lagi, dan kau tidak bisa menyeretku.</p>
<p>Pada suatu hari—sepertinya terjadi dan sepertinya tidak, kebiasaan pada cerita lama—mungkin ya mungkin tidak, bocah lelaki usia sepuluh dari Scandal Point, Bombay, menemukan dompet tergeletak di jalan di luar rumah. Pulang sekolah dia, baru saja turun dari bus sekolah, patuh tak pernah protes karena harus duduk tergencet diantara keringat lengket bocah-bocah lain dan harus tahan terhadap keberisikan mereka, dan pada usia itu dia telah merasa jijik dengan hingar-bingar, sikut-sikutan dan keringat orang asing dan agak mual karena perjalanan ajrut-ajrutan dan lama. Namun ketika dilihatnya dompet kulit dan gemuk itu teronggok di dekat kaki, mualnya tergantikan, lalu ia membungkuk senang, mengambil—membuka—dan terkejut girang dengan banyaknya uang di dalamnya—tidak hanya rupee tapi ini uang betulan, berharga tinggi di pasar gelap dan penukaran mata uang internasional—pounds! Pounds sterling—uang Inggris nan berat—dari London yang Benar di negara dongeng Vilayet seberang perairan hitam yang jauh. Terperangah karena gulungan uang asing tebal, si bocah mendongak memastikan tak ada yang melihat, dan sejenak sepertinya ujung pelangi dari surga turun ke jidatnya, pelangi bak napas malaikat, seperti doa yang terjawab, berujung pada tempat dia berdiri. Jemarinya bergetar saat meraih dompet, meraih harta menakjubkan.</p>
<p>“Berikan.” Setelah beberapa waktu yang lama ia yakin sang ayah memang memata-matainya ketika kanak-kanak, dan meskipun Changez Chamchawala bertubuh besar seperti raksasa, dengan kekayaan dan status sosialnya, langkahnya selalu ringan dan pelan dan punya kecenderungan mengendap-endap di belakang putranya, mengagetkannya, menghentak seprai bocah Saladin di malam hari hanya untuk menampakkan penis memalukan sedang tergenggam, tertangkap basah. Dan dia bisa mengendus uang dari jarak seratus satu mil, bahkan dengan bau kimia dan pupuk menyengat yang selalu melingkupinya, mengnkondangkan namanya sebagai pembuat tahi buatan serta obat dan cairan semprot terbesar di negara itu. Cangez Chamchawala, penyebar kesejahteraan, pezinah, legenda hidup, cahaya utama bagi pergerakan nasionalis, melompat dari pagar rumahnya dan menyambar dompet gemuk dari tangan putra frustasi. “Ck, ck,” ia memperingatkan, mengantongi lembaran mata uang pounds sterling, “kau tak boleh mengambil apapun yang tergeletak di jalan. Tanah itu kotor, dan uang lebih kotor lagi.”</p>
<p>Di rak dalam ruang kerja Changez Chamchawala yang bernuansa jati, di samping sepuluh set volume <em>Arabian Nights </em>terjemahan Richard Burton yang perlahan termakan lembab dan ulat buku karena prasangka mendalam terhadap buku membuat Changez memiliki ribuan benda “berbahaya” hanya untuk dipermalukan dengan meninggalkannya membusuk tak terbaca, ada lampu ajaib dari bahan kuningan dan tembaga mengilap, tiruan wadah jin milik Aladdin sendiri: sebuah lampu yang memohon untuk digosok. Namun Changez tak pernah menggosok dan tak mengizinkan siapapun—contohnya, si putra—menggosoknya. Ia meyakinkan anaknya, “suatu hari kau akan memilikinya. Gosoklah sesukamu dan lihat apa yang tidak akan muncul di hadapanmu. Tapi saat ini, benda ini milikku.” Janji lampu ajaib itu mempengaruhi Master Salahuddin dengan anggapan suatu hari nanti semua masalah akan berakhir dan hasrat terpendamnya terpuaskan, yang harus dia lakukan adalah menunggu saatnya tiba; tapi kemudian ada peristiwa dompet itu, ketika keajaiban pelangi menyentuhnya, bukan ayahnya tapi dia, dan Changez Chamchawala telah mencuri bongkah batu emasnya. Selanjutnya si anak yakin ayahnya akan menggilas semua harapan kecuali dia bisa pergi. Dan sejak saat itu ia ingin sekali pergi, minggat, menempatkan samudra antara dia dan si lelaki hebat.</p>
<p>Salahuddin Chamchawala paham ketika usianya tiga belas bahwa takdirnya adalah di Vilayet keren penuh dengan janji renyah akan pounds sterling dan gulungan uang ajaib adalah pertanda, dan dia makin tak sabar pada Bombay yang berdebu, vulgar, polisi bercelana pendek, banci, majalah film, gembel di trotoar dan pelacur yang menyanyikan gosip di Grand Road yang mulanya adalah pengikut kepercayaan Yellama di Karnataka tapi akhirnya menjadi penari di kuil daging yang lebih prosaik. Ia muak dengan pabrik tekstil, kereta lokal, keruwetan dan ketumpahruahan tempat itu, ia rindu Vilayet impian yang elegan dan rapi yang merasukinya siang malam. Lagu dolanan kesukaannya adalah yang berjenis kerinduan pada kota asing: kitch-con kitchy-ki kitchy-con stanty-eye kitchy-opel kitchy-cople kitchy Con-stanti-nopel. Dan permainan favoritnya adalah <a title="ala bule" href="http://www.playgroundfun.org.uk/GameRules.aspx?gameID=63" target="_blank">Lari Patung</a> dimana saat dia jaga dia akan memunggungi teman-temannya dan bicara dengan cepat, seperti mantra, seperti kutukan, enam huruf kota impiannya—ellowen deeowen. Dalam hatinya terdalam ia merangkak diam-diam mendekati London, huruf demi huruf, saat teman-temannya mendekat. Ellowen deeowen London.</p>
<p>Mutasi Salahuddin Chamchawala menjadi Saladin Chamcha pun dimulai, dan itu terlihat di Bombay tua, lama sebelum dia cukup dekat untuk mendengar singa Trafalgar mengaum. Ketika tim kriket Inggris bermain melawan India di Stadion Brabourne, ia berdoa untuk kejayaan Inggris, untuk pencipta permainan itu agar mengalahkan pemula lokal, demi terjaganya tatanan semua hal. (Namun herannya, permainan itu seri, berkat <em>wicket</em> Stadion Brabourne yang seperti diayun-ayunkan keuntungan situasi; dan isu besar, pencipta lawan penjiplak, penjajah lawan terjajah, tanpa bisa dihindari lagi, tetap tak terpecahkan.)</p>
<p>Usia tiga belas ia sudah cukup besar untuk bermain di bebatuan di Scandal Point tanpa harus diawasi pengasuhnya, Kasturba. Dan suatu hari (sepertinya ya sepertinya tidak) ia berjalan keluar rumahnya yang luas, bergaya Parsi dengan tembok berguguran bercampur garam, semua tiang, daun jendela dan balkon mungil, melewati kebun kebanggaan dan kesayangan sang ayah yang memberi kesan tak terbatas pada cahaya malam yang sedemikian rupa (yang juga penuh misteri, seperti teka-teki tak terpecahkan karena tak ada satu pun, tak juga ayah atau si tukang kebun, yang dapat memberitahukan padanya nama sebagian besar tanaman di sana), dan di luar pagar, seonggok kebodohan megah, reproduksi busur kemenangan Septimus Severius dari Roma, lalu di seberang jalanan liar menggila, melampaui dinding laut, dan akhirnya pada hamparan luas batu hitam berkilat dengan kumparan-kumparan kecil serupa udang di atasnya. Gadis-gadis Kristen mengenakan rok cekikikan, para lelaki dengan payung tergulung rapi berdiri diam-diam memandang saujana biru. Dari ceruk sebuah batu hitam Salahuddin melihat seorang pria mengenakan <em>dhoti</em> membungkuk di atas kolam. Pandang mereka beradu, dan si pria mengisyaratkan dengan telunjuk melintang di bibirnya. “Sssttt.” Dan misteri kolam batu menarik si bocah mendatangi orang asing tersebut. Tubuhnya tak lebih dari tulang berbalut kulit. Bingkai kacamatanya seperti terbuat dari gading. Jemarinya mengikal-ikal, seperti kail, kemarilah. Saat Salahuddin mendekat, lelaki lain membekuknya, membungkam mulutnya dan mengarahkan tangan si bocah ke selangkang tua dan kurus, meraba tulang berdaging diantara kaki. <em>Dhoti</em> berkibar membuka. Salahuddin tak pernah tahu bagaimana cara melawan; ia lakukan apa yang dipaksakan padanya, sementara lelaki yang satu berpaling kemudian melepaskannya.</p>
<p>Setelah itu Salahuddin tak pernah lagi bermain-main di bebatuan di Scandal Point; dan tak pernah menceritakan kejadian itu pada siapapun, mengingat krisis syaraf yang akan menimpa ibunya dan perkiraan reaksi sang ayah yang akan menuduh semua murni kesalahannya. Segalanya terlihat menjijikkan, segala yang menyangkut tempatnya dibesarkan dan membuatnya ingin menyumpah-serapah mengerucut menjadi satu dalam rengkuhan tulang-belulang orang asing, dan setelah dia lolos dari setan jerangkong, kini dia harus kabur dari Bombay, atau mati. Ia mulai berkonsentrasi penuh pada gagasannya, untuk selalu memperbaiki niat, makan eek tidur, meyakinkan dirinya mampu membuat keajaiban tanpa bantuan lampu ajaib ayahnya sekalipun. Ia bermimpi terbang keluar dari jendela kamar dan pemandangan di bawahnya, di sana—bukan Bombay—tapi London yang Benar sebenar-benarnya, Bigben Nelsonscolumn Lordstavern Bloodytower Queen. Namun saat ia mengambang leluar metropolis dirasakannya tubuh makin ringan, dan betapapun kuatnya ia menendang dan berenang di udara badannya bergulung membentuk spiral perlahan turun ke bumi, lalu makin cepat, bertambah cepat, sampai ia menjerit seiring kepalanya meluncur lebih dulu menuju kota, Saintpauls, Puddinglane, Threadneedlestreet, menuju titik nol ke London seperti bom.</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/project-dream/'>Project: Dream</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/salman-rushdie/'>Salman Rushdie</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=137&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/13/satanicverse3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7141f937f5fa647f42e8ed05655ae478?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/04/dhoti_kurta.gif?w=398" medium="image">
			<media:title type="html">taken from http://bit.ly/eTadbc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Lelaki yang “Serupa Bunga”: “Langit Meledak” dan Arkan Daif, 14, tewas</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/03/12/anak-lelaki-yang-%e2%80%9cserupa-bunga%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/03/12/anak-lelaki-yang-%e2%80%9cserupa-bunga%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2011 15:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mantri Tulis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Freestylin']]></category>
		<category><![CDATA[Narative Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah lempengan batu dingin seorang lebai masjid sedang memandikan sesosok tubuh untuk terakhir kalinya. Tubuh milik Arkan Daif yang berusia 14 tahun. Berbekal bulatan kapas basah, tangan sang lebai membersihkan jenazah sewarna zaitun yang telah meninggal tiga jam lalu namun masih memancarkan kehidupan. Dengan ketenangan terlatih, ia tutul-tutulkan kapas menghapus merahnya darah dari luka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=120&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/03/another-children.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-124" title="2001 Pulitzer photo " src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/03/another-children.jpg?w=202&#038;h=300" alt="" width="202" height="300" /></a></p>
<p>Di sebuah lempengan batu dingin seorang lebai masjid sedang memandikan sesosok tubuh untuk terakhir kalinya. Tubuh milik Arkan Daif yang berusia 14 tahun.</p>
<p>Berbekal bulatan kapas basah, tangan sang lebai membersihkan jenazah sewarna zaitun yang telah meninggal tiga jam lalu namun masih memancarkan kehidupan. Dengan ketenangan terlatih, ia tutul-tutulkan kapas menghapus merahnya darah dari luka pecahan meriam di lengan dan kaki kanan Daif yang kulitnya masih halus. Ia gosok pelan wajah Daif untuk menghilangkan noda darah yang berasal dari rongga menganga dibelakang tengkorak si bocah.</p>
<p>Para pria dari masjid Imam Ali berdiri menunggu dengan wajah muram, menanti diawalinya prosesi pemakaman seorang bocah lelaki yang dipanggil ayahnya dengan julukan “Serupa Bunga”. Haidir Kathim, pengurus masjid, bertanya. “Apa salah Daif? Apa salah anak-anak ini?”</p>
<p>Saat prosesi pemakaman berlangsung, pelayat dan keluarga Daif berusaha keras menghindari pertanyaan tentang rasa takut dan ketidakpastian yang mungkin muncul di benak masing-masing orang, namun mereka gagal.</p>
<p>Selain beberapa tetangga, keluarga dan pelayat yang hadir, tidak ada orang lain yang menyaksikan pemakaman itu. Pemakaman yang berlangsung tanpa mendapat perhatian dari pemerintah, yang saat itu sedang bersemangat untuk mengantarkan para jurnalis untuk meliput tragedi peperangan lainnya. Sebaliknya, Daif dan dua sepupunya malah dikubur dalam kesunyian di tanah perkampungan kumuh muslim syiah di batas kota.</p>
<p>Anak-anak tersebut terbunuh pada pukul 11 siang hari ini, saat beberapa kerabat mereka mengingat terjadi saat “langit seolah meledak”. Daif sebenarnya telah menggali parit perlindungan di depan gubug keluarga mereka, yang diharapkan bisa digunakan sebagai tempat perlindungan, selama masa bombardir yang berlangsung sepanjang siang dan malam. Daif mengerjakannya bersama Sabah Hassan 16 tahun dan Jalal Talib 14 tahun. Namun pecahan dari peluru meriam panas berwarna putih itu telah menumbangkan mereka bertiga. Sementara tujuh anak laki-laki lainnya terluka.</p>
<p>Ledakan tersebut tak berbekas, penduduk Rahmaniya sendiri berusaha untuk menunjukan dengan tepat sumber dari ledakan yang menyebabkan kerusakan tersebut. Banyak dari mereka bersikeras berkata telah melihat sebuah pesawat udara. Beberapa yang lainnya meyakini bahwa meriam anti pesawat milik pasukan Irak telah memicu ledakan rudal penjelajah di udara. Sisanya meyakini bahwa selongsong peluru dari meriam anti pesawat telah jatuh kembali merusak rumah mereka.</p>
<p>Siapapun yang menyebabkan ledakan itu, para penduduk meyakini ini salah Amerika, dan bersikeras kalau saja tak ada perang, mereka akan tetap aman. “Siapa lagi yang harus bertanggung jawab kecuali orang Amerika?” ujar Mohsin Hattab, paman Daif yang berusia 32 tahun.</p>
<p>“Perang ini adalah Iblis, perang yang seharusnya tak terjadi” kata Imad Hussein, seorang supir dan paman dari Hassan. “Mereka tak berhak untuk memerangi kami, sebelum ini terjadi, kami duduk di rumah kami, nyaman dan aman.”</p>
<p>Saat ia berbicara, ratapan dari para pelayat yang berkabung berhamburan keluar dari dalam rumah dan menenggelamkan kata-katanya. Ia mengernyit, kepalanya menoleh ke samping. Lalu melanjutkan “Tuhan akan menyelamatkan kami” katanya perlahan.</p>
<p>Di dalam masjid, beberapa jam setelah ledakan, Kadhim dan lebai masjid lainnya mempersiapkan jenazah Daif untuk dimakamkan sebelum matahari tenggelam, sebagaimana kebiasaan dalam Islam.</p>
<p>Daif dimandikan dalam ruang berlantai warna pirus lembut, ruangan tersebut memberi ketenangan, saat lebai masjid menyelesaikan prosesi pemandian jenazah. Mereka kemudian membungkus kepalanya, mengatupkan kelopak mata Daif, dengan plastik warna merah dan kuning. Mereka menggulung jenazah itu dengan terpal plastik, mengikatkannya dengan empat potong kain kasa putih. Satu disetiap ujung tubuh, satu buah di lutut dan satu lagi di sekitar dadanya.</p>
<p>Kadhim bekerja dengan tenang, gerak tubuhnya adalah sebuah usaha untuk memberikan penghormatan kepada sang jenazah. Ia memutar tubuh Daif ke samping dan membungkusnya dengan kain kafan, dan diperkuat dengan 4 buah kain kasa putih lainnya. Para pelayat menggumamkan doa, memecahkan sesak kesunyian yang turun. Lalu mereka memindahkan jenazah itu dari atas lempengan batu dingin ke dalam petimati kayu.</p>
<p>“Hal ini sangat sulit” ujar Kadhim, saat para pelayat menutup petimati tersebut.</p>
<p>Pada hari Jum’at, Ia pergi ke masjid lain, Masjid Imam Moussa Kadhim, untuk membantu pemakaman lusinan orang yang terbunuh dalam ledakan yang terjadi pada sebuah pasar padat didekat perkampungan Shuala. Kenangan itu menghantuinya. Ia mengingat beberapa potongan kepala dan tangan yang terlontar sampai pada masjid Syiah. Ia mengingat beberapa tubuh, bahkan seorang bayi, dengan lubang menganga.</p>
<p>“Hal itu mengerikan dan seram,” katanya. “ini pertama kali dalam hidupku melihat hal semacam itu.”</p>
<p>Pada sebuah lapangan terbuka, pelayat menurunkan petimati ke lantai batu di sebuah masjid yang masih dalam perbaikan. Dalam dua deret, mereka berbaris dibelakangnya, melepas sepatu masing-masing. Bibir mereka bergumam dalam doa yang telah mereka panjatkan ribuan kali.</p>
<p>“<em>Allahuakbar”</em> mereka mengulang-ulang, telapak tangan mereka menengadah dalam sebuah permohonan.</p>
<p>Dibelakang, beberapa orang membahas perang. Dalam kondisi represi dan isolasi yang terjadi di Iraq, rumor telah beralih fungsi menjadi berita, dan pembicaraan hari ini adalah pembantaian yang dilakukan oleh sebuah konvoi pada tubuh nenek tua berumur 80 tahun yang dikuburkan di selatan kota Najaf, tempat dimana pasukan Amerika berkonfrontasi dengan tentara liar dan pasukan Iraq.</p>
<p>Bagi kaum muslim Syiah, Najaf adalah salah satu kota suci mereka, rumah dari makam Ali, menantu Nabi Muhammad, yang diyakini oleh kaum Syiah sebagai penerus sejati Nabi. Konon saat Ali sekarat ia meminta para pengikutnya untuk menaruh tubuhnya di atas seekor unta dan menguburkannya dimana pun onta tersebut pertama berhenti, dan Najaf adalah tempat itu. Jutaan peziarah mengunjungi tempat itu tiap tahun, dan para kaum Siyah yang salih berusaha sepanjang hidupnya untuk mendapat kehormatan dikubur di pemakaman luas di dekat kota itu.</p>
<p>Nenek tua dari Rahmaniya itu tidak pernah kesampaian kesana. Penduduk mengatakan pasukan Amerika menyerang tiga mobil, salah satunya membawa tubuh nenek itu. Hal ini merupakan salah satu bentuk penistaan kota tersebut, para pelayat itu membenarkan. Mereka bersikeras orang-orang kafir tidak mungkin masuk ke dalam kota jika bukan dengan kekuatan bersenjata. Tindakan Pasukan Amerika yang mengepung kota – diperberat dengan rumor yang kerap muncul – merupakan tindakan penghinaan.</p>
<p>“hal itu sangat merupakan Aib” ujar Hattab, paman Daif.</p>
<p>Hussein, kerabat yang lain menyampaikan pendapat kebanyakan orang disana. “Mereka datang bukan untuk membebaskan Irak” katanya. “Mereka datang untuk mengambil alih Irak!”</p>
<p>Dalam kata-katanya terungkap rasa takut yang menyergap hati para penduduk Irak. Banyak yang khawatir invasi Amerika akan mengancam kebudayaan dan tradisi mereka. Mereka membayangkan bila terjadi pendudukan akan terjadi penghapusan terhadap apa yang telah mereka yakini, menjejali sebuah kebudayaan asing dengan paksa kedalam masyarakat, yang dalam banyak hal, telah mereka yakini merupakan hal yang sangat pribadi dan tertutup.</p>
<p>“Kami tidak menginginkan orang Amerika atau orang Inggris disini. Makanan kami lebih baik daripada makanan mereka, air kami lebih baik daripada air mereka” katanya.</p>
<p>Dengan berakhirnya Sholat Jenazah, para pelayat mengangkat petimati Daif diantara kepala mereka. Keluar melewati dari masjid berwarna abu-abu tersebut, diantara gerbang besi dan berjalan dalam kesunyian, debu jalanan bertebangan di atas sampah. Beberapa tak mengenakan alas kaki dan lainnya menggunakan sandal.</p>
<p>“<em>Laillah ha Illallah</em>” salah seorang berkumandang. “<em>Laillah ha Illallah</em>,” pengusung jenazah lainnya menjawab. Meramaikan ufuk langit dengan suara yang ada. Para pelayat menyebrangi jalan, melewati beton dan pondok bata, sementara bendera kaum syiah warna hitam pekat, hijau, merah dan putih berkibaran diatas kepala.</p>
<p>Saat mereka mendekati rumah Daif, yang pintunya dihiasi oleh nama Muhammad dan Ali, mereka disambut oleh ratapan dari perempuan yang bercadar hitam. Mereka berteriak, melambaikan tangan dan menggerakkan kepala mereka. Tenggelam dalam tangis, saat petimati tersebut perlahan lenyap dibalik pintu.  Keputusasaan mengalir keluar rumah itu, dimana jendelanya telah hancur dalam ledakan yang menewaskan Daif.</p>
<p>“Anakku! Anakku!” ibunya Zeineb Hussein meratap. “dimana kamu sekarang? Aku ingin melihat wajahmu!”</p>
<p>Para pelayat dari keluarga Daif saling berangkualn, saling menangis sesengukan dibahu mereka. Yang lainnya menangis dibalik tangan. Dari dalam rumah terdengar suara para perempuan memukuli dada mereka dalam duka.</p>
<p>Pada rumah-rumah di sepanjang jalan, para tetangga dan kerabat berbicara tentang ketidakadilan&#8211; gema yang bergaung dalam kehidupan kaum Muslim Syiah dimana berabad-abad ajaran agamanya berkelindan dengan berbagai contoh penderitaan dan pengorbanan orang kudus.</p>
<p>“Kami ini miskin. Kami tak bisa pergi ke tempat lain. Apa salah dari keluarga-keluarga disini? Dimana kemanusiaan itu?” Tanya Abu Hammed, tetangga berumur 53 tahun yang duduk didalam rumah dengan tiga gambar Ali dan anaknya Hussein. “Saya bersumpah pada Tuhan, kami ini ketakutan.”</p>
<p>Pembicaraan mereka penuh amarah, dan mereka bingung.</p>
<p>Jika orang Amerika berjuang demi pembebasan, mengapa orang tak bersalah harus menderita? Jika mereka ingin menyerang pemerintah, mengapa penduduk sipil yang dijatuhi bom? Bagaimana bisa mereka pemilik teknologi canggih membuat kesalahan sedemikian tragis semacam ini?</p>
<p>Irak semasa pendudukan Sadam Husein, dengan 30 tahun kebudayaan politik yang dibangun dalam kebrutalan, sebagian penduduk Irak meyakini bahwa Amerika sedang berusaha menuntut balas atas kekalahan mereka dengan mengirim pasukannya ke Basra dan kota-kota lain di Selatan Irak. Sebagian lagi, dengan kejujuran yang mengejutkan, membela Amerika dan Inggris untuk melawan pemerintahan mereka, tetapi mengampuni penduduknya.</p>
<p>“Jika mereka hendak membebaskan rakyat, mereka boleh mengusir pemerintah, bukan membunuh penduduk tak bersalah” salah satu kerabat berkata. “Penduduk tidak memiliki urusan dengan pemerintah. Kami hanya tinggal di rumah kami.”</p>
<p>Sebelum petang. Petimati Daif telah dibawa dari rumahnya. Jenazah itu diletakan di belakang mobil terbuka berwarna putih dan menuju ke pemakaman. Saat mobil itu berjalan, menghamburkan sekumpulan awan debu, beberapa kerabat dan tetangga berteriak “Semoga Tuhan bersamamu.” Lelaki yang lain melambaikan tangan, dengan gerak tubuh yang sangat biasa saja yang menggambarkan kekuatan dari iman mereka, dimana mereka yakin toh pada akhirnya akan bersatu kembali dengan Daif.</p>
<p>Hattab, sang paman, memandang keberangkatan peti mati tersebut. Matanya merah dan wajahnya sendu.</p>
<p>“Ia telah kembali pada Allah,” katanya. “Ini adalah kehendak Allah.”</p>
<p>﻿</p>
<p><strong><em>Diterjemahkan dari </em>The Washington Post<em> edisi </em>30 Maret 2003 <em>oleh </em>Anthony Shadid<em>. Versi asli bisa dilihat di <a title="The Washington Post, 31 March 2003 edition" href="http://www.pulitzer.org/archives/6809" target="_blank">sini</a>. Gambar diambil dari foto pemenang Pulitzer tahun 2001, mayat seorang bocah pengungsi Afghan di Pakistan sedang dipersiapkan untuk prosesi penguburan.</em></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/freestylin/'>Freestylin'</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/narative-journalism/'>Narative Journalism</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/short-story/'>Short Story</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=120&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/03/12/anak-lelaki-yang-%e2%80%9cserupa-bunga%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7914e329729a22ba603c6cea98e926d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">korbantembak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/03/another-children.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">2001 Pulitzer photo </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Malaikat dan Pahlawan #1</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/02/17/satanicverse2/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/02/17/satanicverse2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 01:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bitch, The</dc:creator>
				<category><![CDATA[Project: Dream]]></category>
		<category><![CDATA[Salman Rushdie]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[(Ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya.) Di dalam layar ia berperan sebagai orang malang, si bodoh yang mencintai si cantik dan membutakan diri bahwa perempuan itu tak akan mau menerimanya dalam seribu tahun sekalipun, paman yang lucu, kerabat miskin, orang kampungan tolol, pembantu, penjahat konyol, dan tidak ada satu pun diantaranya yang melibatkan adegan percintaan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=109&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/02/temperance_1024x768.jpg"></a><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/02/temperance_1024x768.jpg"></a><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/02/temperance_1024x768.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-110" title="temperance_1024x768" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/02/temperance_1024x768.jpg?w=645" alt=""   /></a></p>
<p>(Ini adalah lanjutan dari <a title="Tentang Malaikat dan Pahlawan: An Entrée" href="http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/01/06/satanicverse1/" target="_blank">posting sebelumnya</a>.)</p>
