Tentang Salju, Kaca, dan Apel

Aku tak kenal siapa dia. Tak ada seorangpun yang mengenalnya. Ibunya ia bunuh saat melahirkannya, namun tiada yang menuduhnya pembunuh.

Mereka menyebutku Si Bijak, namun sesungguhnya tidak begitu, karena ramalanku adalah kepingan peristiwa yang membeku, terperangkap dalam kolam air atau dalam cerminku. Jika memang aku bijak, aku tidak akan mencoba mengubah apapun yang kulihat. Jika memang aku bijak, harusnya kubunuh diriku sendiri sebelum bertemu dia, sebelum aku bertemu lelaki itu.

Seorang bijak, dan juga penyihir, itulah yang mereka katakan, sementara seumur hidup kudapati wajah lelaki itu dalam mimpi dan pada wajahku sendiri di cermin: enam belas tahun aku memimpikannya sebelum kudanya berhenti di jembatan dan ia bertanya namaku. Dibantunya aku menaiki punggung kuda yang tinggi, kemudian melenggang menuju pondok mungilku. Kubenamkan wajahku dalam rambutnya yang gemerlap keemasan. Dia meminta yang terbaik dari semua milikku; dan itu memang haknya sebagai seorang raja.

Cahaya mentari pagi mewarnai jenggotnya yang merah tembaga, dan aku tidak menganggapnya sebagai raja karena saat itu aku tak paham apa itu raja. Aku mengenalnya sebagai kekasih. Dia ambil apapun yang dia inginkan dariku, karena dia seorang raja, dan ia kembali keesokan harinya, dan malam selanjutnya: dengan jenggot yang sangat merah, rambut yang sangat pirang, mata sebiru langit musim panas, dan kulit coklat sewarna gandum siap dipanen.

Putrinya adalah perempuan kecil berusia lima tahun ketika aku datang ke istana. Wajah mendiang ibunya diabadikan dalam lukisan yang tergantung di kamar menara sang putri; seorang perempuan langsing dengan rambut sekelam kayu tua dan mata berwarna coklat kacang. Sangat berbeda dari putrinya yang berkulit pucat.

Gadis kecil itu tak mau makan semeja dengan kami.

Aku tak tahu di bagian istana sebelah mana ia makan.

Aku punya kamar sendiri. Suamiku, Sang Raja, juga punya kamarnya sendiri. Jika ia menginginkanku ia akan memanggilku, dan aku akan mendatanginya, dan memuaskannya, yang memuaskanku.

Pada suatu malam, beberapa bulan setelah aku dibawa ke istana, Sang Putri mendatangi kamarku. Usianya enam tahun. Aku sedang menyulam dekat lampu minyak, mataku menyipit karena asap dan cahaya remang-remang. Aku mendongak, dan dia berdiri di depanku.

“Putri?”

Ia hanya diam. Matanya sehitam arang, sehitam rambutnya; bibirnya lebih merah dari darah. Ia menatapku dan tersenyum. Dan bahkan dalam cahaya redup, giginya terlihat sangat tajam.

“Kamu kenapa keluar kamar?”

“Aku lapar,” jawabnya, layaknya kanak-kanak.

Saat itu musim dingin, ketika makanan segar adalah perihal kehangatan dan cahaya matahari; dan aku punya serenceng apel utuh tanpa biji dan dikeringkan, tergantung pada kayu rangka kamar, dan aku ambil satu untuknya.

“Ini.”

Musim gugur adalah saat mengeringkan, mengawetkan, memetik apel, mengumpulkan lemak angsa. Musim dingin adalah saat kelaparan, salju, dan kematian; dan juga saat pesta pertengahan musim dingin ketika kita melumuri lemak angsa ke kulit babi utuh, mengisinya dengan apel dari musim gugur, kemudian dibakar atau dipanggang, dan ketika daging rekah beranjak matang, semua bersiap-siap makan besar.

Dia mengmbil apel kering dari tanganku dan mengunyah dengan geliginya yang tajam kekuningan.

“Enak?”

Dia mengangguk. Aku selalu takut pada si putri kecil, namun saat itu aku merasa dekat, dan pipinya kuusap dengan lembut. Dia menatapku sambil tersenyum—dia jarang sekali tersenyum—lalu menggigit ibu jariku dalam-dalam hingga ke pangkal, tepat di bagian Bukit Venus, dan menyedot darahku.

Aku memekik, sakit dan kaget menjadi satu; namun tatapannya membuatku kembali terdiam.

Si putri kecil kembali meletakkan mulutnya pada tanganku, menjilat, menyedot, dan minum. Lalu dia tinggalkan kamarku setelah usai. Kutatap luka yang dia buat, perlahan menutup, mengeras, dan sembuh. Keesokan harinya guratan itu hanya menjadi bekas luka lama: Mungkin tanganku teriris pisau lipat saat aku masih kecil.

Ia membuatku mematung, mengendalikan dan menguasaiku. Ini lebih menakutkan ketimbang saat ia meminum darahku. Setelah kejadian malam itu aku kunci pintu kamarku saat malam menjelang, terpalang dengan batang kayu ek, dan kuperintahkan pandai besi memasang jeruji pada jendela-jendela kamar.

Suamiku, kekasihku, rajaku, semakin jarang memanggilku, dan ketika kudatangi dia seperti orang linglung, lesu, dan bingung. Ia tak lagi mampu bercinta sebagaimana lelaki pada umumnya. Dan dia juga melarangku memuaskannya dengan mulutku. Sekali aku berusaha, dan dia malah terisak keras. Kulepas lumatanku dan kupeluk dia erat-erat hingga isakannya berhenti sampai ia tertidur seperti bocah.

Kubelai permukaan kulitnya saat dia terlelap. Luka-luka lama menutupi sebagian besar tubuhnya. Namun aku tak pernah lihat luka-luka tersebut ketika kami belum menikah, kecuali satu luka di bagian samping akibat diserang babi hutan semasa muda.

Perlahan ia menjadi bayang-bayang lelaki yang dahulu pernah kutemui di jembatan dan kucinta habis-habisan. Belulangnya menyembul, putih kebiruan, dari balik kulit. Aku mendampingi masa-masa terakhirnya: tangannya sedingin batu, matanya biru pucat, rambut dan jenggotnya memudar, lusuh dan lepek. Ia wafat tanpa upacara khidmat, dari ujung kaki hingga kepala kulitnya bopeng-bopeng dan carut-marut dengan bekas luka kecil-kecil.

Dia sangat ringan. Dan tanah keras membeku, dan kami tidak bisa menggali dan menguburnya. Jadi, kami membuat gundukan batu dari kerikil yang menutupi tubuhnya, sebagai pengingat, karena tidak begitu banyak bagian tubuh tersisa yang bisa dibantai binatang dan burung kelaparan.

Kemudian aku menjadi ratu.

Saat itu aku masih muda dan bodoh—delapan belas musim panas berlalu sepanjang hidupku—dan aku tidak melakukan apa yang seharusnya kulakukan.

Jika semua itu terjadi sekarang, aku pasti sudah memerintahkan seseorang untuk mengambil jantungnya. Sungguh. Kemudian kusuruh mereka memenggal kepala, tangan, dan kakinya. Lalu kuperintahkan mereka memburai jeroannya. Dan aku akan menontonnya di alun-alun ketika penjagal memompa api hingga besar dan berwarna keputihan. Mataku tak akan berkedip ketika satu demi satu potongan tubuhnya dilempar ke api. Aku tempatkan para pemanah di sekeliling alun-alun dan kuperintahkan mereka memanah binatang atau burung yang mendekat, meskipun itu hanya seekor gagak, anjing, elang, atau tikus. Aku tak akan mengejap sampai si putri berubah menjadi abu, dan hembusan angin menyebarkannya ke segala penjuru seperti salju.

Namun aku tidak melakukannya, dan kita membayar kesalahan yang kita perbuat.

Orang-orang bilang aku ditipu; bahwa yang kumiliki bukanlah jantungnya. Itu adalah jantung binatang—mungkin seekor rusa, atau babi hutan. Begitulah yang mereka katakan, namun mereka salah.

Ada juga yang bilang (dan ini adalah kebohongannya, bukan kebohonganku) saat jantungnya ada di hadapanku, aku memakannya. Kebohongan dan separuh kebenaran berhamburan bagai salju, menutupi hal-hal yang kuingat, hal-hal yang kulihat. Ia membuat hidupku seperti pemandangan asing yang tak kukenal setelah salju meliputinya.
Ada banyak bekas luka pada kekasihku–ayahnya. Pada paha, pada buah zakar, dan pada kemaluannya saat dia wafat.

Aku tidak ikut dengan mereka. Ia diculik siang hari ketika tidur, ketika sedang lemah-lemahnya. Mereka membawanya ke tengah hutan, menelanjangi dan mengambil jantungnya, lalu mencampakkannya di parit dalam kondisi sekarat, meninggalkannya ditelan hutan.

Hutan adalah tempat gelap, perbatasan ke banyak kerajaan. Tak seorangpun yang terlalu bodoh dan mengaku-ngaku berkuasa di tempat itu. Para pesakitan tinggal di hutan. Perampok tinggal di hutan. Begitu juga kumpulan serigala. Kau bisa menunggang kuda menembus hutan selama dua belas hari dan tak seorang pun manusia kau temui; namun ada banyak pasang mata mengawasimu sepanjang waktu.

Mereka membawakan jantungnya padaku. Aku langsung tahu itu jantungnya—tiada satupun, baik itu jantung babi maupun rusa, yang terus berdegup dan berdenyut setelah dicabut dari tubuh, seperti jantung ini.

Aku membawanya ke kamar.

Aku tidak memakannya: Aku menggantungnya di rangka kamar tepat di atas ranjangku, membelitnya bersama beri hutan berwarna merah-jingga seperti bulu dada burung robin; dan gerumbul-gerumbul bawang putih.

Di luar salju turun, menutupi jejak para pemburu, menutupi tubuh mungilnya yang menggeletak jauh di dalam hutan.

Kusuruh pandai besi membongkar teralis di jendela kamarku. Setiap sore, melewati siang musim dingin yang pendek, aku akan menyendiri dalam kamar, memandangi hutan di kejauhan, hingga hari beranjak gelap.

Sebagaimana aku ceritakan sebelumnya, ada orang-orang yang berdiam di hutan. Beberapa diantara mereka akan keluar mengunjungi Pasar Musim Semi: orang-orang liar, tamak, dan berbahaya; ada yang sangat pendek—kurcaci, orang kerdil, dan si bongkok. Ada yang bergigi besar-besar dan menatap kosong seperti orang bodoh. Ada yang berjari seperti sirip ikan atau capit kepiting. Mereka akan mengendap keluar hutan setiap tahun demi Pasar Musim Semi yang diadakan saat salju telah mencair.

Waktu aku kecil aku pernah bekerja di Pasar, dan aku takut sekali pada mereka, para penghuni hutan. Aku meramal para pengunjung Pasar, mengintip masa depan melalui genangan air; dan selanjutnya, ketika aku beranjak dewasa, menggunakan cermin kaca mengilap dengan bagian belakang berwarna perak—hadiah dari seorang pedagang yang kudanya kutemukan melalui genangan tinta.

Pemilik-pemilik lapak sangat takut pada para penghuni hutan. Mereka memaku dagangan ke papan—paku besi yang kuat dan besar menancap potongan roti jahe atau sabuk kulit di papan. Jika tidak dipaku, ujar mereka, para penghuni hutan akan mengambilnya dan melarikan diri sambil mengunyah roti jahe, atau kabur membawa sabuk kulit.

Sesungguhnya mereka punya uang, para penghuni hutan itu: sedikit koin di sini, sedikit di sana, terkadang bernoda hijau karena tua atau karena tanah, dengan permukaan koin bergambar asing yang bahkan para tetua kami tidak mengenalinya. Mereka juga punya barang untuk ditukar, dan begitulah perdagangan berlanjut, melayani para pesakitan dan kurcaci, melayani perampok (harus hati-hati sekali) pemangsa para pelancong langka yang datang dari negeri di seberang hutan, atau memangsa gipsi, atau rusa. (Yang belakangan dianggap perampokan di mata hukum. Rusa-rusa tersebut kepunyaan Ratu.)

Tahun demi tahun berlalu pelan, dan rakyat merasa aku memerintah dengan bijaksana. Jantung itu masih tergantung di atas ranjang, berdegup lembut di keheningan malam. Jika ada yang bersedih karena kehilangan si bocah, aku tidak menemukan buktinya. Perempuan kecil tersebut merupakan kengerian yang mewujud, dan ketiadaannya baik untuk mereka.

Setiap tahun Pasar Musim Semi diadakan. Dan setiap tahun semakin menyedihkan, semakin lusuh, semakin kumuh. Para penghuni hutan yang keluar dan berbelanja semakin berkurang. Bila ada, mereka terlihat lemah dan lesu. Pemilik lapak tak lagi memaku dagangan mereka. Pada tahun kelima sedikit sekali para penghuni hutan yang keluar—hanya segerombol lelaki-lelaki pendek berbulu lebat. Hanya itu.

Kepala Pasar dan pembantunya datang padaku suatu hari. Aku mengenalnya dulu, sebelum aku menjadi ratu.

“Hamba tidak datang ke sini karena Paduka adalah ratu,” ujarnya.

Aku hanya diam. Aku mendengarkan.

“Hamba datang ke sini karena Paduka adalah orang bijak,” lanjutnya. “Semasa kecil, Paduka menemukan kuda yang hilang dengan melihat ke dalam genangan tinta. Semasa remaja, Paduka menemukan bocah yang bermain terlalu jauh dari ibunya melalui cermin. Paduka memahami beberapa rahasia dan dapat melihat berbagai hal yang tersembunyi. Paduka Ratu,” ia bertanya, “mengapa banyak penghuni hutan menghilang? Tahun depan mungkin tidak ada Pasar lagi. Pelancong dari kerajaan lain semakin langka, dan para penghuni hutan juga hampir tak ada. Jika tahun depan masih seperti ini, kita semua akan kelaparan.”

Kuperintahkan pelayan mengambil cerminku. Sebuah cermin sederhana, piringan kaca dengan bagian belakang perak yang kubungkus dengan kulit rusa betina dan kutaruh di dalam lemari di kamarku.

Mereka menyerahkan cermin tersebut padaku, dan aku melihat ke dalamnya:

Usianya dua belas sudah, dan dia bukan lagi seorang bocah. Kulitnya masih saja pucat dengan sepasang mata dan rambut hitam kelam dan bibir semerah darah. Dia masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat dia meninggalkan kastil terakhir kali—baju, rok—meskipun koyak dan penuh tambalan di sana-sini. Dia melapisinya dengan jubah kulit. Sepasang kaki mungilnya tidak bersepatu, namun terbungkus semacam tas kulit kecil yang diikat tali.

Ia berdiri di dalam hutan, di samping pohon.

Melalui mata batinku aku melihatnya menjejak, melompat, bergerak secepat kilat, dan mendarat tanpa suara bagai binatang: seperti kelelawar atau serigala. Ia sedang membuntuti seseorang.