<p>Di dalam layar ia berperan sebagai orang malang, si bodoh yang mencintai si cantik dan membutakan diri bahwa perempuan itu tak akan mau menerimanya dalam seribu tahun sekalipun, paman yang lucu, kerabat miskin, orang kampungan tolol, pembantu, penjahat konyol, dan tidak ada satu pun diantaranya yang melibatkan adegan percintaan. Perempuan-perempuan menendang, menampar, menggoda, menertawakannya, namun tak pernah—dalam seluloid sekalipun—memandangnya, atau menyanyi, menari mengitarinya dengan cinta sinematik di mata mereka. Di luar layar ia tinggal sendiri dalam dua ruangan kosong dekat studio dan berusaha membayangkan bagaimana bentuk perempuan tanpa pakaian. Untuk mengalihkan perhatian dari subyek cinta dan hasratnya dia belajar, menjadi otodidak omnivora, menyantap mitos metaforik dari Yunani dan Roma, perwujudan Jupiter, bocah lelaki yang berubah menjadi bunga, perempuan laba-laba, Circe, semuanya; dan teologi-filsafat Annie Besant, teori medan terpadu, dan peristiwa ayat-ayat Setan pada awal karir sang Nabi, lalu politik harem Muhammad sekembalinya ke Mekah membawa kemenangan; dan betapa surealisnya koran dimana kupu-kupu bisa terbang masuk ke mulut seorang bocah perempuan, minta dimakan, anak-anak yang terlahir tanpa wajah, bocah laki-laki memimpikan detail mustahil tentang inkarnasinya yang terdahulu, misalnya di hutan keemasan penuh batu mulia. Ia isi diri penuh-penuh dengan hal-hal yang hanya Tuhan yang tahu, namun tak dapat ia sangkal dalam waktu-waktu insomnianya ia dipenuhi sesuatu yang sekalipun tak pernah ia gunakan, yang dia tak tahu bagaimana cara menggunakannya, dan itu adalah cinta. Dalam mimpi ia tersiksa oleh perempuan-perempuan yang kemanisan dan kecantikannya tak terperi, hingga ia memutuskan untuk tetap terjaga dan memaksa diri untuk melatih pengetahuan umum sebagai pelarian dari perasaan tragis karena kapasitas mencintanya yang gila-gilaan, tanpa ada satu pun orang di dunia yang bisa ia berikan.</p>
<p>Rehat besarnya tiba bersamaan dengan kedatangan film-film teologikal. Ketika film dengan cerita klasik <em>purana</em> ditambah campuran sedikit tari, nyanyi, paman yang konyol dll selasai masa jayanya, tiap dewa di panteon dapat jatahnya sendiri menjadi bintang. Saat D. W. Rama menjadwalkan membuat film tentang Ganesha, tak ada satu pun nama-nama utama di box office yang yang mau main dengan wajah tertutup kepala gajah di sepanjang film. Jibril melompat dan memanfaatkan kesempatan. Dan film itu adalah suksesnya yang pertama—Ganpati Baba—dan mendadak dia jadi seorang superstar, namun dengan belalai dan telinga menancap di kepala. Setelah enam kali memerankan dewa berkepala gajah, akhirnya ia diperkenankan melepaskan topeng kelabu berat berhidung gondal-gandul dan menggantinya dengan buntut berbulu lebat karena harus berperan sebagai Hanoman si raja monyet dalam film serial petualangan yang lebih mirip serial televisi Hong Kong ketimbang Ramayana. Serial ini jadi sangat terkenal dan buntut monyet menjadi semacam kekerenan tak tertulis bagi para pemuda-pemuda di kota, dikenakan pada pesta-pesta di mana gadis-gadisnya dikenal sebagai “kembang api” karena selalu siap sedia untuk senggama.</p>
<p>Setelah Hanoman tak ada yang bisa menghentikan Jibril, dan keberhasilannya yang fenomenal memperdalam kepercayaannya terhadap malaikat penjaga. Dan mengawali perkembangan yang disesalinya.</p>
<p>(Sepertinya Aku harus membocorkan rahasia Rekha di sini.)</p>
<p>Sebelum ia menggantikan kepala palsu dengan buntut palsu, Jibril jadi tak tertahankan bagi para perempuan. Godaan karena keterkenalannya itu begitu hebat hingga membuat beberapa gadis memintanya mengenakan topeng Ganesha saat mereka bercinta, yang ditolak Jibril karena penghormatan tinggi pada dewa tersebut. Karena kesucian masa kecilnya ia tak dapat membedakan antara kualitas dan kuantitas dan merasa harus melunasi masa-masa yang terlewat. Mitra seksualnya sudah begitu banyak hingga tak heran dia sering lupa nama bahkan sebelum mereka meninggalkan ruangan. Selain menjadi perayu kacangan, ia juga belajar berpura-pura karena orang yang bermain menjadi tuhan harus tanpa cela. Ia sangat terampil menutupi skandal dan perbuatan asusilanya hingga ayah angkatnya, Babasaheb Mhatre—sepuluh tahun setelah dikirimkannya si dabbawalla muda itu ke dunia ilusi, uang gelap dan hawa napsu—yang terbaring sekarat memohon agar dia menikah untuk membuktikan kelelakiannya. “Demi Tuhan, Nak,” Babasaheb meminta, “waktu dulu kubilang pergi dan jadilah homo tak kusangka kau akan melakukannya, dan kau harus tahu sampai batas mana kau menghormati orang tua.” Jibril kelabakan, tangannya melambai-lambai menandakan tidak dan mulutnya bersumpah bahwa ia tak melakukan hal tak senonoh seperti itu dan jika telah ia temukan seorang gadis yang tepat maka ia akan langsung menikah. “Apa lagi yang kau tunggu? Seorang dewi dari surga? Greta Garbo, Gracekali, siapa?” teriak si lelaki tua, batuk darah, namun Jibril meningalkannya dengan senyum misterius di bibir dan membuat Babasahed meninggal dengan tidak tenang.</p>
<p>Banjir seksual yang menjebak Jibril Farishta nyaris menenggelamkan bakatnya, selamanya, bakat yang berupa kemampuan mencinta dengan tulus, sangat dalam, sepenuh-penuhnya, bakat langka dan halus yang dia tak mampu tunjukkan. Saat ia dilanda sakit, ia lupa semuanya, kecuali melupakan penderitaannya ketika merindukan cinta, beputar berkelindan di dalam dirinya seperti pisau penyihir. Sekarang, selesai jadwal senam malam dia akan tidur nyenyak dan lama, seolah tak pernah sekalipun dia terjangkiti wabah perempuan impian, seakan tak pernah sekali pun ia berharap kehilangan hati.</p>
<p>“Masalahmu,” ujar Rekha Merchant saat berubah wujud dari awan, “adalah semua orang selalu memaafkanmu, dan hanya Tuhan yang tahu kenapa, kau selalu dibiarkan, seperti lolos dari tuduhan pembunuhan. Tak ada seorang pun yang meminta pertanggungjawaban untuk apa yang telah kau lakukan.” Jibril tak bisa menyanggah. “Berkah Tuhan,” teriak Rekha, “dan Tuhan tahu dari mana kau pikir kau datang, melompat dari selokan, dan Tuhan tahu penyakit apa yang kau bawa.”</p>
<p>Dan itulah yang dipikirkan perempuan, dan yang ada di pikiran Jibril saat itu, mereka hanyalah wadah tempat ia bisa menuangkan dirinya, dan ketika ia harus terus berjalan, mereka akan mengerti bahwa memang begitulah sifatnya, dan mereka akan memaafkan. Benar, tak ada seorang pun yang menyalahkannya ketika ia pergi, karena seribu satu jenis kekhilafannya, dan entah aborsi yang ke berapa, Rekha menuntut dalam bentuk lubang di awan, tentang berapa hati yang patah. Setelah bertahun-tahun ia menjadi penerima kedermawanan tanpa akhir dari para perempuan, tapi sesungguhnya ia juga seorang korban karena semua pemaafan itu memungkinkan korupsi terbejat namun termanis, mengerucut pada gagasan bahwa semua yang dilakukannya bukanlah satu kesalahan.</p>
<p>Rekha: ia masuk ke kehidupannya saat Jibril membeli rumah di Everest Vilas dan perempuan itu menawarkan diri-sebagai tetangga dan pebisnis-menunjukkan karpet dan barang antik pada Jibril. Suaminya sedang mengikuti kongres pembuat bantalan gotri sedunia di Gothenburg, Swedia, dan saat suaminya pergi ia undang Jibril masuk ke dalam apartemennya yang terbuat dari rangkaian batu Jaisalmer dan pegangan kayu berukir dari istana Kcralan dan batu chhatri serta cupola Mugal berubah menjadi kolam arus; lalu ia tuangkan sampanye Perancis sambil bersandar pada dinding marmer dan nadi dingin bebatuan itu menjalari punggung. Saat Jibril menyesap sampanye Rekha menggodanya, tidak seharusnya dewa minum alkohol, lalu dijawab dengan kalimat dari dialog yang dia baca saat wawancara dengan Aga Khan, Oh, kau tahu lah, sampanye ini kan hanya untuk penampilan luar saja, dan saat tersentuh bibirku, dia berubah jadi air. Setelah itu, tak lama berselang ia sentuh bibir si lelaki untuk kemudian meleleh dalam pelukan kelelakian. Saat anak-anak pulang sekolah bersama para pembantu mereka, ia telah kembali berpakaian dan bersanggul tanpa cela, duduk di ruang kerja, menunjukkan rahasia bisnis karpet, memberi pengakuan bahwa sutra seni adalah untuk keperluan artifisial dan bukan artistik, berkata untuk tidak tertipu brosur yang secara menggoda menjelaskan karpet dibuat dari bulu leher anak kambing, dan itu artinya wol kelas rendah, iklan, apa yang harus dilakukan, dan begitulah.</p>
<p>Ia tak mencintai perempuan itu, tak setia padanya, lupa ulang tahunnya, tak membalas teleponnya, muncul di saat yang tak terduga ketika banyak tamu dunia alas pergotrian datang ke acara makan malam, dan seperti semua orang, perempuan itu memaafkannya. Namun pemaafaannya tidak diam-diam dan lemah seperti yang lain. Rekha mengeluh seperti orang gila, ia memberinya angkara, ia teriak dan mengatai lafanga-nya tak berguna dan haramjadah dan salah dan bahkan, secara ekstrim, menuduhnya akan kemungkinan bersetubuh dengan adik perempuan yang tidak dimiliki Jibril. Ia tak memberi kesempatan pada Jibril, menuduhnya sebagai mahluk yang hanya mementingkan penampilan, seperti layar film, lalu ia berlari dan memaafkannya dan membiarkan Jibril melepaskan pakaiannya. Jibril tak tahan pemaafan operatik Rekha Merchant, yang lebih menyentuh karena posisinya yang penuh cela, ketidaksetiaannya pada raja alas gotri, yang namanya hampir tak pernah disebut, dan menahan semua pukulan verbal itu layaknya laki-laki. Dan ketika maaf yang dia terima dari para perempuan membuatnya dingin dan lupa sesaat maaf itu terucap, ia tetap kembali pada Rekha hingga perempuan itu terus bisa menyiksanya lalu menenangkannya kembali karena hanya dia yang tahu caranya.</p>
<p>Lalu dia hampir mati.</p>
<p>Ia sedang membuat film di Kanya Kumari, berdiri di ujung paling ujungnya Asia, telibat dalam adegan perkelahian di Cape Comocin saat sepertinya ada tiga laut yang saling memukul satu sama lain. Tiga pasang ombak bergulung dari barat timur selatan lalu bertumbukan dengan suara bertepuk membahana saat Jibril dipukul di rahang, timing sempurna, dan ia pingsan di tempat, jatuh terjengkang menabrak buih tri-lautan. Tak bangun-bangun.</p>
<p>Awalnya semua orang menyalahkan pemeran pengganti, seorang raksasa Inggris bernama Eustace Brown, yang memukul Jibril. Ia memprotes keras. Bukankah dia orang yang sama dengan yang memerankan lawan Menteri Kepala N.T. Rama Rao dalam banyak peran film teologikal? Bukankah dia telah menyempurnakan seni membuat orang tua terlihat bagus dalam adegan pertempuran tanpa menyakitinya? Bukankah dia tak pernah sekali pun mengeluh bahwa NTR tak pernah ragu memukul sehingga dia, Eustace, sering berakhir biru-lebam, dihajar habis-habisan oleh orang tua mungil yang bisa dia santap untuk sarapan—dalam setangkup roti bakar—dan tak pernah sekali pun dia hilang akal? Lalu? Mengapa orang-orang berpikir dia akan menyakiti Jibril yang abadi? Dan dia tetap saja dipecat dan polisi menjebloskannya ke bui, untuk jaga-jaga.</p>
<p>Namun bukan pukulan itu yang meratakan Jibril. Setelah sang bintang diterbangkan ke Breach Candy Hospital Bombay dalam jet Angkatan Udara yang memang disediakan untuk keperluan tersebut; setelah serangkaian tes melelahkan ternyata tanpa hasil; dan ketika ia terbaring tanpa sadar, sekarat, dengan tekanan darah yang sangat rendah dari ukuran normal lima belas hingga empat koma dua, juru bicara rumah sakit menghadapi press nasional di lantai putih Breach Candy. “Ini misteri yang aneh sekali,” ujarnya. “Anda bisa menyebutnya, jika Anda suka, kuasa Tuhan.”</p>
<p>Jibril Farishta mengalami perdarahan pada organ dalam tanpa sebab apapun, dan berdarah sampai mati di bawah kulitnya. Pada saat-saat terburuk, darah mulai mengalir dari dubur dan penisnya, dan sepertinya akan menyembur hebat dari hidung dan telinga dan dari sudut mata. Selama tujuh hari ia berdarah dan menerima transfusi, dan zat pengental yang dikenal dunia medis, termasuk konsentrat semacam racun tikus, dan perawatan hanya membawa keberhasilan minimal, para dokter angkat tangan.</p>
<p>Seluruh India berada di sisi tempat tidur Jibril. Kondisi kesehatannya adalah kepala berita di tiap buletin radio, menjadi subjek berita terkini setiap jam pada jaringan televisi nasional, dan kerumunan yang berkumpul di Warden Road sangatlah banyak hingga polisi harus membubarkan mereka dengan tembakan lathi dan gas airmata yang tetap mereka gunakan meskipun setengah juta penduka telah bersimbah airmata dan meratap. Perdana Menteri menunda semua janji temu dan terbang menjenguknya. Putranya yang menjadi pilot pesawat duduk dalam kamar Farishta, menggenggam tangannya. Kecemasan menggantung di atas negara, karena jika Tuhan telah melepas hukumanNya pada perwujudan paling terkenal di India, apa lagi yang akan Dia berikan pada negara ini? Jika Jibril wafat, akankah India tertinggal jatuh di belakang? Di mesjid dan di kuil, jemaat berkumpul dan berdoa bersama, bukan hanya tertuju pada hidup sang aktor sekarat, tapi untuk masa depan, untuk mereka sendiri.</p>
<p>Siapa yang tidak menjengok Jibril di rumah sakit? Siapa yang tidak pernah menyurati, menelepon, mengirim bunga, mengirim rantang atau makanan rumahan yang lezat? Ketika banyak sekali para pencinta tanpa malu mengirimkan kartu cepat sembuh dan pasanda domba, siapa yang paling mencintai lelaki itu tapi paling menahan diri, tanpa dicurigai suaminya yang bulat seperti bantalan gotri? Rekha Merchant mengalungkan besi pada hatinya, melalui hari-hari seperti biasa, bermain dengan anak-anak, mengobrol dengan suami, berperan sebagai nyonya rumah yang baik saat diperlukan, dan tak pernah, sekali pun, menunjukkan jiwanya yang merapuh.</p>
<p>Lalu lelaki itu sembuh.</p>
<p>Kesembuhan itu sama cepat dan misteriusnya seperti penyakitnya sendiri. Yang juga disebut (oleh rumah sakit, jurnalis dan teman-teman) sebagai tindakan Yang Kuasa. Libur nasional diumumkan; kembang api dinyalakan dan menghias penjuru langit. Namun ketika Jibril mendapatkan kekuatannya kembali, dia jelas-jelas sudah berubah, secara drastis, karena kini ia telah hilang kepercayaan.</p>
<p>Di hari ketika ia meninggalkan rumah sakit polisi mengiringinya melalui jalanan penuh manusia yang merayakan keselamatan—sama sepertinya—merayap naik ke atas mobil Mercedez-nya, menyuruh supir agar menyesatkan kendaraan yang coba mengejar, dan menghabiskan tujuh jam lima puluh satu menit, dan pada manuver terakhir ia lakukan apa yang harus dilakukan. Jibril turun dari limusinnya di depan hotel Taj dan tanpa menoleh kanan-kiri langsung ke ruang makan besar dengan meja prasmanan yang mengerang diberati makanan-makanan terlarang, dan ia mengisi piring dengan sosis babi dari Wiltshire dan paha babi berbumbu dari York dan dendeng babi entah dari mana; dengan steak babi kekafiran dan kaki babi sekularisme; lalu, di sana ia berdiri, di tengah ruangan, sementara fotografer bermunculan dari udara, Jibril makan secepat mungkin, melesakkan babi-babi mati ke dalam mulutnya dengan sangat cepat hingga seberkas dendeng babi menggelantung dari sisi mulutnya.</p>
<p>Semasa sakit, tiap menit Jibril memanggil Tuhan, tiap detik, tiap menit. Ya Allah yang abdiNya sedang terbaring dalam darah jangan tinggalkan aku sekarang setelah begitu lama menjagaku. Ya Allah beri aku petunjuk, pertanda kecil atas bantuanMu, yang mungkin dapat kujadikan kekuatan untuk menyembuhkan sakitku. Oh Tuhan yang pengasih dan penyayang, dampingi diriku saat aku berkesusahan, saat aku sedang berduka. Kemudian ia sadar bahwa ia sedang dihukum, dan untuk beberapa saat itu memungkinkannya untuk menahan kesakitan, namun setelah beberapa waktu ia menjadi marah. Cukup, Tuhan—begitu tuntutan kata-kata yang tak terucap—mengapa aku harus mati padahal aku tak membunuh, apakah Kau pendendam atau cinta? Kemurkaannya pada Tuhan membuatnya mampu melalui hari demi hari, namun itu pun memudar, digantikan dengan kekosongan yang begitu parah, pengasingan, lalu ia sadar ia hanya bicara pada—udara kosong—dan tidak ada siapapun di sana, dan ia merasa jadi orang paling bodoh seumur hidup, dan ia mulai berdoa pada kekosongan, ya Allah, meng-ada-lah, bangsat, meng-ada-lah. Namun ia tak merasakan apapun, kosong, nihil, hingga suatu hari ia sadar ia tak diperlukan lagi di sana dan tak ada yang dirasakan. Pada hari metamorfosa itu penyakitnya berubah dan kesembuhannya bermula. Dan untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa tuhan itu tidak eksis, ia berdiri di tengah ruang makan di hotel paling terkenal di kota, dengan daging babi menggelantung dari wajah.</p>
<p>Jibril mendongak dari piringnya, mendapati seorang perempuan sedang memperhatikannya. Rambutnya begitu pirang hingga hampir terlihat putih, dan kulitnya berwarna secerah es pegunungan. Perempuan itu tertawa pada Jibril dan berlalu.</p>
<p>“Kau lihat kan?” teriak Jibril ke perempuan itu, membuat serpihan sosis muncrat dari sudut mulut. “Nggak ada yang tersambar petir. Itu intinya.”</p>
<p>Perempuan itu kembali dan berdiri tepat di hadapannya. “Kau hidup,” ujarnya. “Kau mendapat hidupmu kembali. Itu. Intinya.”</p>
<p>Ia katakan pada Rekha: saat perempuan itu berbalik dan berjalan ke arahku aku jatuh cinta padanya. Alleluia Cone, pendaki gunung, yang mengalahkan Everest, Yahudi pirang, Ratu Es. Tantangannya—rubah hidupmu, atau kau hanya kembali dengan tangan kosong—aku tak tahan.</p>
<p>“Kau dan reinkarnasi sampahmu,” Rekha meyakinkannya. “Kepalamu kosong. Kau keluar rumah sakit, kembali melalui pintu kematian, dan semua hanya mampir ke kepalamu, kau bocah gila, kau itu memang harus berada dalam petualangan, dan di situlah dia, jebret, si gadis pirang. Kau pikir aku tak tahu sifatmu, Gibbo, sekarang apa, kau ingin aku memaafkanmu atau bagaimana?”</p>
<p>Tak perlu, sahutnya. Ia tinggalkan apartemen Rekha (dan selirnya itu pun menangis, menunduk, memandangi lantai); dan tak pernah kembali lagi. Tiga hari setelah ia bertemu perempuan itu dengan mulut penuh daging kotor, Allie naik pesawat dan pergi.</p>
<p>Tiga hari yang tak pernah cukup untuk berdiam di balik pintu berpenanda “Jangan Diganggu”, namun pada akhirnya mereka sepakat bahwa dunia di luar sana adalah realita apa yang mungkin adalah mungkin dan yang tidak mungkin adalah mustah—pertemuan singkat, kapal lewat, cinta di ruang persinggahan. Setelah perempuan itu pergi Jibril beristirahat, mencoba menutup telinga dari tantangannya, memutuskan untuk mengembalikan hidupnya menjadi normal. Hanya karena dia kehilangan iman bukan berarti dia tidak bisa bekerja, tanpa mengindahkan skandal fotonya sedang makan babi, skandal pertama yang melekat pada namanya, dia menandatangani kontrak film dan kembali bekerja.</p>
<p>Kemudian, suatu pagi, sebuah kursi roda teronggok kosong dan dia pergi. Seorang penumpang berjenggot, seorang Ismail Najmuddin, naik ke pesawat dengan nomor penerbangan AI-420 ke London. 747 itu dinamai seperti salah satu taman di Surga, bukan Gulistan, namun Bostan. “Untuk terlahir lagi,” ujar Jibril Farishta pada Saladin Chamcha beberapa lama kemudian, “pertama kau harus mati. Aku, aku hanya setengah kadaluarsa, tapi aku sempat mengalami itu dua kali, rumah sakit dan pesawat, jadi, kalau dihitung ya bisa. Dan sekarang, kawanku Spoono, aku berdiri di hadapanmu di London yang Benar, Vilayet, teregenerasi ulang, orang baru dengan kehidupan baru. Spoono, ini benar-benar bangsat yang bagus, kan?”</p>
<p>Mengapa dia pergi?</p>
<p>Karena perempuan itu, tantangan perempuan itu, kebaruannya, kegarangan mereka saat sedang bersama, hal mustahil yang membendung tanpa bisa dicegah dan menuntut haknya untuk men-jadi.</p>
<p>Dan, atau, mungkin: karena setelah ia makan babi hukuman itu dimulai, hukuman nokturnal, hukuman mimpi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/project-dream/'>Project: Dream</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/salman-rushdie/'>Salman Rushdie</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=109&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/02/17/satanicverse2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7141f937f5fa647f42e8ed05655ae478?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/02/temperance_1024x768.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">temperance_1024x768</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Malaikat dan Pahlawan: An Entrée</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/01/06/satanicverse1/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/01/06/satanicverse1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 20:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bitch, The</dc:creator>
				<category><![CDATA[Project: Dream]]></category>
		<category><![CDATA[Salman Rushdie]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Setan dihukum menjadi pengelana, mengembara dalam resah, tanpa siapapun menjadi tempat pulang. Sifatnya yang seperti malaikat membuatnya diberkahi dengan semacam kekuasaan cair di awang-awang, dan bagian dari hukuman itu adalah…tak punya ruang dan tempat tinggal, tempatnya beristirahat. Daniel Defoe, The History of the Devil I. Jibril Sang Malaikat 1. “Untuk terlahir lagi,” Jibril Farishta berkata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=96&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/01/durer.gif"></a><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/01/durer.gif"><img class="aligncenter size-large wp-image-97" title="durer" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/01/durer.gif?w=725&#038;h=1024" alt="" width="725" height="1024" /></a></p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Setan dihukum menjadi pengelana, mengembara dalam resah, tanpa siapapun menjadi tempat pulang. Sifatnya yang seperti malaikat membuatnya diberkahi dengan semacam kekuasaan cair di awang-awang, dan bagian dari hukuman itu adalah…tak punya ruang dan tempat tinggal, tempatnya beristirahat.</p>
<p style="text-align:left;">Daniel Defoe, <em>The History of the Devil</em></p>
</blockquote>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>Jibril Sang Malaikat </strong></li>
</ol>
<p>1.</p>
<p>“Untuk terlahir lagi,” Jibril Farishta berkata sambil tersandung jatuh dari surga, “pertama kau harus mati. Hoji! Hoji! Untuk mendarat di tanah yang sintal-subur, kau harus terbang dahulu. Tat-taa! Taka-thun! Bagaimana bisa tersenyum lagi, jika tak lebih dulu menangis? Bagaimana bisa kau rebut hati cintamu, Tuan, jika tanpa desahan? Baba, jika kau ingin terlahir lagi…” Tepat sebelum fajar merekah, pada sebuah pagi di musim dingin, saat Tahun Baru atau di dekat-dekat masa itu, dua manusia jatuh dari ketinggian dua ribu dua kaki, menuju Kanal Inggris, tanpa parasut maupun sayap, meluncur turun begitu saja pada sebuah langit jernih tak berawan.</p>
<p>“Kubilang kau harus mati, kubilang, kubilang begitu,” dan memang, di bawah bulan pualam, hingga sebuah suara melintas memecah malam, “Persetan dengan nada-nadamu,” kemudian kata-kata menggantung bagai kristal di malam sedingin es, “dalam film-film kau hanya meniru gerakan bibir para penyanyi, jadi, simpan suara-suara menyeramkan itu untukmu sendiri.”</p>
<p>Jibril, penyanyi solo tanpa nada, berjumpalitan riang-riang bermandi sinar rembulan sambil bernyanyi lagu <em>gazal</em> Persia asli yang tak pernah ia bawakan, berenang di udara dengan gaya kupu-kupu, gaya dada, menggulung tubuh hingga membulat seperti bola, lalu merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya di ruang hampir tak berbatas pada subuh hampir pagi, berpose dengan gaya sok anggun, merangkak dengan kepala tegak seperti anjing berwibawa, lalu setegah duduk, mencari celah untuk sedikit bermain-main melawan gravitasi. Ia bergulung bahagia ke sumber suara sinis tadi. “Ohé, Salad baba, kau juga baik-baik saja. Bagus, Sobat Tua.” Yang diajak bicara adalah sebuah bayangan berpembawaan rapih, meluncur turun dengan kepala di bawah, memakai setelan kelabu terkancing hingga leher, tangan lurus di samping tubuh, mengacuhkan keberadaan topi bulat di kepala, bibirnya merengut, tak suka namanya diganti-ganti sembarangan. “Hey, Spoono,” teriak Jibril, memperdalam kerutan si bayangan yang bertambah sebal akibat kelakuannya, “London yang Benar, bhai! Kita sudah sampai! Bajingan-bajingan di bawah itu nggak akan sadar apa yang menghantam mereka. Apakah meteor atau halilintar atau azab Tuhan. Kita datang dari ketiadaan, Sayang. Dharrraaammm! Jebrét, na? Cara masuk yang keren, yaar<em>.</em> Sumpah: ceprot.”</p>
<p>Dari ketiadaan: suara gaduh, lalu bintang jatuh. Sebuah awal universal, gema mini dari lahirnya waktu… pesawat <em>jumbo jet</em> Bostan bernomor AI-420, mendadak meledak berkeping-keping, di atas langit kota besar Mahoganny, Babylon, Alphaville, bersinar indah seputih salju namun membusuk. Tapi Jibril telah menamainya, dan aku tak boleh ikut campur: London yang Benar, ibukota dari Vilayet, berkedip mengerjap mengangguk malam ini. Sementara jauh tinggi di pegunungan Himalaya cahaya matahari terlalu pagi menyembur cepat dan hangat udara Januari selembut bubuk, setitik cahaya menghilang dari layar radar, lalu langit dipenuhi mayat berjatuhan dari pucuk Everest-nya bencana ke laut pucat putih susu.</p>
<p>Siapa aku?</p>
<p>Siapa lagi yang masih hidup?</p>