Yang dibuntuti adalah seorang biarawan. Ia mengenakan jubah dari bahan kasar. Kakinya yang telanjang penuh bekas luka dan kapalan. Dagu dan kepalanya gondrong, tak tersentuh pisau cukur.

Ia mengawasi biarawan tersebut dari balik pohon. Akhirnya si biarawan berhenti. Ia mulai membuat api unggun, meletakkan beberapa ranting kering, membobol sarang burung robin sebagai pemantik. Dikeluarkannya kotak logam dari dalam jubah, dan dibenturkannya dengan batu hingga percikannya menjadi api. Di dalam sarang burung ditemukannya dua butir telur yang dimakannya mentah-mentah. Sedikit sekali untuk tubuh sebesar itu.

Ia duduk menghadap api unggun, dan si perempuan keluar dari tempatnya bersembunyi. Ia jongkok di balik api, dan dipandanginya si biarawan. Yang dipandangi menyeringai seolah sudah lama sekali ia tidak melihat manusia lain, lalu melambai menyuruhnya mendekat.

Si perempuan berdiri, berjalan mengitari api, dan menunggu dari jarak sedepa. Biarawan meraba jubahnya dan menarik sekeping uang logam—koin tembaga kecil—dan melemparkannya. Ditangkapnya, lalu mengangguk, dan mendekat. Biarawan menarik tali di sekitar pinggang dan jubahnya terbuka. Tubuhnya penuh rambut lebat seperti beruang. Perempuan mendorongnya hingga terlentang di hamparan lumut. Satu tangan merayap seperti laba-laba, melalui kusutnya rambut, dan mencakup kelaminnya. Tangan yang lain menggambar lingkaran di sekeliling puting kiri biarawan yang matanya terpejam sementara tangannya yang besar meraba-raba di balik rok. Si perempuan mendekatkan wajahnya ke puting yang sedang diraba, kulitnya yang putih mulus benderang bersanding dengan tubuh kecoklatan penuh rambut milik biarawan.

Ia hunjamkan giginya dalam-dalam di dada biarawan yang terkejut dengan mata membelalak, lalu menutup lagi. Si perempuan minum.

Ditungganginya si biarawan, lalu dia makan. Cairan kehitaman mengalir diantara kedua kakinya…

“Apakah Paduka tahu mengapa banyak pelancong tak lagi singgah di kota kita? Apa yang terjadi pada penghuni hutan?” tanya si Kepala Pasar.

Kututup cermin dengan kulit rusa, dan kukatakan padanya aku akan turun tangan sendiri agar hutan kembali aman.

Aku harus melakukannya meskipun perempuan itu membuatku ngeri. Aku seorang ratu.

Hanya orang bodoh yang langsung berangkat ke hutan dan berusaha menangkap mahluk tersebut; namun aku sudah pernah menjadi bodoh dan tak ingin mengulanginya lagi.

Aku mulai berkutat dengan buku-buku kuno yang hanya bisa kumengerti sedikit. Kuhabiskan waktuku dengan para perempuan gipsi yang melintasi kerajaan melalui pegunungan ke arah selatan dan bukan yang melewati hutan ke arah utara dan barat.

Aku mempersiapkan diri dan melengkapi semua yang kubutuhkan, dan ketika keping salju pertama turun, aku benar-benar siap.

Aku telanjang dan sendirian di menara istana paling tinggi, sebuah tempat terbuka yang langsung bertatap muka dengan langit. Angin dingin membelai permukaan kulitku. Aku merinding, dan bentol-bentol halus timbul di lengan, di kaki, dan di payudaraku. Aku membawa bejana perak dan keranjang berisi pisau perak, peniti perak, capit, jubah abu-abu, dan tiga apel hijau.

Kuletakkan semua dan aku berdiri, tanpa benang sehelaipun, di menara, merasa sangat remeh di bawah langit maha luas dan hembusan angin musim dingin. Jika saat itu ada yang melihatku, aku perintahkan biji matanya dicabut. Namun tak seorang pun melihatku, sementara awan berarak sesekali menyembunyikan sinar rembulan pucat.

Kuraih pisau perak dan kutorehkan pada tanganku—satu, dua, tiga. Darah menetes ke dalam wadah, merahnya serupa hitam dalam cahaya bulan temaram.

Kububuhkan serbuk dari tabung kecil yang kukalungkan di leher. Warnanya coklat seperti debu, terbuat dari tanaman dan kulit katak khusus yang dikeringkan, bercampur bahan lainnya. Kuaduk semuanya ke dalam genangan darahku sendiri, kuaduk dan kuaduk agar tidak menggumpal.

Satu persatu kuambil ketiga apel dan kutusukkan lubang sehalus rambut dengan jepit perakku. Kuletakkan kembali apel-apel tersebut di wadah dan kubiarkan di situ, sementara keping salju pertama mulai turun di kulitku, turun di permukaan apel, dan turun ke ramuan darah.

Saat fajar mulai menerangi langit, kuraih jubah kelabu dan kuambil apel-apel tersebut dari wadahnya, satu demi satu, menggunakan capit, dengan hati-hati sekali tanpa menyentuh kulitnya. Tak ada yang tersisa dari ramuan darah tersebut, kecuali sedikit endapan kehitaman seperti noda asam di logam.

Aku mengubur wadah perak, kemudian apel-apel kumantrai—seperti yang kugunakan pada diriku sendiri bertahun lalu di sebuah jembatan—dan membuatnya jadi apel terbaik sedunia. Merahnya ranum, semerah darah.

Kutarik tudung jubah hingga menutup separuh wajah, kupilih jepit rambut dan pita cantik, kuletakkan menutupi apel di keranjang jerami, lalu berjalan sendirian ke arah hutan. Aku terus berjalan hingga tiba di tempat tinggalnya: tebing batu tinggi dengan gua-gua dalam berujung dinding batu.

Di bagian depan tumbuh pepohonan dan jajaran batu serupa pagar, dan aku berjalan tanpa suara, mengintip dari balik pohon, tanpa mengusik ranting maupun dedaunan yang jatuh berserakan. Akhirnya kutemukan tempat persembunyian, dan aku menunggu, dan aku mengawasi.

Setelah beberapa saat gerombolan kurcaci merangkak keluar dari gua. Mereka jelek, berantakan, dan berbulu lebat. Mereka, para penguni tertua negeri ini, yang semakin hari semakin jarang kau temui.

Mereka menghilang ke dalam hutan, dan tak ada yang melihatku meskipun salah satunya berhenti dan kencing di balik batu tempatku sembunyi.

Aku masih menunggu. Nampaknya tak ada lagi yang tersisa.

Aku bergerak ke pintu masuk gua dan mengucap salam dengan suara parau seorang nenek.

Bekas luka pada Bukit Venus di tanganku berdenyut sakit ketika dia datang menghampiri, keluar dari kegelapan, telanjang dan sendirian.

Usianya tiga belas, putri tiriku itu, dan kulitnya putih sempurna, meskipun bekas luka ungu-kebiruan memanjang di payudara kiri saat jantungnya diambil bertahun lalu.

Jejak noda panjang kehitaman dan basah terlihat di bagian dalam pahanya.

Ia mengintip di balik gua, sebagaimana aku juga mengintip dari balik tudung jubah. Ia memandangku dengan tatapan lapar.

“Anak manis, aku punya pita cantik untuk rambutmu…”

Ia tersenyum. Tangannya melambai memintaku mendekat. Aku merasa ditarik, bekas luka di tanganku seperti menyeretku ke arahnya. Aku bertindak sesuai rencana: kujatuhkan keranjang lalu menjerit; jeritan ketakutan seorang nenek pedagang acung, dan aku berlari.

Jubah kelabuku sewarna dengan hutan, dan aku berlari sangat cepat. Ia tak dapat menangkapku.

Aku berhasil kembali ke istana.

Aku tidak melihatnya. Namun mari kita bayangkan bagaimana si gadis kembali ke guanya, kesal dan lapar, lalu mendapati keranjangku yang terjatuh.

Apa yang dia lakukan?

Kurasa dia akan bermain-main dahulu dengan pita, mengikat rambutnya yang legam itu, membuat simpul di leher atau di pinggangnya yang ramping.

Rasa penasaran akan membuatnya mencari-cari ada apa lagi dalam keranjang; lalu dia melihat apel-apel yang merah ranum.

Harumnya akan seperti apel segar, itu pasti; tapi juga samar berbau darah. Dan dia lapar. Kubayangkan ia mengambil sebutir apel, menempelkannya di pipi, merasakan kulit buah yang dingin dan halus dengan kulitnya sendiri.

Mulutnya membuka, dan apel itu digigitnya…

Sesampaiku di kamar, jantung yang menggantung dari palang langit-langit, bersama dengan apel dan daging dan sosis kering, telah berhenti berdenyut. Jantung itu diam tak bergerak, tanpa tanda-tanda kehidupan, dan aku kembali merasa aman.

Musim dingin saat itu menghasilkan tumpukan salju yang tinggi dan dalam, dan terlambat mencair. Saat musim semi tiba kami semua kelaparan.

Pasar Musim Semi sudah agak lumayan saat itu. Para penghuni hutan masih sedikit, namun mereka ada, dan para pelancong dari negeri-negeri di balik hutan pun berdatangan.

Aku melihat para kurcaci berambut yang tinggal di gua hutan membeli dan menawar potongan kaca, bonggolan kristal, dan batu berkilau. Mereka membayar kaca dengan koin perak – pampasan dari putri tiriku, pastinya. Kabar tentang belanjaan para kurcaci menyebar, dan semua orang bergegas pulang lalu kembali ke Pasar membawa kristal keberuntungan mereka dan bahkan sejumlah kaca besar dan utuh.

Aku sempat berpikir akan membunuh mereka, para kurcaci, namun kuurungkan. Selama jantung yang tergantung dari langit-langit kamarku diam, bergeming, dan dingin, aku merasa aman. Begitu juga para penghuni hutan, dan begitu pun penghuni negeri.

Akhirnya aku dualima. Putri tiriku memakan buah beracun dua musim dingin yang lalu saat Pangeran datang ke istanaku. Ia tinggi, sangat tinggi, dengan mata hijau dan kulit coklat seperti mereka yang tinggal di balik gunung.

Ia berkelana dikawal pasukan kecil. Jumlah mereka cukup banyak untuk membentenginya namun tergolong sedikit untuk membuat sebuah kerjaan—misalnya, kerajaanku—merasa terancam.

Rencanaku praktis saja. Aku berpikir untuk menyatukan kerajaan kami, menjadi kerajaan yang membentang dari hutan ke arah selatan hingga ke laut. Aku berpikir tentang kekasihku yang berambut keemasan, yang mati delapan tahun ini. Karena itulah malamnya aku mengendap-endap ke kamar Pangeran.

Aku bukan orang suci meskipun mendiang suamiku, yang dulunya rajaku, adalah cinta pertamaku sebenar-benarnya, dan aku tak peduli kata orang.

Awalnya Sang Pangeran terlihat senang sekali. Ia memintaku menanggalkan seluruh gaun, bahkan pakaian dalamku, dan menggiringku berdiri di muka jendela terbuka, menjauhi perapian, hingga kulitku sedingin batu. Lalu aku dibimbingnya rebah terlentang dengan tangan telipat di depan dada dan mata terbuka lebar namun hanya menatap langit-langit. Dia memintaku diam tak bergerak dan bernapas dengan pelan. Dia memintaku untuk tak bersuara. Lalu pahaku diregangkan.

Dan ia merasukiku.

Ia menghentak dan kurasakan pinggulku terangkat, kurasakan diriku menyamakan iramanya, ia berputar, aku berputar; ia mendorong, aku juga mendorong.

Mendadak kejantanannya terlepas. Aku meraih dan menyentuhnya, sebuah benda kecil dan licin.

“Tolong,” ujarnya dengan sangat lembut. “Kau jangan bergerak atau bicara. Berbaringlah di situ seperti batu, dingin dan halus.”

Aku berusaha, namun hasratnya menguap. Tak lama kutinggalkan kamarnya dengan suara umpatan dan airmata masih terngiang di telingaku.

Esoknya Pangeran pergi pagi-pagi sekali bersama seluruh pasukannya, dan mereka berkuda menuju hutan.

Aku masih membayangkan selangkangnya, mungkin kini hanya jadi segunduk kelamin suntuk terguncang di punggung kuda. Aku bayangkan bibirnya yang pucat terkatup rapat. Dan aku bayangkan pasukan kecilnya berkuda menembus hutan, dan tiba di hadapan tumpukan kaca kristal tempat putri tiriku terbaring. Putih pucat. Dingin. Telanjang di balik kaca, terlihat seperti gadis biasa, dan mati.

Dalam benakku aku hampir dapat merasakan kelaminnya mengeras di dalam celananya, membayangkan gairah yang menderanya saat itu juga, dan ucapan syukur yang ia gumamkan mendapati keberuntungannya. Kubayangkan ia bernegosiasi dengan para kurcaci berambut lebat itu, menawarkan emas dan rempah untuk mayat cantik di dalam tumpukan kristal.

Apakah para kurcaci mengambil emas itu tanpa berpikir panjang? Atau sempatkah mereka melihat pasukan berkuda Sang Pangeran yang menghunuskan pedang dan tombak tajam, lalu sadar bahwa mereka tak punya pilihan lain?

Aku tak tahu. Aku tidak di sana. Aku tidak mengintip dari cerminku. Aku hanya dapat membayangkan.

Ada tangan yang memindahkan tumpukan kaca dan kristal dari tubuh dingin perempuan telanjang. Ada tangan yang mengusap lembut pipinya yang dingin, menggerakkan lengannya yang dingin, gembira mendapati mayat segar dan lentur.

Apakah Sang Pangeran menyetubuhinya di tempat, di hadapan para kurcaci? Apakah ia perintahkan seseorang membawa mayat telanjang itu ke sebuah celah tersembunyi sebelum menyenggamainya?

Aku tak tahu.

Apakah Sang Pangeran mengeluarkan potongan apel dari tenggorokannya? Ataukah sepasang matanya perlahan membuka ketika tubuh dinginnya disenggamai? Apakah mulutnya ternganga dan bibirnya membelah pelan saat geliginya yang kuning tajam menghunjam leher jenjang Sang Pangeran, dan darah, yang menjadi sumber kehidupannya, meluncur turun membasahi kerongkongannya, membantunya membasuh potongan apel yang menyumbat beserta racun yang kuisikan?

Aku hanya membayangkan. Aku tak tahu.

Hanya ini yang aku tahu: Aku terbangun malam-malam karena jantungnya berdetak dan berdegup kembali. Darah yang merah dan asin menetes mengenai wajahku. Aku terbangun dan duduk. Tanganku terasa terbakar dan berdenyut, seolah-olah telapakku baru saja dipukul batu.

Ada yang menggedor pintu kamarku. Aku ketakutan, namun aku seorang ratu, dan aku tak kan gentar. Pintu kubuka.

Pasukan Pangeran menyerbu masuk dan berdiri mengelilingiku. Pedang dan tombak mereka terhunus ke arahku.

Tak lama Pangeran menyusul masuk. Dia ludahi wajahku.

Terakhir ia masuk, sama seperti ketika usianya masih enam tahun dan aku baru saja menjadi ratu.

Ia tarik anyaman tempat jantungnya menggantung. Ia tarik jalinan beri hutan yang mengering, satu demi satu. Ia tarik bongkahan bawang putih yang telah mengering setelah bertahun-tahun berlalu. Lalu diambilnya jantung yang berdenyut, jantungnya sendiri-sebuah benda mungil dan tidak lebih besar dari jantung seekor kambing atau beruang betina-jantung yang yang penuh dan memompakan darah ke telapak tangannya.

Kuku jemarinya setajam pecahan kaca yang ia gunakan untuk membuka dadanya sendiri. Ia menggores bekas luka berwarna keunguan. Dadanya pun membelah, mendadak dan tanpa darah. Ia jilat jantungnya sekali saat darah mengalir perlahan di tangannya, lalu dijejalkannya dalam-dalam ke rongga dadanya sendiri.

Aku melihat semuanya. Aku melihatnya menutup kembali lubang mengaga di dadanya. Aku melihat garis luka keunguan mulai memudar.

Pangerannya terlihat sedikit khawatir, namun ia tetap merangkulnya, jumawa, menunggu.

Perempuannya masih saja dingin. Kematian mulai mengembang di kelopak bibirnya, namun tak sekalipun menggentarkan nafsu Sang Pangeran.

Mereka bilang mereka akan menikah, dan kerajaan mereka akan menjadi satu. Mereka bilang aku akan bersama mereka di hari pernikahan.

Dan di sini mulai terasa panas.

Mereka menyebar gosip jahat tentang aku. Hanya sedikit kebenaran sebagai pemanis, terjalin berkelindan dengan begitu banyak kebohongan.

Aku terikat dan terpenjara dalam sebuah sel batu yang sangat kecil di bawah istana, dan tetap di sini sepanjang musim gugur. Hari ini mereka mengeluarkanku, melucuti gombal penutup tubuhku, mengguyurku dan membersihkan kotoran dari badanku, lalu mencukur habis jembut dan rambutku untuk dilumuri lemak angsa dari kepala sampai kaki.

Salju mulai turun ketika mereka membawaku–dua tentara di masing-masing tanganku dan dua tentara di masing-masing kakiku–menembus kerumunan orang pada suatu hari di pertengahan musim dingin dengan pakaian dan harga diri yang tercampak, ke tungku pembakaran ini.

Putri tiriku berdiri di sebelah pangerannya. Ia, perempuan itu, menatap dalam diam ke arahku, ibu tirinya yang tak lagi memiliki kehormatan.

Semua orang di kerumunan berseru dan mengejek ketika aku dijejalkan masuk ke dalam tungku, dan sekilas kulihat sekeping salju mendarat di pipinya yang putih pucat dan tetap di situ, tak mencair.

Pintu ditutup. Makin lama makin panas di sini. Terdengar orang-orang bernyanyi dan berseru gembira sambil menggedor-gedor sisi tungku.

Perempuan itu tak sedikit pun tertawa, atau berseru, atau bicara. Dia tak mengejekku namun tak juga memalingkan muka. Ia menatapku dalam-dalam; dan untuk sejenak, hanya sejenak, aku lihat bayangan diriku sendiri di sepasang matanya.

Aku tak akan berteriak. Takkan kuberi mereka kepuasan. Mereka bisa dapatkan tubuhku, namun jiwa dan kisahku adalah milikku sendiri, dan akan mati bersamaku.

Lemak angsa mulai meleleh dan membuat kulitku berkilat-kilat. Aku tak boleh bersuara sama sekali. Dan aku tak perlu mengenang kejadian ini.

Aku hanya akan mengenang kepingan salju di pipinya.

Aku akan mengenang rambutnya yang sehitam arang, bibirnya yang semerah darah, dan kulitnya yang seputih salju.

=============
Diterjemahkan dari cerpen Snow, Glass, Apples karya Neil Gaiman. Versi Bahasa Inggris bisa dilihat di sini.

Tentang Malaikat dan Pahlawan #7

(Lanjutan dari posting sebelumnya)

Hal-hal aneh bermunculan pada keadaan Mr. Changez Chamchawala sekarang ini: ia hidup bersama istri barunya, Nasreen ke Dua, lima hari dalam seminggu, di rumah berdinding tinggi pada kompleks perumahan Red Fort di distrik Pali Hill tempat tinggal para bintang film. Namun tiap akhir pekan dia akan kembali ke rumah lamanya di Scandal Point tanpa sang istri, menghabiskan sisa hari dalam dunia masa lalu yang hilang, bertemankan Nasreen Pertama yang telah tiada. Ada lagi. Menurut konon, istri keduanya menolak bahkan untuk sekadar menjejakkan kaki di rumah lama tersebut. “Atau mungkin memang tidak diizinkan,” begitu perkiraan Zeeny, dari balik jendela gelap limusin Mercedes, kendaraan yang dikirimkan Changez untuk menjemput putranya. Ketika Saladin selesai menuang minuman di belakangnya, Zeeenat Vakil bersiul kagum. “Edaaaaan.”

Bisnis pupuk Chamchawala, imperium tahi milik Changez, sempat diselidiki komisi pemerintahan karena dugaan penipuan pajak dan pengelabuan bea masuk, namun Zeeny tidak tertarik dengan hal itu. “Sekarang, aku bisa mengorek keterangan tentang dirimu yang sesungguhnya,” ujarnya.

Scandal Point terhampar di hadapan mereka. Saladin merasakan masa lalu menyapunya bagai ombak, menenggelamkan, mengisi paru-paru dengan asinnya kebangkitan dari alam kubur. Aku bukan diriku sendiri saat ini, begitu pikirnya. Jantungnya berdebar. Kehidupan mencelakakan yang hidup. Kita tidak jadi diri sendiri. Tak ada satupun dari kita yang… seperti ini.

Pagar rumahnya dari baja kini, dioperasikan melalui pengendali jarak jauh dari dalam rumah, melindungi lengkung kemenangan di atas yang mulai retak. Gerbang membuka diiringi dengung pelan, membiarkan Saladin masuk ke tempat masa menghilang. Saat matanya tertumbuk pada pohon kenari tempat jiwanya dijaga, menurut sang bapak, tangannya mulai gemetar. Ia sembunyi di balik netralnya fakta. “Di Kashmir, pohon kelahiranmu menjadi semacam investasi finansial,” ujarnya pada Zeeny. “Jika sudah tiba saatnya, kenari tua itu bisa disandingkan dengan polis asuransi karena pohon itu punya harga. Kau bisa menjualnya untuk membiayai pernikahan atau memulai hidup baru. Orang dewasa menebang masa kecil untuk membantu hidupnya berkembang. Bukankah itu menarik, ketiadaan rasa sentimentil pada kejadian sepenting itu?”

Mobil berhenti di bawah atap teras masuk. Zeeny terdiam ketika mereka menaiki enam anak tangga ke depan pintu, dan mereka disambut seorang pelayan tegap beruban, berseragam putih berkancing kuningan yang mengejutkan Chamcha dan langsung dia kenali ketika menerjemahkan rambut putih itu menjadi hitam. Dialah Vallabh yang mengatur segala macam kebutuhan di rumah itu dengan perannya sebagai kepala pelayan di masa lalu. “Ya Tuhan, Vallabhbhai…” Saladin berucap sambil lengannya memeluk lelaki tua. Si pelayan tersenyum kikuk. “Aku sudah begitu sepuh, baba. Kupikir kau tak akan mengenaliku lagi.” Ia giring mereka masuk ke dalam koridor penuh lampu kristal, dan Saladin baru menyadari tidak ada yang berubah dari tempat itu, ketidakberubahan berlebihan dan disengaja. Itu memang benar, dan Vallabh menjelaskan. Ketika Begum meninggal, Changez Sahib bersumpah agar rumah itu jadi monumen peringatan. Walhasil, tak ada satupun yang berubah sejak kepergiannya. Lukisan, perabot, sabun cuci, piring pajangan, patung-patung kaca berbentuk banteng bertarung warna merah dan balerina keramik dari Dresden, semua berada persis di tempatnya. Majalah yang sama pada meja yang sama, gumpalan kertas yang diremas dalam tempat sampah. Rumah itu seakan ikut mati terbalsam. “Dimumikan,” kata Zeeny yang selalu menyuarakan hal-hal yang tidak seharusnya dibicarakan. “Ya ampun… ini bukannya agak mengerikan, ya?” Pada saat itulah, ketika Vallabh si pelayan membuka pintu ganda menuju ruang gambar biru, Saladin Chamcha melihat hantu ibunya.

Ia berteriak keras dan Zeeny bergegas menghampiri. “Itu!” tunjuk Saladin ke ujung koridor gelap. “Aku yakin, itu sari motif cetakan koran, kepala berita dengan huruf besar-besar, sari yang dikenakan ketika Ibu meninggal. Itu… itu…” Namun Vallabh hanya mengangkat tangan sejenak seperti burung lemah yang tak dapat terbang dan berkata, aduh, baba, itu kan Kasturba. Kau masih ingat kan, istriku. Itu cuma istriku. “Ayahku Kasturba yang menemaniku bermain lempar batu ke kolam, sampai aku besar dan pergi sendiri lalu bertemu lelaki tua kurus kering dengan kacamata gading,” sahut benak Saladin. “Tolong jangan gusar, Baba. Ketika Begum meninggal, Changez Sahib menghibahkan beberapa lembar kain pada istriku. Anda pasti tak keberatan, kan? Ibu Anda sangat pemurah. Ketika masih ada, dia selalu memberi apa-apa yang dimilikinya.” Chamcha akhirnya bisa menguasai diri dan merasa bodoh. “Demi Tuhan, Vallabh,” gumamnya. “Tentu saja aku tak berkeberatan.” Dan Vallabh yang kaku pun kembali. Kebebasan bicara yang dimiliki pelayan tua itu membolehkannya protes. “Maaf, Baba. Tidak seharusnya Anda sembarangan menghujat.”

“Kau lihat kan keringat si pelayan?” sambut Zeeny, pura-pura berbisik. “Saking takutnya jadi kaku begitu.” Kasturba masuk ke dalam ruangan, dan meskipun pertemuannya dengan Chamcha lumayan hangat, sesuatu yang keliru mengambang di sekeliling mereka. Vallabh pergi mengambil bir dan Thums Up. Dan ketika Kasturba juga pamit ke belakang, Zeeny langsung berkata: “Ada yang tidak beres. Caranya berjalan seolah dia yang punya tempat ini. Dan bahasa tubuhnya… Suaminya juga ketakutan. Mereka berdua pasti merencanakan sesuatu. Pasti.” Chamcha berusaha berpikir waras. “Mereka tinggal berdua di sini sepanjang waktu, mungkin tidur di kamar utama dan makan menggunakan piring bagus. Pasti itu yang membuat mereka seakan memiliki tempat ini.” Sementara Chamcha memikirkan betapa mirip ayah Kasturba dengan ibunya dalam sari tua tersebut.

“Kau pergi terlalu lama, karenanya kau tidak bisa membedakan mana ayahmu yang masih hidup dengan ibumu yang sudah mati.” Suara ayah Saladin mengejutkannya dari belakang.

Ia berbalik, mendapati pemandangan melankolis bapaknya yang menciut bagai apel tua namun bersikukuh mengenakan setelan Italia mahal dari masa muda saat tubuhnya masih penuh berdaging. Kini si bapak telah kehilangan lengan Popeye dan perut Bluto-nya dan nampaknya bisa mondar-mandir dalam pakaiannya sendiri, mencari sesuatu yang dia sendiri lupa. Ia berdiri di tengah ambang pintu menatap putranya, hidung dan bibir merengut karena sihir usia, mewujud tiruan payah dari wajah yang dahulu mirip monster. Chamcha baru saja paham bahwa bapaknya tak lagi mampu menakuti siapapun, bahwa mantranya telah usang, dan ia tak lebih dari orang tua bau tanah mendekati ajal. Sementara itu Zeeny agak kecewa ketika diperhatikannya rambut Changez Chamchawala ternyata berpotongan pendek konservatif. Dan lelaki tua itu mengenakan sepatu Oxford mengilap ketat bertali, maka tak mungkin kabar burung tentang kuku kaki sepanjang sebelas inci itu benar adanya. Ayah Kasturba kembali, merokok dan berjalan melewati mereka bertiga—bapak, anak, simpanan—menuju sofa Chesterfield biru berhias kancing pada sandaran punggung, lalu duduk, bergaya sensual macam aktris meskipun sebagai perempuan usianya tak lagi muda.

Sesaat setelah Kasturba datang secara mencengangkan, Changez pun berjalan melewati putranya dan duduk di samping perempuan yang dulunya ayah. Zeeny Vakil, mata berkilat dengan sinar gosip, mendesis ke arah Chamcha: “Rapatkan mulutmu, Sayang. Kamu jelek sekali kalau begitu.” Dan di pintu masuk, Vallabh si penanggung beban, mendorong troli berisi minuman sambil menatap datar saat majikannya selama bertahun-tahun itu melingkarkan lengan memeluk istrinya yang tak sedikitpun menunjukkan keberatan.

Saat para sesepuh yang dianggap pencipta akhirnya terungkap ke-setan-annya, maka sudah sewajarnyalah mengapa sang putra menjadi lebih teliti. Chamcha mendengar dirinya sendiri bertanya: “Dan bagaimana kabar ibu tiriku, Bapakku sayang? Apakah dia baik-baik saja?”

Lelaki tua itu menatap Zeeny. “Kuharap putraku tak begitu kaku denganmu. Jika iya, kasihan sekali kamu.” Lalu berucap pada anaknya dengan nada agak kasar. “Jadi sekarang kau tertarik pada istriku? Sayangnya dia tidak tertarik padamu. Dia tak ingin bertemu kamu. Lagipula, mengapa dia harus memaafkanmu? Kau bukan putranya. Atau, mungkin, sekarang ini, kau juga bukan lagi putraku.”

Aku tak datang untuk melawannya. Lihat dia, si kambing tua itu. Aku tak boleh melawan. Tapi ini… ini keterlaluan. “Ini rumah ibuku,” teriak Chamcha sedikit dramatis, kalah dalam peperangannya sendiri. “Negara mencurigai bisnismu korup, dan di depanku malah jiwamulah yang korup. Lihatlah apa yang telah kau perbuat terhadap mereka. Vallabh dan Kasturba. Dengan uangmu. Berapa banyak kau bayar mereka? Kau racuni hidup mereka. Kau sakit!” Chamcha berdiri di hadapan bapaknya, terbakar amarah yang memang sudah sewajarnya.

Vallabh si penyabar, tanpa diduga-duga, menyela. “Baba, dengan segala hormat, maafkan aku, tapi tahukah kau? Kau pergi begitu lama dan kini kau datang menghakimi kami.” Saladin merasa lantai menganga di bawah kakinya dan dia menatap lurus ke mata mereka. “Memang benar beliau membayar kami,” Vallabh melanjutkan. “Untuk pekerjaan kami dan untuk apa yang kau lihat. Untuk ini.” Changez Chamchawala memeluk bahu pasrah si ayah lebih erat.

“Berapa?” teriak Chamcha. “Vallabh, berapa harga yang telah kalian sepakati berdua? Berapa yang harus dia bayar untuk melacurkan istrimu?”