<p>Pesawat terbelah dua, seperti kantung benih menyebarkan spora, seperti telur membuka rahasianya. Dua pelakon, Jibril Si Penceramah dan Si Kancing yang merengut alias Tuan Saladin Chamcha, jatuh bagai serpihan tembakau dari potongan cerutu tua. Di atas, di belakang, dan di bawah mereka, dalam kekosongan, melayang kursi-kursi besar, <em>headset</em> stereo, troli minuman, nampan yang tadinya menyulitkan, kartu perjalanan dari bandar udara, permainan video dari toko bebas cukai, tutup kepala berkepang, gelas kertas, selimut, masker oksigen. Dan karena ada beberapa penumpang migran—ya, sejumlah istri-istri yang terpanggang dengan alasan dan tugas domestik semisal mengetahui letak kutil di sepanjang genital para suami serta anak-anak yang legitimasinya selalu diragukan Pemerintah Inggris—mereka juga bercampur dengan reruntuhan pesawat, sama-sama tercerai-berai, sama-sama absurd, dan reremahan jiwa bergabung dengan ingatan-ingatan samar, diri yang terkelupas, bahasa ibu patah-patah, privasi yang terlanggar, guyonan tak terjemahkan, masa depan yang padam, cinta yang hilang, dan maksud dari berhamburannya kata-kata kosong namun terlupakan—tanah, milik, rumah. Ledakan hebat mempercepat laju Jibril dan Saladin seperti buntalan berisi bayi yang dijatuhkan Bangau canggung, dan karena Chamca meluncur dengan kepala lebih dulu, dengan posisi seperti janin memasuki liang lahir, ia agak terganggu karena rekannya menolak jatuh dengan biasa saja. Hidung Saladin akan menghantam tanah sementara Farishta merangkul udara, memeluknya erat-erat dengan seluruh kaki dan lengan, pelakon yang antusias melambai-lambai tanpa teknik menahan diri sedikitpun. Di bawah, tersaput awan, pintu masuk mereka menunggu, arus English Sleeve pelan menggumpal, zona pilihan bagi reinkarnasi berair mereka.</p>
<p>“Oh, sepatuku dari Jepang,” Jibril bernyanyi, menerjemahkan lagu lama ke dalam bahasa Inggris, setengah sadar terhadap negara induk semang mereka yang melesat maju. “Celana ini dari Inggris, agar kau tak sinis. Di atas kepala, topi dari Rusia; namun hatiku tetap India, tetap mencinta.” Awan menggelembung menuju mereka, dan mungkin akibat mistikus kumulus dan kumulonimbus maka kepala kilat bergulung dan berdiri bagai palu di waktu pagi, atau mungkin karena nyanyian (yang satu sibuk tampil, yang lain sibuk mengolok), atau karena ledakan—kebingungan penyelamat dari kejadian yang sudah mereka tahu sebelumnya… namun apapun alasannya, dua lelaki itu, Jibrilsaladin Farishtachamca, dikutuk dalam kejatuhan yang jahat layaknya setan sekaligus baik menyerupai malaikat, tanpa akhir namun berujung, dan mereka tidak menyadari bagaimana proses transmutasi mereka dimulai.</p>
<p>Mutasi?</p>
<p>Ya, Tuan, tapi tidak acak. Jauh di angkasa, di saujana lembut tak terperi hasil terpaan berabad-abad dan, karena itu, membuat ukuran “abad” menjadi mungkin, adalah salah satu lokasi yang bisa dijelaskan, tempat dimana pergerakan dan perang, pengerdil planet dan kosongnya kekuasaan, zona-zona paling tidak nyaman dan menjadi persinggahan, ilusi, ketidaksinambungan, metamorfosa—karena ketika kau lempar apapun ke atas maka semua menjadi mungkin—di sana, bagaimanapun, perubahan mendapat tempat pada para aktor berhalusinasi yang meriangkan hati Tuan Lamarck tua; di bawah tekanan lingkungan ekstrim, ciri khas akan didapatkan.</p>
<p>Ciri khas apa di mana? Sebentar; kau pikir Penciptaan terjadi dengan bergegas? Jadi, begitu juga dengan wahyu… cermati saja keduanya. Perhatikan, ada yang aneh? Hanya dua lelaki coklat, jatuh dengan keras, tak ada yang baru, begitu menurutmu; mendaki terlalu tinggi, lebih tinggi dari diri mereka, terbang terlalu dekat pada mentari, begitu, bukan?</p>
<p>Bukan seperti itu. Dengar:</p>
<p>Tuan Saladin Chamcha, tertarik karena bebunyian dari mulut Jibril Farishta, berkutat dengan ayat-ayat versinya sendiri. Mengambang melintas langit malam sesayup sampai di telinga Farishta adalah lagu lama juga, lirik ditulis Tuan James Thomson, seributujuhratus atau seribu-tujuh-ratus-empat-puluh-delapan. “… atas perintah Surga,” seru Chamcha bernyanyi gembira dengan mulut komat-kamit merahputihbiru kedinginan, “bangkiiiiiiit dari birunya langit.” Farishta ketakutan, bernyanyi lebih keras dan keras lagi tentang sepatu Jepang, topi Rusia, hati yang tak terpengaruh subkontinen, namun tak tahan dengan “ngaji” yang dibawakan Saladin. “Dan malaikaaaaaaaat penjaaga menyanyikan pantangan.”</p>
<p>Begini: mustahil bagi mereka mendengar suara satu sama lain, apalagi bicara dan bernyanyi keras-kerasan. Mereka meluncur maju menuju wajah planet, atmosfir melayang kencang di sekitar mereka, bagaimana mungkin? Tapi yah… begitulah: mereka bisa.</p>
<p>Bawah ke bawah mereka meluncur, angin musim dingin membekukan bulu mata dan mengancam akan membekukan hatilah yang membuat mereka terbangun dari mimpi halusinasi, hampir menyadari keajaiban nyanyian, hujan anggota tubuh dan serpihan bayi dimana mereka adalah bagian darinya, dan teror akan takdir yang bergegas menunggu mereka di bawah, saat mereka menghantam, langsung kuyup dan membeku saat itu juga oleh didihan gemawan dingin pada titik beku.</p>
<p>Mereka meluncur di tempat yang seperti lorong panjang vertikal. Chamcha, rapih, kaku, dan masih terbalik melihat Farishta mengenakan kemeja ungu berantakan berenang menghampiri terowongan berdinding awan, lalu teriak, “Sana, jauh-jauh dariku,” namun sesuatu mencegahnya, awal dari apa yang nanti jadi teriakan bergetar dari dalam jeroan sendiri, jadi, alih-alih ia usir Farishta, Chamcha malah membuka lengan lebar-lebar dan Farishta berenang masuk hingga mereka berpelukan kaki dengan kepala, dan tumbukan mereka berakibat jungkir-balik berkali-kali, mengirim komidi putar dari dua tubuh mereka ke bawah, ke lubang menuju Antah-berantah; dan saat mereka berkutat melepaskan diri dari semua serbaputih naiklah sekumpulan awan berbagai bentuk, tak berhenti berubah, dari dewa-dewa ke banteng, perempuan menjadi laba-laba, lelaki kemudian serigala. Mahluk-mahluk gemawan hibrid itu mendesak mereka, bunga raksasa dengan payudara menggantung dari batang gendut, kucing bersayap, centaur, dan Chamcha, setengah pingsan, menyadari bahwa dirinya juga memiliki kualitas setegah awan, jadi metamorforik, hibrid, seakan ia tumbuh menjadi orang dengan kepala di selangkangan dan tungkai terbalut di samping leher panjang seperti aristokrat Inggris.</p>
<p>Yang lain tak ada waktu untuk “falusasi tinggi” semacam itu; dan dia sama sekali tidak mampu berfalusasi; lalu ia melihat, muncul dari gumpalan awan, sesosok perempuan anggun namun tak lagi muda, mengenakan sari brokat hijau-emas, dengan berlian di hidung dan lapisan minyak mempertahankan sanggul tinggi dari terpaan angin angkasa, lalu duduk, tak terguncang, di atas karpet terbang “Rekha Merchant”, dan Saladin menyapa. “Kau tidak tahu jalan ke surga atau apa?” Pertanyaan tidak peka sama sekali pada orang mati! Namun kondisinya yang agak gegar otak dan jumpalitan memang membuat maklum.</p>
<p>… Chamcha, memegang kaki erat-erat, berkata datar: “Demi neraka!”</p>
<p>“Kau tidak lihat perempuan itu?” teriak Jibril. “Kau tak lihat karpet Bokhara bangsat itu?”</p>
<p>_Jangan, jangan, Gibbo_ suara perempuan berbisik di telinganya _jangan tanyakan dia. Aku hanya terlihat oleh matamu, mungkin kau mulai gila, atau bagaimana, <em>namaqool,</em> dasar kau kotoran babi, cintaku. Kematian membawa kejujuran, kekasih, jadi, kini aku dapat memanggil nama aslimu._</p>
<p>Rekha Berawan membisikkan kalimat-kalimat getir, namun Jibril kembali teriak ke Chamcha: “Spoono? Kau lihat dia tidak?”</p>
<p>Saladin Chamcha tak melihat apapun, tak mendengar apapun, tak berkata apapun. Jibril menghadapi perempuan itu sendirian. “Harusnya tak kau lakukan itu,” ujarnya sinis. “Jangan. Itu dosa. Yang begitu itu.”</p>
<p>_O, kau memberiku kuliah sekarang,_ ujarnya sambil tertawa. _Kau satu-satunya dengan standar moral tinggi, itu bagus. Kau yang meninggalkanku,_ suara perempuan itu dekat sekali di kuping kiri, seperti menggelitik daun telinganya dengan gigitan-gigitan lembut. _Dan engkaulah, O bulan kesukaanku, yang bersembunyi di balik awan. Di kegelapan, buta, sesat, karena cinta._</p>
<p>Jibril jadi takut. “Kau mau apa? Tidak, jangan katakan. Pergi saja sana.”</p>
<p>_Ketika kau sakit aku tak bisa menjengukmu karena takut skandal, dan kau tahu aku tak bisa, aku menjauh demi dirimu, namun sesudahnya kau menghukum, kau gunakan kejadian itu sebagai alasan untuk pergi, sebagai awan untuk sembunyi. Itu, dan juga dia, si perempuan sedingin es itu. Bangsat. Sekarang aku sudah mati dan aku lupa cara memaafkan. Aku kutuk kau, Jibrilku, semoga hidupmu bagai neraka. Neraka, karena ke sana lah kau mengirimku, kurang ajar, itu tempatmu, setan, dan ke situ kau menuju, bedebah, nikmati berendam dalam darah._ Rekha mengutuk; dan setelah itu, ayat-ayat dikumandangkan dalam bahasa yang tak dimengerti, dengan suara kasar dan mengerikan, yang menurutnya hanya ada di pikiran, namun mungkin memang begitu adanya, dan nama yang berulang-ulang disebut—Al-Lat.</p>
<p>Jibril berpegang pada Chamcha erat-erat; dan mereka melesat menembus dasar awan.</p>
<p>Kecepatan—sensasi kecepatan—datang lagi, bersiul tentang nada mengerikan. Atap awan terbang ke atas, lantai air membesar mendekat, mata mereka membelalak lebar. Teriakan, bunyi teriakan yang sama yang menggumpal dari dalam jeroannya saat Jibril berenang melintas langit kini keluar dari bibir Chamcha; seberkas sinar mentari melesat menusuk mulut terbuka dan membebaskan teriakan itu. Namun mereka jatuh ke dalam transformasi gemawan, di pinggirnya, dan saat berkas sinar menimpa Chamcha, ia melepas lebih dari sekedar bunyi:</p>
<p>“Terbang,” Chamcha menjerit ke Jibril. “Ayo terbang, sekarang.” Lalu menambahkan, tanpa tahu dari mana pengetahuannya berasal, perintah ke dua: “Dan bernyanyilah.”</p>
<p>Bagaimana hal-hal baru datang ke dunia? Bagaimana mereka dilahirkan?</p>
<p>Dari fusi, penerjemahan, penggabungan apa mereka dibuat?</p>
<p>Bagaimana ke-baru-an itu bisa bertahan, meskipun berbahaya dan ekstrim? Atas dasar kompromi, persetujuan, penghianatan atau rahasia apa maka ke-baru-an itu bisa luput dari reruntuhan, malaikat pemusnah, pisau guillotine?</p>
<p>Apakah kelahiran itu selalu jatuh?</p>
<p>Apa malaikat punya sayap? Bisakah manusia terbang?</p>
<p>Saat Tuan Saladin Chamcha jatuh dari awan menuju Kanal Inggris, ia merasa jantungnya digenggam kekuasaan yang luarbiasa tak tergantikan hingga ia paham betul ia mustahil mati. Setelahnya, ketika kakinya mantap menjejak tanah sekali lagi, ia akan mulai meragukan hal itu, menjelaskan kemungkinan persinggahannya pada kekacauan persepsi akibat ledakan, dan menyebut keselamatan dirinya dan Jibril sebagai keberuntungan buta dan bodoh. Namun saat ini dia tak punya keraguan sedikit pun; apa yang membuatya bertahan adalah keinginan untuk hidup, murni, tak tertahankan, suci, dan yang pertama dilakukan “keinginan” itu adalah menegaskan bahwa ia tak ingin mencampuri sifatnya yang menyedihkan, berhubungan dengan peniruan dan suara yang setengah jadi, dan “keinginan” itu hanya ingin mencari jalan pintas dari semuanya, dan ia menyerah begitu saja, ya, silahkan, seakan ia hanya orang lewat di benaknya sendiri, dalam tubuh sendiri, karena semua dimulai di titik tengah paling pusat dari dirinya lalu menyebar ke seluruh badan, mengubah darah jadi besi dan daging jadi baja, namun juga terasa seperti kepalan yang melingkupi dari luar, menggenggamnya erat-erat sekaligus lembut tak terperi; sampai akhirnya kepalan itu memenangkan dirinya utuh-seluruh kemudian membuat mulut, jemari, dan apapun yang dia pilih, bekerja, dan saat ia yakin pengalihan kekuasaan itu memancar keluar dari tubuhnya ia tarik “biji” Jibril Farishta.</p>
<p>“Terbang,” serunya—perintahnya—lagi pada Jibril. “Nyanyi.”</p>
<p>Chamcha berpegangan pada Jibril sementara yang dipegang mulai—pertama lambat-lambat lalu berubah lebih kencang dan bertenaga—mengepakkan lengan. Makin keras dan keras ia mengepak, dan sambil mengepak ia bernyanyi sambil teriak, dan seperti apa yang dinyanyikan penampakan Rekha Merchant, ia bernyanyi dengan bahasa yang tak pernah dia tahu dengan nada yang tak pernah dia dengar. Jibril tak menolak keajaiban yang dialami, tak seperti Chamcha yang selalu mencari alasan dari tiap kejadian, dan tak berhenti berkata bahwa <em>gazal</em> Persia itu mungkin wangsit, dan tanpa nyanyian itu kepakan mereka tak berarti apa-apa, dan jika tak bisa mengepak maka mereka akan menghantam ombak seperti batu atau hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan bentangan laut. Dan mereka melambat. Semakin Jibril bernyanyi dan mengepak, mengepak dan bernyanyi, penuh penjiwaan, maka semakin mantap deklarasi itu dikumandangkan sampai akhirnya mereka melayang menghampiri Kanal seperti sobekan kertas dipermainkan angin.</p>
<p>Hanya mereka yang selamat dari kecelakaan itu, mereka yang jatuh tersisa dari Bostan dan hidup. Keduanya ditemukan terdampar di pantai. Yang paling cerewet, yang mengenakan kemeja ungu, bersumpah sambil menceracau bahwa mereka berjalan di atas air, dan ombak menghantar mereka dengan lembut ke pantai; namun yang lain, yang di kepalanya masih menancap topi bulat kuyup seakan disulap, menyangkalnya. “Ya Tuhan, kami beruntung,” ujarnya. “Seberapa beruntung kau bisa selamat, coba?!”</p>
<p>Tentu, Aku tahu kebenarannya. Aku yang mengamati semua kejadian dari awal. Sebagai Yang Maha Kuasa, Aku tak membuat klaim apapun saat itu, dan Kurasa sampai sejauh ini masih bisa Kuatasi. Chamcha menginginkannya dan Farishta melakukan apa yang diinginkan.</p>
<p>Yang mana yang bekerja untuk keajaiban?</p>
<p>Jenis apakah—sebaik malaikat atau sejahat setan—lagu yang dinyanyikan Farishta?</p>
<p>Siapa Aku?</p>
<p>Begini saja: siapa yang nyanyiannya paling indah?</p>
<p>Semua adalah kata-kata pertama yang diucapkan Jibril Farishta saat ia terbangun di pantai Inggris yang akan bersalju dengan kemungkinan adanya bintang laut menempel di telinga: “Terlahir lagi, Spoono, kau dan aku. Selamat ulang tahun, Tuan; selamat ulang tahun untukmu.”</p>
<p>Sementara itu Saladin Chamcha batuk, menyembur, membuka mata, dan, sebagaimana bayi yang baru lahir, ia menangis tolol.</p>
<p>2.</p>
<p>Reinkarnasi selalu menjadi topik hangat bagi Jibril, selama lima belas tahun ia menjadi bintang paling bersinar di sejarah perfilman India, bahkan sebelum ia kalahkan Gangguan Bayangan secara “ajaib” yang dipercaya orang akan mengakhiri kontraknya. Jadi, seharusnya seseorang dapat mengira—hanya saja tak ada yang mau melakukannya—ketika ia bangkit dan berdiri lagi ia akan tetap berhasil saat bakteri-bakteri itu gagal dan pergi dari hidupnya seminggu sebelum ulang tahun ke empat puluh, menghilang, “poof!”, seperti sulap, ke udara kosong.</p>
<p>Orang pertama yang menyadari ketidakberadaannya adalah empat anggota tim kursi roda merangkap tim studio film. Jauh sebelum ia sakit Jibril punya kebiasaan untuk berpindah dari dan ke set studio D.W. Rama yang besar dengan sekelompok atlit terpercaya dan cekatan, karena orang yang harus membuat sebelas film secara “sy-multan” harus menghemat energi baik-baik. Dipandu sistem kode rumit yang terdiri dari garis miring, bulatan dan titik yang diingat Jibril dari dari masa kecilnya dulu, diantara cerita tentang pengantar makan siang dari Bombay (dan banyak lagi kemudian), pendorong kursi mengantarnya dari peran ke peran, menghadirkan dirinya setepat ayahnya mengantar makan siang dahulu. Setelah pengambilan gambar usai, Jibril akan kembali ke kursinya untuk kemudian diantarkan ke set berikutnya dengan kecepatan tinggi, didandani, dipakaikan kostum, dan diberi naskah. Ia sempat berkata pada salah satu kru: “Karir besar yang hangat diomongkan orang itu tak lebih dari lomba kursi roda yang berhenti sekali-dua sepanjang perjalanan.”</p>
<p>Setelah sembuh dari sakit, atau Bakteri Hantu, atau Kemalangan Misterius—atau singkatnya, Gangguan—Jibril kembali bekerja, kembali beradaptasi, kali ini hanya tujuh film dalam satu waktu… kemudian, mendadak, dia tak lagi berada di sana. Kursi roda teronggok tanpa penghuni diantara sistem audio panggung terbungkam; ketiadaannya mengungkap kepalsuan megahnya studio. Salah seorang diantara empat pendorong kursi bersuara, meminta maaf atas menghilangnya sang bintang ketika seorang eksekutif film mendamprat mereka: Ji, dia sedang nggak enak badan, padahal dia terkenal tepat waktu, tidak, mengapa harus menasehatinya, maharaj, artis besar harus dibiarkan memanjakan temperamennya sekali-sekali, na. Dan untuk pembelaan itu mereka menjadi korban pertama atas menghilangnya Farishta yang zwiiing begitu saja, dipecat, empat tiga dua satu, ekdumjaldi, terusir dari gerbang studio mengabaikan kursi roda berdebu terdampar di bawah rindang gambar kelapa dan pantai berpasir dari serbuk gergaji.</p>
<p>Dimana Jibril? Produser film, yang pergi dengan tujuh hentakan kesal, panik tak berkesudahan. Lihat, di situ, di rangkaian klub golf Willingdon—hanya ada sembilan lubang sekarang ini, dan gedung pencakar langit menyembul dari sembilan lubang lain seperti rumput raksasa, atau, katakanlah seperti nisan yang menandai tempat mayat hancur yang sebelumnya adalah kota tua—itu, di situ, eksekutif eselon atas, malah luput dari lubang paling gampang; dan lihat ke atas, sejumput rambut berantakan dicabut dari kepala eksekutif senior yang sedih, melambai turun dari jendela tinggi di sana. Semua paham kekesalan yang dialami produser, karena di masa ketika jumlah penonton makin berkurang dan opera sabun bersejarah tercipta serta ibu-ibu rumah tangga kontemporer yang berkutat dengan perang suci sendiri di bawah asuhan jaringan televisi, hanya ada satu nama yang—ketika muncul di atas judul—masih menjamin setiap sen dari seratus persen, masih meletupkan api dan menjadikannya Superpopuler, Ultrabeken, dan pemilik nama tersebut telah pergi, entah ke atas, ke bawah maupun ke samping, namun tak diragukan lagi, menghilang, swuuus…</p>
<p>Di seluruh pelosok kota, setelah para petugas telepon, pengendara motor, polisi, marinir dan kapal pukat menyisir pelabuhan dengan seksama namun tanpa hasil, orang mulai ramai membicarakan tulisan di nisan demi mengenang nama seorang bintang yang memudar cerlangnya. Di salah satu dari tujuh panggung Rama Studio yang kini impoten, Nona Pimple Billimoria, aktris seksi-pedas-panas termutakhir—bukan perempuan pemalu-merona-santun namun dinamit dalam kemasan cantik-tegas-galak, terbungkus dalam kostum penari kuil lusuh melucuti kainnya dan berbaring di bawah karton bergetar dengan representasi sosok Tantrik berkopulasi dari masa Chandela, dan ia sadar adegan utamanya tak akan jadi yang utama, dan popularitasnya hanya tinggal nama—mengucap selamat tinggal dengan penuh kebencian pada para penonton yang terdiri dari perekam suara dan ahli listrik yang merokok beedi berwajah sinis. Ia hampiri ayahnya yang tertekan dan hanya bisa melongo, dengan lengan terlipat di depan dada ia mengomel. “Ya ampun, benar-benar “keberuntungan”,” teriaknya. “Hari ini harusnya adegan percintaan, chhi chhi, yang aku tunggu sampai hampir mampus, memikirkan bagaimana caranya bisa berdekatan dengan si bibir tebal bernapas bau tahi kecoak itu.” Gelang kakinya bergemerincing seiring ia menghentak gemas. “Untung saja film itu nggak berbau. Kalau tidak, dia bakal dapat peran sebagai penderita lepra.” Dan solilokui Pimple menemui klimaksnya dengan makian sedemikian kasar hingga membuat para perokok beedi terhenyak duduk dan membandingkan kosakata serapah itu dengan ratu bandit terkenal Phoolan Devi yang sumpahnya melelehkan senapan dan membuat pensil wartawan berubah jadi karet dalam hitungan ke tiga.</p>
<p>Pimple keluar, meratap, tersensor, menjadi serpihan di lantai kamar edit. Batu permata jatuh dari pusarnya saat dia berlalu, mencerminkan airmatanya… perihal bau mulut Farishta ia tak bisa sepenuhnya salah; lagipula ia tak tahu-menahu penyebabnya. Udara yang dihasilkan Jibril memang selalu menyulitkannya, udara yang dihasilkan awan sulfur dan belerang—yang jika digabungkan dengan jambul om-om senang dan rambut sepekat gagak—membuatnya seperti dalam kubangan alih-alih bersinar, meskipun namanya seperti malaikat. Orang-orang bilang jika dia hilang harusnya gampang dicari, yang diperlukan hanya hidung yang sehat… dan seminggu setelah kelenyapannya, cara keluar yang lebih tragis daripada apa yang dibilang Pimple Billimoria, bau menyengat dan jahat itu mulai melekat pada nama yang mewangi selamanya. Kau mungkin akan berkata dia melangkah keluar layar lalu masuk ke dunia nyata, dan dalam hidup, tidak seperti di film, semua orang tahu jika kau bau.</p>
<p>“Kita adalah mahluk udara, Berakar di mimpi Dan gemawan, dilahirkan kembali Saat terbang. Selamat tinggal.” Catatan penuh teka-teki itu ditemukan polisi di <em>penthouse</em> Jibril Farishta yang terletak di lantai teratas gedung pencakar langit Everest Vilas pada Bukit Malabar, rumah tertinggi di gedung tertinggi pada tanah tertinggi di kota, salah satu apartemen dengan dobel pemandangan indah tempat kau bisa melihat lampu-lampu serupa kalung malam pada Marine Drive di satu sisi dan memandang bentangan Scandal Point dan laut, membuat <em>headline</em> surat kabar bertambah sangar. FARISHTA MENYELAM KE BAWAH TANAH sahut <em>Blitz</em> dengan gaya yang mengerikan, sementara lebah pekerja di <em>The Daily</em> mengandangkannya dalam kata-kata JIBRIL TERBANG. Banyak foto tempat tinggal terkenal itu tersebar, dimana para dekorator interior Perancis membawa surat rekomendasi dari Reza Pahlevi tentang pekerjaan mereka di Persepolis yang menghabiskan jutaan dolar untuk menciptakan kembali ketinggian langit-langit pada efek kemah Badui. Ilusi lain yang tergambar karena ketiadaannya; JIBRIL BERKEMAH, seru <em>headline</em> satunya, namun apakah dia ke atas, ke bawah, atau ke samping? Tak satupun yang tahu. Di metropolitan berisi lidah dan bisikan, bahkan telinga tertajam pun kesulitan mendengar yang bisa percaya. Namun Nyonya Rekha Merchant yang membaca surat kabar, mendengar siaran radio, menyimak program TV Doordashan, menarik yang tersirat dari yang tersurat pada pesan Farishta, mendengar catatan yang luput dari perhatian orang, lalu mengajak dua putri dan satu putranya berjalan-jalan menikmati udara di atas ketinggian atap rumahnya. Bernama Everest Vilas.</p>
<p>Mereka adalah tetangga; untuk lebih jelasnya, dari apartemen tepat di bawah. Tetangga dan teman, apa lagi yang bisa Kukatakan? Sudah tentu majalah kota yang penuh skandal dan kenyinyiran telah mengisi penuh-penuh kolom-kolom mereka dengan petunjuk samar dan bisikan lirih, namun bukan alasan bagi mereka untuk menurunkan derajat. Mengapa harus kehilangan reputasi sekarang?</p>
<p>Siapa perempuan itu? Kaya, jelas. Namun Everest Vilas bukan satu-satunya tempat tinggal di Kurla, kan? Menikah, tentu, tiga belas tahun, dengan suami besar-bulat seperti gotri. Ia mandiri, dengan ruang pamer merangkap toko karpet dan perabotan antik yang besar di wilayah “basah” Colaba. Ia serbut karpet-karpetnya sebagai “keliman nan bersih” dan artefak antiknya dengan “anti-queues”—anti antrian. Ya, dan dia cantik, cantik dalam artian keras, paling bersinar diantara penghuni rumah-tinggi di kota yang makin jarang dihuni, tulangnya kulitnya pembawaannya semua adalah saksi atas perceraiannya dulu dengan bumi miskin dan sangat kotor. Semua orang sepakat ia punya kepribadian kuat, minum—seperti ikan—dari kristal Lalique dan menggantung topinya—tanpa malu—di Chola Natraj, tahu apa yang ia inginkan dan bagaimana mendapatkannya, dengan cepat. Suaminya selemah tikus namun punya banyak uang dan penurut. Rekha Merchant membaca surat perpisahan Jibril Farishta di koran, menulis suratnya sendiri, mengumpulkan anak-anaknya, menunggu di depan lift, lalu naik ke surga (satu lantai) untuk menghadapi takdir pilihannya.</p>
<p>“Bertahun-tahun lalu,” begitu pembuka suratnya, “aku menikah karena kepengecutanku. Sekarang, akhirnya, aku melakukan sesuatu yang berani.” Ia tinggalkan surat kabar di ranjang dengan pesan Jibril dilingkari pena merah dan digaris bawah tebal-tebal—tiga kalimat kasar, salah satunya dirobek dengan marah. Mungkin sangat bisa dimaklumi jika kepala berita bangsat yang tertulis tak lain adalah KEKASIH GELAP NAN CANTIK MELOMPAT, dan SI AYU PATAH HATI MENENGGELAMKAN DIRI. Tapi:</p>
<p>Mungkin perempuan itu juga punya gangguan kelahiran kembali, dan Jibril yang tak mengerti betapa berbahayanya metafora, telah merekomendasikan untuk terbang. “Untuk terlahir lagi, pertama kau harus” lagipula ia adalah mahluk angkasa, ia minum sampanye Lalique, tinggal di Everest, dan tetangganya di Olympus memutuskan terbang; dan jika Jibril bisa maka ia harusnya juga bersayap, dan punya akar di mimpi.</p>
<p>Ia gagal. Lala yang dipekerjakan sebagai penjaga gerbang hunian Everest Vilas menawarkan kesaksiannya yang datar pada dunia. “Saya sedang berjalan, ke sini ke sini, cuma di kawasan ini, waktu terdengar bunyi bruk, “tharaaap”. Saya berbalik. Dan ternyata itu mayat putri tertua. Tengkoraknya hancur. Saya mendongak dan melihat si bocah lelaki jatuh, lalu adik bungsunya. Yang bisa saya katakan, semuanya hampir menghantam tempat saya berdiri. Saya menutup mulut dan mendatangi mereka. Gadis yang paling muda mengaduh lirih. Setelah itu saya menengadah lagi dan saat itu Begum jatuh. Sarinya melayang seperti balon besar dan rambutnya terurai. Saya alihkan pandangan karena dia jatuh dan tidak sopan melongok ke dalam rok seorang perempuan.”</p>
<p>Rekha dan anak-anaknya jatuh dari Everest; tak satupun selamat. Orang-orang berbisik menyalahkan Jibril. Namun mari kita tinggalkan dulu sejenak.</p>
<p>Oh: jangan lupa: ia melihat perempuan itu setelah mati. Dia melihatnya beberapa kali. Terjadi lama sekali sebelum orang-orang tahu betapa sakitnya orang besar itu. Jibril, si bintang. Jibril, yang memenangkan Penyakit Tak Bernama. Jibril, yang takut tidur.</p>