“Bodoh sekali,” ujar Kasturba mencibir. “Didikan Inggris dan segala macamnya ini. Tapi masih saja berotak kosong. Kau datang dengan segala bualan besar—rumah ibumu, lah. Apa, lah—tapi mungkin kau tidak begitu mencintainya. Tapi kami sangat mencintainya, kami semua. Bertiga. Dan dengan cara ini kami terus menghidupkan jiwanya.”

“Ini seperti pooja,” sahut Vallabh lirih. “Ini tindakan pemujaan.”

“Dan kau,” Changez Chamchawala bicara dengan lembut seperti pembantunya. “Kau datang ke kuil ini dengan ketidakpercayaanmu. Wah, Tuan. Berani sekali kamu!”

Dan terakhir adalah penghianatan Zeenat Vakil. “Sudahlah, Salad,” ujarnya sambil bergerak menuju sofa Chesterfield dan duduk di sandaran tangan di samping si lelaki tua. “Kenapa mesti getir begitu? Kau juga bukan malaikat, Sayang. Dan orang-orang ini sepertinya juga baik-baik saja kok.”

Mulut Saladin membuka dan menutup. Changez menepuk lutut Zeeny. “Dia datang untuk menggugat, Manis. Dia datang untuk membalaskan dendam masa mudanya, namun kita telah membalikkan keadaan dan dia kebingungan. Sekarang kita harus beri dia kesempatan dan kau yang jadi wasitnya. Aku tak ingin dihukum olehnya, namun aku akan tanggung semua hal terburuk jika itu datang darimu.”

Bangsat. Bajingan tua. Dia ingin aku bimbang. Dan begitulah keadaanku, terhuyung terombang-ambing. Aku tak akan bicara, tidak, tidak begini seharusnya, ini memalukan sekali. “Ada masanya ketika dompet berisi lembaran pound ditemukan, dan ada masanya untuk ayam panggang.” Hanya itu yang akhirnya diucapkan Saladin Chamcha.

***

Untuk apa sang putra menggugat bapaknya? Untuk semuanya. Memata-matai dirinya ketika masih bocah, pencurian pot-isi-emas-di-ujung-pelangi, pengasingan. Dan karena mengubahnya menjadi apa yang mungkin tidak bisa dia wujudkan. Karena menjadi lelaki dewasa. Menjadi apa-yang-akan-kukatakan-pada-kawan-kawanku-nanti. Karena keterpisahan yang tak bisa diperbaiki dan pengampunan penuh hinaan. Karena mengalah pada pemujaan terhadap Allah dengan istri barunya dan pemujaan penuh hujat pada pasangan almarhumah. Di atas semua itu, karena lampu ajaib, karena percaya pada magisnya dunia seribu satu malam. Semua datang dengan mudahnya bagi sang bapak, pesona, perempuan, kekayaan, kekuasaan, posisi. Gosok, buzz, jin, permintaan, segera, Tuan, hey, yak. Dia adalah bapak yang pernah berjanji, dan lalu mengingkari, memberikan lampu ajaibnya.

***

Changez, Zeeny, Vallabh, Kasturba duduk bergeming dalam diam hingga Saladin Chamcha berhenti karena malu dengan wajah memerah. “Sungguh keganasan jiwa yang lama tersimpan,” ujar Changez setelah membisu beberapa saat. “Sedih sekali. Setelah seperempat abad sang putra masih saja menyimpan dendam pada dosa-dosa kecil masa lalu. Wahai putraku. Harusnya kau berhenti menggendongku kemana-mana seperti burung nuri di bahumu. Kau anggap apa aku ini? Mati? Aku bukan lelaki tua seperti di The Old Man of the Sea, Tuan. Sudah, cukup. Aku tak hendak bicara lagi.”

Saladin melirik keluar jendela dan melihat pohon kenari berumur empat puluh tahun. “Tebang pohon itu,” sahutnya pada bapaknya. “Tebang, jual, dan kirimkan uangnya padaku.”

Chamchawala bangkit berdiri lalu merentangkan tangan kanannya. Zeeny, yang juga berdiri, menyambutnya seperti penari menerima karangan bunga. Dan saat itu juga Vallabh dan Kasturba kembali menghilang menjadi pelayan, seakan-akan ada jam yang berdentang dua belas kali dan mengingatkan mereka sudah saatnya berubah jadi labu. “Bukumu,” katanya pada Zeeny. “Aku punya sesuatu yang mungkin kau suka.”

Keduanya pergi meninggalkan ruangan. Dan Saladin yang impoten, setelah sesaat salah tingkah, mendadak seperti anak kecil yang merajuk di hadapan mereka. “Si getir,” sahut Zeeny dengan riang sambil menoleh.”Ayo, sudah. Dewasalah.”

Koleksi seni Chamchawala bertempat di sini, di Scandal Point, termasuk di dalamnya adalah lukisan kain legendaris ‘Hamza-nama’, tergabung dalam rangkaian abad enam belas menggambarkan adegan kehidupan pahlawan yang kemungkinan—atau bukan—adalah Hamzah yang terkenal, paman Muhammad yang hatinya dimakan perempuan Mekah, Hindun, ketika terbaring sekarat saat perang Uhud. “Aku suka ini,” ujar Changez Chamchawala pada Zeeny, “karena pahlawannya diperbolehkan gagal. Kau lihat betapa seringnya dia harus diselamatkan dari masalah.” Lukisan itu juga berfungsi sebagai bukti mengesankan terhadap tesis Zeeny Vakil tentang akar percampuran ekletik tradisi artistik India. Para Mughal telah membawa seniman dari seluruh sudut India untuk mengerjakan lukisan. Identitas individual muncul untuk menciptakan berbagai gagasan dan berbagai sapuan kuas begitu banyak seniman yang secara harfiah adalah lukisan India. Satu tangan menggambar lantai mosaik, tangan kedua menggambar sosok, tangan ketiga menggambar gemawan bergaya Cina. Di balik kain tersebut ada tulisan yang menceritakan gambar per adegan. Gambar tersebut dipertunjukkan seperti film, direntang sementara seseorang membacakan kisah kepahlawanan di belakangnya. Di ‘Hamza-nama’, miniatur Persia berpadu dengan gaya lukisan Kannada dan Kerala. Filosofi Hindu dan Islam yang lambat membentuk karakteristik mereka—sintesis Mughal.

Ada raksasa terjebak dalam lubang dan manusia-manusa yang menyiksanya melemparkan tombak ke kepalanya. Seorang lelaki diiris vertikal dari kepala hingga ke selangkangan sementara tangannya masih menyandang pedang ketika ia terjatuh. Dimana-mana ada gelembung merah dan darah tertumpah. Saladin Chamcha berusaha menguasai dirinya. “Barbar,” ujarnya keras dalam bahasa Inggris. “Barbar yang sangat menyukai penderitaan.”

Changez Chamchawala tak menghiraukan putranya. Perhatiannya hanya tertuju pada Zeeny yang juga memandang dalam ke matanya. “Pemerintahan kita sangat picik, Nona. Kau pasti setuju denganku. Aku sudah menawarkan seluruh koleksi ini secara gratis. Aku hanya ingin mereka menempatkannya dengan layak, membuatkan semacam ruangan. Kondisi lukisannya sendiri tidak bagus-bagus amat… tapi mereka tak mau melakukannya. Mereka tak tertarik. Sementara aku terus mendapat tawaran dari Amrika. Tawaran yang jumlahnya mencengangkan! Kau pasti tak percaya. Tapi aku tak mau menjualnya. Ini warisan kita, Sayang, dan tiap hari Amerika Serikat mengambilnya dari kita. Lukisan Ravi Varma, kriya perunggu Chandela, kisi-kisi Jaisalmer. Itu kan sama saja menjual diri. Mereka menjatuhkan dompet dan kita berlutut mengambilnya di bawah kaki mereka. Sapi-sapi Nandi kita berakhir di gazebo di Texas. Tapi kau sudah tahu semua ini, tentu. Kau tahu, India adalah negara bebas sekarang ini.” Lelaki tua itu berhenti bicara, namun Zeeny menunggu. Pasti ada lanjutannya. Dan benar saja: “Suatu hari nanti aku juga akan menerima dolar. Tapi bukan karena uangnya. Melainkan karena kesenangan melacur. Untuk tidak menjadi apa-apa. Bahkan lebih rendah dari tidak menjadi apapun.” Dan sekarang, akhirnya, badai sesungguhnya, yang tersirat di balik yang tersurat, ‘lebih rendah dari tidak menjadi apapun’. “Saat aku mati nanti,” lanjut Changez Chamchawala ke Zeeny, “akan jadi apa aku? Hanya sepasang sepatu kosong. Itu sudah menjadi takdirku, yang dia buat untukku. Aktor ini. Si tukang pura-pura. Dia buat dirinya menjadi peniru seseorang yang tak pernah ada. Aku tak punya siapapun yang menjadi pengikutku, untuk dapat kuberi apa yang telah kubuat. Ini adalah pembalasan dendamnya: dia mencuri kesejahteraanku.” Changez tersenyum, menepuk punggung tangan Zeeny dan menyerahkan kembali ke putranya. “Sudah kukatakan padanya,” ujarnya pada Saladin. “Kau masih saja membawa ayam panggangmu. Aku sudah katakan keberatanku. Sekarang biar dia yang memutuskan. Begitu cara mainnya.”

Zeenat Vakil melangkah ke arah lelaki tua dengan setelan kedodoran, meletakkan kedua tangan di sepasang pipi keriput, dan memagut bibirnya.

Tentang Malaikat dan Pahlawan #6

Gambar diambil dari... lupa! Hihi.

Gambar diambil dari… lupa! Hihi.

(Lanjutan dari posting sebelumnya)

Chamcha memang berbakat di bidang itu, sungguh. Dia adalah Lelaki Seribu Bunyi dengan Satu Suara. Jika kau ingin tahu bagaimana suara botol sausmu bicara di iklan televisi, jika kau tak begitu yakin bagaimana garingnya suara keripik rasa bawang putih, maka dialah yang kau cari. Chamcha membuat karpet bicara di iklan toko peralatan rumah tangga. Dia tiru cara bicara para pesohor, suara kacang panggang dan kapri beku. Di radio, dia yakinkan pendengar saat bicara dengan logat Rusia, Cina, Sisilia, dan bahkan sebagai presiden Amerika Serikat. Sekali waktu pada sebuah sandiwara radio ada 37 suara, dan dia terjemahkan setiap karakter dengan berbeda nama tanpa seorang pun tahu. Bersama rekan perempuannya, Mimi Mamoulian, dia kuasai gelombang udara Britania. Pangsa pasar sulih suara untuk mereka sangat besar hingga, seperti yang pernah dikatakan Mimi, “Jangan ada yang ungkit-ungkit tentang Komisi Monopoli di depan kami, deh. Nggak lucu.” Menakjubkan, perempuan itu bisa menjadi apapun. Dia tiru usia berapapun, menjadi orang dari negara manapun, suara siapapun yang masih terjangkau oleh suara manusia, mulai dari Juliet yang secantik bidadari hingga Mae West yang jahat. “Kapan-kapan kita harus menikah, kalau kau ada waktu,” saran Mimi suatu hari. “Kau dan aku, kita bisa bikin Perserikatan Bangsa-bangsa.”

“Tapi kau Yahudi,” jawab Saladdin. “Aku dibesarkan untuk tidak menyukai Yahudi.”

“Memangnya kenapa kalau aku Yahudi?” sahutnya sambil menggedikkan bahu. “Kan kau yang disunat. Lagipula, tak ada seorang pun sempurna.”

Mimi adalah seorang perempuan mungil dengan keriting gelap kecil-kecil dan mirip poster Michelin. Di Bombay, Zeenat Vakil meregang dan menguap kemudian mengusir perempuan lain dari benak Saladdin. “Keterlaluan,” Zeeny tertawa. “Kau dibayar untuk meniru suara mereka, asal mereka tak perlu melihatmu. Suaramu terkenal, tapi mereka menyembunyikan wajahmu. Kau tahu kenapa? Apa ada kutil di hidungmu? Matamu julingkah? Apa? Apa kemungkinan yang terpikir di benakmu, Sayang? Ah, otakmu itu memang payah seperti sawi, demi Tuhan!”

Itu benar, begitu pikir Saladdin. Ia dan Mimi adalah semacam legenda, tapi cacat. Mereka adalah gemintang hitam. Kebisaan mereka mendatangkan pekerjaan, namun Saladdin dan Mimi tetap tak kasat mata, menisbikan tubuh, sekadar memunculkan suara. Di radio, Mimi bisa menjadi Venus-nya Botticelli, dia juga bisa jadi Olympia, Monroe, perempuan sundal manapun yang dia inginkan. Dia tak ambil pusing tentang penampilan; karena dia adalah suara, bernilai seperti uang kertas baru, dan ada tiga perempuan muda yang jatuh cinta setengah mati padanya. Dan Mimi suka membeli properti. “Ini kebiasaan gila,” diakuinya tanpa malu. “Kebutuhan berlebihan untuk memiliki akar akibat pergolakan dalam sejarah Yahudi-Armenia. Beberapa diantaranya dikarenakan masa-masa yang kulalui sejak adanya polip kecil di tenggorokan. Properti ini melegakan, dan aku menganjurkan itu.” Mimi memiliki sebuah puri bangsawan di Norfolk, rumah peternakan di Normandy, menara lonceng di Tuscan, dan pinggir pantai Bohemia. “Semuanya berhantu,” jelasnya lagi. “Dentingan besi, raungan, darah pada karpet, perempuan bergaun tidur, dan bagaimana membersihkannya. Tak ada satupun yang mau menyerahkan tanah tanpa perlawanan.”

Tak ada satupun kecuali aku, pikir Chamcha. Kenangan melankolis mengambang di kepalanya saat terbaring di sisi Zeenat Vakil. Mungkin aku sudah menjadi hantu sekarang ini. Tapi setidaknya aku adalah hantu yang memiliki tiket pesawat, kesuksesan, uang, istri. Aku mungkin hanya bayangan, namun hidup dalam dunia material yang nyata. Yang memiliki ‘aset’. Tentu.

Zeeny membelai rambut yang mengikal di dekat telinga Chamcha. “Kadangkala ketika kau begitu pendiam,” bisiknya, “saat kau tidak sedang meniru suara lucu atau berakting sok hebat, dan ketika kau lupa bahwa orang-orang sedang melihatmu, kau tampak hampa. Kau tahu kan? Sepeti papan tulis kosong, tanpa nyawa. Membuatku marah, sampai kadang aku ingin menamparmu. Aku ingin menyengatmu agar kau hidup lagi. Namun melihatmu begitu juga membuatku sedih. Kau ini memang konyol. Kau, si bintang besar dengan wajah salah kelir untuk televisi berwarna mereka, yang harus berkelana di negara keling bersama dua orang tolol, dan harus berperan sebagai babu—pegawai keeling—asal bisa ikut main dalam drama tersebut. Mereka menendangmu kesana-kemari, tapi kau tetap tak mau pergi. Kau mencintai mereka, dasar kau bangsat bermental budak!” Zeeny merenggut bahu Chamcha, mengguncangnya, duduk di sampingnya, menunggangi paha Chamcha dan membuat payudara terlarang itu berjarak hanya beberapa inci dari wajah. “Salad baba, atau siapapun nama yang kau gunakan untuk menyebut dirimu, demi Tuhan, pulanglah.”