<p>Setelah ia pergi gambar wajahnya yang dulu ada di mana-mana mulai membusuk. Dari tumpukan gambar gigantis berwarna semarak tempat ia memandang rakyat, kelopak mata berat dan tebal itu mulai layu dan hancur, makin turun dan turun sehingga irisnya hanya serupa dua rembulan terpotong awan, atau teriris pisau lembut bulu mata yang panjang. Akhirnya kelopak mata itu jatuh, menampakkan matanya yang terlukis, besar dan melotot. Diluar gambar istana Bombay, karton raksasa berbentuk Jibril mulai kusam dan lusuh. Tergantung lunglai pada kawat, lengannya hilang, layu, dan ada patahan di leher. Imaji wajah pada majalah film menunjukkan pucatnya kematian, mata yang kosong, hampa. Dan semua akhirnya menghilang dari halaman media cetak membuat sampul mengilap majalah <em>Celebrity</em> dan<em> Society</em> dan<em> Illustrated Weekly</em> menjadi kosong di kios-kios dan penerbit memecat percetakan yang kemudian menyalahkan kualitas tinta murahan. Bahkan di layar perak, jauh di atas para pemujanya di kegelapan dimana fisik fana seharusnya membusuk, berparut dan memutih; proyektor mendadak macet tiap ia masuk gerbang, film-filmnya berhenti, dan panas lampu proyektor rusak itu membakar ingatan seluloid tentangnya: seorang bintang yang supernova dengan api menjilat-jilat, seakan pas, dari bibirnya.</p>
<p>Saat itu kematian Tuhan. Atau sesuatu yang mirip itu; jika tidak bagaimana mungkin wajah raksasa yang tergantung di atas para pemuja sambil bermandi cahaya sinematis itu bisa bersinar seperti Entitas ilahiah dan membuatnya berada di antara fana dan abadi? Lebih dari itu, banyak orang berpendapat—karena dalam karir uniknya Jibril banyak sekali membuat perwujudan dengan amat sangat meyakinkan—bahwa film tentang dewa-dewa yang jumlahnya tak terhitung di sub-kontinen tersebut pantas berjuluk sebagai “teologikal”. Itu adalah bagian dari keberhasilan ajaib seorang Jibril dalam mendobrak batasan agama tanpa menghina. Berkulit biru seperti Krishna ia menari, seruling di tangan, bersama pada gopi dan sapi-sapi bersusu menggantung berat; dengan daun palem terbalik, dalam ketenangan, ia bermeditasi (sebagai Gautama) atas penderitaan kemanusiaan, di bawah pohon bodhi properti studio. Pada saat-saat yang sangat jarang, saat dia turun dari surga, tak pernah ia pergi terlalu jauh, memainkan, misalnya, Grand Mughal dan menterinya yang terkenal cerdik dalam drama klasik “Akbar dan Birbal”. Selama lima belas tahun lebih ia telah mewakili—di hadapan ratusan juta orang beragama di negara tersebut yang hingga saat ini populasi manusianya lebih banyak daripada dewa-dewa, tiga banding satu—wajah yang paling bisa diterima dan dapat langsung dikenali sebagai wajah Yang Kuasa. Bagi banyak penggemar, batas yang memisahkan antara pelakon dan perannya telah lama tiada.</p>
<p>Penggemar, ya, dan? Bagaimana dengan Jibril?</p>
<p>Wajah itu. Dalam kehidupan nyata, diminimkan menjadi ukuran wajah sesungguhnya, berada diantara mahluk-mahluk fana, dan anehnya, sangat tidak nampak seperti bintang. Kelopak mata yang berat dan turun itu membuat mukanya terkesan lelah. Ada sesuatu yang kasar pada hidungnya, bibirnya terlalu tebal untuk dibilang kuat, dan daun telinganya panjang seperti bonggol nangka muda. Wajah yang paling profan, wajah yang paling sensual. Dan keduanya, belakangan, akhirnya dapat dijahitkan bersama dalam sakit yang nyaris fatal. Namun tidak hanya keprofanan dan kelemahan, wajah ini juga menampilkan—dalam kekacaubalauan—kesucian, kesempurnaan, kasih: sifat-sifat Tuhan. Tak ada urusan dengan selera, itu saja. Dalam kondisi apapun, kau akan sepakat bahwa untuk aktor semacam dia (aktor siapapun, bahkan untuk Chamca, tapi sebagian besar memang untuk Chamca), <em>riweuh</em> perihal avatar, seperti Wishnu yang terlalu banyak mengalami metamorfosa, tidaklah mengejutkan. Lahir kembali: itu sifat Tuhan juga.</p>
<p>Atau, tetapi, yah… tidak selalu. Ada juga reinkarnasi sekuler. Jibril Farishta terlahir sebagai Ismail Najmuddin di Poona, British Poona, pada akhir busuk kerajaan itu, jauh sebelum ada Pune di Rajnees, dll (Pune, Vadodara, Mumbai; nama kota juga bisa berganti nama panggung sekarang ini). Ismail seperti nama anak yang dilibatkan dalam pengorbanan Ibrahim, dan Najmuddin—bintang agama; dan nama hebat itu dicampakkannya setelah memakai nama malaikat.</p>
<p>Setelah itu, saat pesawat—Bostan—berada dalam cengkraman pembajak, dan para penumpang—takut pada nasib yang akan menimpa mereka—kembali ke masa lalu, Jibril mengaku pada Saladdin Chamca tentang pilihan pseudonimnya yang tak lain adalah caranya menghormati kenangan pada ibunda. “Mamijiku, Spoono, Mamoku satu-satunya, karena dialah awal dari bisnis malaikat ini, malaikatnya pribadi, beliau memanggilku “farishta” karena aku teramat sangat manis, boleh percaya atau tidak, aku sama berharganya seperti emas saat itu.”</p>
<p>Poona tak dapat menampungnya; ketika bayi ia dibawa ke kota-sundal, migrasi pertamanya; ayahnya mendapat kerja sebagai pesuruh yang harus berlari, yang menginspirasi kuartet kursi roda di masa depan, pembawa makan siang atau dabbawalla di Bombay. Dan Ismail si farishta pun turut&#8211;di usia tiga belas&#8211;jejak ayahnya.</p>
<p>Jibril, tertahan di atas AI-420, tenggelam dalam rapsodi termaafkan, menatap Chamca dengan mata berkilau, mengejewantahkan misteri sistem kode para pelari, swastika hitam lingkaran merah garis miring titik kuning, benaknya membayangkan sedang berlari melewati seluruh rute dari rumah ke meja kantor, sistem yang hampir mustahil dimana dua ribu dabbawalla mengantar—setiap hari—lebih dari seratus ribu rantang makan siang, dan kalau kau apes, Spoono, bisa-bisa ada lima belas yang salah taruh, dan kami buta huruf—kebanyakan—dan tanda-tanda tersebut adalah bahasa rahasia diantara kami.</p>
<p>Bostan mengitari London, penembak berpatroli di lorong, dan lampu di kabin penumpang dimatikan, namun energi Jibril menerangi kemuraman. Pada layar film yang dekil, dimana pada awal perjalanan, Walter Matthau—tanpa bisa dicegah—jatuh mengaduh pada penampakan Goldie Hawn di udara, tiga bayangan bergerak, sebagai proyeksi nostalgia para tawanan, dan yang paling jelas terlihat diantara ketiganya adalah remaja kurus-jangkung, Ismail Najmuddin, malaikat mami dengan topi Gandhi, berlari-lari membawa manisan India ke seluruh penjuru kota. Dabbawalla muda itu melompat cepat melewati kerumunan bayang-bayang, karena dia terbiasa dengan kondisi itu, pikirkan, Spoono, mari berandai-andai, tiga-empat puluh rantang di nampan kayu panjang di atas kepalamu, dan ketika kereta lokal berhenti, kau mungkin hanya punya satu menit untuk mendorong dirimu masuk atau keluar, lalu lari ke jalan, begitu saja, yaar, bersama truk bis skuter sepeda dan semuanya, satu-dua, satu-dua, maksi, maksi, dabba harus lewat, saat hujan muson membanjiri rel dan kereta rusak, menembus air setinggi pinggang di jalanan banjir, belum lagi tukang palak, Salad baba, sungguh, kumpulan pencuri dabba terorganisir, kota itu lapar, sayang, kukasih tahu tuh, tapi kami bisa menanganinya, kami ada di mana-mana, tahu segalanya, yang tidak didengar dan dilihat para pemalak itu, kami tak pernah berpolitik, kami menjaga diri sendiri.</p>
<p>Malam harinya ayah beranak akan pulang ke gubuk keletihan melalui lintasan bandara di Santacruz, dan saat ibunya Ismail melihat putranya pulang, tersinari lelampuan hijau merah kuning dari pesawat jet yang akan terbang, ia akan berkata memandangnya saja sudah membuat mimpi jadi nyata, dan itu pertanda ada yang istimewa dari Jibril, karena sejak dari semula, sepertinya, ia dapat memenuhi hasrat paling rahasia dari setiap orang tanpa dia tahu caranya. Ayahnya, Najmuddin Senior, sepertinya tak keberatan istrinya hanya punya mata untuk anaknya seorang, bahwa telapak kaki putranya dipijat sang ibu tiap malam sementara ayahnya diacuhkan tak tersentuh. Seorang putra adalah berkah dan berkah perlu diberi penghargaan oleh mereka yang ketiban berkah.</p>
<p>Naima Najmuddin wafat. Sebuah bus menabraknya dan begitulah, Jibril tak ada di sekitar untuk menjawab doanya agar tetap hidup. Ayah dan anak itu tak pernah mengucap duka sepatahpun. Diam-diam, seakan semua adalah hal biasa dan seperti yang sudah seharusnya, mereka mengubur kesedihan dalam kerja lebih keras, mengadakan kontes yang tak pernah terucap keras-keras, tentang siapa yang paling banyak membawa dabba di kepalanya, siapa yang paling bisa mendapat kontrak paling baru setiap bulan, siapa yang berlari lebih cepat, seakan menunjukkan makin keras kerja maka makin besar cinta. Saat dia lihat sang ayah di malam hari, dengan simpul otot menyembul di leher dan pelipis tua, Ismail Najmuddin paham bagaimana sang ayah membencinya dan hal terpenting adalah mengalahkan sang putra dan, kemudian, kembali berjaya memenangkan kasih istri yang mati. Saat ia tersadar, pemuda itu melonggar, namun semangat ayah tak memudar, dan ia segera mendapat promosi, bukan lagi sebagai pelari namun salah satu muqaddam penyelenggara. Ketika Jibril berusia sembilan belas, Najmuddin Senior menjadi anggota serikat pekerja pelari-maksi, Asosiasi Pembawa Rantang Bombay, dan ketika Jibril dua puluh, ayahnya meninggal, berhenti saat sedang di jalurnya oleh stroke yang nyaris meledakkannya. “Dia melarikan dirinya ke tanah begitu saja,” ujar sekjen perserikatan, Babasaheb Mhatre. “Bajingan malang itu, dia kehabisan tenaga.” Namun si yatim-piatu itu tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ia tahu ayahnya telah lari cukup kencang dan lama untuk dapat menghancurkan pembatas antara dua dunia, ia akhirnya berlari keluar dari kulitnya untuk masuk ke dalam pelukan sang istri, pada siapa dia membuktikan, saat ini dan selamanya, superioritas cintanya. Beberapa orang migran memang senang sekali untuk berangkat.</p>
<p>Babasaheb Mhatre duduk dalam kantor biru di belakang pintu hijau di atas pasar labirin, sosok yang menakjubkan, segendut Buddha, salah satu kekuatan penggerak utama di metropolis, memiliki bakat dipuja untuk dapat duduk diam bergeming, tak pernah pindah dari ruangannya namun menjadi orang penting di mana-mana dan bertemu figur-figur terkemuka di Bombay. Sehari setelah ayah Ismail muda berlari menyeberang batas untuk bertemu Naima, Babasaheb memanggilnya. “Jadi? Kau sedih atau bagaimana?” Dijawab, dengan mata menatap lantai: ji, terima kasih, Babaji, saya baik-baik saja. “Diam,” sahut Babasaheb Mhatre. “Mulai saat ini kau tinggal denganku.” Tapitapi Babaji… “Hanya aku dan tanpa tapi. Sudah kukatakan ini pada istriku yang baik. Aku telah bersabda.” Tolong maafkan Babaji tapi bagaimana apa kapan? “Aku. Telah. Bersabda.”</p>
<p>Jibril Farishta tak pernah tahu mengapa Babasaheb akhirnya berbelaskasih mencabutnya dari ketiadaan masa depan di jalanan, namun setelah beberapa saat ia bisa mengira-ngira alasannya. Nyonya Mhatre adalah perempuan kurus, seperti pensil di samping Babasaheb yang mirip karet, namun luber dengan cinta keibuan hingga harusnya ia gemuk seperti kentang. Setiap Baba pulang ia akan masukkan permen dari tangannya ke mulut si suami, dan di malam hari si pendatang baru di rumah itu dapat mendengar Sekjen APRB memprotes, lepaskan aku, Ibu, aku bisa lepas baju sendiri. Saat sarapan ia suapi Mhatre dengan sesendok besar bubur, dan sebelum berangkat kerja ia sisir rambut suaminya. Mereka pasangan tanpa anak, dan Najmuddin muda mengerti mengapa Babasaheb ingin berbagi beban. Anehnya, Begum itu tidak memperlakukan si pemuda sebagai kanak-kanak. “Begini, dia sudah dewasa,” jawabnya saat Mathre yang malang memohon, “Berikan sesendok bubur jahanam itu ke si bocah.” Ya, dia sudah dewasa, “kita harus membuatnya jadi laki-laki, Bapak, bukan menimangnya.” “Kalau begitu, demi neraka,” Babasaheb meledak, “mengapa kau melakukannya padaku?” Tangis Nyonya Mhatre membuncah. “Karena kau segalanya bagiku,” ratapnya, “kau ayahku, kekasihku, dan juga bayiku. Kaulah tuanku dan anakku yang menyusu. Jika aku membuatmu tak senang, maka kematianku membentang.”</p>
<p>Babasaheb Mhatre, menerima kekalahan, menelan sesendok bubur sarapan.</p>
<p>Ia adalah lelaki yang baik yang dia tutupi dengan hinaan dan suara berisik. Untuk menghibur si pemuda yatim piatu ia akan bicara, dalam kantor biru, tentang filsafat kelahiran kembali, meyakinkan bahwa kedua orangtuanya sudah dijadwalkan untuk masuk kembali di suatu tempat entah di mana, kecuali hidup mereka sudah sedemikian suci hingga mendapat pengampunan terakhir. Jadi, Mhatre-lah yang memicu Farishta memulai urusan reinkarnasi ini, namun bukan sekedar reinkarnasi. Babasaheb adalah cenayang amatir, pengetuk kaki meja dan pembawa masuk arwah ke dalam gelas. “Tapi aku sudah tidak melakukannya,” katanya pada si anak asuh dengan banyak sekali penekanan, gestur dan kernyit melodramatis, “setelah aku berhenti dari kehidupanku yang jahanam ini.”</p>
<p>Satu kali (Mhatre menghitung) gelas ini dikunjungi arwah yang paling bersahabat, terlalu bersahabat, malah, jadi, kupikir aku bisa menanyakan satu pertanyaan besar padanya. “Apakah Tuhan itu ada”, dan gelas yang tadinya berlarian seperti tikus mendadak berhenti begitu saja, di tengah meja, tak bergerak sedikit pun, benar-benar deg, mandeg. Lalu kemudian, baiklah, kataku, jika kau tak mau jawab, yang ini saja, dan aku langsung meluncurkan pertanyaan, “Apakah Setan itu ada”. Selanjutnya gelas itu—baprebap!—mulai bergetar—dengar baik-baik!—pelanpelan awalnya, lalu cepat—lebih cepat seperti agar, lalu dia lompat!—ai-hai!—dari meja, ke udara, jatuh ke samping, dan—o-ho!—pecah berkeping-keping, hancur. Percaya nggak percaya, Babasaheb Mhatre ini sedang bercerita, namun saat itu dan di situ aku dapat pelajaran: jangan turut campur, Mhatre, untuk urusan yang tidak kau pahami.</p>
<p>Cerita ini memiliki efek mendalam bagi si pendengar muda, karena bahkan sebelum ibunya mati ia yakin akan adanya dunia supernatural. Kadangkala ketika dia memandang sekeliling, terutama di terik siang yang merubah udara jadi pekat, dunia nyata, seluruh ciri khas dan para penghuni dan semua diantaranya nampak berdiri tegak di permukaan atmosfir seperti tebaran gunung es panas, dan menurutnya semua juga terjadi di bawah permukaan udara lembab: manusia, motor, anjing, papan iklan film, pepohonan, Sembilan per sepuluh kenyataan yang disembunyikan dari mata. Ia akan berkedip, lalu ilusi itu menghilang, tapi apa yang dirasakannya tak pernah hilang benar-benar. Ia tumbuh dengan kepercayaan terhadap Tuhan, malaikat, iblis, iprit, jin, sebagai hal yang nyata seakan semua itu hanya gerobak lembu atau tiang lampu, dan menurutnya indera penglihatannya tidak bekerja semestinya karena dia tak pernah melihat hantu. Ia bermimpi menemukan ahli mata kemudian membeli kacamata bersepuh warna hijau cerah penyembuh rabun dekat yang ia sesali, setelah itu dia akan mampu menembus udara padat membutakan, melihat dunia menakjubkan di baliknya.</p>
<p>Dari ibunya, Naima Najmuddin, telah banyak ia dengar kisah Nabi yang agung, dan jika terdapat ketidakakuratan dalam versi si ibu dia tidak tertarik mengetahuinya. “Lelaki hebat!” begitu pikirnya. “Malaikat macam mana yang tidak ingin bicara dengannya?” Namun kadangkala ia sadar sedang berpikir tentang hal-hal yang menistai, contohnya, tanpa maksud apapun, saat hampir pulas di kasurnya di kediaman keluarga Mhatre, ninabobo itu mulai membandingkan keadaannya dengan Sang Nabi pada saat menjadi yatim dan miskin, lalu ia sukses bekerja sebagai manajer bisnis si janda kaya bernama Khadijah, dan akhirnya ia nikahi. Saat ia terlelap ia lihat dirinya duduk di singgasana jalinan mawar, tersenyum samar-samar di balik kain sari yang ia sampirkan malu-malu menutupi wajah, saat suami barunya, Babasaheb Mhatre, merengkuhnya penuh kasih lalu melucuti kain di seluruh tubuh, menatap lekuk-lekuknya melalui cermin di pangkuan. Mimpi menikahi Babasaheb membuat ia terbangun dengan wajah memerah panas karena malu, dan ia mulai khawatir tentang ketidaksucian dalam benaknya bisa menciptakan fantasi semacam itu.</p>
<p>Namun dalam sebagian besar kejadian dalam hidupnya, keyakinan agama adalah hal yang tak terlalu berkembang, bagian dari dirinya yang tak terlalu menuntut perhatian lebih, sama seperti hal-hal lain. Ketika Babasaheb Mhatre membawa Jibril ke rumah untuk meyakinkan bahwa dia tidak sendiri, bahwa ada yang menjaganya, sudah tentu dia tidak kaget-kaget amat saat Babasaheb memanggilnya masuk ke kantor biru pada suatu pagi di ulangtahunnya ke dua satu dan menjebaknya tanpa dia punya persiapan mendengarkan apa yang ditawarkan.</p>
<p>“Kau dipecat,” ujar Mhatre memberi penekanan, seperti bersinar. “Ke Kasir, minta uangmu. Sana keluar.”</p>
<p>“Tapi, paman,”</p>
<p>“Diam.”</p>
<p>Lalu Babasaheb memberi hadiah terbesar pada si yatim, memberitahukannya bahwa pertemuan sudah diatur di studio, dengan seorang legenda paling berpengaruh dalam dunia perfilman Tuan D. W. Rama; audisi. “Ini hanya untuk penampilan saja,” ujar Babasaheb. “Rama adalah kawan baikku dan kami telah bicara. Kau bisa mulai dengan peran kecil, kemudian semua terserah padamu. Sekarang pergi dari hadapanku dan hentikan wajah sok merendahmu itu. Nggak pantas.”</p>
<p>“Tapi, paman,”</p>
<p>“Kamu itu terlalu tampan untuk menjunjung-junjung rantang di kepala seumur hidup. Sekarang pergi, pergi, jadilah aktor film homoseksual. Aku sudah memecatmu lima menit yang lalu.”</p>
<p>“Tapi, paman,”</p>
<p>“Aku telah bersabda. Berterimakasihlah pada bintang keberuntunganmu.”</p>
<p>Ia kemudian menjadi Jibril Farishta, namun selama empat tahun dia tidak menjadi bintang, menjalani masa magangnya dengan keberhasilan minor komikal yang lumayan nendang. Ia tetap tenang, tak bergegas, seakan ia sudah lihat masa depannya, dan kurangnya ambisi ini membuat ia seperti orang luar di industri yang paling mencari dan dicari ini. Orang menganggapnya bodoh atau sombong atau gabungan keduanya. Dan selama empat tahunnya yang liar itu tak sekalipun ia mencium bibir perempuan.</p>
<p>Gambar diambil dari <a title="Rushdie's Notes" href="http://www.wsu.edu/~brians/anglophone/satanic_verses/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p><em><strong>Glosarium</strong></em>:</p>
<p><em>Baba</em>: Panggilan untuk lelaki yang lebih tua, semacam Bapak.</p>
<p><em>Babasaheb</em>: Merujuk pada B. R. Ambedkar, seorang tokoh politik, praktisi hukum, aktivis Budhis India. Keterangan lebih lanjut, baca <a title="Babasahed" href="http://en.wikipedia.org/wiki/B._R._Ambedkar" target="_blank">ini</a>.</p>
<p><em>Yaar</em>: Panggilan untuk sahabat, semacam <em>dude</em> dalam bahasa Inggris.</p>
<p><em>Gazal</em>: Sajak klasik dari Persia. Keterangan, lihat di <a title="Gazal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ghazal" target="_blank">sini</a>.</p>
<p><em>Begum</em>: Dalam bahasa Hindi sehari-hari, kata ini digunakan oleh kaum laki-laki di Asia Selatan untuk merujuk kepada istri mereka sendiri atau kepada seorang perempuan yang sudah menikah atau yang menjanda.</p>
<p><em>James Thomson</em>: Penyair dan penulis naskah drama dari Skotlandia, karyanya yang terkenal adalah <em>The Seasons </em>dan lirik <em>Rule, Brittania!</em></p>
<p><strong>Untuk catatan lebih lanjut tentang buku ini lihat di <a title="Notes" href="http://www.wsu.edu/~brians/anglophone/satanic_verses/" target="_blank">sini</a>.</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/project-dream/'>Project: Dream</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/salman-rushdie/'>Salman Rushdie</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=96&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/01/06/satanicverse1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7141f937f5fa647f42e8ed05655ae478?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2011/01/durer.gif?w=725" medium="image">
			<media:title type="html">durer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Monyet Shinagawa [II]</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/09/18/monyet-shinagawa-ii/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/09/18/monyet-shinagawa-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Sep 2010 23:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bitch, The</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>
		<category><![CDATA[Murakami]]></category>
		<category><![CDATA[Shinagawa]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Mizuki menghadap meja belajar, mendengar radio di dalam kamar saat terdengar ketukan lembut. Ketika pintu dibuka, Yuko Matsunaka berdiri di hadapannya, mengenakan kaos polo ketat yang dikancing hingga leher dan celana jins. Aku ingin bicara denganmu, kata Yuko, jika kau ada waktu. “Tentu,” jawab Mizuki, jelas-jelas terkejut. “Aku sedang senggang kok.” Mizuki belum pernah sekali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=88&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/09/imf020-gry-funny-monkey-banana-tee-shirt.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-90" title="IMF020-GRY-Funny-Monkey-Banana-tee-shirt" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/09/imf020-gry-funny-monkey-banana-tee-shirt.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Mizuki menghadap meja belajar, mendengar radio di dalam kamar saat terdengar ketukan lembut. Ketika pintu dibuka, Yuko Matsunaka berdiri di hadapannya, mengenakan kaos polo ketat yang dikancing hingga leher dan celana jins. Aku ingin bicara denganmu, kata Yuko, jika kau ada waktu. “Tentu,” jawab Mizuki, jelas-jelas terkejut. “Aku sedang senggang <em>kok</em>.” Mizuki belum pernah sekali pun bicara berdua saja dengan Yuko. Ia juga tak pernah menyangka Yuko akan datang ke kamarnya dan meminta pendapatnya tentang sesuatu. Mizuki memintanya duduk dengan gerakan lembut kemudian membuat teh dari air panas dalam termos yang ada di kamar.</p>
<p>“Mizuki, kau pernah merasa cemburu?” tanya Yuko memulai percakapan.</p>
<p>Mizuki terkejut dengan pertanyaan mendadak ini, namun ia tetap serius mencari jawabannya.</p>
<p>“Tidak, kurasa tidak pernah,” jawabnya.</p>
<p>“Tidak sekali pun?”</p>
<p>Mizuki menggelengkan kepala. “Setidaknya jika kau bertanya mendadak seperti tadi, aku tidak ingat sama sekali. Cemburu… Maksudmu yang seperti apa?”</p>
<p>“Misalnya ketika kau mencintai seseorang tapi dia mencintai orang lain. Saat kau menginginkan sesuatu dengan amat sangat namun sulit kau miliki, orang lain dengan mudah mendapatkannya. Atau ada yang ingin sekali kau lakukan tapi tak bisa dan orang lain dengan mudah melakukannya… Hal-hal semacam itu.”</p>
<p>“Rasanya… tidak pernah,” ujar Mizuki. “Kau pernah?”</p>
<p>“Sering.”</p>
<p>Mizuki tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana mungkin seorang gadis seperti Yuko menginginkan sesuatu yang lebih lagi? Ia cantik, kaya, nilai-nilainya bagus, dan populer. Orangtuanya begitu sayang pada Yuko. Menurut gosip, Yuko berkencan dengan mahasiswa tampan. Jadi, bagaimana mungkin ia menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang ia miliki sekarang?</p>
<p>“Misalnya apa?”</p>
<p>“Aku tidak mau menjawab,” sahutnya, berhati-hati memilih kata. “Lagipula, itu tidak penting. Aku hanya ingin bertanya satu hal tadi—apakah kau pernah merasa cemburu.”</p>
<p>“Sungguh?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>Mizuki bingung menghadapi Yuko, namun ia berusaha menjawab sejujurnya. “Kurasa aku tidak pernah mengalami hal seperti itu,” ujar Mizuki memulai penjelasannya. “Aku tidak mengerti, kupikir-pikir memang agak aneh. Maksudku, bukan berarti aku memiliki percaya diri tinggi. Dan aku juga tidak selalu mendapat apa yang kuinginkan. Seharusnya <em>sih</em>, ada banyak hal yang membuatku frustasi, namun untuk alasan apapun, semua itu tidak dapat membuatku cemburu terhadap orang lain. Itu membuatku heran.”</p>
<p>Yuko Matsunaka tersenyum samar. “Kurasa cemburu tidak ada hubungannya dengan kondisi yang sesungguhnya. Bukan seperti &#8220;jika kau beruntung, kau tidak akan merasa cemburu; namun jika kau tidak diberkahi dengan keberuntungan, maka kau akan merasa cemburu.&#8221; Tidak, bukan seperti itu cara kerjanya cemburu. Cemburu itu seperti tumor yang diam-diam tumbuh dalam tubuh, makin besar dan besar sampai tak terhingga. Bahkan jika kau tahu tumor itu ada di sana, tak ada yang bisa kau lakukan untuk membuatnya berhenti tumbuh. Seperti kau bilang &#8220;orang beruntung tidak mengidap tumor sementara mereka yang tidak bahagia akan lebih mudah terjangkit&#8221;—tapi itu bohong, <em>kan</em>? Sebenarnya dua hal itu sama saja.”</p>
<p>Mizuki hanya mendengarkan tanpa berkata apa-apa. Seumur hidupnya, baru kali ini Yuko banyak bicara dalam sekali waktu.</p>
<p>“Sulit menjelaskan apa itu cemburu pada seseorang yang tak pernah merasakannya. Satu hal yang aku tahu adalah tidak mudah hidup dengan kecemburuan. Kau seakan memanggul neraka kecilmu sendiri kemana-mana, setiap hari. Kau harusnya bersyukur tak pernah merasa seperti itu.”</p>
<p>Yuko berhenti bicara dan memandang Mizuki dalam-dalam dan tatapannya itu membentuk lengkungan samar di bibirnya. Anak ini memang cantik, begitu pikir Mizuki. Baju bagus, dada indah. Bagaimana ya rasanya menjadi dia, menjadi perempuan yang bisa membuat jalanan macet setiap ia melintas? Apakah ini sebuah berkah yang patut dibanggakan? Atau hanya menjadi kutukan?</p>
<p>Terlepas dari apa yang dipikirkan, Mizuki tak pernah sekalipun iri pada Yuko.</p>
<p>“Aku akan pulang nanti,” ujar Yuko, memandangi tangannya yang terlipat di pangkuan. “Salah satu kerabatku meninggal dunia dan aku harus menghadiri upacara pemakaman. Aku sudah mendapat izin dari kepala asrama. Mungkin aku akan kembali Senin pagi. Sementara itu, apakah aku boleh menitipkan tanda pengenalku padamu?”</p>
<p>Yuko menarik tanda pengenal dari saku dan menyerahkannya pada Mizuki—yang sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.</p>
<p>“Aku tak keberatan dititipi,” Mizuki berkomentar. “Tapi apakah tidak lebih baik jika kau menyimpannya dalam laci? Mengapa harus repot-repot datang ke kamarku?”</p>
<p>Yuko menatap lebih dalam ke sepasang mata Mizuki dan membuatnya resah.</p>
<p>“Aku ingin kau menyimpannya sekali ini saja,” tukas Yuko terus-terang. “Ada sesuatu yang membuatku terganggu dan aku tak ingin menyimpannya di kamarku.</p>
<p>“Aku tidak keberatan,” jawab Mizuki.</p>
<p>“Aku tak ingin tanda pengenalku dicuri monyet saat aku tak di sini,” sahut Yuko.</p>
<p>“Rasanya tidak ada monyet seekor pun di sekitar sini,” tukas Mizuki riang. Tidak, Yuko tidak bergurau. Lalu Yuko meninggalkan kamar Mizuki, meninggalkan tanda pengenalnya, secangkir teh tak tersentuh, serta kehampaan di tempat Yuko berada sebelumnya.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>*</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p>“Yuko belum juga kembali di hari Senin,” kata Mizuki melanjutkan cerita pada konselornya, Ibu Sakaki. “Wali kelasnya khawatir lalu menghubungi orangtua Yuko. Ternyata gadis itu tak pernah sampai rumah. Tak ada seorang pun kerabatnya berpulang, dan tak ada satu pun upacara pemakaman yang harus didatangi. Yuko berbohong tentang semuanya lalu menghilang. Mereka menemukan mayatnya seminggu kemudian, di akhir pekan. Aku mendengar beritanya sekembali dari pulang mingguan di Nagoya. Ia bunuh diri di sebuah hutan dengan mengiris nadi. Yuko telah wafat ketika mereka menemukannya berkubang darah sendiri. Tak ada yang tahu mengapa ia melakukan itu. Ia tidak meninggalkan surat perpisahan, dan tidak jelas motifnya apa. Teman sekamarnya bilang Yuko tidak berlaku aneh-aneh sebelum ia pergi. Semuanya seperti biasa, dan ia tidak terlihat resah atau terganggu karena sesuatu. Yuko bunuh diri tanpa mengatakan apapun pada siapapun.”</p>
<p>“Namun bukankah Nona Matsunaka ini mencoba mengatakan sesuatu kepada Anda?” tanya Ibu Sakaki. “Itu sebabnya ia mendatangi Anda dan meninggalkan tanda pengenalnya. Dan bicara tentang cemburu.”</p>
<p>“Memang benar dia membicarakan bagaimana cemburu itu dengan saya. Tapi saya tak begitu paham maksudnya saat itu, walaupun kemudian saya baru sadar pasti ada yang ingin disampaikan sebelum ia tiada.”</p>
<p>“Apakah Anda pernah bicara pada orang lain tentang Yuko yang mendadak datang pada Anda sebelum meninggal?”</p>
<p>“Tidak. Tidak pernah.”</p>
<p>“Mengapa?”</p>
<p>Mizuki menelengkan kepala. Dari wajahnya ia terlihat sedang berpikir keras. “Jika saya menceritakan hal ini pada orang lain, mereka akan mulai berpikir ada yang salah dengan saya. Gadis seperti Yuko tak punya alasan untuk merasa iri. Semua orang pasti akan bingung, lalu mereka akan berpikir macam-macam. Jadi, lebih baik saya tutup mulut. Anda dapat bayangkan bagaimana suasana di asrama perempuan—jika saya mengucapkan satu kata saja, maka itu seperti menyalakan korek dalam ruangan berisi gas.”</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan tanda pengenal tersebut?”</p>
<p>“Saya masih memilikinya. Di dalam kotak, di tumpukan barang-barang lain dalam lemari, bersama tanda pengenal milik saya sendiri.”</p>
<p>“Mengapa Anda masih menyimpannya?”</p>
<p>“Di sekolah terjadi kekacauan setelah itu, dan saya tidak punya kesempatan mengembalikan tanda pengenal Yuko ke tempatnya. Semakin lama saya menunggu, semakin sulit bagi saya untuk menaruh tanda pengenal itu ke tempatnya semula. Namun saya juga tidak bisa membuangnya begitu saja. Lagipula, mungkin Yuko ingin saya menyimpannya. Karena itulah ia datang ke kamar saya sebelum bunuh diri dan meninggalkannya pada saya. Mengapa ia memilih saya, saya juga tidak tahu.”</p>
<p>“Agak aneh. Anda dan Yuko tidak begitu dekat, <em>kan</em>?”</p>
<p>“Jika Anda tinggal di sebuah asrama kecil, wajar sekali jika Anda akhirnya mengenal siapa teman-teman Anda,” kata Mizuki. “Kadang kami ngobrol sedikit. Tapi saya dan Yuko beda angkatan dan belum pernah bicara secara pribadi sampai saat itu. Mungkin alasannya menemui saya karena saya adalah perwakilan siswa di asrama. Mengapa ia memilih saya, saya juga tak mengerti.”</p>
<p>“Mungkin Yuko tertarik pada Anda karena alasan lain. Mungkin ada sesuatu di diri Anda yang membuatnya mendekati Anda.”</p>
<p>“Kalau itu… Saya tidak tahu juga.”</p>
<p>Ibu Sakaki terdiam menatap Mizuki lama-lama, seolah ingin memastikan sesuatu.</p>
<p>“Setelah semua yang terjadi, Anda tidak pernah merasa cemburu? Tidak sekali pun di hidup Anda?”</p>
<p>Mizuki tidak langsung menjawab. “Sepertinya tidak. Tidak pernah sedikitpun.”</p>
<p>“Jadi, Anda tak bisa memahami apa itu cemburu?”</p>
<p>“Secara umum saya rasa saya paham—setidaknya apa yang menyebabkan perasaan cemburu. Tapi saya tidak mengerti bagaimana <em>rasa</em>nya. Bagaimana kecemburuan itu begitu menguasai, sampai berapa lama, dan bagaimana menderitanya mereka yang mengalami.”</p>
<p>“Anda benar,” tukas Ibu Sakaki. “Ada beberapa tahapan dalam rasa cemburu, sebagaimana semua emosi dan perasaan manusia. Jika tidak terlalu serius, mereka menyebutnya resah atau iri. Mungkin intensitasnya berbeda, namun sebagian besar orang merasakan emosi-emosi tersebut meskipun sedikit. Misalnya, jika salah seorang rekan kerja mendapat promosi terlebih dahulu, atau salah satu teman di kelas menjadi kesayangan guru. Atau ada tetangga yang menang lotere. Semua itu hanya rasa iri. Kelihatannya tidak adil, dan Anda jadi sedikit marah. Reaksi ini alami sekali. Anda yakin tak pernah merasakannya? Anda tak pernah merasa iri pada siapapun?”</p>
<p>Mizuki berpikir sejenak. “Sepertinya tidak. Memang banyak orang yang lebih beruntung daripada saya. Tapi itu bukan berarti saya harus iri dengan mereka. Saya sadar hidup orang punya jalannya sendiri-sendiri.”</p>
<p>“Karena hidup tiap orang berbeda, maka Anda sulit membandingkannya?”</p>
<p>“Sepertinya begitu.”</p>
<p>“Sudut pandang yang menarik…” ujar Ibu Sakaki. Tangannya saling menggenggam di atas meja dan suaranya yang santai menyiratkan sedikit perasaan senang. “Ngomong-ngomong, ini hanya kasus ringan: iri, seperti yang sudah kita ketahui. Jika ada hubungannya dengan kecemburuan menghebat, semua tidak akan sederhana lagi. Kecemburuan seperti parasit yang menghunjamkan akarnya ke hati Anda. Dan seperti yang dikatakan teman Anda, kecemburuan itu menjadi kanker yang menggerogoti jiwa. Dalam beberapa kasus, perasaan cemburu itu bahkan dapat menimbulkan kematian. Mereka tidak bisa mengendalikannya, dan kehidupan menjadi neraka bagi mereka.”</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Sesampai Mizuki di rumah, ia mengambil kotak karton terbungkus pita dari dalam lemari. Ia menaruh tanda pengenal Yuko di dalamnya, beserta tanda pengenalnya sendiri yang ia masukkan ke dalam amplop. Harusnya benda-benda itu masih ada di sana. Semua pernak-pernik kenang-kenangan dalam hidup Mizuki berjejalan dalam kardus itu—surat-surat lama ketika ia masih SMA, buku harian, album foto, rapor. Sudah sejak lama ia ingin membuangnya, namun Mizuki terlalu sibuk. Jadi, ia membawanya ke mana pun ia pindah. Namun amplop itu tidak ada di situ dan di manapun. Ia tumpahkan isi kotak dan disortirnya satu per satu, namun tak juga ditemukannya. Mizuki heran. Pertama kali ia pindah ke apartemen, ia telah mengecek isi kotak dan ingat betul telah melihat amplopnya, dan tidak membuka-buka kotak tersebut sampai saat ini. Jadi, harusnya amplop masih ada. Kemana amplop itu menghilang?</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Sejak Mizuki rutin mengunjungi pusat konseling yang disponsori kawasan perkantorannya seminggu sekali dan bicara dengan Ibu Sakaki, ia tidak terlalu khawatir tentang melupakan nama. Ia memang masih sering melupa seperti sebelumnya, namun gejalanya sudah stabil sekarang, dan tak ada lagi yang diam-diam menghilang dari ingatannya. Sejak ia mengenakan gelang, tak ada lagi saat-saat memalukan. Mizuki bahkan kerap merasa bahwa melupakan nama adalah hal yang alami.</p>
<p>Mizuki merahasiakan sesi konsultasinya dari sang suami. Ia tidak bermaksud menyembunyikannya juga, namun ia merasa akan lebih menyulitkan untuk menjelaskan semuanya alih-alih mendatangkan manfaat bagi mereka. Mizuki tahu benar sifat suaminya, dan ia pasti menuntut penjelasan secara terperinci. Lagipula, melupakan namanya sendiri dan menemui jasa konseling sekali seminggu tidak mengganggu si suami sama sekali. Karena biayanya sangat sedikit.</p>
<p>Dua bulan berlalu. Tiap Rabu Mizuki pergi mengunjungi kantor di lantai tiga untuk sesi konselingnya. Jumlah klien telah bertambah dan mereka harus mematuhi jadwal pertemuan yang berdurasi tiga puluh menit itu. Waktu yang berkurang tidak begitu merepotkan mereka berdua karena mereka telah berada dalam frekuensi yang sama dan dapat memanfaatkan waktu yang sedikit sebaik-baiknya. Terkadang Mizuki ingin mereka bicara lebih lama. Namun dengan biaya yang amat sangat rendah, ia tidak dapat meminta lebih.</p>
<p>“Ini sesi kita yang ke sembilan,” ujar Ibu Sakaki, lima menit sebelum waktu mereka berakhir. “Anda tidak lebih sering melupakan nama dan kejadian ini tidak semakin buruk, <em>kan</em>?”</p>
<p>“Tidak,” jawab Mizuki. “Gejalanya sudah tetap sekarang.”</p>
<p>“Baguslah kalau begitu,” tukas Ibu Sakaki. Ia menutup pulpen, menaruhnya kembali ke dalam saku, lalu menangkupkan tangan di atas meja. Ia berhenti sejenak. “Mungkin—ini baru mungkin <em>lho, ya</em>—jika Anda kembali ke sini minggu depan, kita akan membuat kemajuan dalam pembahasan beberapa minggu ini.”</p>
<p>“Maksud Anda tentang bagaimana saya melupakan nama sendiri?”</p>
<p>“Tepat. Jika semua berjalan lancar, kita akan dapat menentukan penyebab definitif dan mungkin saya dapat menunjukkannya pada Anda.”</p>
<p>“Alasan mengapa saya melupakan nama sendiri?”</p>
<p>“Tentu.”</p>
<p>Mizuki tidak begitu dapat mencerna apa yang dikatakan Ibu Sakaki. “Anda mengatakan ‘penyebab definitif’, apakah itu berarti… sesuatu yang kasat mata?”</p>
<p>“Tentu saja, dan Anda dapat melihatnya,” jawab Ibu Sakaki sambil menggosok-gosok tangan tanda puas. “Ini sesuatu yang dapat Anda letakkan di meja sambil berkata “Ini, lho!” Saya tak bisa mengatakannya secara terperinci hingga minggu depan. Pada titik ini, saya tidak begitu yakin apakah semua akan berjalan secara semestinya atau tidak. Saya harap bisa lancar. Dan jika harapan saya terkabul, jangan khawatir. Saya akan jelaskan semuanya pada Anda.”</p>
<p>Mizuki mengangguk.</p>
<p>“Yang ingin saya katakan adalah, kita telah berputar-putar membicarakan hal ini, namun akhirnya kita melihat satu titik terang. Anda tahu <em>kan</em>, pepatah lama, tentang hidup itu terkadang mundur dua langkah untuk maju tiga langkah? Jadi, jangan khawatir. Percayalah pada Sakaki tua ini. Sampai jumpa minggu depan kalau begitu. Dan jangan lupa untuk membuat janji temu di resepsionis depan.”</p>
<p>Ibu Sakaki menegaskan sambil mengedipkan sebelah mata dan tersenyum.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Pukul satu siang pada minggu berikutnya, ketika Mizuki masuk ke ruang konseling, Ibu Sakaki duduk di belakang meja dengan senyum paling lebar yang pernah dilihat Mizuki.</p>
<p>“Sepertinya saya sudah menemukan alasan mengapa Anda bisa lupa nama sendiri,” katanya, mengumumkan dengan bangga. “Dan kami telah menemukan solusinya.”</p>
<p>“Jadi, nanti saya tidak akan lupa lagi?” tanya Mizuki.</p>
<p>“Tepat sekali. Anda tidak akan lagi melupakan nama sendiri. Kami telah menemukan masalahnya dan berhasil mengatasinya.”</p>
<p>“Apa akar masalahnya kalau begitu?” tanya Mizuki ragu-ragu.</p>
<p>Dari dalam tas enamel berwarna hitam di sampingnya, Ibu Sakaki mengambil sesuatu dan meletakkannya di atas meja.</p>
<p>“Saya rasa ini milik Anda.”</p>
<p>Mizuki bangkit dari sofa tempatnya duduk berjalan menuju meja. Di atas meja tersebut terdapat dua tanda pengenal. Salah satunya bertuliskan ‘Mizuki Ozawa’ sementara yang lain ‘Yuko Matsunaka’. Wajah Mizuki mendadak pucat. Ia menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa, sejenak tak bisa berkata-kata. Kedua tangannya menutupi mulut, seolah menahan agar kata-kata tidak berhamburan keluar.</p>
<p>“Saya tidak heran jika Anda sangat terkejut,” ujar Ibu Sakaki. “Tapi jangan khawatir. Saya akan jelaskan semuanya. Santai saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.”</p>
<p>“Tapi bagaimana Anda—?” Mizuki bertanya, kebingungan.</p>
<p>“Bagaimana saya mendapatkan tanda pengenal Anda di masa sekolah?”</p>
<p>“Ya. Saya tidak—”</p>
<p>“Anda tidak mengerti?”</p>
<p>Mizuki mengangguk.</p>
<p>“Saya menemukannya untuk Anda,” ujar Ibu Sakaki. “Tanda pengenal tersebut dicuri, karena itulah Anda kesulitan mengingat nama sendiri. Jadi, kami harus mencari dan menemukan tanda pengenal itu agar Anda tidak lupa lagi.”</p>
<p>“Tapi siapa yang—”</p>
<p>“Siapa yang masuk ke dalam rumah dan mencuri kedua tanda pengenal ini? Dan untuk tujuan apa?” ujar Ibu Sakaki. “Daripada saya yang menjawab, akan lebih baik jika Anda mendengar sendiri dari pelakunya.”</p>
<p>“Pelakunya ada di <em>sini</em>?” tanya Mizuki, masih terkejut.</p>
<p>“Tentu saja. Kami menangkapnya dan merebut kembali kedua tanda pengenal tersebut. Saya tidak mencokoknya sendiri, tentu. Semua dilakukan oleh suami saya dan salah satu anak buahnya. Anda ingat <em>kan</em>, saya pernah cerita bahwa suami saya bekerja sebagai Kepala Seksi Kantor Pekerjaan Umum Shinagawa?”</p>
<p>Mizuki mengangguk tanpa berpikir.</p>
<p>“Jadi, bagaimana kalau kita pergi sekarang dan bertemu si pencuri? Anda bisa mengomelinya langsung jika sudah bertemu muka.”</p>
<p>Mizuki membuntuti Ibu Sakaki keluar kantor konseling, berjalan di sepanjang lorong lalu bebelok ke lift. Mereka turun di <em>basement</em>, menyusuri koridor panjang dan sepi dan berhenti di ujung, di depan sebuah pintu. Ibu Sakaki mengetuk. Terdengar suara lelaki memintanya masuk sebelum Ibu Sakaki membuka pintu.</p>
<p>Di dalam ruangan tersebut ada seorang pria tinggi dan kurus berusia limapuluhan dan lelaki lain bertubuh lebih besar berusia awal duapuluhan. Mereka mengenakan baju kerja warna krem muda. Lelaki yang lebih tua mengenakan tanda pengenal bertuliskan ‘Sakaki’, sementara satunya ‘Sakurada’ dengan tongkat pemukul di tangannya.</p>
<p>“Anda pasti Ibu Mizuki Ando, ya?” tanya Pak Sakaki. “Saya Yoshio Sakaki, suami Tetsuko. Saya kepala seksi Kantor Pekerjaan Umum di sini. Dan ini Sakurada, rekan kerja saya.”</p>
<p>“Senang bertemu Anda,” sahut Mizuki.</p>
<p>“Apa si penjahat itu merepotkanmu?” tanya Bu Mizuki pada suaminya.</p>
<p>“Tidak. Dia seperti sedang merenungkan situasi ini, kurasa,” jawabnya. “Sakurada ini yang mengawasi sepanjang pagi, dan tampaknya dia tidak menyulitkan sama sekali.”</p>
<p>“Dia tenang <em>kok</em>,” Sakurada menanggapi, seperti kecewa. “Sekali saja dia berulah, saya akan memberinya pelajaran. Sayangnya tidak.”</p>
<p>“Sakurada ini kapten tim karate di Universitas Meiji dan orangnya sangat tangkas,” tukas Pak Sakaki.</p>
<p>“Jadi—siapa yang masuk ke rumah saya dan mencuri tanda pengenal itu?” Mizuki bertanya.</p>
<p>“Wah, kalau begitu, mari kita perkenalkan Ibu Mizuki padanya,” sahut Ibu Sakaki.</p>
<p>Ada pintu lain di ruang belakang. Sakurada membuka pintu dan menyalakan lampu. Ia menyapu ruangan dengan tatapannya sebelum menoleh ke orang-orang di belakangnya. “Sepertiya aman. Ayo masuk.”</p>
<p>Pak Sakaki masuk terlebih dahulu, diikuti istrinya kemudian Mizuki mengekor di belakang.</p>
<p>Ruangan itu seperti gudang. Tak ada perabotan, hanya sebuah kursi tempat seekor monyet duduk. Untuk ukuran monyet, dia tak bisa dibilang normal—lebih kecil dari ukuran manusia dewasa namun lebih besar dari anak usia sekolah. Rambutnya lebih panjang dari rambut monyet pada umumnya dan berbintik abu-abu. Sulit menebak umurnya, tapi bisa dipastikan ia tidak lagi muda. Tangan dan kaki si monyet terikat erat ke kursi kayu. Ekornya terjuntai hingga lantai. Saat Mizuki memasuki ruangan, monyet itu melirik sejenak ke arahnya lalu kembali terpekur.</p>
<p>“Seekor monyet?” Mizuki bertanya, kaget.</p>
<p>“Benar,” jawab Ibu Sakaki. “Seekor monyet lah yang mencuri tanda pengenal dari dalam rumahmu.”</p>
<p><em>Aku tak ingin tanda pengenalku dicuri monyet saat aku tak di sini</em>, kata Yuko dulu. Jadi, apa yang dikatakannya sama sekali bukan lelucon konyol. Yuko tahu itu. Mendadak, Mizuki merasa hawa dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya.</p>
<p>“Tapi bagaimana Anda—?”</p>
<p>“Bagaimana saya tahu semua ini? <em>Kan </em>saya sudah bilang pertama kali kita bertemu, saya profesional. Praktisi berlisensi dengan banyak pengalaman. Jangan menilai orang dari luarnya. Jangan dikira jasa konseling di kantor kecil dengan bayaran sangat murah kurang terampil ketimbang yang berada di kantor-kantor megah.”</p>
<p>“Tidak, bukan itu. Saya hanya terkejut, dan saya—”</p>
<p>“Ah, saya <em>kan</em> cuma bercanda!” Ibu Sakaki tertawa. “Sejujurnya, saya tahu saya memang sedikit aneh. Karena itulah organisasi psikologi, akademia dan saya tidak pernah sejalan. Saya memilih jalan sendiri di tempat seperti ini. Karena, seperti yang Anda lihat sendiri, cara saya melakukan sesuatu memang sangat tidak ortodoks.”</p>
<p>“Namun efektif,” timpal suaminya.</p>
<p>“Jadi… Monyet ini mencuri tanda pengenal?” tanya Mizuki.</p>
<p>“Ya. Dia menyusup ke dalam rumah Anda dan mencuri tanda pengenal dari dalam lemari. Waktunya kira-kira berbarengan dengan ketika Anda mulai melupakan nama. Setahun lalu, bukan?”</p>
<p>“Ya, kira-kita begitu.”</p>
<p>“Aku minta maaf,” ujar si monyet, angkat bicara untuk pertama kalinya. Suaranya rendah namun bersemangat, hampir berirama seperti musik.</p>
<p>“Dia bisa bicara!” teriak Mizuki, kaget.</p>
<p>“Ya, memang,” sahut si monyet dengan ekspresi datar tak berubah. “Ada hal lain lagi yang membuatku harus minta maaf. Ketika aku menyusup ke rumahmu untuk mencuri tanda pengenal itu, aku mencuri pisang. Tadinya aku tak berniat mengambil apapun kecuali tanda pengenal tersebut, tapi aku lapar sekali waktu itu. Dan meskipun aku tahu itu tidak pantas, aku tak dapat menahan diri untuk tidak mengambil dua buah pisang di atas meja. Pisang-pisang itu terlalu menggiurkan untuk dilewatkan begitu saja.”</p>
<p>“Punya nyali juga bangsat ini,” tukas Pak Sakurada sambil memukul-mukulkan tongkat ke telapak tangannya. “Siapa yang tahu barang-barang apa lagi yang telah dia curi? Anda ingin saya memerah informasi darinya?”</p>
<p>“Tenang. <em>Toh</em> dia mengaku sendiri telah mencuri pisang,” ujar Pak Sakaki. “Lagipula, dia bukan jenis mahluk brutal. Jangan lakukan apapun yang mengejutkan sampai kita mendengar sendiri beberapa fakta lainnya. Jika sampai orang-orang tahu kita memperlakukan binatang secara semena-mena dalam kantor kawasan, kita akan mendapat masalah besar.”</p>
<p>“Mengapa kau curi tanda pengenalku?” tanya Mizuki pada monyet tersebut.</p>
<p>“Karena memang begitulah sifatku. Aku monyet yang mengambil nama orang,” sahut si monyet. “Itu semacam penyakit yang kuderita. Kalau aku menyukai satu nama, aku tidak bisa menahan diri. Tapi bukan sembarang nama. Jika kulihat nama yang menarik, nama seseorang, aku harus memilikinya. Diam-diam aku akan menyusup ke dalam rumah dan mencuri nama tersebut. Aku tahu itu salah. Tapi aku tidak bisa mengendalikan diri.”</p>
<p>“Apakah kau juga yang berusaha mendobrak masuk ke dalam asrama dan mencuri tanda pengenal Yuko?”</p>
<p>“Benar. Aku jatuh cinta setengah mati pada Nona Matsunaka. Belum pernah aku tertarik pada siapapun sebelumnya. Namun aku tidak bisa memilikinya. Aku merasa remuk redam sebagai seekor monyet, karena aku tidak bisa berbuat apapun. Jadi, kuputuskan, apapun yang terjadi, setidaknya aku harus bisa memiliki namanya. Jika saja aku bisa membuat namanya jadi milikku, aku akan puas. Apa lagi yang bisa dilakukan seekor monyet? Tapi sebelum aku bisa menjalankan niatku, Yuko keburu tiada.”</p>
<p>“Apa kau ada hubungannya dengan kejadian bunuh dirinya?”</p>
<p>“Tidak.” Si monyet menggeleng pelan, berempati. “Aku sama sekali tidak terlibat dengan peristiwa itu. Yuko dikuasai oleh kegelapan dari dalam dirinya dan tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya.”</p>
<p>“Tapi setelah bertahun-tahun, bagaimana kau tahu tanda pengenal Yuko ada di apartemenku?”</p>
<p>“Butuh waktu yang tidak sebentar, memang, untuk mencari jejaknya. Segera setelah Nona Matsunaka wafat, aku mencoba mengambil tanda pengenalnya, tapi ternyata hilang. Aku mati-matian mencarinya, namun betapapun kerasnya aku mencari, tak dapat juga kutemukan. Tak terpikir olehku bahwa Nona Matsunaka menitipkannya padamu karena kalian tidak begitu dekat.”</p>
<p>“Itu benar,” jawab Mizuki.</p>
<p>“Namun suatu hari aku seperti mendapat inspirasi bahwa mungkin—hanya <em>mungkin</em>—ia menitipkan tanda pengenalnya padamu. Itu musim semi tahun lalu. Sangat lama mencari jejakmu—akhirnya aku tahu kau sudah menikah, namamu menjadi Mizuki Ando, dan kau tinggal di apartemen daerah Shinagawa. Menjadi monyet memperlambat penyelidikan, seperti yang bisa kau bayangkan. Singkatnya, aku temukan alamatmu, menyusup ke apartemenmu, kemudian mencurinya.”</p>
<p>“Tapi kenapa kau curi juga tanda pengenalku? Mengapa bukan milik Yuko saja? Aku sangat menderita akibat perbuatanmu. Aku tidak bisa mengingat namaku sendiri!”</p>
<p>“Aku menyesal dan karena itu aku minta maaf,” sahut si monyet. Kepalanya tertunduk menahan malu. “Jika aku melihat nama yang kusuka, aku harus merebutnya. Ini agak memalukan sebenarnya, tapi namamu menyentuh hatiku. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, hasratku ini seperti penyakit. Aku tidak bisa mengendalikannya. Aku tahu ini salah, tapi aku tetap melakukannya. Aku amat sangat menyesal dan memohon maaf untuk semua kesulitan yang timbul akibat tindakanku.”</p>
<p>“Monyet ini bersembunyi di saluran pembuangan Shinagawa,” tukas Ibu Sakaki. Jadi, saya minta suami untuk menangkapnya bersama beberapa rekan kerja. Semua berjalan lancar, karena suami saya memang kepala seksi Kantor Pekerjaan Umum dan mereka yang bertanggungjawab terhadap saluran pembuangan.”</p>
<p>“Sakurada muda ini yang mengerjakan hampir semuanya,” sahut Pak Sakaki.</p>
<p>“Kantor Pekerjaan Umum harus selalu sigap jika ada mahluk meragukan seperti ini bersembunyi di saluran pembuangan,” sahut Sakurada bangga. “Monyet ini sepertinya punya tempat persembunyian di bawah Takanawa yang dia gunakan sebagai markas operasi ke seluruh Tokyo.”</p>
<p>“Di kota, tak ada tempat bagi kami bertahan hidup,” sahut si monyet. “Tak banyak pepohonan dan tempat teduh di siang hari. Jika kami berjalan-jalan, orang-orang kota akan berkerumun dan berusaha menangkap kami. Anak-anak melempari kami dengan batu atau menembak kami dengan pistol-pistolan. Anjing-anjing besar mengejar kami. Jika kami tidur di pepohonan, kru televisi akan menyorot kami dengan lampu besar menyilaukan. Kami tak pernah istirahat, karenanya kami harus sembunyi di bawah tanah. Tolong, maafkan aku.”</p>
<p>“Tapi bagaimana caranya Anda bisa tahu ada monyet yang bersembunyi di tempat pembuangan?” tanya Mizuki ke Ibu Sakaki.</p>
<p>“Sebagaimana yang telah kita bicarakan selama dua bulan ini, banyak hal yang sedikit demi sedikit menjadi jelas, seperti kabut yang menghilang,” jawab Ibu Sakaki. “Akhirnya saya sadar, mungkin ada <em>sesuatu </em>yang memang suka mencuri nama. Dan apapun itu, dia pasti sembunyi di bawah tanah di sekitar sini. Dan jika kita bicara “daerah bawah tanah perkotaan”, itu akan memperkecil kemungkinan—antara kereta bawah tanah atau saluran pembuangan. Jadi, saya bilang ke suami. Sepertinya ada mahluk bukan manusia bersembunyi di saluran pembuangan dan memintanya untuk mencari mahluk tersebut. Dan betul saja, mereka akhirnya berhasil menangkap monyet ini.”</p>
<p>Sesaat Mizuki tak bisa berkata apa-apa. “Tapi—Bagaimana mungkin, Anda hanya mendengarkan cerita saya tapi Anda bisa berpikir seperti itu?”</p>
<p>“Mungkin bukan kapasitas saya, sebagai suaminya, untuk bicara,” tukas Pak Sakaki, menatap serius. “Istri saya adalah orang istimewa dengan kemampuan tidak biasa. Selama dua puluh dua tahun kami menikah, saya sering menyaksikan berbagai kejadian aneh. Makanya saya berusaha keras membuka pusat konseling di kantor kawasan sini. Saya langsung tahu, selama ia memiliki tempat sendiri dan mempergunakan kekuatannya untuk kebaikan, penduduk Shinagawa akan mendapat manfaatnya dari situ. Dan saya benar-benar senang kita dapat memecahkan misteri ini. Saya akui, saya sangat lega.”</p>
<p>“Apa yang akan Anda lakukan dengan monyet ini,” tanya Mizuki.</p>
<p>“Kami tak bisa membiarkannya hidup,” ujar Sakurada dengan santai. “Dengan dalih dan janji apapun, jika kebiasaannya memang seburuk ini, dia pasti akan kembali melakukannya. Itu sudah pasti. Lebih baik kita binasakan dia. Itu yang terbaik. Suntik mati saja, selesai.”</p>