Jalan keluar hebat itu, yang dengan cepat membuat uang menjadi tak berarti, berawal kecil saja: acara anak-anak di televisi, The Aliens Show oleh The Munsters yang—tidak seperti Star Wars—dibawakan dengan cara Sesame Street. The Aliens Show adalah acara komedi situasi tentang sekelompok mahluk luar angkasa beraneka jenis dari yang imut sampai yang gila, dari binatang sampai tetumbuhan dan mineral, menampilkan luar angkasa nan artistik—bebatuan yang dapat menambang dirinya sendiri dari bahan mentah lalu memperbanyak diri tepat pada episode mendatang. Batu ini bernama Pygmalien. Dan karena keterbelakangan selera humor produser acara tersebut, ada juga mahluk kasar yang suka bersendawa semacam kaktus yang sedang muntah, berasal dari planet gurun pasir pada suatu kiamat. Namanya Matilda si Australien. Juga tiga sirene luar angkasa pengidap paru basah aneh dan suka bernyanyi. Mereka bernama Alien Korns. Mungkin nama itu diambil karena kau bisa saja berbaring bersama mereka tanpa terjadi apa-apa. Ada sekelompok mahluk bergaya hip-hop dari Venus, saudara sejiwa, yang suka mencoret-coret stasiun kereta bawah tanah dengan cat semprot, dan menyebut diri sebagai Alien Nation. Di kolong ranjang sebuah pesawat luar angkasa adalah pusat acara tersebut, tempat tinggal Bugsy si kumbang tahi raksasa dari Crab Nebula yang kabur dari ayahnya. Dalam akuarium kau bisa lihat Brains si tiram besar super pintar penggemar masakan China. Ada juga Ridley yang paling menakutkan diantara semua pemeran karena mirip dengan lukisan Francis Bacon dengan mulut penuh gigi, bergoyang-goyang pada alas gelap dan terobsesi dengan aktris Sigourney Weaver. Bintang acara tersebut, layaknya Kermit dan Miss Piggy, adalah duo Maxim dan Mamma Alien yang berambut aneh, berpakaian mewah dan bercita-cita menjadi—menurutmu apa?—pekerja di industri pertelevisian. Duo aneh itu diperankan oleh Saladin Chamcha dan Mimi Mamoulian, dan suara mereka berubah-ubah sesuai dengan kostum yang mereka kenakan, begitu juga rambut yang bisa berganti dari ungu ke merah tua dalam adegan berbeda dengan reka-reka gaya diagonal setinggi tiga kaki dari kepala mereka. Saking tingginya hingga mencapai awan. Begitu juga bagian tubuh yang lain, mereka mampu mengganti-ganti semuanya, menukar kaki, lengan, hidung, telinga, mata. Tiap pergantian itu menyulap aksen-aksen ajaib dari tenggorokan-tenggorokan “bunglon” yang terkenal. Acara tersebut menjadi besar akibat digunakannya gambar-gambar yang tercipta melalui bantuan komputer. Gambar latar yang digunakan, semuanya bikinan: pesawat luar angkasa, bentang alam “dunia lain”, studio permainan antar-galaksi. Aktor-aktornya juga diproses melalui mesin. Mereka wajib duduk diam selama empat jam terkubur dalam dandanan buatan, dan ketika komputer video mengolah tampilan mereka, semua terlihat seperti simulasi. Maxim Alien adalah playboy luar angkasa sementara Mama Alien adalah juara gulat tanpa tanding antar-galaksi dan antar-semesta merangkap ratu pasta dan sensasi semalam. Prime-time pun mendekat. Juga Amerika. Eurovision. Dunia.

Ketika “Alien Show” menjadi semakin populer, kritik politis pun bermunculan. Para konservatif bilang acara itu terlalu menakutkan, terlalu mengumbar semua hal yang berbau seksual (misalnya Ridley bisa langsung ereksi jika dia terlalu memikirkan Miss Weaver), dan terlalu… aneh. Komentator radikal menegaskan stereotip yang memperkuat gagasan tentang mahluk luar angkasa sebagai orang aneh, dan kurangnya pencitraan positif. Chamcha berada di bawah tekanan untuk keluar dari acara tersebut, menolak, dan menjadi target kebencian. “Masalah menungguku jika aku pulang,” ujarnya pada Zeeny. “Acara terkutuk itu bukanlah perumpamaan. Itu murni hiburan. Tujuannya hanya untuk membuat orang senang.”

“Menyenangkan siapa?” tanya Zeeny penasaran. “Lagipula, sekarang pun mereka memperbolehkan kau tampil hanya jika kau menutupi wajah dengan karet dan mengenakan wig merah. Kemewahan sampah, menurutku.”

“Intinya, Salad Sayang…” Zeeny berkata ketika mereka terbangun paginya. “Kau itu memang tampan. Tak diragukan lagi. Kulitmu seputih susu, seperti Inggris yang pulang. Sekarang Gibreel sudah mampus, dan kau bisa jadi penerusnya. Aku serius, yaar. Mereka perlu wajah baru. Pulanglah, dan kau akan menjadi penerus Bachan yang lebih besar lagi, lebih dari Farishta. Wajahmu bahkan tak seaneh wajah mereka.”

Ketika ia masih muda, kata Saladin pada Zeeny, tiap tahap kehidupannya, tiap diri yang dihidupkannya, terasa sangat sementara. Bukan masalah ketidaksempurnaannya, karena dengan mudah dia selalu bisa berganti-ganti diri, berubah dari satu Saladin ke Saladin lainnya. Namun sekarang ini perubahan menjadi begitu menyakitkan baginya. Urat nadi kemungkinan yang biasa dia lalui mulai mengeras. “Tidak mudah bagiku untuk menceritakannya padamu, tapi sekarang aku sudah menikah, dan bukan hanya menikahi seorang istri tapi aku juga menikah dengan hidup.” Aksennya tergelincir kembali. “Aku datang ke Bombay hanya untuk satu alasan, dan bukan karena pertunjukan. Ayahku sudah tujuhpuluhan sekarang, dan aku mungkin tidak punya waktu banyak. Dia tak datang ke pertunjukan. Karena itulah Muhammad harus pergi ke gunung.”

Ayahku, Changez Chamchawala, pemilik lampu ajaib. “Wah, Changez Chamchawala. Kau bercanda jika kau tak mengajakku,” seru Zeeny sambil menepukkan kedua telapaknya. “Sebentar. Aku harus menata rambut dan mempercantik kuku kakiku.” Ayahnya, si pertapa terkenal. Dan Bombay adalah budaya reka-ulang. Arsitekturnya meniru pencakar langit, film-filmya dibuat dengan cerita yang mirip dan tanpa ujung-pangkal—The Magnificent Seven dan Love Story—mewajibkan tiap jagoannya untuk menyelamatkan, setidaknya, satu desa dari gerombolan perampok garang bersenjata; dan pemeran utama perempuannya harus mati karena leukemia setidaknya sekali dalam karir mereka—lebih disukai jika itu terjadi di awal. Jutawannya terkenal suka mengimpor kehidupan dari luar. Ketakkasatmataan Changez adalah impian India untuk tinggal dalam penthouse luas seperti Las Vegas dan diadopsi secara lokal dengan sebutan crorepati. Namun mimpi bukanlah gambar di foto, dan Zeeny ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. “Dia akan merengut pada siapapun jika suasana hatinya sedang tidak bagus,” Saladin memperingatkan. “Tak ada yang percaya sampai ia benar-benar melakukannya. Tapi begitulah. Merengutnya itu! Mirip gargoyle. Namun dia pemalu, dan dia akan menyebutmu sundal. Lagipula aku pasti akan bertengkar dengannya, aku sudah tahu itu.”

Saladin Chamcha datang untuk satu alasan: pengampunan. Itulah urusan sebenarnya di kota lama tempatnya dibesarkan. Namun siapa mengampuni siapa, dia tidak tahu.

 

 

Tentang Malaikat dan Pahlawan #5

bar

Gambar diambil dari http://www.hyd.co.in/bars/

(Lanjutan dari posting sebelumnya)

 

Di dalam mobil Hindustan butut Zeeny—mobil yang memang diperuntukkan bagi budaya pelayan dengan jok belakang lebih bagus daripada di depan—Chamcha merasa malam berkerumun, merayap ke dalam dirinya. India, merabanya, melupakan kebesaran terlupakan sebagai bangsa, melupakan keberadaannya, yang lama membenci ketidakteraturan. Hijrah gaya Amazon membangkitkannya seperti Wonder Woman ala India, dilengkapi trisula perak, memacetkan lalu-lintas dengan satu lambaian anggun, berjalan santai di hadapan mereka. Chamca memandang ke kedalaman mata Zeeny yang membelalak. Gibreel Farishta, bintang film yang menghilang tanpa pertanggungjawaban, membusuk di kerumunan. Puing, sampah, keriuhan. Iklan rokok mengambang lewat: SCISSORS—UNTUK LELAKI BERNYALI, KEPUASAN. Dan kemungkinan mustahil lainnya: PANAMA—BAGIAN INDAH INDIA NAN AGUNG.

“Kita akan ke mana?” Malam penuh udara dengan garis-garis lampu neon hijau. Zeeny memarkir kendaraannya. “Kau tersasar,” tuduhnya. “Apa sih yang kau tahu tentang Bombay? Ini kotamu sendiri, sayangnya kau tak pernah merasa begitu. Bagimu, ini adalah mimpi masa kecil. Tumbuh di Scandal Point itu bagai tinggal di bulan. Tak ada perumahan kumuh di sana, tidak, Tuan. Yang ada hanya kamar-kamar pelayan. Apa anggota partai Shiv Sena datang membuat kekacauan komunal di sana? Ada tetanggamu yang kelaparan ketika unjuk rasa pegawai pabrik tekstil? Apa Datta Samant mengadakan kampanye pencalonannya di depan bungalowmu? Berapa usiamu waktu kau bertemu orang dari serikat dagang? Umur berapa pertama kali kau naik kereta api dan bukan berkendara diantar supir pribadi? Itu bukan Bombay, Sayang. Maaf. Itu Negeri Mimpi, Peristan, Antah-berantah, Oz.”

“Dan kau?” Saladdin mengingatkannya. “Di mana kau saat itu?”

“Tempat yang sama,” ujarnya ketus. “Dengan semua bocah-bocah bangsat lainnya.”

Jalan belakang. Sebuah kuil Jain sedang dicat ulang dan semua patung suci ditutupi plastik supaya tidak terkena tetesan. Penjual majalah di trotoar menjajakan koran penuh gambar mengerikan: kecelakaan kereta. Bhupen Gandhi mulai berbicara dengan suara setengah berbisik. Setelah kecelakaan, ujarnya, penumpang yang selamat berenang ke tepian (karena kereta terjun bebas dari jembatan) dan ditemukan oleh penduduk kampung yang kemudian mendorong mereka kembali ke dalam sungai sampai tenggelam untuk kemudian menjarah mayatnya.

“Tutup mulutmu,” teriak Zeeny. “Kenapa kau harus bicara seperti itu? Dia pasti sudah mengira kita semacam barbar, bentuk manusia paling rendah.”

Sebuah toko di dekat kuil Krishna menjual batang cendana siap bakar dan berbagai mata Krishna warna putih-jambon berlapis mengilap—mata yang melihat segalanya. “Terlalu banyak yang dilihat,” ujar Bhupen. “Itu kenyataannya.”

***

Sebuah restoran dhaba kecil dan sesak tempat George biasa berkunjung saat harus menghubungi kontaknya untuk proses pembuatan film (biasanya para dada atau bos yang menjalankan perdagangan manusia di kota) dan rum berwarna gelap diminum di atas meja aluminium. Dengan sedikit mabuk George dan Bhupen mulai berselisih. Zeeny menenggak Thums Up Cola-nya dan terang-terangan menjelek-jelekkan teman-temannya ke Chamcha. “Mereka berdua punya masalah kecanduan minum, bokek seperti kendil tua, berlaku buruk terhadap istri, terlalu banyak nongkrong, menyia-nyiakan kehidupan mereka yang bangsat. Tak heran aku jatuh cinta padamu, Manis, karena produk lokal di sini kualitasnya sangat buruk hingga aku mulai menyukai produk luar.”

George bicara pada Bhopal dan Zeeny kemudian ribut perihal bencana, menafsirkannya secara ideologis. “Apa arti Amrika buat kita?” dia menuntut. “Tempat itu bukanlah tempat yang sebenarnya. Namun kekuasaan dalam bentuk sejatinya, tanpa bentuk, tak kasat mata. Kita tak bisa melihatnya namun dia mengacaukan kita secara keseluruhan, tanpa jalan keluar.” Dia membandingkan perusahaan Union Carbide dengan Kuda Troya. “Kita mengundang bajingan itu masuk.” Ini seperti cerita tentang empat puluh pencuri, ujarnya. Mereka bersembunyi dalam guci keramik bertangkai dan menunggu datangnya malam. “Sayangnya, kita tak punya Ali Baba,” teriaknya. “Dan siapa yang kita punya? Tuan Rajiv G.”

Saat itulah mendadak Bhupen Gandhi berdiri, terhuyung, dan mulai mengaku, dengan suara seperti orang sedang kesurupan. “Bagiku, isu ini tidak mungkin ada campur tangan asing. Kita selalu memaafkan diri sendiri dengan menyalahkan pihak lain. Amerika, Pakistan, dan semua tempat bangsat yang bisa kalian sebut. Maaf, George, bagiku semua ini kembali ke Assam, dan kita harus mulai dari situ.” Pembantaian orang-orang tak berdosa. Foto-foto mayat anak-anak yang dibariskan rapi seperti serdadu sedang parade. Mereka dipukuli sampai mati, dirajam dengan batu, leher mereka terbelah dua terpotong pisau. Chamcha mengenang, semua jajaran kematian itu seakan-akan India hanya bisa disengat kengerian untuk bisa mencapai keteraturan.

Bhupen bicara sekitar dua puluh sembilan menit tanpa keraguan maupun jeda. “Kita semua bersalah pada peristiwa Assam,” ujarnya. “Setiap orang di sini. Kecuali dan jika kita mau menghadapinya, maka kematian anak-anak itu adalah kesalahan kita, dan kita tak bisa menyebut diri kita sebagai manusia beradab.” Dia menenggak rum cepat-cepat sambil bicara, dan suaranya makin keras, tubuhnya mulai miring hampir jatuh. Meskipun ruangan menjadi senyap, tak ada seorangpun yang mendekat, tak ada seorangpun yang menghentikannya bicara, tak ada seorangpun yang menyebutnya pemabuk. Di tengah kalimat—“semua orang dibutakan, ditembaki, dan korup. Memangnya kita siapa?!”—dia terhempas duduk dan memandang nanar ke gelas kosong di hadapannya.