<p>“Tidak,” tukas Bu Sakaki. “Apapun alasan kita, jika para aktivis kemanusiaan sampai tahu kita membunuh seekor monyet, mereka akan menuntut dan membuat kita kewalahan. Ingat <em>kan</em>, waktu kita menembaki gagak dan bagaimana kerasnya reaksi mereka? Saya tidak ingin mengulanginya.”</p>
<p>“Aku mohon, jangan bunuh aku,” ujar si monyet dengan kepala makin tertunduk. “Yang kulakukan memang salah, dan aku sangat mengerti itu. Aku menyebabkan banyak kesulitan untuk manusia. Aku tidak bermaksud membantah hal itu, namun ada hal baik yang terjadi karena tindakanku.”</p>
<p>“Apa hal baik yang mungkin terjadi dari tindakan mencuri nama orang? Jelaskan!” Pak Sakaki bertanya dengan suara tajam.</p>
<p>“Aku memang mencuri nama, dan kalian sudah tahu itu. Namun saat aku melakukannya, aku juga menghilangkan elemen negatif yang melekat pada nama-nama yang kucuri. Aku tidak bermaksud membual, tapi jika nama Yuko Matsunaka berhasil kucuri sebelumnya, dia mungkin tidak akan bunuh diri.”</p>
<p>“Apa maksudmu?”</p>
<p>“Jika aku berhasil mencuri namanya, aku mungkin mengambil kegelapan yang tersembunyi di dalam dirinya,” sahut si monyet. “Aku ambil kegelapannya, bersama namanya yang kucuri, kembali ke dunia bawah tanah.”</p>
<p>“Terlalu berbunga-bunga. Aku tidak percaya,” tukas Sakurada. “Hidup monyet ini ada di ujung tanduk. Dia akan menggunakan taktik selicik apapun untuk menyelamatkan lehernya.”</p>
<p>“Mungkin tidak,” sanggah Ibu Sakaki setelah berpikir beberapa lama. Tangannya bersedekap di dada. “Mungkin monyet ini ada benarnya.” Tatapannya berbalik ke si monyet. “Jadi, ketika kau mencuri nama orang, kau mengambil sifat baik dan buruk mereka?”</p>
<p>“Benar,” ujar si monyet. “Aku tidak punya pilihan lain. Jika ada hal-hal jahat dalam nama tersebut, kami, para monyet, tak punya pilihan kecuali menerima semuanya dalam satu paket sebagaimana mestinya. Aku mohon, jangan bunuh aku. Aku memang monyet dengan kebiasaan sangat jelek, aku tahu, tapi dengan itu jasaku juga berguna.”</p>
<p>“Jadi… Kira-kira hal buruk apa yang terdapat dalam namaku?” tanya Mizuki ke si monyet.</p>
<p>“Akan lebih baik jika aku tidak mengatakannya,” jawab si monyet.</p>
<p>“Tolong, katakan padaku,” Mizuki memaksa. “Jika kau mengatakannya, aku akan mengampunimu. Dan aku akan meminta orang-orang yang ada di sini untuk berbuat hal yang sama.”</p>
<p>“Kau bersungguh-sungguh?”</p>
<p>“Jika monyet ini mengatakan yang sebenarnya, maukah kalian mengampuninya?” Mizuki bertanya ke Pak Sakaki. “Dia sebenarnya tidak jahat. Dia menderita, jadi, dengarlah apa yang dia katakan lalu Anda bisa membawanya ke Gunung Takao atau kemana pun dan melepaskannya. Saya rasa dia tidak akan mengganggu kita lagi. Bagaimana?”</p>
<p>“Saya tidak keberatan jika Anda memintanya,” ujar Pak Sakaki. Ia beralih ke si monyet. “Bagaimana? Bisakah kau berjanji jika kami melepasmu di gunung kau tidak akan kembali ke wilayah Tokyo lagi?”</p>
<p>“Ya, Pak. Saya berjanji tidak akan kembali lagi,” sahut si monyet dengan raut wajah pasrah. “Aku tidak akan merepotkan kalian lagi. Aku tidak akan keluyuran di saluran pembuangan lagi. Aku sudah bisa dibilang tua, jadi, sepertinya ini kesempatan yang baik untuk memulai hidup dari awal.”</p>
<p>“Untuk memastikan, sepertinya kita harus mencap punggungnya dengan besi panas agar kita bisa mengenalinya,” kata Sakurada. “Sepertinya kita punya besi dengan cap bertuliskan Kawasan Shinagawa.”</p>
<p>“Tolong, aku mohon dengan sangat, jangan lakukan itu!” Si monyet memohon, ketakutan. Matanya berair. “Jika Anda memberi cap aneh pada punggung saya, monyet-monyet lain tidak akan mau menerima saya lagi. Saya akan katakan apapun yang kalian semua ingin tahu, tapi tolong, jangan cap saya!”</p>
<p>“Kalau begitu, kita lupakan dulu capnya,” tukas Pak Sakaki, berusaha meluruskan. “Jika kita harus menggunakan penanda Kawasan Shinagawa, maka kita yang harus bertanggungjawab nanti.”</p>
<p>“Anda benar,” sahut Sakurada. Suaranya bernada kecewa.</p>
<p>“Baiklah. Sekarang katakan padaku, hal jahat seperti apa yang melekat di namaku?” Mizuki bertanya sambil menantap langsung ke sepasang mata si monyet yang kecil dan merah.</p>
<p>“Jika kukatakan padamu, aku takut kau terluka.”</p>
<p>“Aku tak peduli. Ayo.”</p>
<p>Si monyet berpikir beberapa saat. Dahinya berkerut membuat lekukan dalam. “Kurasa akan lebih baik jika kau tidak mendengarnya.”</p>
<p>“Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku sungguh-sungguh ingin tahu.”</p>
<p>“Baiklah,” sahut si monyet, akhirnya. “Kalau begitu, akan kukatakan. Ibumu tidak mencintaimu. Tak pernah sekalipun dia mencintaimu, bahkan ketika kau masih kecil. Aku tak tahu mengapa, tapi begitulah adanya. Kakakmu juga sama. Dia tidak pernah suka padamu. Ibumu menyekolahkanmu ke Yokohama karena dia ingin mengenyahkanmu. Ibu dan kakakmu ingin membuangmu sejauh mungkin. Ayahmu memang bukan orang yang jahat, namun dia bukan orang yang bisa memaksa, dan dia tidak pernah membelamu. Dengan alasan-alasan inilah kau tidak pernah merasakan cinta sejak kecil. Kurasa kau sudah bisa menghubung-hubungkan semua itu sedari awal, namun kau cenderung membuang muka. Kau simpan kenyataan menyakitkan itu dalam-dalam di tempat paling gelap dan paling tersembunyi di hatimu lalu kau tutup rapat-rapat, berusaha tidak memikirkannya sama sekali. Kau berusaha menekan perasaan negatif, apapun itu. Sikap defensif ini telah menjadi bagian dari dirimu. Dan karena itulah kau tidak mampu mencintai orang lain habis-habisan tanpa syarat.”</p>
<p>Mizuki membisu.</p>
<p>“Kehidupan pernikahanmu sepertinya bahagia dan jauh dari masalah. Mungkin memang begitu adanya. Tapi kau tak pernah benar-benar mencintai suamimu. Aku benar kan? Bahkan jika kau punya anak, jika semua hal masih seperti itu, kau juga tidak akan berubah.”</p>
<p>Mizuki tak mampu berkata-kata. Tubuhnya luruh ke lantai dengan mata terpejam. Setiap jalinan yang membentuk dirinya seperti mengurai. Kulitnya, organ dalamnya, belulangnya, luluh lantak. Yang dapat ia dengar hanya suara napasnya sendiri.</p>
<p>“Lumayan kejam untuk omongan seekor monyet,” ujar Sakurada sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Pak Kepala, saya sudah tidak tahan lagi. Mari kita pukuli dia sampai mati!”</p>
<p>“Tahan,” Mizuki berteriak. “Yang dikatakan monyet ini benar. Aku sudah lama tahu dan selalu berusaha lari dari kenyataan. Aku selalu menutup mata dan telingaku. Monyet ini berkata jujur. Ampuni dia. Bawa dia ke gunung dan lepaskan dia di sana.”</p>
<p>Ibu Sakaki menyentuh bahu Mizuki dengan lembut. “Kau yakin kau tidak keberatan dengan hal ini?”</p>
<p>“Aku tidak keberatan asal kudapat namaku kembali. Mulai sekarang aku akan berani hidup bersama kenyataan. Itu namaku dan itu hidupku.”</p>
<p>Ibu Sakaki beralih ke suaminya. “Sayang, akhir pekan besok, sepertinya ide bagus jika kita bermobil ke Gunung Takao dan melepaskan si monyet. Bagaimana?”</p>
<p>“Kurasa tak masalah,” sahut Pak Sakaki. “Kami baru saja membeli mobil dan jalan-jalan seperti itu akan baik untuk menjajal kenyamanannya.”</p>
<p>“Saya sangat bersyukur. Saya tak tahu harus bagaimana berterimakasih pada Anda,” ujar si monyet.</p>
<p>“Kau tidak mabuk darat, <em>kan</em>?” tanya Ibu Sakaki.</p>
<p>“Tidak, saya akan baik-baik saja,” sahut si monyet. “Saya janji saya tidak akan muntah atau buang air kecil di dalam mobil baru Anda. Saya akan bersikap baik sepanjang jalan. Saya tak akan mengganggu sama sekali.”</p>
<p>Ketika Mizuki mengucapkan selamat tinggal pada si monyet, ia menyerahkan tanda pengenal Yuko Matsunaka.</p>
<p>“Lebih baik kau simpan saja,” kata Mizuki. “Kau menyukainya, <em>kan</em>?”</p>
<p>“Ya. Aku sangat menyukainya.”</p>
<p>“Jaga baik-baik namanya. Dan jangan mencuri nama orang lain lagi.”</p>
<p>“Aku akan menjaganya baik-baik. Dan aku tindak akan pernah mencuri lagi, aku janji,” sahut si monyet dengan raut wajah serius.</p>
<p>“Tapi mengapa Yuko memilih meninggalkan tanda pengenalnya padaku sebelum ia meninggal? Mengapa dia meninggalkannya padaku?”</p>
<p>“Aku tidak tahu jawabannya,” jawab si monyet. “Namun karena apa yang ia lakukan itu, setidaknya kita bisa berbincang-bincang seperti ini. Kurasa… Ini takdir.”</p>
<p>“Kau benar,” kata Mizuki.</p>
<p>“Apakah kau terluka dengan apa yang kukatakan?”</p>
<p>“Ya,” jawab Mizuki. “Sangat.”</p>
<p>“Maafkan. Tadinya aku tidak berniat mengatakannya.”</p>
<p>“Tidak mengapa. Jauh di dalam hati aku sudah tahu semuanya. Seeprtinya ini memang sesuatu yang harus aku hadapi sewaktu-waktu.”</p>
<p>“Aku lega mendengarnya,” sahut si monyet.</p>
<p>“Selamat tinggal,” ujar Mizuki. “Kurasa kita tidak akan bertemu lagi.”</p>
<p>“Jaga dirimu baik-baik,” sahut si monyet. “Dan terima kasih telah menyelamatkan mahluk sepertiku.”</p>
<p>“Akan lebih baik jika kau tidak memunculkan wajahmu di sekitar Shinagawa lagi,” tukas Sakurada, memperingatkan sambil kembali memukul-mukulkan tongkat ke telapak tangannya sendiri. “Kali ini kami memberimu kelonggaran karena Pak Kepala yang memintanya. Jika kami memergokimu lagi, kau tidak akan keluar dari sini hidup-hidup.”</p>
<p>Monyet itu langsung tahu bahwa ucapannya bukan sekedar ancaman kosong.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>“Jadi, apa yang akan kita lakukan besok minggu?” tanya Bu Sakaki sekembalinya mereka ke pusat konseling. “Apakah Anda masih punya hal lain yang ingin didiskusikan dengan saya?”</p>
<p>Mizuki menggeleng. “Tidak. Karena usaha Anda, saya rasa masalah saya terselesaikan sudah. Saya sangat berterima kasih untuk semua yang telah Anda lakukan untuk saya.”</p>
<p>“Anda tidak mau membiacarakan apa yang telah dikatakan si monyet pada Anda?”</p>
<p>“Tidak. Saya harus bisa mengatasinya sendiri. Ini masalah yang harus saya hadapi.”</p>
<p>Bu Sakaki mengangguk. “Anda mampu mengatasinya <em>kok</em>. Anda hanya harus mencuri sedikit waktu dan berpikir tentang hal itu. Anda akan menjadi seorang bermental baja.”</p>
<p>“Namun jika tidak, apakah saya masih boleh datang ke sini?” tanya Mizuki.</p>
<p>“Tentu saja!” sahut Ibu Sakaki. Wajahnya yang lentur berubah menjadi senyum lebar. “Kita akan selalu bisa bicara.”</p>
<p>Keduanya berjabat tangan lalu saling mengucapkan kata petpisahan.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Sesampai di rumah, Mizuki mengambil tanda pengenal bertuliskan ‘Mizuki Ando’ dan gelang bergravir ‘Mizuki (Ozawa) Ando’, memasukkannya ke dalam amplop resmi berwarna coklat lalu meletakkannya dalam kardus kecil di dalam lemari. Akhirnya ia mendapatkan namanya dan kehidupannya kembali normal. Mungkin semua hal akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Mungkin tidak. Tapi setidaknya ia punya nama, nama yang jelas-jelas miliknya, namanya sendiri.</p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/short-story/'>Short Story</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/murakami/'>Murakami</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/shinagawa/'>Shinagawa</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=88&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/09/18/monyet-shinagawa-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7141f937f5fa647f42e8ed05655ae478?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/09/imf020-gry-funny-monkey-banana-tee-shirt.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMF020-GRY-Funny-Monkey-Banana-tee-shirt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Monyet Shinagawa [I]</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/09/04/monyet-shinagawa-i/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/09/04/monyet-shinagawa-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 06:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bitch, The</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>
		<category><![CDATA[Murakami]]></category>
		<category><![CDATA[Shinagawa]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini seorang perempuan mengalami kesulitan mengingat nama sendiri. Biasa terjadi ketika seseorang mendadak bertanya. Misalnya, saat berada di butik dan ia ingin memendekkan lengan blus ia pilih, pegawai butik tiba-tiba bertanya, “Nama Anda, Bu?” Semacam itu. Atau ketika sedang bekerja, saat harus bicara di telepon, orang di ujung sana menanyakan nama, dan pikirannya mendadak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=77&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/09/bananagun_design.jpg"><img class="size-full wp-image-82 alignleft" title="http://www.redmolotov.com/catalogue/tshirts/all/bananagun.html" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/09/bananagun_design.jpg?w=645" alt=""   /></a></p>
<p>Akhir-akhir ini seorang perempuan mengalami kesulitan mengingat nama sendiri. Biasa terjadi ketika seseorang mendadak bertanya. Misalnya, saat berada di butik dan ia ingin memendekkan lengan blus ia pilih, pegawai butik tiba-tiba bertanya, “Nama Anda, Bu?” Semacam itu. Atau ketika sedang bekerja, saat harus bicara di telepon, orang di ujung sana menanyakan nama, dan pikirannya mendadak kosong. Untuk menjawabnya, ia akan mengeluarkan SIM dari dalam dompet dan membuat penanya terheran-heran. Jika kebetulan sedang menelepon, akan ada beberapa detik kebisuan canggung saat perempuan itu harus mengobrak-abrik tas tangannya demi selembar SIM dan membuat lawan bicaranya bertanya-tanya.</p>
<p>Ia tidak menemui kesulitan saat harus memperkenalkan diri. Asalkan ia bisa mngira-ngira apa yang akan terjadi, ingatannya lancar tanpa masalah. Namun saat sedang sedang terburu-buru, atau mendadak seseorang bertanya nama, seperti ada sikring mati mendadak dalam kepalanya yang membuat benaknya benar-benar hampa. Semakin ia berusaha mengingat, semakin kekosongan itu mengambil alih dan dia jadi sama sekali lupa dengan nama apa ia biasa dipanggil.</p>
<p>Si perempuan ini masih dapat mengingat hal lain. Tidak pernah ia lupa nama-nama orang di sekitarnya. Alamatnya, nomor teleponnya, ulang tahun, nomor paspor dan angka bukanlah sesuatu yang menyulitkan. Dengan mudah ia dapat menyebut nomor telepon kawan-kawannya atau nomor telepon klien-klien penting. Ingatannya tentang hal lain tak pernah menyusahkan—hanya namanya sendiri yang terlupa. Masalah ini dimulai setahun sebelumnya, dan kali pertama hal-hal semacam ini terjadi padanya.</p>
<p>Ia bernama Mizuki Ando setelah menikah, sementara nama gadisnya adalah Ozawa. Kedua nama tersebut hanya nama biasa, tak ada yang istimewa maupun dramatis, dan itu mengapa ia tak bisa mengingat nama sendiri di tengah kesibukannya.</p>
<p>Ia adalah Mizuki Ando pada musim semi tiga tahun lalu, saat ia menikah dengan lelaki bernama Takashi Ando. Awalnya ia canggung menyandang nama barunya. Huruf dan bunyinya aneh. Namun setelah ia merasakan nama itu di mulutnya berulang-ngulang, beberapa kali menandatangani dokumen dengan nama baru, ternyata tidak jelek-jelek amat. Bayangkan kemungkinan lainnya—Mizuki Mizuki atau Mizuki Miki atau apapun lah (ia pernah berkencan dengan pemuda bernama Miki selama beberapa waktu)—Mizuki Ando kedengarannya lumayan bagus. Membutuhkan waktu, memang, agar ia nyaman menyandang nama baru akibat pernikahan.</p>
<p>Namun nama tersebut mulai sedikit terlupakan setahun belakangan. Awalnya hanya terjadi sebulan sekali, makin lama makin sering ia melupa. Sekarang, paling sedikit, malah sekali seminggu. Saat ‘Mizuki Ando’ terlupakan, ia sebatang kara di dunia, tidak menjadi siapa-siapa, hanya perempuan tanpa nama. Selama tas tangan masih di genggaman, ia merasa aman—cukup mengambil SIM untuk mengingat ia siapa. Namun jika tasnya hilang, dia tidak akan tahu siapa namanya. Bukan berarti keseluruhan dirinya menghilang, tidak—kehilangan nama bukan berarti dia tidak eksis. Dia masih ingat alamat dan nomor teleponnya sendiri. Kelupaannya bukan amnesia total yang biasa terdapat di film-film. Sungguh-sungguh alpa nama sendiri adalah sesuatu yang menyebalkan. Kehidupan tanpa nama menurutnya seperti mimpi dimana kau tidak akan pernah terbangun lagi.</p>
<p>Mizuki pergi ke toko perhiasan, membeli gelang tipis sederhana bergravir nama sendiri: <em>Mizuki (Ozawa) Ando</em>. Tidak ada alamat, tidak ada nomor telepon, hanya namanya. Aku merasa menjadi seekor kucing atau anjing, ujarnya sambil mendesah. Ia tidak akan keluar rumah tanpa gelang itu. Ia tinggal melirik ke gelang tersebut jika lupa namanya sewaktu-waktu. Tidak perlu repot mencari SIM dan tidak akan ada lagi raut wajah bertanya-tanya dari orang lain.</p>
<p>Tak bisa ia bercerita pada suami. Lelaki itu pasti akan berkata itu bukti ia tidak bahagia dengan kehidupan pernikahan. Suaminya adalah orang yang memandang segala hal dengan sangat logis. Ia tidak bermaksud menyakiti istrinya. Sudah sifatnya seperti itu, membuat teori untuk apapun yang ada di bawah langit. Memandang melalui mata sang suami bukan menjadi bakat Mizuki. Suaminya agak cerewet, tidak akan berhenti bicara jika sedang mengutarakan satu topik. Jadi, Mizuki mengatasi semuanya dalam diam.</p>
<p>Namun ucapannya—atau apa yang akan ia ucapkan seandainya si suami tahu—tidaklah benar. Ia bukannya tidak bahagia dengan pernikahan mereka. Tak ada yang perlu dikeluhkan dari si suami selain cara berpikirnya yang terlalu logis, dan ia pun tak punya perasaan negatif terhadap mertua. Ayah si suami adalah dokter yang memiliki klinik kecil di Kota Sakata, ujung utara perfektur Yamagata. Mertuanya adalah pasangan yang sangat konservatif, dan suaminya adalah anak lelaki kedua. Karena itulah mereka tidak terlalu direpotkan oleh orangtua yang suka turut campur. Mizuki sendiri berasal dari Nagoya, dan ia pun merasa beku saat musim dingin tiba di Sakata. Tetapi kunjungan mereka ke sana setahun sekali membuatnya mulai menyukai tempat tersebut. Setelah dua tahun menikah mereka mengambil hipotek dan membeli kondo di salah satu gedung baru di Shinagawa. Suaminya sekarang berusia tiga puluh, bekerja pada sebuah lab di perusahaan farmasi. Mizuki, dua puluh enam, bekerja di dealer Honda. Tugasnya adalah menjawab telepon, membimbing pelanggan menuju ruang tunggu, membuatkan kopi, membuat salinan fotokopi jika diperlukan, mengelola catatan dan pembaruan daftar pelanggan yang sudah terkomputerisasi.</p>
<p>Paman Mizuki, seorang eksekutif di Honda, memberinya pekerjaan setelah lulus dari universitas khusus perempuan di Tokyo. Tidak begitu mengasyikkan, memang. Namun perusahaan memberinya tanggungjawab dan bayarannya lumayan. Tugasnya tidak termasuk menjual mobil, namun jika seorang penjual pergi, ia yang mengambil alih. Mizuki selalu melaksanakannya dengan baik melalui jawaban yang diberikan pada pelanggan. Ia belajar dari memperhatikan para penjual bekerja, memahami informasi teknis dengan cepat, dan celah dalam menjual mobil. Ia mengingat jarak tempuh semua model mobil dalam ruang pameran dan dapat meyakinkan siapapun tentang, misalnya, bagaimana mengendarai Odyssey itu sebenarnya hanya seperti <em>saloon</em> biasa dan tidak seperti mengendarai <em>minivan</em>. Mizuki sendiri adalah seorang pembicara yang baik dengan senyum yang selalu membuat pelanggan menjadi santai. Ia juga dapat menyesuaikan taktik menjual menurut kepribadian calon pembeli. Namun, sayangnya, dia tidak punya kewenangan memberi rabat, negosiasi harga tukar-tambah, atau memberi pilihan sehingga jika seorang pelanggan sampai hampir menandatangani surat pembelian, Mizuki harus mengalihkannya ke staf yang bertanggungjawab. Dia yang melakukan hampir semua pekerjaan, namun semua ituakan diambil-alih salah seorang penjual yang malah akan mendapat komisi. Satu-satunya penghargaan yang didapat Mizuki hanya beberapa kali traktiran makan malam dari penjual yang beruntung mendapatkan komisi dari usaha Mizuki.</p>
<p>Mizuki sering berpikir andai mereka membolehkannya menjual mobil, maka dealer tersebut akan menjual lebih banyak dan rekor dealer secara keseluruhan akan meningkat. Jika para penjual muda yang baru saja lulus kuliah benar-benar fokus pada tujuan tersebut, mereka akan mencapai dua kali lebih banyak. Namun tak ada satu pun yang mendorongnya dan berkata bahwa ia juga bisa menjual dan menghabiskan waktu di belakang meja hanyalah sia-sia. Dan tidak satu pun yang mengusulkan agar ia dipindah ke bagian penjualan. Begitulah perusahaan bekerja. Divisi penjualan dan staf kantor adalah dua hal yang berbeda, kecuali dalam beberapa kasus yang sangat jarang, keduanya memiliki batas tak tertembus. Lagipula, Mizuki tidak terlalu ambisius untuk meningkatkan karir dengan cara seperti itu. Ia lebih memilih bekerja delapan jam, pukul sembilan hingga lima, mengambil jatah liburnya, dan bersenang-senang mengisi waktu.</p>
<p>Mizuki masih menggunakan nama gadisnya di kantor. Jika ia ingin menggantinya secara resmi, maka semua data terkait dalam sistem komputer harus dia ubah sendiri. Sangat merepotkan, dan Mizuki terus menunda-nunda, hingga ia putuskan untuk tetap menggunakan nama gadisnya. Untuk tujuan pajak, statusnya memang menikah, namun namanya tidak berubah. Ia tahu itu tidak benar, namun tidak ada satu pun orang di kantor yang rewel tentang hal itu (mereka terlalu sibuk untuk khawatir pada hal sedetail itu), hingga akhirnya ia masih menjadi Mizuki Ozawa. Dan begitulah nama yang tercantum pada kartu nama, kartu pegawai, kartu absen. Semua orang memanggilnya dengan Ozawa-san atau Ozawa-kun, Mizuki-san, atau yang lebih akrab, Mizuki-chan. Ia bukannya menghindari menggunakan nama pernikahannya. Hanya saja, akan terlalu banyak yang harus dilakukan untuk mengganti dokumen, jadi, ia juga tak menyanggah panggilan-panggilan tersebut. Jika ada seseorang yang mau melakukan <em>input </em>untuk mengubah itu semua, pikirnya, ia lebih senang dikenal sebagai Mizuki Ando.</p>
<p>Suaminya tahu bahwa Mizuki dipanggil dengan nama gadisnya di kantor (ia sering sekali menelepon Mizuki pada jam kerja), tidak masalah. Menurutnya, nama apapun yang digunakan sang istri di tempat kerja hanya perihal kenyamanan saja. Asalkan diyakinkan dengan logika, ia tidak akan mengeluh. Untuk urusan ini, suami Mizuki memang sangat santai.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Mizuki mulai khawatir jika ia sampai sama sekali melupakan nama sendiri, itu mungkin gejala penyakit serius. Mungkin gejala awal Alzheimer’s. Dunia ini dipenuhi penyakit parah yang tak diinginkan. Dia bahkan baru tahu ada penyakit bernama myasthenia dan Huntington’s. Pasti ada banyak sekali penyakit yang namanya saja ia tidak pernah dengar. Dan dengan semua penyakit itu, gejala awal yang dia alami hampir tak terlihat. Tidak biasa, mungkin. Namun gejala awal yang ringan seperti… melupakan nama sendiri? Ketika Mizuki mulai memikirkannya, ia khawatir adanya sebuah penyakit aneh yang menggerogoti tubuh.</p>
<p>Mizuki mengunjungi sebuah rumah sakit besar dan menceritakan gejala penyakit yang dideritanya. Dokter muda yang bertugas—yang saking pucat dan letih ia malah terlihat sebagai pasien daripada dokter—tidak menganggapnya serius. “Ada lagi yang kau lupa selain namamu sendiri?” tanyanya. Tidak, jawab Mizuki. Untuk sementara ini hanya namaku. “Hmmm… sepertinya kasus ini lebih tepat dibawa ke psikiater,” ujarnya, tanpa ada nada simpati sedikitpun pada suaranya. “Jika kau lupa hal yang lain selain namamu, silahkan datang kembali. Lalu kita lakukan beberapa tes.” Sekarang kami disibukkan dengan pasien yang berpenyakit lebih parah daripada kamu, dan begitulah maksud jawabannya. Sesekali lelupa nama sendiri bukan sesuatu yang harus repot-repot diurusi.</p>
<p>Suatu hari di artikel buletin kantor yang datang bersama surat dikabarkan tentang akan dibukanya pusat konseling. Artikel itu kecil saja, jenis artikel yang biasa terabaikan. Pusat konseling itu akan diadakan rutin seminggu sekali dan digawangi oleh professional. Klien ditangani satu per satu dengan tarif yang amat sangat terjangkau. Semua penghuni Kawasan Shinagawa yang berusia di atas delapan belas bebas menggunakan jasa tersebut, dan semua data dan informasi akan dijaga kerahasiaannya. Begitu kata artikelnya. Mizuki agak ragu apakah jasa konseling yang disponsori kawasan perkantoran itu akan bermanfaat, namun dia penasaran. Mencoba sekali saja <em>kan</em> tak masalah, pikirnya. Dealer tempatnya bekerja memang sangat sibuk di akhir pekan. Tapi cuti sehari di tengah minggu tidaklah sulit. Ia bisa menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal konseling. Tidak realistis bagi para pekerja pada umumnya. Pusat konseling itu menyarankan agar calon klien membuat janji temu terlebih dahulu, jadi, Mizuki segera menelepon. Satu sesi berdurasi tiga puluh menit sama dengan dua ribu yen. Masih sangat terjangkau bagi Mizuki. Akhirnya ia mendapat jadwal temu pukul 1 siang Rabu besok.</p>
<p>Setibanya di pusat konseling yang terletak di lantai tiga gedung tempat Mizaki bekerja, ia adalah satu-satunya klien. “Program ini memang dimulai agak mendadak,” kata si resepsionis. “Banyak yang belum tahu. Tapi jika sudah tersebar, pasti banyak orang yang akan datang. Sekarang jadwal kami sangat senggang. Anda beruntung.”</p>
<p>Konselornya bernama Tetsuko Sakaki. Ia adalah perempuan menyenangkan berperawakan besar dan pendek pada akhir empatpuluhan. Rambutnya dicat coklat terang dan wajahnya berhias senyum yang terlalu lebar. Ia mengenakan celana dari bahan ringan yang biasa dikenakan pada musim panas, blus sutra mengkilap, kalung mutiara palsu dan sepatu berhak rendah. Tampangnya tidak seperti konselor. Ia lebih seperti tetangga sebelah yang ramah dan ringan tangan.</p>
<p>“Suami saya bekerja di lingkungan kantor sini. Dia kepala seksi Departemen Pekerjaan Publik,” ujarnya, memperkenalkan diri secara bersahabat. “Karena itulah kami mendapat dukungan dan akhirnya dapat membuka pusat konseling. Anda adalah klien pertama saya dan saya senang sekali bertemu Anda hari ini. Tidak ada lagi janji temu seharian ini. Jadi, kita bebas untuk bicara apapun dari hati ke hati.” Perempuan itu bicara lambat-lambat. Semua hal yang ada pada dirinya adalah pelan dan hati-hati.</p>
<p>Saya juga senang bertemu Anda, Mizuki membalas. Dan ia bertanya-tanya pada diri sendiri apakah perempuan ini bisa membantu memecahkan masalahnya.</p>
<p>“Saya konselor berijazah dengan pengalaman bertahun-tahun dalam dunia konseling. Jadi, serahkan semua pada saya,” sahutnya seakan-akan membaca pikiran Mizuki.</p>
<p>Ibu Sakaki duduk di belakang meja kerja logam sederhana. Mizuki duduk di sebuah sofa kuno kecil yang seperti baru saja diseret dari gudang. Pegasnya menonjol di bawah lapisan penutup dan bau apak yang menguap membuat hidung Mizuki gatal.</p>
<p>“Tadinya saya pikir saya bisa menemukan sofa nyaman agar ruangan ini seperti kantor konselor pada umumnya. Untuk sekarang keadaannya memang agak memprihatinkan. Kami harus berhubungan dengan Dewan Kota untuk bisa berkantor di sini. Jadi, jangan ditanya birokrasi berbelit apa saja yang sudah kami lalui. Saya berjanji, lain waktu kita bertemu lagi, Anda akan dapati tempat duduk yang lebih baik. Tapi untuk sementara saya harap Anda tak keberatan.”</p>
<p>Mizuki menghempaskan tubuh ke sofa tua tipis tersebut dan mulai menjelaskan bagaimana ia sering sekali melupa nama sendiri. Ibu Sakaki hanya mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya dan tidak tampak terkejut. Ia bahkan hening, tanpa suara-suara yang menandakan bahwa ia menyimak ucapan Mizuki. Ibu Sakaki hanya memperhatikan dalam diam sambil sesekali mengerutkan kening seakan sedang memikirkan sesuatu. Raut wajahnya datar. Senyumnya samar seperti bulan senja di musim semi, tak berubah.</p>
<p>“Menggravir nama Anda di gelang adalah ide bagus,” komentarnya setelah Mizuki menyelesaikan cerita. “Aku kagum pada cara Anda menangani masalah. Hal pertama yang Anda lakukan adalah menyelesaikannya secara praktis dan meminimalisir ketidaknyamanan. Memang lebih baik mengantisipasinya dengan cara realistis daripada tersiksa oleh rasa bersalah, meratapi nasib atau bingung tak berujung. Saya perhatikan, Anda cukup cerdas. Dan gelang itu cantik sekali. Terlihat bagus di tangan Anda.”</p>
<p>“Menurut Anda melupa nama sendiri itu apa ada hubungannya dengan penyakit serius? Apa pernah ada kasus seperti ini?” Mizuki bertanya.</p>
<p>“Saya rasa tidak ada penyakit yang gejala awalnya seperti yang Anda sebut,” sahut Ibu Sakaki. “Namun saya agak khawatir karena keadaannya memburuk setahun ini. Ada kemungkinan gejala awal ini akan mengarah pada gejala lainnya, atau hilangnya ingatan Anda akan meluas ke hal lain. Jadi, kita harus membahasnya langkah demi langkah dan mencari akar masalahnya. Saya bisa bayangkan. Karena Anda bekerja di luar rumah, melupakan nama sendiri pasti menimbulkan banyak masalah.”</p>
<p>Ibu Sasaki mulai menanyakan hal-hal mendasar tentang kehidupan Mizuki saat ini. Sudah berapa lama menikah? Apa pekerjaan Anda? Bagaimana kesehatan Anda? Ibu Sasaki kemudian beralih ke pertanyaan-pertanyaan tentang masa kecil, keluarga, sekolah. Kegiatan yang ia suka, kegiatan yang ia tidak suka. Berbagai hal yang ia kuasai, dan yang tidak ia kuasai. Mizuki mencoba menjawab setiap pertanyaan sejujur mungkin, secepat mungkin, dan seakurat mungkin.</p>
<p>Mizuki dibesarkan dalam sebuah keluarga biasa dengan sepasang orangtua dan kakak perempuan. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan asuransi besar, dan meskipun mereka tidak sepenuhnya berkecukupan, ia tidak ingat kapan mereka benar-benar kesusahan. Ayah Mizuki adalah seorang lelaki serius, sementara ibunya lembut dan sedikit rewel. Kakaknya selalu jadi unggulan di sekolah, meskipun menurut Mizuki ia sedikit dangkal dan licik. Ia tak pernah bermasalah dengan keluarga dan selama ini akur-akur saja. Mereka tidak pernah bertengkar hebat. Mizuki sendiri adalah anak yang tidak menonjol. Ia selalu sehat, tidak pernah sakit, namun bukan jenis anak yang atletis. Mizuki juga tidak terlalu cantik, dan tidak seorang pun yang pernah memujinya cantik. Mizuki menganggap dirinya juga tidak pintar-pintar amat. Nilai-nilainya sedang saja. Jika kau mencari namanya diantara daftar ujian, akan lebih cepat jika kau mencari dari atas dan bukan dari bawah. Ia punya beberapa sahabat di masa sekolah, namun mereka telah pindah ke daerah lain setelah menikah dan mereka sangat jarang sekali kontak.</p>
<p>Tak ada keluhan tentang kehidupan pernikahan. Awalnya, ia dan suami memang melakukan beberapa kesalahan yang biasa dilakukan pasangan baru, namun mereka dapat mengatasinya setelah beberapa waktu. Suaminya memang tidak sempurna, dilihat dari sudut mana pun (ditambah sifatnya yang selalu argumentatif dan ketiadaan selera dalam berpakaian), namun ia memiliki banyak sifat positif—baik, bertanggungjawab, bersih, tidak pilih-pilih makanan dan tak pernah mengeluh. Ia tak pernah bermasalah dengan siapapun di tempat kerja, dan hubungannya baik dengan rekan maupun atasan. Di tempat suami Mizuki bekerja ada beberapa kejadian tidak menyenangkan, memang. Konsekuensi tak terhindarkan jika kau bekerja dan dekat dengan orang yang sama tiap hari, namun ia tidak pernah merasa tertekan karenanya.</p>
<p>Ketika Mizuki menanggapi semua pertanyaan Ibu Sasaki, ia terkejut mendapati betapa hidupnya terlalu biasa saja. Tak ada sedikit pun hal dramatis yang pernah menyentuhnya. Jika hidup adalah film, maka Mizuki adalah jenis film dokumenter berbujet rendah yang akan membuatmu tertidur. Isinya hanya bentangan tanpa akhir pemandangan alam sehabis hujan pada saujana. Tanpa perubahan gambar, tanpa <em>close up</em>, tak ada yang menarik, hanya pengalaman datar tanpa ada sesuatu pun yang membuatmu terperanjat atau larut di dalamnya. Tak ada ancaman, tak ada apapun yang mencetuskan ide. Sekali waktu mungkin sudut kamera berubah sedikit, seperti tesenggol dari kepuasannya. Mizuki paham bahwa tugas seorang konselor adalah mendengarkan klien, dan ia merasa kasihan pada Ibu Sasaki yang harus mendengarkan cerita yang begitu membosankan tentang hidup seseorang. Ia tak mungkin tahan selamanya tak menguap. Menurut Mizuki, jika peran mereka ditukar dan Mizuki harus mendengar kisah hidupnya sendiri, ia pasti akan mati bosan.</p>
<p>Namun Tetsuko Sasaki menyimak semua perkataan Mizuki sambil membuat catatan-catatan ringkas. Ia akan bertanya dengan cepat sekali waktu dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk mendengar. Beberapa kali saat harus bicara, suaranya sama sekali tidak mengisyaratkan kebosanan, namun malah kehangatan, menandakan kekhawatiran yang tulus. Mendengar suara Ibu Sasaki yang lambat dengan hurup vokal dipanjangkan, anehnya, membuat Mizuki tenang. Dan Mizuki baru sadar. Tak ada satu pun yang pernah mendengarkannya dengan sabar. Pertemuan mereka yang sejam lebih sedikit itu akhirnya berakhir, dan Mizuki merasa beban berat terangkat dari bahunya.</p>
<p>“Bu Ando, bisakah Anda datang lagi Rabu depan?” tanya Ibu Sasaki dengan senyum lebar di wajahnya.</p>
<p>“Ya, tentu,” jawab Mizuki. “Anda tidak apa-apa jika saya datang lagi?”</p>
<p>“Tentu saja tidak. Selama tidak merepotkan Anda. Konseling harus melewati beberapa sesi sebelum akhirnya kita melihat adanya kemajuan. Hal seperti ini tidak seperti konsultasi radio dimana Anda dengan mudah menyimpulkan segala sesuatu dan berkata “Kau bisa bertahan!” Sesi konsultasi seperti ini akan lama, tapi kita berdua <em>kan </em>seperti tetangga karena sama-sama berasal dari Shinagawa. Jadi, mengapa kita tidak memanfaatkan waktu dan saling bekerjasama?”</p>
<p style="text-align:center;"><strong>*</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>“Saya penasaran. Apakah Anda pernah mengalami sesuatu yang ada hubungannya dengan nama?” tanya Ibu Sasaki pada sesi kedua mereka. “Mungkin nama Anda, nama orang lain, nama binatang peliharaan, nama tempat yang pernah Anda kunjungi, atau nama panggilan, mungkin? Apapun yang ada kaitannya dengan nama. Jika Anda bisa mengingat apapun yang berhubungan dengan nama, saya ingin mendengar.”</p>
<p>“Yang ada hubungannya dengan nama?”</p>
<p>“Nama, penamaan, tanda tangan, daftar gaji… Mungkin ada sesuatu yang penting asalkan ada kaitannya dengan nama. Cobalah untuk mengingat-ingat.”</p>
<p>Untuk beberapa saat Mizuki berpikir.</p>
<p>“Rasanya saya tidak memiliki ingatan khusus tentang nama,” jawab Mizuki pada akhirnya. “Saat ini tidak ada satu pun hal seperti itu yang saya ingat. Oh, tapi saya pernah mengalami sesuatu dengan tanda pengenal.”</p>
<p>“Tanda pengenal? Bagus. Lanjutkan.”</p>
<p>“Tapi tanda pengenal itu bukan milik saya,” tukas Mizuki. “Itu tanda pengenal orang lain.”</p>
<p>“Tak masalah. Ayo, ceritakan,” ujar Ibu Sakaki.</p>
<p>“Seperti yang saya katakan minggu kemarin, saya bersekolah di sekolah swasta khusus perempuan selama SMP dan SMA.” Mizuki mulai bercerita. “Saya berasal dari Nagoya dan sekolah itu terletak di Yokohama. Saya tinggal di asrama dan pulang akhir pekan. Tiap Jumat malam saya akan menumpang kereta Shinkansen dan kembali pada Minggu malam. Cuma dua jam dari Nagoya. Jadi, saya tidak terlalu merasa kesepian.”</p>
<p>Ibu Sakaki mengangguk. “Bukannya di Nagoya juga banyak sekolah swasta khusus perempuan? Mengapa Anda harus meninggalkan rumah dan pergi ke Yokohama?”</p>
<p>“Itu sekolah ibu saya dulu. Ia ingin salah satu putrinya juga sekolah di sana. Saya pikir, mungkin tinggal terpisah dari orang tua adalah ide bagus. Sekolah itu dikelola misionaris namun lumayan liberal. Saya punya beberapa sahabat di sana. Mereka semua hampir sama seperti saya. Dari daerah berbeda dan ibu yang juga lulusan sana. Itu adalah enam tahun menyenangkan selama bersekolah. Walau makanannya payah.”</p>
<p>Ibu Sakaki tersenyum. “Anda bilang Anda punya kakak perempuan?”</p>
<p>“Ya, benar. Dia dua tahun lebih tua dari saya.”</p>
<p>“Mengapa bukan dia yang bersekolah di sana?”</p>
<p>“Dia anak rumahan. Lagi pula kondisinya rapuh sejak kecil. Ia sekolah di dekat rumah dan tinggal di rumah. Makanya, ibu kami meminta saya yang pergi. Saya selalu dalam kondisi sehat dan lebih bisa mandiri ketimbang kakak. Ketika saya lulus SD dan orangtua saya meminta saya bersekolah di Yokohama, saya langsung mengiyakan. Saya sudah bayangkan betapa menyenangkan pergi dengan Shinkansen tiap akhir pekan.”</p>
<p>“Maaf, saya menginterupsi tadi,” tukas Ibu Sakaki sambil tersenyum. “Silahkan dilanjutkan.”</p>
<p>“Sebagian besar anak-anak harus berbagi kamar di asrama. Namun ketika mereka sudah senior maka mereka akan menempati kamar sendiri. Saya tinggal di salah satu kamar, sendirian, saat kejadian ini berlangsung. Karena saya sudah senior, mereka menunjuk saya menjadi perwakilan siswa di asrama tersebut. Ada sebuah papan dengan cantelan di pintu masuk asrama untuk menggantungkan tanda pengenal tiap siswa yang tinggal di sana. Bagian depan tanda pengenal itu adalah nama siswa yang dicetak berlatar hitam, bagian belakangnya berwarna merah. Jika siswa pergi dari kamar, dia harus membalikkan tanda pengenal yang digantung, dan dikembalikan seperti semula jika sudah pulang. Jadi, jika nama orang tersebut tercetak hitam berarti dia ada, dan jika warnanya merah, dia sedang keluar. Jika seorang siswa menginap di suatu tempat atau berencana untuk pergi selama beberapa hari, tanda pengenalnya akan dicopot sementara dari papan. Para siswa bergiliran menjaga meja resepsionis dekat papan. Jika ada panggilan telepon untuk salah satu siswa, akan mudah bagi yang bertugas untuk melirik ke papan dan menentukan apakah siswa tersebut ada atau tidak. Sistem yang memudahkan, memang.”</p>
<p>Ibu Sakaki menanggapi agar Mizuki terus bercerita.</p>
<p>“Dan ini terjadi di bulan Oktober, sebelum jam makan malam dan saya sedang berada di kamar, mengerjakan PR, ketika salah seorang junior, Yuko Matsunaka, masuk. Ia adalah gadis tercantik di seluruh asrama—kulit halus, rambut panjang, ayu, dan wajahnya seperti boneka. Orangtua Yuko adalah pemilik sebuah penginapan bergaya Jepang di Kanazawa dan sangat terkenal. Kami tidak pernah sekelas, tapi banyak yang bilang nilainya bagus-bagus. Dengan kata lain, ia selalu menarik perhatian dari mana pun. Beberapa adik kelas terang-terangan memujanya. Namun Yuko sangat ramah dan sama sekali tidak sombong. Ia gadis pendiam yang tidak terlalu menunjukkan apa yang ia rasakan. Gadis yang baik, tapi terkadang saya tak mengerti jalan pikirannya. Memang banyak adik kelas yang memujanya, tapi saya tidak yakin dia punya teman.”</p>
<p><strong>BERSAMBUNG.</strong></p>
<p><em>Prosa karya Haruki Murakami berjudul A Shinagawa Monkey. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Philip Gabriel. Naskah asli dalam bentuk pdf dapat diunduh di <a href="http://hellenvanmeene.com/library/press/2006/the_new_yorker/" target="_blank">sini.</a></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/short-story/'>Short Story</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/murakami/'>Murakami</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/shinagawa/'>Shinagawa</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=77&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/09/04/monyet-shinagawa-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7141f937f5fa647f42e8ed05655ae478?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/09/bananagun_design.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">http://www.redmolotov.com/catalogue/tshirts/all/bananagun.html</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petaka Pertambangan New York</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/08/24/petaka-pertambangan-new-york/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/08/24/petaka-pertambangan-new-york/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 01:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bitch, The</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>
		<category><![CDATA[Mining]]></category>
		<category><![CDATA[Murakami]]></category>
		<category><![CDATA[New York]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Temanku punya kebiasaan mendatangi kebun binatang saat sedang terjadi badai taifun. Ia melakukannya sejak sepuluh tahun lalu. Saat orang-orang menutup semua celah dalam rumah mereka, bergegas menyimpan air bersih dan memeriksa kembali apakah radio dan lentera badai mereka berfungsi, temanku malah mengenakan poncho era perang Vietnam, memasukkan beberapa kaleng bir ke dalam saku, lalu pergi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=31&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/08/24/petaka-pertambangan-new-york/"><img src="http://img.youtube.com/vi/9EU-8xEd8WU/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Temanku punya kebiasaan mendatangi kebun binatang saat sedang terjadi badai taifun. Ia melakukannya sejak sepuluh tahun lalu. Saat orang-orang menutup semua celah dalam rumah mereka, bergegas menyimpan air bersih dan memeriksa kembali apakah radio dan lentera badai mereka berfungsi, temanku malah mengenakan <em>poncho</em> era perang Vietnam, memasukkan beberapa kaleng bir ke dalam saku, lalu pergi. Jarak antara kebun binatang dan rumahnya hanya lima belas menit berjalan kaki</p>
<p>Jika ia tidak beruntung, kebun binatang akan ditutup &#8216;karena cuaca buruk&#8217; dan gerbangnya terkunci. Bila ini terjadi, ia akan duduk di patung tupai dari batu di sebelah pintu masuk, minum bir hangat, lalu beranjak pulang.</p>
<p>Jika masih bisa masuk, ia akan membayar tiket, menyalakan rokok setengah basah, kemudian meninjau binatang-binatang dalam kandang, satu per satu. Hampir semua binatang meringkuk jauh di dalam kandang. Beberapa menatap kosong pada hujan. Yang lain malah lebih riang, meloncat berputar bersama badai. Ada juga yang ketakutan karena tekanan udara turun mendadak; sementara yang lain menjadi buas.</p>
<p>Temanku mengawali kebiasaan itu dengan meminum bir pertamanya di depan kandang macan India. (Macan India bereaksi paling buas terhadap badai.) Lalu ia akan meneruskan bir keduanya di depan kandang gorila. Seringkali gorila-gorila itu seperti tidak terganggu dengan datangnya badai. Mereka akan tenang memandangi temanku itu yang duduk seperti duyung di atas lantai semen sambil menyesap bir, dan kau akan yakin gorila-gorila itu seperti kasihan dengan temanku.</p>
<p>&#8220;Rasanya seperti berada di dalam lift yang mendadak rusak dan kau terjebak bersama orang-orang yang tidak kau kenal di dalamnya,&#8221; ujar temanku.</p>
<p>Tanpa kebiasaannya saat badai, temanku itu memang berbeda dari orang kebanyakan. Ia bekerja di sebuah perusahaan ekspor yang mengurusi investasi asing. Bukan perusahaan terbaik, memang. Tapi lumayan <em>lah</em>. Ia tinggal sendiri di sebuah apartemen kecil dan rapih dan selalu berganti pacar setiap enam bulan. Mengapa dia ngotot sekali berganti pacar setiap enam bulan (dan selalu tepat enam bulan) aku tak pernah tahu alasannya. Semua perempuan itu terlihat sama, seakan-akan mereka adalah klon sempurna dari pacar sebelumnya. Aku tak bisa membedakan mereka satu sama lain.</p>
<p>Temanku memiliki sebuah mobil bekas kecil dan bagus, mengoleksi tulisan-tulisan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Honor%C3%A9_de_Balzac">Balzac</a>, setelan jas hitam, dasi hitam dan sepatu hitam yang merupakan pakaian sempurna untuk menghadiri pemakaman. Setiap ada kenalan maupun kerabat yang meninggal, aku menghubunginya untuk meminjam pakaian itu meskipun sepatunya kebesaran satu nomor.</p>
<p>&#8220;Maaf, aku merepotkanmu lagi,&#8221; kataku ketika terakhir aku menghubunginya. &#8220;Ada pemakaman lagi, <em>nih</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemarilah. Kau pasti terburu-buru,&#8221; jawabnya. &#8220;Sekarang juga tidak mengapa.&#8221;</p>
<p>Setiba di sana, setelan jas dan dasi hitam sudah terhampar di meja dan sudah disetrika, sementara sepatu hitam sudah disemir dan kulkasnya penuh bir impor. Lelaki seperti itulah dia.</p>
<p>“Beberapa hari yang lalu aku melihat seekor kucing di kebun binatang,” katanya sambil membuka sebotol bir.</p>
<p>“Kucing?”</p>
<p>“Iya. Dua minggu lalu. Waktu itu aku ke Hokkaido untuk urusan bisnis dan mampir ke kebun binatang dekat hotel. Ada seekor kucing tidur di dalam kandang dengan teralis bertuliskan “Kucing”.”</p>
<p>“Kucing seperti apa?”</p>
<p>“Kucing biasa. Belang-belang coklat, buntut pendek. Dan gendut sekali. Kucing itu seperti teronggok begitu saja dalam kandang.”</p>
<p>“Mungkin di Hokkaido jarang ada kucing.”</p>
<p>“Kau bercanda ya?” tanyanya, terkejut. “Ya pasti ada <em>lah</em> kucing di Hokkaido. Tidak mungkin di sana jarang kucing.”</p>
<p>“Ya… Begini saja: mengapa memangnya jika ada kucing di kebun binatang?” kataku. “Kucing <em>kan</em> binatang juga.”</p>
<p>“Anjing dan kucing itu jenis binatang yang biasa kabur. Mana ada orang yang mau membayar hanya untuk melihat kucing atau anjing?” tukasnya. “Lihat saja di sekelilingmu—mereka ada di mana-mana. Sama seperti manusia.”</p>
<p>Ketika kami telah selesai menghabiskan sepaket bir berisi enam botol, kutaruh jas dan dasi serta kotak sepatu ke dalam satu tas kertas besar.</p>
<p>“Maaf ya, selalu merepotkanmu begini,” kataku. “Harusnya aku membeli setelan jas sendiri, tapi aku tak pernah berhasil melakukannya. Aku merasa jika aku membeli setelan khusus untuk menghadiri pemakaman, sepertinya aku mengamini setiap ada orang meninggal.”</p>
<p>“Tidak masalah,” jawabnya. “Aku juga tidak memakainya. Akan lebih baik bila setelan itu dipakai orang ketimbang digantung saja dalam lemari, bukan?”</p>
<p>Dan begitulah kenyataannya karena selama tiga tahun ia memiliki setelan itu, dia hampir tidak pernah mengenakannya.</p>
<p>“Anehnya, sejak aku membeli setelan itu, tidak satu pun orang yang kukenal meninggal dunia,” ujarnya.</p>
<p>“Yah&#8230; Begitulah.”</p>
<p>“Ya. Mungkin memang begitu adanya.” Tukasnya.</p>
<p>Di sisi lain, bagiku tahun itu adalah Tahun Pemakaman. Teman dan mantan teman meninggal satu demi satu, seperti biji jagung layu tertiup angin kemarau. Usiaku dua puluh delapan. Semua temanku hampir seusia—dua puluh tujuh, dua puluh delapan, dua puluh sembilan. Sungguh, bukan usia yang tepat untuk mati.</p>
<p>Seorang penyair mungkin saja mati di usia dua puluh satu, seorang aktivis revolusioner atau bintang rock mati di usia dua puluh empat. Namun setelah itu kau akan menganggap semua baik-baik saja. Kau berhasil melalui Tikungan Maut dan kau berada di ujung terowongan, menjelajah lurus ke arah tujuan melalui jalan tol berjalur enam—mungkin sesuai keinginanmu, mungkin tidak. Kau cukur rambut, cukur jenggot dan kumis tiap pagi. Kau bukan lagi seorang penyair atau aktivis maupun bintang rock. Kau tidak lagi mabuk dan tertidur di boks telepon umum atau memasang The Doors kencang-kencang pukul empat pagi. Alih-alih kau membeli asuransi jiwa dari perusahaan tempat temanmu bekerja, minum di bar hotel, dan memegang tagihan dokter gigi erat-erat demi pengurangan pajak. Pada usia dua puluh delapan, itu sangat wajar sekali.</p>
<p>Namun disitulah sebenarnya pembantaian tak terduga dimulai. Seperti serangan mendadak pada suatu hari di musim semi yang malas—semacam ada seseorang yang berada di atas bukit metafisik mengokang senapan mesin metafisik dan menembakkan runtunan peluru ke arah kita. Saat kita sedang berganti pakaian, di menit berikutnya pakaian itu sudah tidak cukup lagi di badan: kerahnya terbalik dengan sebelah kaki di celana yang satu dan kaki lainnya di celana lain. Benar-benar berantakan.</p>
<p>Tapi begitulah kematian. Kelinci tetaplah kelinci entah dia keluar dari topi atau berlarian di ladang gandum. Oven panas tetaplah oven panas, dan asap hitam yang keluar dari cerobong asap ya cuma itu—asap hitam yang keluar dari cerobong asap.</p>
<p>Orang pertama yang mengangkangi perbedaan antara kenyataan dan imajinasi (atau imajinasi dan kenyataan) adalah seorang kawan dari universitas yang mengajar Bahasa Inggris di SMP. Ia telah menikah selama tiga tahun, dan istrinya sedang berada di rumah orangtuanya di Shikoku untuk melahirkan.</p>
<p>Pada suatu Minggu siang yang tidak biasanya hangat di bulan Januari, ia pergi ke pasar swalayan untuk membeli dua kaleng krim cukur dan pisau buatan Jerman yang cukup besar untuk memotong telinga seekor gajah. Ia kembali ke rumah lalu menyalakan air di bak mandi. Kemudian ia ambil beberapa bongkah es dari lemari pendingin, mabuk dengan sebotol Scotch, naik ke bak mandi lalu menyayat nadinya sendiri. Ibunya yang menemukan jenazah, dua hari kemudian. Polisi datang dan mengambil gambarnya dari berbagai sudut. Darah mewarnai air mandi yang jadi seperti jus tomat. Polisi menyatakan kejadian itu sebagai bunuh diri. Lagi pula, semua pintu terkunci dan, tentu saja, almarhum membeli pisaunya sendiri. Tapi mengapa dia membeli dua kaleng krim cukur yang tidak akan ia gunakan? Tak seorang pun tahu.</p>
<p>Mungkin ketika masih berada di pasar swalayan ia tidak sadar bahwa dalam beberapa jam ia akan mati. Atau dia khawatir kasir di sana akan tahu ia akan bunuh diri.</p>
<p>Ia tidak meninggalkan wasiat atau surat perpisahan. Di meja dapur hanya ada gelas, botol wiski kosong dan mangkuk es, serta dua kaleng krim cukur. Sambil menunggu air mandinya siap sambil minum bergelas-gelas Haig dicampur bongkahan es, mungkin ia menatap dua kaleng krim cukur itu dan berpikir semacam <em>aku tidak harus bercukur lagi</em>.</p>
<p>Seorang lelaki yang mati di usia dua puluh delapan adalah kesedihan yang sama seperti hujan yang turun di musim dingin.</p>
<p>Dua belas bulan berikutnya ada empat orang lagi yang meninggal.</p>
<p>Salah satunya meninggal bulan Maret dalam sebuah kecelakaan ladang minyak di Arab Saudi atau Kuwait, dan dua yang lain meninggal bulan Juni—satu serangan jantung, yang satu lagi kecelakaan. Dari Juli hingga November kedamaian berjaya, namun bulan Desember seorang teman lagi meninggal, kecelakaan mobil.</p>
<p>Tidak seperti temanku yang pertama, yang bunuh diri, teman-teman yang lain tidak sadar mereka sekarat. Bagi mereka mungkin seperti menaiki tangga yang telah mereka lakukan jutaan kali dan mendadak tersadar satu anak tangga hilang.</p>
<p>“Tolong rapihkan tempat tidur untukku,” pinta teman yang kena serangan jantung pada istrinya. Ia adalah seorang desainer furnitur. Saat itu pukul sebelas pagi. Ia terbangun pukul sembilan, bekerja sebentar di ruangannya, dan berkata ia mengantuk. Lalu ia pergi ke dapur, membuat kopi dan meminumnya. Namun kopi tidak membantu. “Kurasa aku harus tidur sebentar,” katanya. “Aku seperti mendengar bunyi berdenging di belakang kepala.” Ternyata itu adalah kata-kata terakhir. Ia meringkuk di kasur, tidur, dan tak pernah bangun lagi.</p>