Seorang pemuda di sudut yang agak jauh berdiri dan membalas argumennya. Assam harus dipahami secara politis, teriaknya. Ada alasan ekonomi dibalik itu. Lalu ada seorang pemuda lagi yang berdiri dan menjawab, bahwa uang tidak menjelaskan mengapa ada lelaki dewasa yang menggebuki seorang gadis kecil sampai mati. Dan yang lain menjawab, jika menurutmu begitu, maka kau tidak pernah kelaparan, shalat, sungguh romantisme bajingan jika menurutmu alasan ekonomi tak bisa membuat seseorang menjadi monster. Chamcha menggenggam gelasnya makin erat ketika suara-suara yang didengarnya makin tinggi dan keras, dan udara seperti mengental, kilauan gigi emas melintas-lintas di hadapannya, bahu-bahu yang bersinggungan dengan pundaknya, siku-siku disorongkan, dan udara menjadi seperti sup, dan jantungnya mulai berdentam-dentam tak karuan. George menghentak pergelangan tangannya dan menariknya keluar. “Kau baik-baik saja, man? Mukamu pucat.” Saladin mengangguk berterimakasih, tersengal-sengal mencoba memenuhi paru-parunya dengan udara malam, berusaha tenang. “Rum dan kelelahan ini…” ujarnya. “Kebiasaan burukku seusai pentas adalah menjadi gugup. Seringkali malah lututku gemetar. Harusnya aku tidak usah ikut.” Zeeny mencarinya, dan di sepasang matanya bercokol sesuatu yang bukan sekadar simpati. Tatapan gemilang, semacam kemenangan, keras. “Akhirnya ada sesuatu yang mengusikmu,” begitulah seringainya ‘bicara’. “Memang sudah saatnya.”

Chamcha mengenang, ketika sembuh dari tifus maka seseorang akan kebal terhadap penyakit itu sekitar sepuluh tahun. Namun tak ada yang abadi; pada akhirnya antibodi itu akan menghilang dari darah. Dan dia harus menerima kenyataan bahwa darahnya tidak lagi mengandung zat kekebalan, membuatnya harus terpapar realitas India. Rum, jantung yang berdentam, kesakitan jiwa. Saatnya tidur.

Zeeny tak mau membawanya ke rumah. Selalu dan hanya di hotel, dengan pemuda Arab berkalung emas besar-besar berjalan tengah malam di koridor menggenggam botol wiski selundupan. Dia akan berbaring di ranjang dengan sepatu masih melekat di kaki, kerah dilonggarkan, lengan kanan bersilang di atas matanya; dan perempuan itu mengenakan jubah mandi hotel berwarna putih, membungkuk dan mengecup dagunya. “Aku tahu apa yang terjadi denganmu malam ini. Bisa dibilang, kami berhasil memecahkan perisai pelindungmu.”

Chamcha bangkit terduduk, murka. “Dan inilah yang terjadi di dalam,” teriaknya. “Seorang India yang diterjemahkan dalam medium Inggris. Ketika aku berusaha memahami orang-orang Hindustan belakangan ini, mereka terlihat sopan. Inilah aku.” Ia terperangkap dalam bahasa berbunga-bunga nan kosong, bahasa yang dia adopsi. Dan dia mulai mendengar—dalam menara Babel India—sebuah peringatan tentang adanya bahaya mengancam: jangan datang lagi. Ketika kau menginjak masuk ke dalam cermin, kau akan mundur ke dalam bahayamu sendiri. Cermin itu bisa memotongmu menjadi kepingan-kepingan kecil.

“Aku bangga pada Bhupen malam ini,” sahut Zeeny yang merangkak naik ke ranjang. “Coba, di negara mana kau bisa sembarangan masuk ke dalam bar dan memulai debat seperti tadi? Semangatnya, keseriusannya, penghormatannya. Kau jagalah peradabanmu sendiri itu, Kodokji. Aku sangat suka yang ini.”

“Lepaskan aku,” Chamcha memohon. “Aku tak suka ada orang yang sembarangan mampir tanpa pemberitahuan. Aku sudah lupa peraturan tujuh keping pada permainan Bingo dan kabaddi. Aku tak dapat mengucapkan doa, aku tak tahu apa saja yang ada di upacara nikah, dan di kota tempatku dibesarkan ini aku akan tersasar jika aku berkeliaran sendirian. Ini bukan rumah. Tempat ini membuatku bergidik karena terasa seperti rumah, padahal bukan. Tempat ini membuat hatiku bergetar dan kepalaku berputar.”

“Kau bodoh,” teriaknya pada Chamcha. “Orang tolol! Tarik kembali kata-katamu! Konyol! Kau pasti bisa.” Perempuan itu seperti pusaran hitam, seperti sirine, menggodanya kembali ke dirinya yang lama. Namun diri itu sudah mati, menjadi bayangan, hantu, dan dia tidak mau seperti itu. Ada tiket pulang ke London di dalam dompetnya, dan dia akan mempergunakannya.

***

“Kau tak pernah menikah,” kata Chamcha ketika mereka berdua berbaring tak terpejam pada suatu dini hari. Zeeny mendengus. “Kau itu terlalu lama pergi. Kau tak bisa lihat ya? Aku ini keling.” Punggungnya dilengkungkan sambil ia mencopot selimut, memamerkan kehitamannya. Ketika ratu bandit Phoolan Devi akhirnya berhasil dipojokkan dan harus menyerah kemudian difoto, semua koran akhirnya terpaksa mengurai mitos tentangnya yang dikabarkan sebagai “kecantikan legendaris”. Dia menjadi “mahluk biasa, umum, tak menarik”, padahal sebelumnya “menggiurkan”. Hanya menjadi salah satu dari si kulit hitam di India utara. “Aku tak percaya,” sergah Saladdin. “Dan kau tak berharap aku percaya, kan?”

Perempuan itu tertawa. “Bagus. Ternyata kau tak tolol-tolol amat. Siapa yang perlu menikah? Ada pekerjaan yang harus kulakukan.”

Setelah jeda beberapa saat, dia bertanya balik pada Saladdin. “Dan kau?”

Sudah menikah dengan perempuan kaya, katanya. “Beritahu aku, na. Bagaimana kehidupanmu dan Nyonya?” Di mansion lima lantai di Notting Hill. Dia mulai merasa tak nyaman tinggal di sana, karena belakangan ini perampokan lumayan besar yang terjadi di sana tak hanya menjarah perangkat stereo dan video seperti biasa, namun juga menculik anjing wolfhound penjaga. Bagi Saladdin, tak mungkin tinggal di tempat dimana penjahatnya menculik binatang. Menurut Pamela, itu sudah kebiasaan di daerah itu. Di zaman Dahulu (menurut Pamela, sejarah dibagi menjadi Zaman Kuno, Zaman Kegelapan, Zaman Dahulu, Zaman Imperium Inggris, Zaman Modern dan Zaman Sekarang), penculikan binatang adalah bisnis yang bagus. Orang miskin menculik anjing orang kaya, melatihnya supaya melupakan nama sendiri, dan menjualnya kembali ke pihak yang kehilangan dan tak berdaya di toko-toko binatang di Portobello Road. Sejarah lokal yang diceritakan Pamela selalu terperinci dan seringnya tak bisa dipercaya. “Demi Tuhan,” ujar Zeeny Vakil. “Kau harus cepat-cepat menjual rumahmu dan pindah dari sana. Aku tahu betul bagaimana orang-orang Inggris itu, sama saja di mana-mana, gembel, dan para nawab, ningrat Urdu tak berguna. Kau tak akan bisa melawan tradisi mereka yang bajingan.”

Istriku, Pamela Lovelace, ringkih seperti porselen dan anggun macam kijang, begitulah Saladdin mengingatnya. Aku berakar pada perempuan yang kucinta. Banalnya perselingkuhan. Ia berusaha melupakannya dan membicarakan tentang pekerjaan.

Ketika Zeeny Vakil tahu bagaimana Saladdin Chamcha mencari nafkah, dia memekik kecil dan membuat salah seorang dari pemuda-pemuda Arab berkalung itu mengetuk pintu untuk memastikan semua baik-baik saja. Pintu terbuka dan si Arab melihat perempuan cantik duduk tegak di ranjang dengan cairan seperti susu kerbau meleleh di wajahnya dan bergulir hingga ke ujung dagu. Ia kemudian meminta maaf pada Chamcha, merasa telah mengganggu, lalu mundur cepat-cepat. “Maaf, sobat. Hey, kau lelaki yang beruntung.”

“Ah, kasihan sekali kamu,” Zeeny berucap, tersengal diantara derai tawanya yang membahana. “Bangsat-bangsat Enggres itu. Mereka benar-benar mengacaukanmu.”

Dan sekarang giliran pekerjaannya yang dianggap lucu. “Aku berbakat di aksen,” sergahnya. “Mengapa tak aku manfaatkan?”

“Mengapa tak aku manfaatkan?” Zeeny menirunya sambil memencong-mencongkan bibir, lalu menendang ke atas. “Tuan Aktor, kumis palsumu miring lagi.”

Ya Tuhan.

Apa yang terjadi padaku?

Demi setan…

Tolong.

 

Tentang Malaikat dan Pahlawan #4

(Lanjutan dari posting sebelumnya)

Lelaki yang bersikukuh membuktikan diri sebenarnya sedang berperan sebagai Khalik, tergantung bagaimana sudut pandang pengamat. Tindakannya tidak alamiah, penghujat laknat, si keji diantara yang paling keji. Dari sudut lain, kau bisa lihat penderitaan di sana, kepahlawanan dalam perjuangannya, dalam niatannya untuk sedia mengambil resiko: dan tak semua mahluk mutan dapat bertahan. Atau, lihat dia dari sisi sosiopolitis: sebagian besar migran belajar dari pengalaman, dan itu menjadi penyamaran mereka. Kita mengarang deskripsi penuh dusta untuk menjawab kepalsuan yang ditemukan di sekitar kita, bersembunyi, melindungi keamanan diri yang penuh rahasia.

Lelaki yang menemukan dirinya sendiri perlu seseorang yang percaya padanya, untuk membuktikan bahwa dia bisa melakukannya. Lagi-lagi pura-pura jadi Tuhan, mungkin begitu katamu. Atau kau bisa turun beberapa tingkat dan berpikir tentang Tinkerbell; peri yang tidak akan mewujud jika bocah-bocah tidak bertepuktangan. Atau mungkin kau bisa saja bilang: begitulah rasanya menjadi laki-laki.

Bukan hanya kebutuhan untuk dipercaya saja, tapi juga kebutuhan untuk mempercayai orang lain. Ya, kau benar: Cinta.

Saladin Chamcha bertemu Pamela Lovelace lima setengah hari sebelum tahun 1960 berakhir, ketika para perempuan masih mengenakan bandana untuk menutupi rambut mereka. Pamela berdiri di tengah ruangan yang disesaki artis-artis Trotsky dan menatapnya dengan sepasang mata bagai kejora, benderang. Dia buat Chamcha sibuk sepanjang malam dengan senyum selalu tersungging di bibir lalu meninggalkannya bersama lelaki lain. Ia pulang dan memimpikan sorot mata dan senyum perempuan itu, memimpikan kelangsingannya, kelembutan kulitnya. Chamcha memburunya selama dua tahun. Inggris menanggungkan keberadaan mewah Pamela secara ogah-ogahan. Dan Chamcha heran terhadap kekukuhannya sendiri, dia paham bahwa Pamela adalah penggenggam takdirnya, dan jika perempuan itu tak menyerah maka seluruh usaha metamorfosisnya menjadi sia-sia. “Terima diriku,” pintanya, bergulat dengan sopan di atas karpet putih Pamela yang akan bangkit meninggalkannya ketika Saladin singgah tengah malam, terkubur dalam rasa bersalah empuk berbulu-bulu. “Percayalah. Aku orangnya.”

Suatu malam, secara tiba-tiba saja, Pamela menerimanya, dan dia bilang dia percaya. Chamcha menikahinya sebelum si perempuan berubah pikiran, namun tak pernah bisa ia baca benaknya. Saat sedang tidak bahagia, Pamela akan mengunci diri di kamar sampai dia merasa baikan. “Bukan urusanmu,” ujar Pamela pada Chamcha. “Aku tak mau ada orang melihat aku sedang seperti itu.” Dan Chamcha menyebutnya kerang. “Buka,” ujarnya sambil menggedor-gedor pintu yang terkunci dalam kehidupan mereka bersama, pertama di ruang bawah tanah, lalu rumah kecil, kemudian di mansion. “Aku mencintaimu, biarkan aku masuk.” Chamcha sangat memerlukannya, untuk meyakinkan akan keberadaannya sendiri, dan dia tak pernah mengerti keputusasaan yang tersirat pada senyum abadi Pamela yang memabukkan, teror dalam kegilang-gemilangannya menghadapi dunia, atau mengapa kekasihnya harus sembunyi saat sedang tak mampu bersinar. Dan semua terlambat sudah ketika akhirnya Pamela mecneritakan kedua orangtuanya yang bunuh diri bersama tepat ketika ia mulai menstruasi, menembak kepala sendiri karena hutang judi, meninggalkannya dalam suara raungan aristokrat yang menandainya sebagai si gadis emas, perempuan yang layak didengki, padahal sejatinya dia ditinggalkan, hilang arah, dan bahkan orangtuanya tak mau repot menunggu dan melihatnya tumbuh dewasa, dan begitulah dia dulu dicintai. Jadi, tak heran jika dia sama sekali tak punya rasa percaya diri, dan tiap waktu yang dia habiskan untuk berada di dunia sangatlah penuh kepanikan, sehingga dia hanya mampu tersenyum dan tersenyum saja dan sekali dalam seminggu dia akan mengunci pintu, gemetar, merasa seperti kulit dedak, seperti kulit kacang tanpa isi, monyet tanpa kacang.

Mereka tak berhasil punya anak. Pamela menyalahkan dirinya sendiri. Setelah sepuluh tahun berlalu Chamcha baru mengetahui yang sebenarnya. Ada yang salah dengan kromosomnya. Apakah itu dua batang yang terlalu panjang atau terlalu pendek, dia tidak ingat-ingat amat. Itu warisan genetis, dan membuatnya beruntung lahir ke dunia tanpa menjadi aneh dengan anggota tubuh cacat. Dari sisi siapakah? Ayahnya atau ibunya? Dokternya tidak tahu. Menurut pendapatnya yang menyalahkan, sangat mudah menebak si kambing hitam, tapi percuma saja menjelek-jelekkan yang sudah tiada.

Mereka tak begitu akur belakangan ini.

Chamcha mengatakannya pada diri sendiri ketika masa itu usai, bukan ketika masa ketidakakuran tersebut berlangsung.

Setelah itu dia berkata, kami sedang gunjang-ganjing, mungkin karena ketidakhadiran bayi, mungkin karena lama-lama kami makin menjauh, mungkin ini, mungkin itu.

Selama masa itu berlangsung, Chamcha berpaling dari semua tekanan, semua goresan, semua cekcok yang tak pernah berlanjut, dan dia pejamkan mata hingga senyum istrinya kembali. Dia menipu diri dalam senyuman itu, sinar kebahagiaan penuh kepalsuan.