<p>Teman yang meninggal di bulan Desember adalah yang termuda dan satu-satunya perempuan. Usianya dua puluh empat, seperti aktivis dan bintang rock. Suatu malam berhujan sebelum Natal, ia terjepit secara tragis di tempat yang sangat biasa, di antara truk pengantar bir dan tiang telepon dari semen.</p>
<p>Beberapa hari kemudian setelah pemakaman terakhir, aku mengunjungi apartemen temanku untuk mengembalikan setelan yang baru saja kuambil dari penatu, sekaligus memberi sebotol wiski sebagai ucapan terimakasih.</p>
<p>“Terima kasih. Aku sangat menghargainya,” kataku</p>
<p>Seperti biasa, kulkasnya penuh dengan bir dingin dan pada sofa nyaman dalam ruangan ada sedikit bias sinar matahari. Di atas meja kopi terdapat asbak bersih dan satu pot tanaman <em>pointsettia</em> Natal.</p>
<p>Ia mengambil pakaian yag masih terbungkus plastik dengan gerakan santai—seperti beruang yang baru saja bangun dari tidur hibernasi—lalu menyimpannya tanpa suara.</p>
<p>“Kuharap setelanmu tidak berbau kematian,” ujarku.</p>
<p>“Pakaian tidaklah penting. Yang penting adalah yang ada di dalamnya.”</p>
<p>“Hm…” aku bergumam.</p>
<p>“Satu pemakaman disusul pemakaman lain tahun ini,” katanya sambil meregangkan tubuh di sofa lalu menuang bir ke dalam gelas. “Berapa pemakaman jadinya?”</p>
<p>“Lima,” jawabku sambil membuka jemari telapak tangan kiri. “Kurasa sudah.”</p>
<p>“Kau yakin?”</p>
<p>“Sudah cukup banyak orang meninggal.”</p>
<p>“Ini seperti Kutukan Piramid dan semacamnya,” ujarnya lagi. “Aku ingat, aku pernah membacanya entah dimana. Kutukan itu akan terus berlangsung hingga tercapai tumbal dengan jumlah tertentu. Atau sampai terlihat bintang merah di langit dan bayangan bulan menutupi matahari.”</p>
<p>Setelah kami menghabiskan sepaket bir isi enam botol, kami mulai membuka wiski. Matahari musim dingin menukik lembut ke dalam ruangan.</p>
<p>“Kau terlihat murung belakangan ini,” katanya.</p>
<p>“Begitukah?” jawabku.</p>
<p>“Kau pasti banyak berpikir tentang sesuatu di tengah malam,” ujarnya lagi. “Aku berhenti memikirkan banyak hal di malam hari.”</p>
<p>“Bagaimana kau melakukannya?”</p>
<p>“Saat aku merasa tertekan, aku bersih-bersih. Bahkan pukul dua atau tiga pagi. Aku cuci piring, mengelap kompor, mengepel lantai, memberi pemutih pada lap, merapihkan laci meja, menyetrika semua pakaian yang terlihat mata,” jelasnya sambil mengaduk minuman dengan jari. “Kulakukan itu sampai aku benar-benar lelah, minum, lalu tidur. Paginya aku bangun dan hingga aku akan mengenakan kaus kaki, aku bahkan tidak ingat apa yang semalam kupikirkan.”</p>
<p>Aku kembali melihat sekeliling. Seperti biasa, ruangan itu bersih dan rapih.</p>
<p>“Orang memikirkan berbagai hal pada pukul tiga pagi. Kita semua begitu. Karena itulah kita harus melakukan sesuatu untuk melawannya.”</p>
<p>“Mungkin kau benar,” jawabku.</p>
<p>“Bahkan binatang pun berpikir pada pukul tiga pagi,” sahutnya, dengan wajah seperti sedang mengingat sesuatu. “Kau pernah ke kebun binatang pukul tiga pagi?”</p>
<p>“Tidak,” jawabku lirih. “Tentu saja tidak.”</p>
<p>“Aku pernah sekali. Seorang temanku bekerja di kebun binatang dan kuminta padanya untuk membolehkanku masuk saat dia kebagian jaga malam. Tapi sungguh, jangan pernah kau lakukan.” Ia mengguncang gelasnya. “Pengalaman yang aneh. Aku tidak bisa menjelaskannya, namun aku merasa seperti tanah terbelah tanpa suara dan ada sesuatu yang merayap keluar dari dalam. Lalu seperti ada sesuatu tak kasat mata mengamuk dalam gelap. Dinginnya malam seperti mengental. Aku tidak dapat melihatnya tapi aku merasakannya, dan binatang-binatang di sana juga merasakannya. Semua membuatku berpikir jangan-jangan tanah yang kupijak sebenarnya mengarah ke inti bumi, dan tiba-tiba aku sadar bahwa inti bumi itu telah menghisap banyak sekali waktu.”</p>
<p>Aku membisu.</p>
<p>“Ngomong-ngomong, aku tidak ingin pergi ke sana lagi—ke kebun binatang tengah malam, maksudku.”</p>
<p>“Kau lebih memilih ke sana saat badai?”</p>
<p>“Oh, ya,” tukasnya. “Beri aku badai kapan pun.”</p>
<p>Telepon berdering dan ia pergi ke kamar tidur untuk mengangkatnya. Ternyata dari pacar klonnya, dengan panggilan klon telepon tanpa akhir. Aku sudah ingin pamit, namun ia menelepon lama sekali. Akhirnya aku malah menyetel televisi. Sebuah TV berwarna dua puluh tujuh inci dengan <em>remote control</em> yang saking sensitifnya, kau hanya perlu sedikit menyentuhnya untuk mengganti <em>channel</em>. TV itu dilengkapi dengan enam <em>speaker</em> dan suaranya jernih. Aku belum pernah melihat TV sekeren itu.</p>
<p>Aku mengganti-ganti <em>channel </em>hingga dua kali putaran sebelum akhirnya membiarkan acara berita tertampil di layar. Pertikaian di perbatasan, kebakaran, turun-naiknya nilai mata uang, pembatasan impor mobil, pertemuan renang luar ruang di musim dingin, bunuh diri keluarga. Semua kepingan-kepingan berita seperti berkaitan satu sama lain, seperti orang-orang yang kau lihat dalam foto kelulusan SMA.</p>
<p>“Ada berita menarik?” Tanya temanku sekembalinya ia ke dalam ruangan.</p>
<p>“Tidak begitu,” jawabku.</p>
<p>“Kau sering nonton TV?”</p>
<p>Aku menggeleng. “Aku tidak punya TV.”</p>
<p>“Setidaknya ada satu hal bagus pada TV,” ujarnya setelah beberapa saat. “Kau bisa mematikannya sesukamu. Dan tidak ada seorang pun yang  mengeluh.”</p>
<p>Ia memencet tombol <em>Off</em> di <em>remote</em>. Mendadak layar kosong. Ruangan senyap. Di luar jendela, lampu-lampu di gedung lain mulai menyala.</p>
<p>Kami duduk selama lima menit, minum wiski dan tidak bicara. Telepon berbunyi lagi, namun ia berpura-pura tidak mendengar. Ketika telepon berhenti berdering, ia memencet tombol <em>On</em>. Spontan, gambar kembali muncul, dan seorang komentator berdiri di depan grafik dan menunjuk dengan <em>pointer</em> sambil menjelaskan perubahan harga minyak.</p>
<p>“Kau lihat? Dia bahkan tidak sadar saat kita mematikannya selama lima menit.”</p>
<p>“Kalau begitu kamu benar.”</p>
<p>“Hei.. Kau kenapa?”</p>
<p>Aku merasa terlalu berat untuk berpikir, jadi, aku menggeleng.</p>
<p>“Ketika kau mematikan TV, salah satu pihak menjadi tiada. Ini antara dia yang ada di TV atau kita. Kau pencet satu tombol dan komunikasi menghilang. Mudah sekali.”</p>
<p>“Itu salah satu caramu memikirkannya,” kataku.</p>
<p>“Ada jutaan cara berpikir. Di India mereka menumbuhkan pohon kelapa. Di Argentina tahanan politik dijatuhkan dari helikopter yang sedang terbang.” Ia kembali mematikan televisi. “Aku tidak ingin mengatakan apapun tentang orang lain,” katanya lagi. “Tapi kau harus pertimbangkan adanya cara mati yang lain yang tidak berakhir di pemakaman. Jenis kematian yang tidak dapat kau cium baunya.”</p>
<p>Aku hanya mengangguk dan tidak berkata sepatahpun. Kurasa aku tahu apa maksud perkataannya. Namun di saat yang sama aku juga tidak paham apa maksudnya. Aku lelah dan sedikit bingung. Aku hanya duduk dan memain-mainkan lembar dedaunan hijau <em>poinsetta</em> di atas meja.</p>
<p>“Aku punya sampanye,” ujarnya, jujur. “Aku membawanya dari perjalanan bisnis ke Perancis tempo hari. Aku tidak begitu mengerti tentang sampanye, tapi harusnya ini enak. Kau mau? Sampanye sepertinya sesuatu yang sangat cocok setelah kau menghadiri beberapa pemakaman.”</p>
<p>Ia membawa sebotol sampanye dingin dan dua gelas bersih kemudian meletakkannya di meja, lalu tersenyum dengan licik. “Sampanye ini sebenarnya sangat tidak berguna, tahu,” sambungnya. “Satu-satunya hal yang menyenangkan adalah ketika kau membuka gabus penutupnya.”</p>
<p>“Aku setuju denganmu,” sahutku.</p>
<p>Kami membuka tutupnya dan bicara untuk beberapa saat tentang kebun binatang di Perancis dan hewan-hewan apa yang tinggal di sana. Sampanye itu rasanya enak sekali.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>*</strong></p>
<p>Selalu ada pesta tiap akhir tahun, pesta Malam Tahun Baru di sebuah bar di Roppongi yang tempatnya khusus disewa untuk acara itu. Ada trio piano bermain dan banyak makanan dan minuman enak tersedia. Saat aku bertemu seseorang yang kukenal, aku ngobrol sebentar dengannya. Pekerjaan mengharuskan aku hadir di acara-acara tersebut. Aku tidak suka pesta, namun yang ini mudah kutangani. Aku tidak punya acara apapun di Malam Tahun Baru dan aku tahan berdiri sendirian berjam-jam di sudut ruangan, santai, minum beberapa gelas, dan menikmati musik. Tak ada orang berperangai buruk yang teriak-teriak, tak perlu bertemu orang asing dan mendengar celotehan mereka selama satu setengah jam tentang bagaimana pola hidup vegetarian dapat menyembuhkan kanker.</p>
<p>Namun malam itu aku diperkenalkan oleh seorang perempuan. Setelah berbincang sedikit seperti sebuah perkenalan pada umumnya, aku beranjak kembali ke sudut tempatku sebelumnya. Tapi perempuan ini mengikutiku hingga ke kursi tempatku duduk dengan gelas berisi wiski di tangan.</p>
<p>“Aku yang meminta dikenalkan olehmu,” katanya, ramah.</p>
<p>Perempuan ini bukan jenis perempuan yang dapat membuatmu menoleh dua kali meskipun dia menarik. Gaun sutranya yang mahal berwarna hijau dan kukira usianya sekitar tiga puluh dua. Dia dapat membuat penampilannya terlihat lebih muda dengan sangat mudah, namun mungkin dia tidak ingin repot-repot melakukannya. Tiga cincin menghias jemarinya dan senyum samar membayang di bibir.</p>
<p>“Kamu mirip sekali dengan seseorang yang kukenal,” ujarnya. “Garis wajahmu, punggungmu, caramu bicara, keseluruhan pembawaanmu—persamaan yang menakjubkan. Aku telah mengawasimu sejak kau masuk ke dalam ruangan.”</p>
<p>“Jika memang ia benar-benar mirip denganku, ingin sekali aku bertemu dengan lelaki ini,” kataku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa.</p>
<p>“Sungguh?”</p>
<p>“Aku ingin tahu bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh mirip denganku.”</p>
<p>Senyumnya makin dalam seketika, lalu berubah lembut. “Itu tidak mungkin,” ujarnya. “Ia meninggal lima tahun yang lalu. Saat itu mungkin usianya sama denganmu sekarang.”</p>
<p>“Benarkah?”</p>
<p>“Aku membunuhnya.”</p>
<p>Trio pianis dalam ruangan baru saja menyelesaikan musik set kedua dan orang-orang bertepuk tangan setengah hati.</p>
<p>“Kau suka musik?” Tanya si perempuan.</p>
<p>“Ya, jika musik itu indah dan berada dalam dunia yang indah,” kataku.</p>
<p>“Di dunia yang indah tidak ada musik indah,” jawabnya, seakan sedang mengungkap rahasia terdalam. “Di dunia yang indah, udara tidak bergetar.”</p>
<p>“Oh, begitu…” Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tak tahu harus bagaimana menanggapinya.</p>
<p>“Kau pernah menonton film dimana Warren Beatty bermain piano di sebuah kelab malam?”</p>
<p>“Belum.”</p>
<p>“Elizabeth Taylor adalah salah satu tamu di kelab tersebut. Dia sangat miskin dan menyedihkan.”</p>
<p>“Hmmm…”</p>
<p>“Lalu Warren Beatty bertanya pada Elizabeth Taylor apakah dia ingin meminta lagu untuk dimainkan.”</p>
<p>“Lalu? Apa jawabnya?”</p>
<p>“Aku lupa. Film itu sudah sangat tua sekali.” Jemarinya berkilau ketika ia meminum wiskinya. “Aku benci permintaan. Membuatku tidak bahagia. Seperti ketika aku mengambil buku dari rak perpustakaan. Begitu kubuka lembar pertama dan mulai membaca, yang kupikirkan adalah kapan buku itu selesai.”</p>
<p>Ia ambil sebatang rokok dan diletakkan di sela bibir. Kuambil korek dan kunyalakan rokoknya.</p>
<p>“Jadi,” sambungnya. “Tadi kita bicara tentang seseorang yang mirip denganmu.”</p>
<p>“Bagaimana kau membunuhnya?”</p>
<p>“Aku dorong dia ke sarang lebah.”</p>
<p>“Kamu bercanda <em>kan</em>?”</p>
<p>“Ya,” sahutnya.</p>
<p>Aku tidak menghembuskan napas lega namun malah meneguk wiskiku sendiri. Bongkahan es di dalamnya telah leleh dan rasa wiskinya hampir hilang.</p>
<p>“Secara hukum, tentu saja aku bukan pembunuh,” ujarnya. “Secara moral juga bukan.”</p>
<p>“Bukan pembunuh secara hukum dan secara moral.” Meskipun aku tidak menginginkannya, aku mengulas poin-poin yang barusan ia sampaikan. “Namun kau telah membunuh seseorang.”</p>
<p>“Betul sekali.” Ia mengangguk riang. “Seseorang yang mirip sekali denganmu.”</p>
<p>Di seberang ruangan seorang lelaki tertawa terbahak-bahak. Orang-orang di sekitarnya juga tergelak. Gelas-gelas berdenting. Suara mereka jauh namun jelas sekali terdengar. Aku tidak tahu mengapa, namun jantungku berdetak cepat seakan membesar dan turun-naik. Aku merasa seperti sedang berjalan di atas tanah yang mengapung di air.</p>
<p>“Kurang dari lima detik,” ujarnya. “Untuk membunuhnya.”</p>
<p>Kami membisu sesaat. Ia memanfaatkan waktunya, mereguk kebisuan.</p>
<p>“Kau pernah berpikir tentang kebebasan?” Ia bertanya.</p>
<p>“Kadang-kadang,” jawabku. “Mengapa kau bertanya?”</p>
<p>“Kau bisa menggambar bunga <em>daisy</em>?”</p>
<p>“Sepertinya. Apakah ini semacam tes kepribadian?”</p>
<p>“Hampir.” Ia tertawa.</p>
<p>“Lantas? Apakah aku lulus?”</p>
<p>“Ya,” tukasnya. “Kau akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Intuisiku mengatakan kau akan hidup sampai tua sekali.”</p>
<p>“Terima kasih,” jawabku.</p>
<p><em>Band</em> mulai memainkan lagu ‘<em>Auld Lang Syne</em>’.</p>
<p>“Sebelas lima lima,” ujarnya, menatap sekilas pada jam emas yang tergantung sebagai liontin kalung. “Aku suka sekali ‘<em>Auld Lang Syne</em>’. Kamu?”</p>
<p>“Aku lebih suka “<em>Home on the Range</em>”. Tentang kijang dan antelop.”</p>
<p>Perempuan itu tersenyum. “Kau pasti pecinta binatang.”</p>
<p>“Memang,” kataku. Dan aku berpikir tentang kawanku yang menyukai kebun binatang dan setelan jas pemakaman miliknya.</p>
<p>“Aku senang bicara denganmu. Sampai nanti.”</p>
<p>“Selamat tinggal,” jawabku.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>*</strong></p>
<p><em>Mereka mematikan lampu untuk menghemat udara dan kepekatan melingkupi. Tiada satu pun angkat bicara. Yang dapat mereka dengar di kegelapan hanyalah suara air menetes dari langit-langit setiap lima detik.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Baiklah. Semuanya, usahakan jangan bernapas terlalu banyak. Kita tidak punya cukup udara tersisa,” kata seorang penambang tua. Ia berbisik, namun bahkan bisikannya membuat pilar kayu di atas langit-langit terowongan berderik samar. Dalam kegelapan para penambang berangkulan rapat, mempertajam telinga untuk dapat mendengar bunyi. Suara beliung. Suara kehidupan.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Mereka menunggu dan menunggu selama berjam-jam. Kenyataan mulai mengabur dalam kepekatan. Semuanya terasa seperti terjadi lama sekali, di sebuah dunia yang sangat jauh. Atau mungkin terjadi di masa depan, di sebuah dunia yang sama sekali berbeda?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Di luar orang-orang menggali lubang, mencoba meraih mereka. Semua seperti adegan dalam sebuah film.</em></p>
<p><a title="New York Mining Disaster" href="http://www.geocities.jp/yoshio_osakabe/Haruki/Books/NY-Mining-Disaster.html" target="_self">Judul Bahasa Inggris</a> <em>New York Mining Disaster</em> diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh Phillip Gabriel dari buku <em>Blind Willow, Sleeping Woman</em>, <a title="Author" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Haruki_murakami" target="_blank">Haruki Murakami</a>.</p>
<p><em> </em></p>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/short-story/'>Short Story</a> Tagged: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/mining/'>Mining</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/murakami/'>Murakami</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/new-york/'>New York</a>, <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/tag/translation/'>Translation</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=31&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/08/24/petaka-pertambangan-new-york/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7141f937f5fa647f42e8ed05655ae478?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mPitzky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Bilang Saya Jorok: Sedikit Catatan Soal Menstruasi&#8230;</title>
		<link>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/08/21/mereka-bilang-saya-jorok-sedikit-catatan-soal-menstruasi/</link>
		<comments>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/08/21/mereka-bilang-saya-jorok-sedikit-catatan-soal-menstruasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 06:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahadbayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://learnerwithoutborder.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang pertama kali tersulut di pikiran kalian saat mendengar kata “menstruasi”? Ingatan yang similar dengan teror dan kepanikan? Biarkan saya coba menebak. Kalau Anda perempuan, mungkin Anda akan menjawab: nyeri menghebat, depresi, migrain, moodswing, saat–saat paling merepotkan, atau lima hari tanpa berenang. Mungkin juga perempuan justru memilih tidak akan menjawab. Kalau Anda lelaki, saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=54&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/08/28294_399344312757_609572757_4279033_82702_a1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-57" title="28294_399344312757_609572757_4279033_82702_a" src="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/08/28294_399344312757_609572757_4279033_82702_a1.jpg?w=645" alt=""   /></a>Apa yang pertama kali tersulut di pikiran kalian saat mendengar kata “menstruasi”? Ingatan yang similar dengan teror dan kepanikan? Biarkan saya coba menebak. Kalau Anda perempuan, mungkin Anda akan menjawab: nyeri menghebat, depresi, migrain, moodswing, saat–saat paling merepotkan, atau lima hari tanpa berenang. Mungkin juga perempuan justru memilih tidak akan menjawab. Kalau Anda lelaki, saya kira Anda akan menjawab: tidak tahu, entah, darah, jorok, atau bahkan puasa intercourse beberapa hari. Kadang diselingi tawa cengengesan.</p>
<p>Hal-hal yang menyangkut urusan biologis seringkali dianggap tabu atau bahkan keliru dipahami. Itu contoh yang saya dapati usai menonton preview sebuah film. Seorang kawan yang baik hati, meminta saya menonton film <a title="ini." href="http://www.mediaed.org/cgi-bin/commerce.cgi?preadd=action&amp;key=240&amp;template=PDGCommTemplates/HTN/Item_Preview.html">ini. </a> dokumenter garapan Diana Fabianova, yang mengambil tema soal menstruasi. Hanya sekedar trailer dan preview yang saya liat, karena film ini tidak tersedia di penyedia torrent gratisan. Karena kemampuan listening saya sempoyongan, dia memberitahu pula transkrip PDF-nya. Sekalian link <a>trailer</a> nya di Youtube. Kurang enak apa saya. Barangkali kalau dia tahu nomer HP si Diana Fabianova, bakal dikasihnya juga ke saya.</p>
<p>Saya sendiri tidak begitu mengerti soal menstruasi, di luar sudut pandang anatomi dan fisiologinya. Tidak mengerti benar soal teror yang disuguhkan selama kurang lebih lima hari dalam sebulan, sebab saya memang tidak pernah mengalaminya sedikitpun. Sumpah.</p>
<p>Menstruasi yang saya tahu ya proses meluruhnya dinding endometrium uterus karena terjadinya penurunan drastis hormon progesteron. Panjang siklus bervariasi dari 23 hari atau kurang-untuk siklus pendek-dan 35 hari lebih untuk siklus panjang. Sederhananya seperti itu. Jungkat-jungkit antar hormon progesterone dan estrogen yang tidak teratur membawa berbagai perubahan yang kerap dianggap “tidak normal”.</p>
<p>“Ketidaknormalan” ini yang membuat menstruasi dikait-kaitkan dengan pemahaman yang tidak masuk akal. Seperti yang dituturkan orang-orang di film tersebut. Alih-alih memahami menstruasi sebagai proses fisiologis perempuan, pemahaman orang-orang tadi malah stigmatis, tidak jelas muaranya, dan ngawur. Sedikit aneh untuk pemikiran orang-orang bule. Logika mana yang mengantarkan anggapan seorang pendeta bahwa menstruasi adalah campur tangan iblis? Seorang dokter pun mengiyakan omongan tadi dan ngeyel bahwa haid bukanlah sesuatu yang fisiologis. Juga pernyataan lain bahwa perempuan yang sedang haid akan membuat binatang buas semakin ganas. Stigma-stigma aneh dan terlanjur melekat inilah yang seakan melenyapkan peran perempuan hanya karena dinding rahimnya luruh. Lima hari penuh ketidaknormalan, lima hari penuh teror.</p>
<p>Yang terjadi adalah kemunculan sekian bentuk penolakan terhadap fisiologi haid. Menstruasi dianggap musuh dan harus dilawan. Senjata terampuh adalah berbagai pil dan implantasi hormonal agar kaum wanita tidak lagi kerepotan gara-gara siklus bulanan. Bayangkan, diantara obat dan implan itu ada yang masa kerjanya sampai 9 tahun. Sembilan tahun tanpa haid! Malangnya, sembilan tahun pula wanita itu akan berjalan bergandengan tangan dengan <a title="carcinoma" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Carcinoma">carcinoma</a> yang siap menikam tanpa mereka tahu.</p>
<p>Oke, saya mungkin mahfum bila haid sama dengan “masalah”. Lahir maupun batin. Fisik maupun psikologis. Lebih dari sekedar repotnya berganti pembalut ataupun ketakutan kalau saja si merah muncul di depan umum. Depresi, nyeri hebat, migrain, emosi yang tidak stabil, atau apapun. Silakan cermati, semua tadi berkaitan erat dengan sistem syaraf. Lebih tepatnya system syaraf pusat. Lebih tepat lagi: otak.</p>
<p>Tubuh manusia, lelaki maupun perempuan, diciptakan dengan begitu komplementifnya. Sehingga ketika terjadi masalah di sebuah sistem, pasti terkait dengan sistem yang lain. Saya teringat, bahwa otak lelaki dan perempuan diciptakan dengan komposisi berbeda. Nukleus otak perempuan delapan kali lebih banyak daripada otak pria. Itu membuat otak perempuan memiliki reseptor nyeri lebih banyak daripada pria. Otak bekerja dengan prinsip habituasi, prinsip pembiasaan yang bergantung dari reseptor yang ia terima. Karena reseptor nyeri perempuan lebih banyak, otak semakin adaptif terhadap nyeri. Ini yang membuat wanita lebih tahan nyeri daripada pria. Perlu diketahui juga, wanita lebih tahan terhadap depresi dan stress daripada pria, <a title="mekanisme koping" rel="nofollow" href="http://blog-indonesia.com/blog-archive-6424-275.html" target="_blank">mekanisme koping</a> nya cenderung adaptif dan lebih tahan tekanan (untuk kalimat terakhir tolong jangan ngeres. Saya serius). Para pria tak usah banyak gaya. Wanita lebih mengenal tubuhnya sendiri dan lebih kuat. Apalagi dengan pola “latihan” yang tersiklus begitu teraturnya selama sebulan sekali.</p>
<p>Maka upaya-upaya penolakan sebagaimana yang disebut beberapa orang di film ini seakan mengingkari upaya internal tubuh perempuan mengatasi masalah haid: mengingkari fisiologisnya sekaligus memberi permasalahan baru, seakan wanita belum cukup mengahadapi permasalahan lain soal organ reproduksi yang membuat saya miris.</p>
<p>Dari preview film ini saya jadi tahu bahwa industri pun bisa begitu mengerikannya bagi kelamin wanita. Saya baru tahu bahwa pembalut jaman sekarang ternyata “rakus “ benar. Ia tak lagi menyerap darah haid, tapi juga menghisap cairan vagina yang diperlukan. Atau kenyataan ngeri lainnya, bahwa 20% pestisida di dunia digunakan dalam proses manufaktur pembalut. Padahal setiap wanita rata-rata memakai sekitar 10.000 pembalut di masa hidupnya sebelum terhenti oleh menopause. Dan setiap hari sekitar 3 juta tampon dan pembalut wanita berisi campuran pestisida, darah dan cairan vagina yang dicecapnya pula, dihanyutkan ke laut dan sungai.</p>
<p>Jadi, film ini adalah sebuah tawaran. Tawaran <em>counter mind</em> ihwal menstruasi yang berangkat dari studi sosial tentang menstruasi. Ini bukan soal menang-menangan gender dengan menstruasi sebagai kedok. Bukan pula bagian kecil dari upaya revolusioner untuk menggulingkan budaya patriarki gagah-gagahan yang memang sudah begitu kuat akarnya.</p>
<p>Ini adalah menyoal bagaimana manusia dapat menghormati fisiologi tubuh masing-masing. Terlebih bagi perempuan, film ini seakan menjadi pengingat bahwa fase menstruasi adalah fase mengakrabi diri sendiri. Fase yang sama sekali tidak membuat wanita kehilangan kemuliaannya, dan kehilangan makna betapa berartinya mereka bagi kehidupan.</p>
<p>Saya trenyuh saat narator menutup preview film ini dengan ungkapan yang liris, sekaligus menggetarkan:</p>
<blockquote><p><em><strong><br />
“&#8230; although I still have questions, I know that the answers lie within myself. As I try and connect to the moon inside me, being a woman has taken on a whole new meaning. I no longer fight my hormonal clock, because it’s she that reminds me once a month that I have a personal, intimate connection to nature and the universe&#8230;”<br />
.</strong></em></p></blockquote>
<br />Filed under: <a href='http://learnerwithoutborder.wordpress.com/category/review/'>Review</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/learnerwithoutborder.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=learnerwithoutborder.wordpress.com&amp;blog=2072770&amp;post=54&amp;subd=learnerwithoutborder&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2010/08/21/mereka-bilang-saya-jorok-sedikit-catatan-soal-menstruasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ac7aa7acc2304970e334bc979544b59?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahadbayu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://learnerwithoutborder.files.wordpress.com/2010/08/28294_399344312757_609572757_4279033_82702_a1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">28294_399344312757_609572757_4279033_82702_a</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