Ia coba menemukan masa depan bahagia bagi mereka, membuatnya mewujud nyata dengan berpura-pura lalu mempercayainya. Dalam perjalanannya menuju India dia berpikir betapa dia beruntung memiliki Pamela. Aku beruntung, ya, aku tak boleh membantahnya, aku adalah bajingan paling beruntung di seluruh dunia. Dan betapa menyenangkan membayangkan masa depan yang terhampar di hadapan, tahun demi tahun terentang meneduhkan, kemungkinan untuk menua bersama dalam kelembutan istrinya.

Dia bekerja sangat keras dan hampir bisa meyakinkan dirinya sendiri akan kebenaran cungkilan-cungkilan fiksi tersebut sehingga ketika dia merangkak naik ke kasur bersama Zeeny Vakil empat puluh delapan jam setelah tiba di Bombay, yang pertama dilakukannya—bahkan sebelum mereka bercinta—adalah pingsan, semaput, karena pesan yang sampai ke benaknya saling bertentangan satu sama lain, seakan-akan dunia yang dia lihat melalui mata kanannya bergerak ke kiri sementara dunia dari mata kirinya meluncur ke kanan.

***

Zeeny adalah perempuan India pertama yang ditidurinya. Perempuan itu merangsek ke dalam kamar ganti setelah malam pertama penampilan The Millionairess dengan tangannya yang cekatan dan suaranya yang serak-serak basah, seakan bertahun-tahun yang hilang itu lenyap. Bertahun-tahun. “Yaar, betapa mengecewakan. Aku bersumpah, aku duduk dan menyimakmu menyanyikan “Goodness Gracious Me” yang mirip Peter Sellers atau siapa itu. Dan aku berpikir, aku akan cari tahu bagaimana dia berlatih menyanyi. Ingatkah waktu kau menirukan Elvis dengan raket squash, Sayang? Itu konyol sekali, dan aku benar-benar ngakak. Tapi ini… lagu bukanlah drama. Persetan lah. Dengar, bisakah kau kabur dari si muka-muka pucat dan keluar bersama kami si keling-keling ini? Mungkin kau lupa bagaimana rasanya.”

Ia mengingat Zeeny sebagai orang-orangan remaja dengan gaya rambut bob pendek sebelah dan senyum merekah-tapi-tetap-saja-miring-sebelah. Gadis urakan dan nakal. Hanya karena kepingin, dia pernah masuk ke dalam sebuah adda yang terkenal, tempat hiburan malam, di Falkland Road. Dia duduk dan merokok lalu meneguk Coke-nya hingga beberapa mucikari yang berkuasa di situ mengancam akan mengiris wajahnya karena “pekerja” lepasan tak diizinkan beroperasi di situ. Dia hanya menatap mereka, menghabiskan rokoknya, kemudian pergi. Bernyali besar. Mungkin gila. Sekarang di usia pertengahan tigapuluhan, Zeeny adalah dokter dengan reputasi bagus yang membuka konsultasi di Breach Candy Hospital, mengurusi tuna wisma, berangkat ke Bhopal begitu dia dengar berita tentang awan Amerika tak kasat mata yang memangsa paru dan mata para penduduk di sana. Dulu dia adalah seorang kritikus seni, dan bukunya telah menciptakan ketidaknyamanan yang telah diperkirakan sebelumnya. Buku itu bercerita tentang mitos keotentikan yang mengekang, pengikatan cerita rakyat yang ingin dia gantikan dengan etika eklektis yang disahihkan sejarah, karena bukankah keseluruhan budaya nasional memang berdasarkan pada prinsip “meminjam baju apapun yang dirasa cukup”, baik itu dari Arya, Mughal, Inggris, ambil-yang-baik-tinggalkan-yang-buruk? Dia memberinya judul The Only Good Indian—Orang Indian yang Benar-benar Baik. “Artinya, mati,” ujarnya ketika dia memberi satu jilid buku tersebut pada Chamcha. “Kenapa harus ada yang baik dan benar hanya untuk menjadi keling? Itu fundamentalis Hindu. Kenyataannya, kita semua adalah orang India yang buruk, beberapa diantaranya malah lebih buruk lagi.”

Kecantikannya mekar kini, berkembang penuh-penuh dengan rambut panjang terurai dan tidak lagi nampak seperti orang-orangan. Lima jam setelah ia memasuki kamar ganti tersebut, mereka sudah ada di ranjang dan Chamcha pingsan. Saat ia sadar, perempuan itu berkata “aku memberimu mickey finn, semacam bius dengan resep dokter.” Chamcha tak pernah tahu apakah dia mengatakan yang sebenarnya.

Zeenat Vakil membuat Saladin sebagai proyeknya. “Reklamasi,” ujarnya. “Tuan, kami akan merebutmu kembali.” Dia berkali-kali berpikir bahwa perempuan itu akan mencapai tujuannya dengan cara memakannya hidup-hidup. Dia bercinta bagai kanibal dan Chamcha adalah babinya yang panjang. “Tahukah kau,” tanya Chamcha, “bahwa ada kaitan nyata antara kepercayaan vegetarian dengan impuls memakan manusia?” Zeeny yang sedang makan siang dengan paha terbuka hanya menggeleng. “Pada kasus ekstrim,” lanjutnya, “konsumsi sayur yang terlalu sering dapat melepas zat biokimia ke dalam sistem tubuh dan memicu fantasi kanibalisme.” Dia menatap lelaki di hadapannya dan tersenyum dengan sudut bibir naik sebelah. Zeeny, si vampir cantik. “Ayolah,” ujarnya. “Kita ini bangsa vegetarian, dan budaya kita adalah budaya mistis dan damai. Semua orang tahu itu.”

Chamcha, di sisi lain, diharuskan untuk bertindak hati-hati. Kali pertama ia sentuh payudaranya, bercucuranlah airmata panas yang mengagetkan dengan warna dan aliran kepekatan susu kerbau. Zeeny melihat ibunya mati seperti burung dipotong-potong untuk makan malam. Pertama payudara kiri, lalu yang kanan, namun kanker itu tetap menyebar. Ketakutannya untuk mengulang kematian ibunya membuat dadanya menjadi daerah terlarang untuk dijamah. Teror rahasia yang menghantui Zeeny si Besar Nyali. Ia tak pernah mengandung namun ia menangis susu.

Setelah persenggamaan pertama mereka, dia langsung bicara blak-blakan, airmatanya terlupakan. “Kau tahu siapa dirimu, aku tahu benar. Kau ini desertir, menjadi lebih kemInggris, dan aksen kemInggris itu membungkusmu laksana bendera, dan jangan kira pengucapannya sempurna. Meleset, baba. Miring seperti kumis palsu.”

“Ada hal aneh yang sedang terjadi,” ia ingin jawab begitu, “suaraku…” tapi dia tak mengerti bagaimana mengatakannya dan menahan diri.

“Orang sepertimu,” dengusnya, sambil menciumi bahu Saladin. “Kau datang setelah sekian lama dan hanya Tuhan yang tahu apa yang kau pikirkan tentang dirimu. Begini, Sayang. Di sini kami menganggapmu lebih rendah.” Senyumannya lebih berkilau dari senyum Pamela. “Begitu ya…” jawab Saladdin. “Zeeny, kau masih memiliki senyuman Binaca.”

‘Binaca’. Bagaiamana mungkin dia masih bisa mengingat iklan pasta gigi lawas itu? Dan suara vokal yang terlontar dari mulutnya, sangat tak bisa diandalkan. Hati-hati, Chamcha. Hati-hati terhadap bayanganmu. Sosok gelap itu mengendap-endap di belakangmu.

Di malam kedua Zeeny datang bersama dua temannya. Yang satu adalah seorang pengikut Marxis pembuat film bernama George Miranda, lelaki sebesar paus dengan pembawaan canggung dan lengan kurta tergulung, jaket pelapis longgar dengan noda-noda nakal, dan kumis militer rapi besaput lilin yang kontras dengan penampakannya. Satu lagi adalah Bhupen Gandhi, seorang penyair dan jurnalis dengan uban terlalu dini namun memiliki wajah tanpa dosa serupa bayi kecuali jika sedang terkikik licik. “Ayolah, Salad Baba,” ajak Zeeny. “Kami akan tunjukkan kota padamu.” Lalu dia menoleh ke arah teman-temannya. “Orang-orang “Asia” asing ini memang tidak tahu malu,” celetuknya. “Saladdin, aku, sawi murahan ini, mengajakmu.”

“Beberapa hari lalu ada seorang reporter TV ke sini,” George Miranda menyergah. “Rambutnya jambon. Katanya sih namanya Kerleeda atau siapa lah. Aku tak pernah bisa ingat.”

“George ini omongannya selalu tinggi,” Zeeny menyela. “Dia tidak tahu orang aneh macam apa yang akan kalian temui. Nona Singh yang tempo hari, menyebalkan. Sudah kukatakan padanya, namamu sebenarnya itu Khalida, Sayang, bersajak dengan Dalda, perabotan masak itu. Tapi dia tak bisa mengucapkannya. Padahal itu namanya sendiri. Antar aku ke kepala sukumu, kubilang. Orang sepertimu itu tak punya budaya. Cuma keling. Betul, kan?” tambahnya lagi, mendadak berpembawaan ceria dan membelalak, berusaha menutupi sikapnya yang keterlaluan. “Berhenti menggilas dia, Zeenat,” ujar Bhupen Gandhi lirih. Dan George dengan canggung menjawab dalam gumaman: “Nggak apa-apa kok. Kan cuma bercanda.”

Chamcha memutuskan untuk nyengir dan melawan. “Zeeny, dunia penuh dengan kita, orang India. Dan kau tahu itu. Kita ada dimana-mana, menggelandang di Australia, kepala berakhir di lemari es Idi Amin. Mungkin Columbus benar; dunia terdiri dari India, Timur, Barat dan Utara. Bangsat, kalian harusnya bangga pada kita, pada usaha kita, dan bagaimana kita mampu melawan keterbatasan. Masalahnya, kita bukan orang India sepertimu. Kau sebaiknya membiasakan diri dengan kami. Apa itu judul buku yang kau buat?”

“Hei, dengar,” sahut Zeeny sambil menggamit tangan Saladdin. “Dengarkan Salad-ku. Tiba-tiba saja dia ingin jadi orang India setelah menghabiskan waktu berusaha menjadi orang kulit putih. Tidak semuanya menghilang, kan? Masih ada sesuatu di dalam sana yang menggeliat hidup.” Dan Chamcha merasa wajahnya merona, kebingungan melandanya. India, tempat dimana semuanya bercampur-aduk.

“Ya ampun!” Zeeny memotong ucapannya dengan ciuman. “Chamcha, ya ampun, kau bangsat! Kau sebut dirimu Tuan Kodok dan berharap kami tidak tertawa?”

Kesia-siaan Eksistensi

Arthur Schopenhauer

Kesia-siaan ini menemukan ekspresinya dalam segala cara dimana hal-hal eksis. Dia mewujud dalam muasal Ruang dan Waktu tanpa batas; meng-ada pada hal-hal yang berlawanan dengan keadaan alami individu keduanya; dalam momen terlewati saat ini sebagai satu-satunya moda eksistensi aktual; dalam saling-ketergantungan dan relativitas seluruh entitas; dalam keberlanjutan Menjadi tanpa Ada sama sekali; dalam pengharapan konstan dan tak pernah merasa puas; dalam pertarungan panjang untuk membentuk sejarah hidup dimana semua usaha terhambat kesulitan-kesulitan dan berhenti sampai bisa diatasi. Waktu adalah dimana semua hal berlalu. Waktu hanyalah bentuk di bawah kehendak hidup—ada dalam dirinya sendiri dan oleh karenanya tak bisa binasa—yang mengungkap segala daya upaya hanyalah kesia-siaan. Ia adalah agen dimana seluruh momen yang kita miliki setiap saat menjadi tiada dan menghilangkan semua nilai momen tersebut.

Maka semua hal tak lagi eksis; hanya meng-ada sejenak seperti tiada sebelumnya. Namun semua eksis yang harus kau katakan maka sesaat kemudian ia pernah eksis. Karena itulah satu hal mahapenting di saat itu adalah inferior terhadap satu hal yang kurang penting saat sekarang. Yang sekarang ini adalah realitas, terkait pada yang lampau seperti sesuatu terkait pada tiada.

Seorang manusia kerap tercengang ketika menemukan diri mendadak eksis setelah beribu-ribu tahun meniada. Ia hidup untuk sesaat. Lalu, lagi-lagi, datang masa yang sama lamanya saat ia tak lagi eksis. Jiwa melakukan pemberontakan terhadap ketidakeksisan ini, merasa bahwa hal tersebut tak mungkin terjadi. Intelektual paling keras pun tak dapat berspekulasi pada subyek semacam ini tanpa punya firasat bahwa Waktu adalah sesuatu yang ideal dalam keadaan asalinya. Idealitas Ruang dan Waktu adalah kunci untuk semua sistem metafisika sejati karena mengarahkan pada tatanan hal-hal lain ketimbang menemukan domain muasalnya. Inilah mengapa Kant begitu hebat.

Dari tiap peristiwa dalam kehidupan, kita hanya bisa berkata “ini dia!” untuk satu momen saja; karena sesudahnya hal tersebut menjadi “dulu itu…”. Setiap malam kita merapuh sehari. Mungkin itu yang membuat kita gila melihat begitu cepatnya waktu pendek milik kita perlahan sirna. Jauh di dalam inti diri, kita diam-diam sadar betapa melelahkannya keabadian. Maka dari itu kita bisa selalu berharap menemukan kembali hidup di dalamnya.

Dengan pertimbangan seperti itu, kesadaranlah yang tentunya akan menuntun kita menggapai keyakinan bahwa kebajikan tertinggi adalah menciptakan kebahagiaan dari obyek kehidupan paling hidup yang hadir sekarang. Karena itulah satu-satunya realitas, karena yang lain, semuanya, hanyalah permainan pikiran. Di sisi lain kita juga dapat menyebutnya sama dengan ketololan tertinggi: pada apa yang sesaat kemudian tak lagi eksis, meniada sepenuhnya seperti mimpi, sama sekali tidak berharga untuk diupayakan.

Seluruh fondasi yang melatari eksistensi kita adalah saat ini—ke-sekarang-an yang selalu berlalu. Kemudian secara alamiah ia mengharuskan kita selalu bergerak, menawarkan ketidakmungkinan mencapai hal-hal yang selalu kita kejar. Kita seperti orang yang berlari menuruni bukit, tak bisa menahan kaki, dan berhenti berarti jatuh. Atau seperti tongkat yang diseimbangkan di ujung jari. Seperti planet yang akan terseret ke matahari jika rehat bergerak di orbitnya. Kegelisahan adalah penanda eksistensi.

Dunia adalah tempat segalanya tak stabil dan tiada yang mampu bertahan. Semua tersapu masuk ke dalam pusaran perubahan yang bergerak kencang. Dunia adalah tempat yang mengharuskan manusia untuk selalu maju dan bergerak jika ia bersikeras untuk tegak di tempatnya, seperti akrobat di atas tali. Dalam dunia semacam ini, kebahagiaan ada dalam sesuatu yang tak terpahami. Seperti ucapan Plato, bagaimana mungkin manusia dapat bertahan di tempat yang satu-satunya bentuk eksistensi adalah terus-menerus Menjadi dan tak pernah meng-Ada? Awalnya manusia tak pernah bahagia, namun sepanjang hidupnya mengejar sesuatu yang dipikirnya bisa membuatnya bahagia. Jarang ada yang bisa meraih mimpi tersebut. Dan ketika yang dikejarnya berada dalam genggaman, ia dapati kekecewaan. Seperti kapal, dirinya nyaris karam di akhir, berlabuh tanpa tali dan tiang. Yang tersisa hanya apakah ia merasa bahagia atau menderita, karena baginya hidup tak lebih dari sekadar ke-sekarang-an yang selalu tersia-siakan. Dan kini telah usai.

Di saat bersamaan, adalah hal yang mengagumkan bahwa di dunia manusia yang sebangun dengan binatang, beragam gerak gelisah dihasilkan terus-menerus oleh dua impuls sederhana—lapar dan insting seksual. Mungkin ditambah sedikit pengaruh kejenuhan. Hanya itu. Dan dalam teater kehidupan, tiga hal tersebut sudah cukup untuk melahirkan primum mobile, energi penggerak maha awal bagi sebuah mesin yang luar biasa kompleks, dibuat untuk melaju pada berbagai adegan yang teramat aneh!

Jika diamati lebih dekat, akan kita temukan masalah non-organik yang memperlihatkan konflik berkesinambungan antara kekuatan-kekuatan kimiawi yang akhirnya akan saling melarutkan. Di sisi lain, kehidupan organik tak mungkin tanpa perubahan zat terus-menerus, dan tidak dapat eksis jika tidak terus-menerus dibantu oleh perubahan tersebut. Ini adalah ranah pungkas. Kebalikannya dari itu akan menjadi sebuah keberadaan tak terhingga, aman tanpa serangan yang membuatnya harus berubah, tanpa perlu ada penunjang; [Yunani: haei hosautos dn], ranah kedamaian abadi; [Yunani: oute giguomenon oute apoolumenon], kondisi yang tak mengenal waktu, sama sekali tak berubah, tunggal, tidak terbagi; pengetahuan negatif yang membentuk catatan dominan dalam filsafat Platonik. Bagi beberapa orang, keadaan seperti ini membuka penyangkalan kehendak hidup.

Adegan demi adegan hidup kita adalah gambar mosaik kasar. Dilihat dari dekat, tidak ada pengaruh apapun. Tidak ada yang menarik dalam mosaik tersebut, kecuali jika kita berjarak. Jadi, kita berusaha sangat keras dan menunggu sangat lama lalu tersadar betapa sia-sia dan hampanya jerih payah yang kita lakukan untuk mewujudkan harapan. Meskipun kita hidup sambil berharap akan sesuatu yang lebih baik, di saat yang sama kita seringkali menyesal dan mengenang masa lalu. Kita anggap saat ini adalah masa yang harus dijalani saja dan melakoninya sebagai sekadar cara mencapai tujuan. Bagi sebagian besar orang, merenungi kilas balik saat maut menghadang, akan mereka dapati bahwa hidupnya adalah sementara—ad interim: mereka akan terkejut jika menyadari bahwa sesuatu yang terabaikan, yang tidak mereka nikmati, justru adalah hidup dalam pengharapan yang mereka jalankan sepanjang waktu. Begitu banyak orang buta tentang betapa menipunya harapan sampai ia berjalan ke pelukan sang ajal!

Dan betapa manusia adalah mahluk tak terpuaskan! Setiap kepuasan yang ia dapatkan adalah lahan bagi benih-benih hasrat baru. Dengan demikian tiap kehendak individu memiliki keinginan tiada akhir. Mengapa? Alasan sebenarnya begitu sederhana, yang terberi dalam dirinya sendiri: Kehendak adalah tuan bagi segalanya; semua terikat padanya. Oleh karena itu tak ada sesuatu pun yang dapat memberi manusia kepuasan selain secara keseluruhannya, yang artinya adalah tanpa ujung. Sewajarnyalah hal tersebut akan membuat kita bersimpati dan berpikir betapa tak berartinya Kehendak, tuan dunia ini, ketika mengambil bentuk satu individu. Kehendak hanya cukup untuk membuat tubuh sekadar hidup. Inilah alasan mengapa manusia begitu menderita.

Hidup memperlihatkan dirinya sebagai tugas—dan tugas yang dimaksud adalah mendapatkan segala sesuatunya sendiri, gagner sa vie. Jika tugas ini terpenuhi, hidup menjadi sebuah beban. Kemudian muncul tugas kedua untuk melakukan sesuatu pada apa yang sebelumnya telah dimenangkan—mengusir kejenuhan yang mirip burung pemangsa berputar-putar di atas kepala, siap-siap menukik dan menyambar ketika dilihatnya hidup kita seperti tak membutuhkan apapun. Tugas pertama adalah memenangkan hidup. Tugas kedua adalah membuang perasaan bahwa hidup telah dimenangkan. Jika tidak, maka hidup adalah sebuah beban.

Hidup manusia pastilah sebuah kesalahan. Kebenaran ini menjadi jelas mengingat manusia adalah campuran dari kebutuhan dan keinginan yang sulit terpuaskan. Bahkan ketika keduanya telah dipuaskan, yang didapat hanya keadaan tanpa sakit. Tak ada yang tersisa kecuali perasaan tertinggal yang mengerucut menjadi kejenuhan. Ini adalah bukti langsung bahwa eksistensi tidak memiliki nilai nyata dalam dirinya sendiri; karena bukankah kejenuhan adalah perasaan kosong dalam hidup? Jika hidup—pendambaan yang juga menjadi esensi utama ke-ada-an kita—memiliki nilai intrinsik positif, maka tak ada lagi perasaan semacam jenuh: sekadar ke-ada-an yang di dalam dirinya sendiri sudah akan memuaskan kita, dan kita tidak akan menginginkan apapun. Namun sebagaimana adanya, eksistensi kita tidak membawa kebahagiaan kecuali saat kita memperjuangkan sesuatu. Jarak dan kesulitan yang harus kita hadapi membuat tujuan tersebut seakan memuaskan kita. “Tujuan” adalah ilusi yang mendadak hilang manakala kita meraihnya; atau ketika kita dikuasai oleh ketertarikan intelektual murni. Dalam kenyataannya, kita telah keluar dari hidup dan melihatnya dari luar, mirip seperti perilaku penonton dalam sebuah pertunjukan drama. Bahkan kesenangan sensual itu sendiri tidak bermakna apa-apa kecuali sebagai perjuangan dan tujuan, menghilang persis ketika ia didapat. Saat kita terbebas dari salah satu hal tersebut melainkan pada eksistensi itu sendiri, maka hanya kondisi kesia-siaan dan ketidakberartian yang tersisa. Ini yang kita sebut kejenuhan. Ketertarikan pada yang asing dan tak biasa—kecenderungan bawaan manusia yang tidak bisa dimusnahkan—menunjukkan betapa senangnya kita pada interupsi apapun dari hubungan alamiah yang begitu membosankan.

Manifestasi sempurna dari kehendak hidup organisme manusia dengan segala kecerdikan dan pengaturan kerja mesin yang sangat rumit harus musnah dan menyerahkan seluruh kerja kerasnya pada ketiadaan. Ini adalah cara naif Alam, yang semua kata-katanya selalu benar dan tulus, untuk menyatakan bahwa seluruh perjuangan kehendak hingga intinya yang terdalam adalah tanpa hasil, tak menguntungkan. Jika memang kehendak memiliki nilai dalam dirinya sendiri, nilai apapun yang tanpa syarat dan mutlak, maka tidak akan berakhir pada ketiadaan.

Dari perenungan dunia sebagai keseluruhan, tengoklah sejenak generasi manusia yang hidup singkat dalam eksistensi palsu kemudian tersapu begitu saja oleh generasi berikutnya. Jika kita beranjak dari hal tersebut, lihatlah kehidupan dalam detail lebih kecil, seperti yang ditampilkan dalam sebuah komedi. Betapa konyol semuanya! Seperti setetes air dilihat melalui mikroskop, satu benda kecil sarat jasad renik. Atau sepotong kecil keju penuh kutu yang tak terlihat mata telanjang. Kita tertawa melihat betapa terburu-buru dan trengginasnya mereka mengalahkan satu sama lain dalam ruang yang begitu sempit! Dan di sini atau di jengkal kehidupan manusia, aktivitas menggelikan ini juga menghasilkan sebuah kelucuan.

Hanya di bawah mikroskop maka hidup kita nampak sangat besar. Hidup adalah titik teramat kecil dan tak dapat dibagi, dipisahkan lalu diperbesar oleh lensa maha kuat: Ruang dan Waktu.

 

Arthur Schopenhauer, The Vanity of Existence, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh T. Bailey Saunders, M.A., dalam The Essays of Arthur Schopenhauer; Studies In Pessimism, volume 4, The Pennsylvania State University, 2005.

Foto dari sini

Kematian Kapten Waskow

GARIS DEPAN ITALIA, 10 Januari 1944 –  Dalam perang ini saya kenal banyak perwira yang dicintai dan dihormati oleh para prajurit bawahan mereka. Namun tak pernah sekalipun saya mengenal seorang kapten yang begitu disayang seperti Kapten Henry T. Waskow dari Belton,Texas.

Kapten Waskow adalah seorang komandan kompi di Divisi 36. Dia pimpin kompinya jauh sebelum mereka meninggalkan Amerika. Usianya masih sangat muda, pertengahan dua puluhan. Namun pembawaannya yang tulus dan lembut membuat banyak orang nyaman menjadikannya sebagai pengayom.

“Dia adalah orang kedua yang kuhormati setelah ayahku sendiri, ” ujar seorang sersan.

“Dia selalu menjaga kami,” kata seorang prajurit. “Dia selalu bertempur bersama kami kapanpun.”

“Tak pernah aku lihat dia berlaku tidak adil,” kata yang lain.

Malam itu saya berada di jalur keledai ketika mereka membawa jenazah Kapten Waskow turun. Bulan hampir penuh dan pandangan ke jalan setapak merentang jauh, bahkan hingga ke sebagian jalan di bawah lembah. Tubuh para tentara membuat bayangan bergerak di bawah sinar bulan saat mereka berjalan.

Jenazah berdatangan turun dari gunung sepanjang malam, terguncang-guncang di atas punggung keledai. Tubuh-tubuh tak bernyawa tertelungkup di atas pelana kayu dengan kepala tergantung di sisi kiri dan kaki-kaki kaku mencuat di sisi lain, naik-turun seiring jalannya keledai.

Para penunggang keledai yang asli Italia takut berjalan di samping mayat, sehingga malam itu tentara-tentara Amerikalah yang harus memimpin keledai-keledai turun. Bahkan tentara Amerika sendiri juga enggan melepas dan mengangkati tubuh jenazah dari bawah, sehingga para petugas harus melakukannya sendiri dan meminta pertolongan orang lain.

Jenazah pertama datang pagi-pagi sekali. Mereka melepasnya turun dari keledai dan membuat tubuh mati itu berdiri sejenak sementara mereka mencari pegangan lain. Dalam keremangan cahaya, mayat itu terlihat seperti orang sakit yang sedang dipapah orang sebelahnya. Mereka kemudian membaringkannya di tanah di bawah bayangan dinding batu rendah di tepi jalan.

Saya tidak tahu siapa yang memulai. Kita merasa kecil di hadapan orang mati dan malu menjadi hidup, dan kita juga tidak mengajukan pertanyaan konyol.

Kami meninggalkan tubuh tak bernyawa itu–jenazah pertama–di tepi jalan kemudian kembali ke kandang sapi dan duduk di atas tempat air atau merebahkan diri di atas jerami, menunggu rombongan keledai berikut.

Ada yang bilang tentara itu sudah empat hari mati, lalu tak ada yang membahasnya lagi. Kami bicara dengan gaya tentara selama sejam lebih. Sementara yang mati terbaring di bawah bayangan dinding batu rendah di tepi jalan.

Kemudian seorang tentara datang ke kandang sapi, mengatakan ada beberapa mayat lagi di luar. Kami bangkit dan berjalan keluar. Empat keledai berdiri di bawah sinar bulan, di jalan setapak menuju gunung. Prajurit yang mengabarkan tadi berdiri menunggu. “Yang ini Kapten Waskow,” kata salah satu dari mereka, perlahan.

Dua orang menurunkan tubuhnya dari keledai dan mengangkatnya lantas membaringkannya di bawah bayangan dinding batu rendah di tepi jalan. Beberapa tentara menurunkan jenazah lainnya. Akhirnya ada lima jenazah terbujur dalam deretan panjang di samping jalan. Anda tidak menutup jenazah di zona pertempuran. Tubuh-tubuh mati itu hanya terbaring dalam kegelapan sampai ada orang lain yang mengambilnya.

Keledai-keledai yang tak lagi berbeban itu dikembalikan ke kebun zaitun. Orang-orang di jalan seperti enggan pergi. Mereka hanya berdiri. Perlahan saya merasakan mereka bergerak mendekati tubuh Kapten Waskow, satu demi satu. Saya tidak begitu mengenalnya untuk bisa mengucapkan pesan terakhir kepada mendiang dan kepada mereka. Saya hanya berdiri diam-diam agar bisa mendengar mereka.

Seorang tentara datang dan melihat ke arah jenazah, berkata, “Terkutuklah mereka, Tuhan!” Hanya itu, lalu pergi. Seorang lagi datang dan berucap, “Tuhan, terkutuklah mereka hingga ke neraka.” Dia tundukkan kepala beberapa saat lalu berbalik dan pergi.

Seorang pria lain datang, sepertinya seorang perwira. Sulit untuk membedakan pangkat dalam cahaya setengah redup, karena mereka semua berjenggot dan sangat kotor. Pria itu menatap wajah sang kapten yang mati, kemudian bicara langsung kepadanya seolah-olah dia masih hidup. Dia bilang: “Aku berdukacita, hei orang tua.”

Kemudian seorang tentara datang dan berdiri di samping perwira tadi, membungkuk, dan bicara dengan kapten yang telah wafat. Ia tidak berbisik, namun bicaranya sangat lembut, dan berkata:

“Aku sangat berdukacita, Sir.”

Kemudian pria yang pertama datang tadi berjongkok dan meraih tangan dingin mendiang. Dia duduk di situ selama lima menit penuh, menggenggam tangan si jenazah dengan kedua tangannya dan memandangi wajahnya lekat-lekat. Tak sepatah katapun terucap selama dia duduk.

Akhirnya ia letakkan tangan si jenazah lalu menegakkan kerah kemeja sang kapten dengan lembut dan merapikan tepian seragam yang compang-camping di sekitar lukanya. Setelah itu ia bangkit dan berjalan pergi di bawah sinar bulan, sendirian.

Setelah itu kami semua kembali ke kandang sapi, meninggalkan lima orang yang tewas terbaring berbaris, dari ujung ke ujung, di bawah bayangan dinding batu rendah. Kami berbaring di atas jerami di kandang sapi, dan tak lama kemudian tertidur. (*)

Diterjemahkan dari naskah Ernie Pyle yang bisa Anda baca di sini. Sedangkan fotonya diambil dari sini, menggambarkan kepedihan para perwira yang kehilangan rekan.